Surat untuk Imamku… #NazrulAnwar

29 April 2015, Heading to 01 Mei 2015….

Genap, Linda-Nazrul

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Suamiku…

Entah diwaktu apa ketika kamu membaca surat ini. Apakah diwaktu pagi yang cerah, siang yang terik, sore yang begitu syahdu atau malam dengan heningnya. Sengaja aku tuliskan surat ini untuk kamu yang saat ini aku beri gelar “Suami-ku”. Kata sederhana namun begitu berharga, karena gelar itu hanya ada satu untuk bersanding dengan nama ku, dan tentu hanya dimiliki oleh satu-orang saja untuk membersamaiku. Gelar yang kemudian menjadikan semua orang mengakui bahwa saat ini kamu adalah Imam ku, ladang pahala bagiku karena bersama mu apapun yang ku lakukan kini akan bernilai ibadah dimata Allah.

Bagaimana kabar mu saat ini? Semoga Allah selalu menjaga mu agar senantiasa dalam kondisi terbaik, baik secara fisik, pikiran maupun kondisi ruhiyahmu….aamiin ya Rabb :”) Baca lebih lanjut

Iklan

Menikah…?? Siapin yuuuk… (For Ukhty…)

Alhamdulillah hari ini libur kerjanya setelah ganti hari dengan Rabu lalu…berhubung kondisi jasad kurang fit jadi mengisi waktu libur kali ini dengan membaca sambil menulis diatas kasur. Dinikmati saja… yang penting tetep manfaat…aamiin.. 🙂

Berhubung tingkat aktivitas menulis selama bulan Juni kemarin sangatlah tidak produktif, berharap kali ini tulisan ini benar-benar selesai dan bisa dipublish di Blog.

Bismillahirrahmanirrahim…dikarenakan akhir-akhir ini saya sering mendapatkan undangan pernikahan, saya ingin menulis hal yang berkaitan dengan ini.

Saya senang sekali mendengar banyak kapal yang akan dan sudah berlayar beberapa bulan belakangan dan alhamdulillah ada waktu untuk menghadiri acara walimatul ‘ursy walau tidak semua undangan dapat dipenuhi…afwan (maaf.red) 😥

Seperti pada umumnya, hari itu sepasang pengantin adalah orang yang paling berbahagia diantara seluruh tamu yang hadir (pastinya begitu…). Hari itu adalah hari mereka yang sangat bersejarah bagi mereka, disaat sebuah mistaqon ghaliza benar-benar diikrarkan. Ketika itu Cinta pun sudah menjadi halal diantara keduanya, kebahagiaan memenuhi seluruh bagian qalbu tanpa menyisakan rongga sedikitpun hingga memancar melalui senyum yang mereka berikan pada seluruh tamu, sehingga para tamu yang hadirpun juga dapat merasakan kebahagiaan mereka. Baca lebih lanjut

Keberkahan dalam Istananya….

Mba Yeni….begitu aku memanggilnya. Secara fisik dirinya ku lihat sangat sempurna, keanggunan terpancar darinya saat bertutur kata. Mba yeni adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Salah satu teman main ku saat masih anak-anak. Tak jarang aku sering sekali datang ke rumahnya yang hanya berselang 2 rumah dari rumah ku saat kami masih anak-anak untuk main bepe-bepean (bahasa kami), main congklak atau hanya sekedar ngobrol, obrolan anak-anak. Kedekatan kami agak mulai merenggang setelah aku masuk SMA…mungkin karena kami memiliki aktivitas masing-masing. Sampai akhirnya aku kuliah dan memilih untuk kost di Bogor membuat kedekatan itu sudah sangat tidak terasa. Baca lebih lanjut

Visi Rasulullah Untuk Ummatnya di Abad-21….

Tema yang cukup luar biasa bukan??? Tak disangka ternyata Rasulullah sudah memiliki visi untuk ummatnya di abad ke 21 ya… Tema ini adalah tema yang dikupas malam hari saat aku dan tiga orang teman ku melakukan I’tikaf di At-tin Jum’at lalu dimalam ke-25 Ramadhan. I’tikaf malam itu cukup dihadiri banyak jama’ah. Saat kajian dimulai waktu sudah menunjukkan 09.30 malam. Kajian malam itu kira-kira berjalan kurang lebih 1,5 jam. Di awal-awal aku semangat sekali mendengarkan tausyiah dari sang ustadz karena tema nya yang luar biasa, namun ternyata aku tak mampu bertahan lama, hanya sekitar 45 menit saja aku benar-benar mendengarkan penyampaian sang ustadz yang subhanallah itu karena setelah itu mata ku sudah tak dapat ku kendalikan. Walau hanya sedikit, akan ku coba ku tuliskan ilmu yang sudah ku dapatkan dari sang ustadz.

Kalau berdasarkan tema yang disampaikan, pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan.. “Tahu dari mana Rasulullah memiliki visi untuk ummatnya di abad sekarang?” atau “Emang pernah ada hadistnya ya menngenai hal itu?”. (nebak-nebak, hee….). Maksud dari tema ini sebenarnya memang bukan berarti rasul pernah secara khusus menyampaikan pesan hanya untuk kita ummatnya yang saat ini berada di Abad ke-21. Tapi…urgensi kita belajar dari sirah Nabi bahwasannya banyak sekali hal yang dapat kita jadikan teladan untuk selanjutnya dilakukan pada zaman ini demi Kebangkitan Kembali Ummat Islam.

Inilah beberapa bahasan yang masih dapat dengan jelas ku dengarkan selama 45 menit sebelum akhirnya ku tertidur pulas….hehe… 😀

Semoga bermanfaat….

*Agak serius sedikit ya….. 😀

Bismillahirrahmanirrahim…..

Poin Pertama…..


Jika saat ini antum/na yang sedang membaca tulisan ini belum berstatus menikah (ana juga termasuk nih kedalamnya….), mudah-mudah ini dapat menjadi masukan dalam prosesnya mencapai gerbang pernikahan. Walaupun saat ini ana belum menikah, tapi boleh ya kembali mengingatkan bahwa menikah bukanlah hal yang sederhana, yang hanya sebuah proses pertemuan seorang laki-laki dan wanita yang diresmikan dengan akad dan dihadiri oleh saksi-saksi kemudian selesai. Kalau mau dilihat justru bagian terpenting dari sebuah pernikahan adalah proses setelah keduanya dinyatakan halal karena sesungguhnya amanah atau tanggunng jawab setelah menikah jauuuuuuuuuuuuuh lebih berat.

Ikhwatifillah selain menjadi sebuah ibadah, menikah juga merupakan pemindahan tanggung jawab seorang ayah kepada seorang laki-laki yang menjadi suami dari anak perempuannya yaitu kewajiban menafkahi, mendidik melindungi istri
dan istri wajib menaati suami dengan catatan selama perintahnya tidak melawan hukum Allah. Itu semua adalah sebuah amanah yang luar biasa bagi seorang suami kepada seorang istrinya. Bahkan ikrar (baca:akad) seorang laki-laki saat menikahi seorang wanita merupakan perjanjian yang kuat “Mitsaqan Ghaliza” yang mampu menggetarkan Arsy nya Allah, selain pengucapan syahadat seorang manusia sebagai pernyataan sebuah janji kepada Rabb nya. Luar biasa bukan???

Oleh karena itu, menikah bukanlah sesuatu hal yang sepele dan simple….Disini sang ustadz sangat mengingatkan bahwa memilih seorang pasangan hidup itu adalah hal yang sangat penting. Sangat penting baik bagi seorang ikhwan atau akhwat memiliki visi dan misi yang jelas kedepannya dalam membentuk sebuah keluarga muslim yang kuat dan merupakan titik tolak kedua untuk meraih kejayaan islam setelah menjadi seorang individu yang rabbani. Keluarga muslim merupakan batu bata yang merupakan institusi terkecil dari masyarakat muslim. Seorang muslim yang membangun dan membentuk keluarga, berarti ia telah mengawali langkah penting untuk berpartisipasi membangun masyarakat muslim.

Sang ustadz juga mengatakan cukuplah kisah Nabi Luth as dan Nabi Nuh as saja yang kita jadikan sebuah pelajaran betapa pentingnya membangun sebuah keluarga muslim. Bahkan anak Nabi Nuh as pun Allah tenggelamkan bersama dengan ibunya akibat mengingkari Allah sebagai Rabb semesta alam.

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada dibawah pengawasan dua orang hamba-hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami, Lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu) ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).’.” (Q.S At-Tahrim : 10)”

Cukuplah hanya cerita para nabi saja, jangan terlalu banyak membuat pelajaran-pelajaran pada masa sekarang. Misalnya…seorang laki-laki yang menikah dengan seorang wanita kemudian memiliki anak-anak, namun dalam perjalanannya mengarungi sebuah rumah tangga ternyata sang istri durhaka kepada suaminya (misal, selingkuh) *Naudzubillah) dan sang anak tak berbeda jauh dengan ibunya. Kemudian dengan mudahnya sang suami menyatakan hal seperti ini “Wajarlah, jika saya tak mampu mendidik dengan baik istri dan anak saya, saya kan hanya seorang manusia biasa. Bahkan Nabi Nuh as dan Nabi Luth as pun yang seorang nabi juga bisa gagal dalam membangun sebuah rumah tangga”. Astaghfirullah…jangan sampai hal ini terjadi. Menurut sang ustadz Nabi Nuh as dan Nabi Luth as pun sudah terkena teguran langsung dari Allah berkaitan dengan hal ini. Ana lupa Qur’an surat apa…namun kurang lebih isinya menjelaskan bahwa “Anak dan Istri Nabi Luth as dan Nabi Nuh as merupakan hasil didikan yang gagal”. Itu adalah teguran dari Allah untuk tingkatan para nabi yang dimuliakan. Bagaimana bila teguran itu untuk kita sebagai manusia yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa bahkan memiliki dosa yang menggunung. MasyaAllah….Oleh karena itu, sangat penting bagi diri kita masing-masing untuk memilih pasangan hidup karena agamanya yang kemudian memiliki visi dan misi yang jelas agar rumah tangga yang akan dibina terarah dan memiliki sebuah tujuan.

Kisah lain adalah dari seorang wanita bernama Asiah yang memiliki suami seorang kafir bernama Fir’aun. Hidayah Allah datang padanya melalui Nabi Musa as. Namun tidak sama halnya dengan Fir’aun yang tetap memilih untuk menjadi seorang kafir.

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-oranng yang beriman, istri firaun, ketika dia berkata,’Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam syurga dan sselamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kau yang zalim’.” (Q.S At-Tahrim : 11)

Dari kisah Ibunda Asiah dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa betapa pentingnya memiliki suami yang baik agamanya dan hal ini merupakan sebuah prioritas utama memilih calon pendamping bagi seorang wanita, karena suami itulah yang pada akhirnya akan menggantikan posisi ayah bagi kita (baca :wanita). Bayangkan bila kita berada diposisi Ibunda Asiah, apakah kita mampu mempertahankan keimanan kita???sungguh itu adalah posisi yang sangat sulit. Dan pelajaran lain yang dapat kita (lagi2 para akhwat) adalah rasa cinta kepada Allah harus ditempatkan pada posisi tertinggi dalam Qalbu yang merupakan pusat dari jiwa kita. Karena sungguh betapapun besar rasa cinta kita terhadap sang suami kelak, perintahnya tidak wajib kita ikuti ketika sudah bertentangan dengan syari’at-syari’t islam.

Selain itu meminta kepada Allah untuk memilihkan seorang pendamping hidup terbaik merupakan hal yang paling utama karena hanya Allah-lah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi diri kita. Berikut adalah doa yang biasanya dipanjatkan seseorang yang belum menikah dan akan menikah…

Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama …QS. Al Furqan (25) : 74

Yang artinya :

” …Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)….”


Dari doa diatas Allah memperlihatkan betapa pentingnya memilih seorang pendamping hidup, karena meminta pasangan disebutkan terlebih dahulu baru kemudian keturunan. Sehingga memilih calon suami/istri bukanlah perkara main-main karena seorang anak yang akan bermanfaat bagi ummat ini dilahirkan dari Orang Tua yang Luar Biasa.

Oleh karena itu, ikhwatifillah jadikan rasa cinta kepada Allah sebagai landasan dalam melangkah kejenjang pernikahan, bukan rasa cinta yang lain…kemudian jadikan agama sebagai modal awal dalam memilih calon pendamping…..sehingga akan diperoleh kebarokahan dalam berumah tangga nantinya. Sebuah visi dan misi merupakan hal yang tidak kalah penting untuk dijadikan pondasi awal sehingga lebih memantapkan dalam membangun keluarga muslim yang akan menjadi titik awal tumbuhnya generasi rabbani yang akan menjadi soko guru peradaban islam.

Bagaimana apa antum/na sudah menyiapkan visi dan misi untuk melangkah ke gerbang ini????

Poin Kedua………

Sang ustadz pun membahas peran penting orang tua bagi anak-anaknya. Bagaimana saat ini banyak sekali orang tua yang sudah mengkerdilkan pikiran anak-anaknya. Banyak orang tua saat ini yang tidak mempersiapkan anak-anak nya untuk menjadi pemimpin sebuah peradaban. Padahal seharusnya itu menjadi mimpi bagi setiap orang tua untuk memiliki seorang anak yang dapat bermanfaat bagi ummat ini, karena kita adalah ummat terbaik seperti apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran :

Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (Q.S Ali-Imran :110)

Apa contohnya???saat ini banyak orang tua yang sering sekali mengatakan hal ini pada anak-anaknya “Nak, nanti kamu kuliahnya di Universitas A atau B aja ya, karena lulusan-lulusan dari sana cari kerjanya gampang. Nanti kamu bisa kerja diperkantoran bagus”….Secara sadar atau tidak pernyataan ini sebenarnya sudah mengkerdilkan pikiran sang anak. Bagaimana tidak?? Sayang sekali kan kalau seorang anak yang punya potensi bagus itu hanya harus kerja diperkantoran saja dan hanya sekedar “mudah” mendapatkan pekerjaan. Padahal mungkin saja sang anak itu menjadi seorang pemimpin dunia yang juga memikirkan hal-hal besar tidak hanya pekerjaannya saja namun juga ummat manusia. Oleh karena itu…sebagai orang tua atau calon orang tua, maka menjadi kewajiban kita untuk menumbuhkan pikiran-pikiran besar itu pada anak-anak kita kelak.

Dan bagi kita yang saat ini memiliki mimpi besar untuk menjadi salah seorang pemimpin peradaban islam atau termasuk kedalam orang-orang yang berada didalamnya salah satu kunci yang perlu kita pegang adalah bagaimana kita mampu menjadi anak yang sholeh/sholehah bagi orang tua kita yang mampu menyejukkan pandangan mereka “Qurrata’ayun”. Sebuah statement yang luar biasa yang ana garis bawahi dari sang ustadz adalah “Seorang anak belum bisa menjadi seorang pemimpin sejati bila belum mampu menyejukkan pandangan Orang Tuanya”. Oleh karena itu betapa penting nya diri kita sebagai seorang anak mengamalkan secara menyeluruh mengenai materi “Birrul Walidain”. Karena sejatinya, Ridho Allah terletak pada ridho orang tua kita.

Poin Ketiga…

Ini adalah bahasan ustadz terakhir yang ku perhatikan sayup-sayup hingga akhirnya mengantarkan ku ke alam mimpi, walaupun begitu mudah-mudahan ingatan ku masih dalam kondisi baik untuk menceritakannya kembali…Amin!

Bahasan ketiga ini pun tak kalah menarik, sang ustadz menceritakan tentang berbagai macam peperangan yang berhasil dimenangkan oleh pasukan ummat muslim baik pada zaman Rasul ataupun para sahabat. Dimana kunci kemenangan-kemenangan itu hampir seluruhnya bukan karena disebabkan oleh kuantitas tentara muslim yang sangat banyak bila dibandingkan dengan jumlah tentara musuh, namun kualitas para tentara muslim.

Salah satu peperangan yang diceritakan oleh beliau adalah kisah penaklukan sebuah kota yang pernah dijanjikan oleh Rasulullah oleh seorang Pemuda bernama Muhammad Al-Fatih. Siapa yang tidak mengenal beliau?? Sang Penakluk Konstantinopel.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]

Seleksi Allah Jatuh ke tangan Muhammad Al-Fatih

Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.
Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri.

“Saudara-saudaraku di jalan Allah..” ujarnya,

“Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.
“yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”
Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.
“yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an melebihi sebulan, silakan duduk!”
Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.
“yang pernah kehilangan hafalan Al-Qur’annya, silakan duduk!”
Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan merekapun duduk.
“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”
Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggelentar.
“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaamul Bidh, silakan duduk!”
Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang Sultan sendiri. Namanya Muhammad Al-Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Begitulah kira-kira keistimewaan yang berada pada diri seorang Muhammad Al-Fatih.Sungguh patut diteladani dan harus menjadi inspirasi bagi para pemuda-pemuda muslim. Pasukkan perang Muhammad Al Fatih adalah orang-orang yang senantiasa menjalani perintah Allah dan Sunnah Rasul dengan sangat baik. Sebagai contoh adalah pasukan ini senantiasa melakukan Qiyamulail di 1/3 malam terakhir. Mereka habiskan waktu itu untuk berkhalwat dalam kecintaan kepada Rabb nya, malam-malamnya semakin berkualitas dengan larutnya mereka membaca surat-surat cinta dari Allah yang semakin menambah ketaqwaan dan keimanan mereka. Sehingga pantas saja jika Allah memenangkan pasukan dalam peperangan untuk menaklukan Konstantinopel. Walaupun secara kuantitas saat itu sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan musuh, namun kualitas keimanan merekalah yang pada akhirnya menjadi modal utama kekuatan melawan para musuh.

Masih ada satu kota lagi yaitu Romawi yang pernah Rasulullah janjikan penaklukannya akan berada pada tangan seorang muslim.Siapakan Muhammad Al Fatih selanjutnya????

_Sebagai catatan bagi kita semua adalah peneliti dari Barat pernah memprediksi  bahwa kebangkitan ummat islam akan muncul dari arah timur tepatnya adalah dari INDONESIA. Hal itu dapat dilihat dari salah satu cirinya jika sampai suatu saat nanti akan banyak ummat muslim yang berbondong-bondong datang ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah_Sungguh luar biasa…..Allahuakbar!!!!!

* Ana tak pernah bosan mendengar kisah seorang Muhammad Al-Fatih. Bila ana mendengar cerita ini ada sebuah harapan yang besar yaitu bila Allah izinkan…ana ingin menjadi Ibu dari sosok Sang Penakluk Romawi atau menjadi seorang pendamping Sosok Sang Penakluk Romawi…..Amiiiin ya Rabb….Hmmm…tapi masih banyak kekurangan dalam diri, masih banyak yang perlu diperbaiki…semuanya InsyaAllah sebuah proses. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya….

Itulah 3 poin yang dapat ana bagikan untuk antum/na semua sebagai oleh-oleh i’tikaf ana dimalam ke-25 Ramadhan tahun ini….semoga dapat diambil manfaatnya….

Syukron Katsir….

Wallahu’alam bishowab…..

Bogor, 05 September 2010

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

Surat untuk Calon Suami ku…..

Seperti yang ditulis dijudulnya….ini memang surat cinta untuk calon suami ku…

Tapi….sebenernya bukan diriku yang buat…lho kok???iya….soalnya, ini boleh copas dari salah seorang note temen di FB…isinya subhanallah…itu yang pada akhirnya memberanikan diriku untuk izin copas note ini…dan rasanya isi surat ini InsyaAllah mewakilli apa yang ada dalam hati ku dan mungkin akhwat yang lain untuk seseorang yang sudah Allah persiapkan….

Terharu juga nih bacanya…..

—————————————————————————————————————————————————

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Dear calon suamiku…
Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?

Wahai Calon Suamiku…
Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya? Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya. Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.

Calon suamiku…
Entah dimana dirimu sekarang. Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku. Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan. Semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang dapati.
Aku masih haus akan ilmu. Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, suamiku.

Wahai calon suamiku…
Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat. Namun nanti, setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.
Aku ini pencemburu berat. Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu.
Pernah suatu ketika aku membaca sebuah kisah; “Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Dia memberiku kaktus berduri. Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik, Dia beri aku ulat berbulu. Aku sempat kecewa dan protes. Betapa tidak adilnya ini.
Namun kemudian kaktus itu berbunga, sangat indah sekali. Dan ulatpun tumbuh dan beruba menjadi kupu-kupu yang teramat cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.”
Aku yakin kaulah yang kubutuhkan, meski bukan seperti yang aku harapkan.

Calon suamiku yang di rahmati Allah…
Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, takkan kunamai dengan gubuk derita. Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih.
Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita, Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.
Bunga akan indah pada waktunya. Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik, tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.

Calon suamiku…
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

hidup ini indah bila engkau selalu hadir di sisiku setiap waktu, hingga aku hembuskan nafas yg terakhir

“Akan ku jaga hati dan diri ku, hingga aku bertemu dengan mu….” (nah…klo yang ini asli buatan sendiri). Jadi ingat juga kata seorang teman “Jagalah hati dan dirimu, makan kau akan mendapatkan yang terjaga yang Allah sendiri penjaganya”

Bogor, 6 Agustus 2010

Linda J Kusumawardani

^Ketika Setiap Kata Bermakna^