Guru Kehidupan (Part 1)

Lama tak menulis, rindu akan aktivitasnya yang mampu menembus ruang dan waktu. Akhirnya bisa sedikit terpenuhi lewat tulisan ini…

Sebuah cerita yang sudah mulai dibuat sejak 3 minggu yang lalu, tapi belum terselesaikan…Semoga Bermanfaat 🙂 🙂 , Note : Tulisan ini sebuah kisah nyata 😀

Sumber : madinahkecil.com

Beliau adalah guru ku, salah satu guru terbaik ku ketika itu bahkan sampai saat ini. Darinya lah aku memulai untuk belajar memahami arti sebuah hidup. Ternyata hidup ini tak seceria tawa ku yang saat itu mengenakan seragam putih abu-abu, kehidupan yang tak selalu dipenuhi warna merah jambu seperti saat manusia merindu. Terkadang hidup ini penuh dengan pilihan yang menyisakan sesal didalamnya.

Semoga Allah merahmatinya, melindungi dan membahagiakannya jika saat ini beliau masih ada dimuka bumi ini. Dan kelak mengizinkannya untuk membaca tulisan ini, memberikan komentar hingga aku kembali bisa bertemu dengan nya. Aku ingin kembali menjalin silaturahim denganya yang telah terputus sejak 9 tahun yang lalu, karena aku masih ingin belajar darinya. Jikapun tidak, semoga Allah terus menyayanginya di alam yang berbeda, karena ada sebuah jariyah yang dimilikinya dari ku, jariyah dari atas ilmu yang telah diberikannya.

Beliau adalah seorang guru bahasa inggris yang ku kenal saat itu, dengan bermodal ijazah D1 di jurusan yang sama beliau mengajar ditempat kursus bahasa inggris yang saat itu aku ikuti. Waktu yang sangat singkat untuk menimba ilmu darinya, hanya 3 bulan saja. Aku sendiri saat itu tak memandang lulusan dari mana beliau ini atau sampai mana level pendidikannya. Tidak, karena faktanya beliau telah berhasil membuat kami, para muridnya menyukai pelajaran yang diajarkannya dan dapat memahami dengan baik apa yang disampaikannya. Begitupula dengan ku, Beliau selalu membuat ku tak memiliki alasan untuk tak hadir setiap 2 kali dalam sepekan, sekalipun hujan begitu deras. Tak pernah ada yang beliau banggakan dihadapan murid-muridnya, namun aku merasa bangga pernah memiliki guru seperti beliau.

2 bulan sudah kami diajarkan dengan penuh semangat dan ketulusan. Mengapa demikian? Ya…rasanya memang sebuah ketulusan hati seseorang itu mampu terpancar dari dalam jiwanya. Sebuah kesimpulan yang dapat aku ambil ketika itu adalah beliau ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat dimanapun beliau berada. Selalu saja sebelum kami pulang, beliau selalu memberikan nasihat nya bagi kami. Hingga akhirnya memasuki bulan ketiga, kami yang berjumlah empat orang hari itu datang seperti biasa, masih dengan keceriaan dan semangat yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Namun, entah mengapa kami merasa aneh karena saat itu guru lain-lah yang mengajar kelas kami. Tak ada penjelasan. Aku sendiri setelah kelas berakhir mencoba bertanya kepada guru penggantinya. Namun sayang sekali beliau tak memberikan sebuah alasan yang jelas. Hanya “izin tidak mengajar”, begitu katanya. Ahh…itu terdengar aneh sekali pikir ku. Satu minggu berlalu…terus begitu hingga memasuki minggu ke-3. “Aneh” ya…hanya itu yang aku pikirkan…”Mengapa sampai tak  ada kabar jika tak mengajar hingga tiga minggu?”…Sudahlahhh…

Diminggu ke-4, betapa terkejutnya kami…sore itu, akhirnya beliau kembali mengajar. Kelas pun berjalan seperti biasa hingga waktu nya habis. Kami kembali antusias mendengarkan apa yang disampaikan hari itu. Semua masih nampak biasa. Hanya satu yang berbeda dari penampilan beliau. Ya…aku melihat ada yang berbeda. Badannya terlihat sangat kurus sekali, dengan postur yang tinggi seperti itu semakin terlihat jika selama 3 minggu menghilang beliau seperti orang yang tak terurus. “apa yang terjadi?” pikirku dalam hati…ya tak pernah terbayangkan oleh ku seberat apa masalah orang dewasa itu. Jika tak salah saat itu usia beliau adalah 27 tahun dan aku masih berusia 16 tahun. Ya…rasanya selisih yang cukup jauh itu membuat aku sulit untuk memahami masalah-masalah orang dewasa. Baca lebih lanjut

Iklan

It’s all about faith… Curlem (curhat kalem)-nya Rihan khususnya buat para pemburu beasiswa

Tulisan ini saya boleh Repost setelah dapet izin dari yang punya nya Rihan Handaulah. Semoga menginspirasi…

Dengan gaya tulisan yang sangat atraktif, pemilihan diksi yang bagus,  dibumbui humor dan sedikit dikemas dengan bahasa science ditambah lagi ini pengalaman pribadi, berhasil membuat saya yang baca, dan saya yakin yang lain klo baca juga  “Dapet” bgt isinya… Langsung aja disimak tulisannya…

Rihan Handaulah

“Life is a matter of uncertainty. The one who certain about himself will live his life.” (Galih P.)

Catatan ini ditulis di penghujung tahun 2012 sebagai bagian dari rasa syukur dan refleksi perjalanan hidup saya di tahun ini. Sekaligus berbagi pengalaman khususnya untuk teman-teman yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tulisan ini ditulis dari kedalaman 2 meter di bawah permukaan laut. Maklum Belanda adalah negeri yang sepertiga wilayahnya di mana kota-kota utama berada terletak sekian meter di bawah permukaan laut. Jadi kemana-mana harus bawa pelampung dan kaca mata renang. Berenang kita. Saya adalah mahasiswa master program “MSc Engineering and Policy Analysis” di Faculty of Technology Policy and Management, Delft University of Technology (TU Delft). Keberangkatan saya ke sini berkat dukungan beasiswa penuh dari Kemenkominfo.

Berkelana dan menjelajahi peradaban-peradaban adalah cita-cita saya sejak SD. Berawal dari hobi nonton bola liga-liga Eropa plus hobi membaca Atlas juga buku RPUL, membuat saya hapal nama-nama kota di Eropa yang ada klub sepakbolanya. Makin kesini makin menguat keinginan saya untuk bersekolah keluar negeri, bukan hanya untuk berkelana, tapi belajar langsung di tempat di mana peradaban modern ini ditulis selembar demi selembar. Duduk di kursi dan menulis di atas meja yang sama dengan orang-orang besar yang telah menorehkan namanya di lembar sejarah manusia dengan tinta emas menjadi motivasi tersendiri. Puncaknya di masa SMA saat saya sedang mencari identitas, saya membaca sosok B.J. Habibie yang soleh dan pintar sebagai gambaran ideal diri saya kelak; menguasai teknologi, bersekolah di Eropa, lalu pulang dan membangun bangsanya secara nyata.
Baca lebih lanjut

Sayap Mimpi…

Jikalah angan itu tetap menggantung, tak kan pernah ku sesali berapa banyak energi yang telah ku keluarkan untuk melompat setinggi mungkin untuk menggapainya…

Jikalah pada akhirnya mimpi itu tak menjadi nyata, tak pernah ku sesali atas apapun yang telah ku upayakan untuk menampakannya dihadapan ku…

Jikalah pada akhirnya harapan itu tetaplah berada tenang dalam pusaranya, tak pernah ku sesali atas kemauanku tetap membiarkannya berada disana…

***

Jikalah…ada sesuatu hal yang membuat kita saat ini, detik ini masih ingin bergerak dengan jiwa yang dipenuhi semangat luar biasa maka tak lain itu dikarenakan mereka yang ku sebut mimpi, asa, cita-cita, atau apalah sebutan lainnya.

Setiap orang berhak memilikinya. Bahkan dengannya terkadang hidup akan lebih berwarna. Walau entah apa pada akhirnya, bagaimana ujung perjalanannya yang jelas bersama mereka semangat itu akan tetap ada untuk menapaki dan menjalani setiap episode kehidupan ini. Dan terkadang anehnya walau keberadaannya pada masa depan belum diketahui dengan pasti, mereka adalah salah satu hal yang pada akhirnya mampu membangkitkan semangat dan menumbuhkan buncahan energi pada diri untuk tetap berjalan. Baca lebih lanjut

Sedikit Menengok Pendidikan Indonesia…

 

Mencoba menyemangati diri sendiri dengan menulis ini….

Mengingat kembali azam dan niat dalam hati untuk maju terus pantang mundur…*Lho???kok jadi kayak quiz gini….hehe…biar ga stress ah….ceritanya lagi stress nih…^_^

Kembali mengingat isi dari UUD ‘45 yang berbunyi “Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa….”…truz maksudnya????hehe

Kali ini sedikit ingin menulis mengenai dunia pendidikan Indonesia dari sudut pandangku dengan memperhatikan kejadian2 yang telah ku lihat…

Langsung saja…

Dunia pendidikan Indonesia akhir-akhir ini memang sangat memprihatinkan. Saat ini kita ketahui semua sekolah yang berstatus negeri digratiskan, katanya sih gratis. Tapi pada kenyataannya masih ada pungutan-pungutan liar tak bertanggung jawab yang dilakukan (memang sih tidak di semua sekolah, tapi oknum2 yang melakukan tindakan seperti ini ada lho…). Belum lagi kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh para oknum guru pada siswa/i nya (info dari berita-berita kriminal) semakin tinggi. Sekarang bagaimana pendidikan bangsa Indonesia ingin maju bila pendidiknya saja tidak memberikan teladan yang baik (MasyaAllah….). Padahal nasib kemajuan suatu bangsa adalah dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak bangsa itu sendiri. Apa yang ingin diharapkan bila anak-anak bangsa itu dididik melalui tindak kekerasan dan tidak manusiawi.

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini pun juga ditentukan oleh biaya yang harus dikeluarkan oleh para orang tua. Kalau dulu banyak sekali orang tua yang bangga anaknya berhasil masuk ke sekolah-sekolah negeri baik SD, SMP atau SMA. Namun saat ini tak bisa dipungkiri bila banyak sekolah-sekolah swasta yang menawarkan kualitas lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah negeri. Bahkan saat ini banyak sekolah-sekolah swasta yang lebih menawarkan fasilitas yang lebih dengan mutu yang lebih baik. Namun, ya…kembali lagi ke biaya. Untuk mendapatkan kualitas sekolah yang seperti ini tentunya biaya yang dibutuhkan cukup tinggi….(lagi2 biaya…).

Belum lagi bila seorang anak sudah dewasa dan akan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi (Tingkat Universitas) berapa biaya yang harus dibutuhkan??? Seolah-olah inilah yang menjadi momok bangsa indonesia, pendidikan hanya dimiliki oleh orang-orang kelas menengah ke atas. Tidak sedikit anak-anak bangsa yang cerdas tidak memiliki cukup biaya untuk melanjutkan sekolahnya….(memprihatinkan…). Ada beberapa orang diantara mereka yang memilih menyerah untuk tidak melanjutkan pendidikan. Namun ada juga diantara mereka yang bersusah payah untuk tetap melanjutkan, contoh Andrea Hirata (ceritanya sangat menginspirasi).

Cerita lain lagi nih, masih seputar pendidikan dari salah seorang temanku yang mlanjutkan kuliah S1 nya disalah satu Univ swasta ini menggambarkan bahwa “money” masih menjadi masalah di dunia pendidikan. Sebuah cerita yang sungguh sangat menyedihkan, namun aku yakin tidak semua universitas seperti itu. Karena masih banyak orang-orang yang mau bertanggung jawab atas amanah yang dipegangnya tanpa harus diiming-imingi uang.

Begini ceritanya…temanku sedang menyelesaikan tugas akhir S1 nya, saat itu dia ingin daftar sidang skripsi. Semua biaya administrasi pun sudah diselesaikan olehnya terkait dengan ini. Tapi…temanku tdk bisa memberikan hardcopy skripsinya kepada para penguji karena dirinya harus bekerja sebelum hari sidang itu tiba. Kalau pengalaman dari kampus sebelumnya hal tersebut secara otomatis akan diurus oleh pihak kampus, yang penting seluruh administrasi sudah beres. Namun apa yang terjadi padanya???temanku dimintai lagi uang sebesar 30 ribu oleh salah seorang dari pihak jurusan untuk masalah ini. Padahal seluruh biaya administrasi sudah diselesaikan olehnya. Sebenarnya nominalnya bukanlah menjadi masalah, namun hal-hal semacam ini sering dialaminya. Jadi, jika dikumpulkan dari awal kuliahnya sudah buanyak sekali. Dan ini baru 1 orang mahasiswa, bagaimana dengan mahasiswa yang lain????wah, keuntungan yang bisa diambil cukup banyak yah….Hmm ….menyedihkan. Ya…sekali lagi aku yakin hal seperti ini tidak terjadi disemua kampus (karena kampus ku tidak begitu…^^). Namun oknum2 semacam ini ada dan bisa memperburuk citra pendidikan di Indonesia yang apa-apa harus menggunakan uang….-_-“.

“Mau sekolah kok kayaknya susah amat….”. Mungkin hal ini bisa terlintas dalam pikiran beberapa orang yang merasa kondisi keuangannya tidak memadai. Hmm…ya lagi-lagi menjadi PR bangsa ini bagaimana agar pendidikan bukanlah menjadi hal yang sulit untuk dicapai.

Oh ya, selain itu….ini juga tidak kalah menyedihkan. Ketika aku mampir ke salah satu universitas ****** (sensor….hehe). kemudian aku makan diarea kampusnya, sungguh sangat menyesakkan sekali ketika aku melihat ada 2 orang wanita SPG rokok yang berpenampilan hmm…ya begitulah..menawarkan rokok-rokok itu ke para mahasiswa. Ini pemandangan yang tidak biasa bagiku. Kok bisa-bisanya ada SPG roko disekitar lingkungan kampus…ckckckck…gak habis pikir. Saat itu mahasiswa yang ditawarkan tepat disamping ku…namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa (lagi-lagi hanya mengingkari dalam hati). Mahasiswa yang ditawarkannya pun menyambut baik dengan senang hati…MasyaAllah, mau jadi apa bangsa ini bila orang-orang muda nya seperti ini????Astaghfirullah…

Seharusnya sekolah baik SD, SMP, SMA bahkan tingkat universitas tidak hanya mendidik para calon penerus bangsa ini dari sisi akademis, namun juga harus dilandasi dengan kokohnya keimanan. Sehingga akan tercipta generasi-generasi yang sangat maju pemikirannya disegala bidang dengan berbekal keimanan (penting nih….).

Hmm….ya ikut terjun ke dalam dunia pendidikan terutama di Indonesia adalah hal yang sangat menarik bagi ku. Ingin rasanya aku pun ikut berperan di dalamnya, ikut membenahi semrawutnya benang-benang birokrasi yang menyimpang…Ya, insyaAllah ASAP…a.k.a As Soon As Possible…Amiin. Walaupun untuk saat ini memang belum ada kesempatan secara langsung untuk terjun ke dunia itu. InsyaAllah suatu hari nanti…

Saat ini aku hanya bisa terjun dari luar dengan mengikuti salah satu organisasi yang concern dalam memajukan pendidikan Indonesia,. Semoga ini sebagai langkah dan modal awal ku untuk nanti….Amiin…

 

Mungkin itu yang dapat di share…

Niatnya memotivasi diri sendiri, namun semoga juga bisa memberi manfaat bagi yang baca dan Alhamdulillah…setelah menulis, sedikit termotivasi….^^

 

Linda J Kusumawardani

28 Oktober 2010

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

Visi Rasulullah Untuk Ummatnya di Abad-21….

Tema yang cukup luar biasa bukan??? Tak disangka ternyata Rasulullah sudah memiliki visi untuk ummatnya di abad ke 21 ya… Tema ini adalah tema yang dikupas malam hari saat aku dan tiga orang teman ku melakukan I’tikaf di At-tin Jum’at lalu dimalam ke-25 Ramadhan. I’tikaf malam itu cukup dihadiri banyak jama’ah. Saat kajian dimulai waktu sudah menunjukkan 09.30 malam. Kajian malam itu kira-kira berjalan kurang lebih 1,5 jam. Di awal-awal aku semangat sekali mendengarkan tausyiah dari sang ustadz karena tema nya yang luar biasa, namun ternyata aku tak mampu bertahan lama, hanya sekitar 45 menit saja aku benar-benar mendengarkan penyampaian sang ustadz yang subhanallah itu karena setelah itu mata ku sudah tak dapat ku kendalikan. Walau hanya sedikit, akan ku coba ku tuliskan ilmu yang sudah ku dapatkan dari sang ustadz.

Kalau berdasarkan tema yang disampaikan, pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan.. “Tahu dari mana Rasulullah memiliki visi untuk ummatnya di abad sekarang?” atau “Emang pernah ada hadistnya ya menngenai hal itu?”. (nebak-nebak, hee….). Maksud dari tema ini sebenarnya memang bukan berarti rasul pernah secara khusus menyampaikan pesan hanya untuk kita ummatnya yang saat ini berada di Abad ke-21. Tapi…urgensi kita belajar dari sirah Nabi bahwasannya banyak sekali hal yang dapat kita jadikan teladan untuk selanjutnya dilakukan pada zaman ini demi Kebangkitan Kembali Ummat Islam.

Inilah beberapa bahasan yang masih dapat dengan jelas ku dengarkan selama 45 menit sebelum akhirnya ku tertidur pulas….hehe… 😀

Semoga bermanfaat….

*Agak serius sedikit ya….. 😀

Bismillahirrahmanirrahim…..

Poin Pertama…..


Jika saat ini antum/na yang sedang membaca tulisan ini belum berstatus menikah (ana juga termasuk nih kedalamnya….), mudah-mudah ini dapat menjadi masukan dalam prosesnya mencapai gerbang pernikahan. Walaupun saat ini ana belum menikah, tapi boleh ya kembali mengingatkan bahwa menikah bukanlah hal yang sederhana, yang hanya sebuah proses pertemuan seorang laki-laki dan wanita yang diresmikan dengan akad dan dihadiri oleh saksi-saksi kemudian selesai. Kalau mau dilihat justru bagian terpenting dari sebuah pernikahan adalah proses setelah keduanya dinyatakan halal karena sesungguhnya amanah atau tanggunng jawab setelah menikah jauuuuuuuuuuuuuh lebih berat.

Ikhwatifillah selain menjadi sebuah ibadah, menikah juga merupakan pemindahan tanggung jawab seorang ayah kepada seorang laki-laki yang menjadi suami dari anak perempuannya yaitu kewajiban menafkahi, mendidik melindungi istri
dan istri wajib menaati suami dengan catatan selama perintahnya tidak melawan hukum Allah. Itu semua adalah sebuah amanah yang luar biasa bagi seorang suami kepada seorang istrinya. Bahkan ikrar (baca:akad) seorang laki-laki saat menikahi seorang wanita merupakan perjanjian yang kuat “Mitsaqan Ghaliza” yang mampu menggetarkan Arsy nya Allah, selain pengucapan syahadat seorang manusia sebagai pernyataan sebuah janji kepada Rabb nya. Luar biasa bukan???

Oleh karena itu, menikah bukanlah sesuatu hal yang sepele dan simple….Disini sang ustadz sangat mengingatkan bahwa memilih seorang pasangan hidup itu adalah hal yang sangat penting. Sangat penting baik bagi seorang ikhwan atau akhwat memiliki visi dan misi yang jelas kedepannya dalam membentuk sebuah keluarga muslim yang kuat dan merupakan titik tolak kedua untuk meraih kejayaan islam setelah menjadi seorang individu yang rabbani. Keluarga muslim merupakan batu bata yang merupakan institusi terkecil dari masyarakat muslim. Seorang muslim yang membangun dan membentuk keluarga, berarti ia telah mengawali langkah penting untuk berpartisipasi membangun masyarakat muslim.

Sang ustadz juga mengatakan cukuplah kisah Nabi Luth as dan Nabi Nuh as saja yang kita jadikan sebuah pelajaran betapa pentingnya membangun sebuah keluarga muslim. Bahkan anak Nabi Nuh as pun Allah tenggelamkan bersama dengan ibunya akibat mengingkari Allah sebagai Rabb semesta alam.

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada dibawah pengawasan dua orang hamba-hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami, Lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu) ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).’.” (Q.S At-Tahrim : 10)”

Cukuplah hanya cerita para nabi saja, jangan terlalu banyak membuat pelajaran-pelajaran pada masa sekarang. Misalnya…seorang laki-laki yang menikah dengan seorang wanita kemudian memiliki anak-anak, namun dalam perjalanannya mengarungi sebuah rumah tangga ternyata sang istri durhaka kepada suaminya (misal, selingkuh) *Naudzubillah) dan sang anak tak berbeda jauh dengan ibunya. Kemudian dengan mudahnya sang suami menyatakan hal seperti ini “Wajarlah, jika saya tak mampu mendidik dengan baik istri dan anak saya, saya kan hanya seorang manusia biasa. Bahkan Nabi Nuh as dan Nabi Luth as pun yang seorang nabi juga bisa gagal dalam membangun sebuah rumah tangga”. Astaghfirullah…jangan sampai hal ini terjadi. Menurut sang ustadz Nabi Nuh as dan Nabi Luth as pun sudah terkena teguran langsung dari Allah berkaitan dengan hal ini. Ana lupa Qur’an surat apa…namun kurang lebih isinya menjelaskan bahwa “Anak dan Istri Nabi Luth as dan Nabi Nuh as merupakan hasil didikan yang gagal”. Itu adalah teguran dari Allah untuk tingkatan para nabi yang dimuliakan. Bagaimana bila teguran itu untuk kita sebagai manusia yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa bahkan memiliki dosa yang menggunung. MasyaAllah….Oleh karena itu, sangat penting bagi diri kita masing-masing untuk memilih pasangan hidup karena agamanya yang kemudian memiliki visi dan misi yang jelas agar rumah tangga yang akan dibina terarah dan memiliki sebuah tujuan.

Kisah lain adalah dari seorang wanita bernama Asiah yang memiliki suami seorang kafir bernama Fir’aun. Hidayah Allah datang padanya melalui Nabi Musa as. Namun tidak sama halnya dengan Fir’aun yang tetap memilih untuk menjadi seorang kafir.

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-oranng yang beriman, istri firaun, ketika dia berkata,’Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam syurga dan sselamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kau yang zalim’.” (Q.S At-Tahrim : 11)

Dari kisah Ibunda Asiah dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa betapa pentingnya memiliki suami yang baik agamanya dan hal ini merupakan sebuah prioritas utama memilih calon pendamping bagi seorang wanita, karena suami itulah yang pada akhirnya akan menggantikan posisi ayah bagi kita (baca :wanita). Bayangkan bila kita berada diposisi Ibunda Asiah, apakah kita mampu mempertahankan keimanan kita???sungguh itu adalah posisi yang sangat sulit. Dan pelajaran lain yang dapat kita (lagi2 para akhwat) adalah rasa cinta kepada Allah harus ditempatkan pada posisi tertinggi dalam Qalbu yang merupakan pusat dari jiwa kita. Karena sungguh betapapun besar rasa cinta kita terhadap sang suami kelak, perintahnya tidak wajib kita ikuti ketika sudah bertentangan dengan syari’at-syari’t islam.

Selain itu meminta kepada Allah untuk memilihkan seorang pendamping hidup terbaik merupakan hal yang paling utama karena hanya Allah-lah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi diri kita. Berikut adalah doa yang biasanya dipanjatkan seseorang yang belum menikah dan akan menikah…

Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama …QS. Al Furqan (25) : 74

Yang artinya :

” …Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)….”


Dari doa diatas Allah memperlihatkan betapa pentingnya memilih seorang pendamping hidup, karena meminta pasangan disebutkan terlebih dahulu baru kemudian keturunan. Sehingga memilih calon suami/istri bukanlah perkara main-main karena seorang anak yang akan bermanfaat bagi ummat ini dilahirkan dari Orang Tua yang Luar Biasa.

Oleh karena itu, ikhwatifillah jadikan rasa cinta kepada Allah sebagai landasan dalam melangkah kejenjang pernikahan, bukan rasa cinta yang lain…kemudian jadikan agama sebagai modal awal dalam memilih calon pendamping…..sehingga akan diperoleh kebarokahan dalam berumah tangga nantinya. Sebuah visi dan misi merupakan hal yang tidak kalah penting untuk dijadikan pondasi awal sehingga lebih memantapkan dalam membangun keluarga muslim yang akan menjadi titik awal tumbuhnya generasi rabbani yang akan menjadi soko guru peradaban islam.

Bagaimana apa antum/na sudah menyiapkan visi dan misi untuk melangkah ke gerbang ini????

Poin Kedua………

Sang ustadz pun membahas peran penting orang tua bagi anak-anaknya. Bagaimana saat ini banyak sekali orang tua yang sudah mengkerdilkan pikiran anak-anaknya. Banyak orang tua saat ini yang tidak mempersiapkan anak-anak nya untuk menjadi pemimpin sebuah peradaban. Padahal seharusnya itu menjadi mimpi bagi setiap orang tua untuk memiliki seorang anak yang dapat bermanfaat bagi ummat ini, karena kita adalah ummat terbaik seperti apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran :

Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (Q.S Ali-Imran :110)

Apa contohnya???saat ini banyak orang tua yang sering sekali mengatakan hal ini pada anak-anaknya “Nak, nanti kamu kuliahnya di Universitas A atau B aja ya, karena lulusan-lulusan dari sana cari kerjanya gampang. Nanti kamu bisa kerja diperkantoran bagus”….Secara sadar atau tidak pernyataan ini sebenarnya sudah mengkerdilkan pikiran sang anak. Bagaimana tidak?? Sayang sekali kan kalau seorang anak yang punya potensi bagus itu hanya harus kerja diperkantoran saja dan hanya sekedar “mudah” mendapatkan pekerjaan. Padahal mungkin saja sang anak itu menjadi seorang pemimpin dunia yang juga memikirkan hal-hal besar tidak hanya pekerjaannya saja namun juga ummat manusia. Oleh karena itu…sebagai orang tua atau calon orang tua, maka menjadi kewajiban kita untuk menumbuhkan pikiran-pikiran besar itu pada anak-anak kita kelak.

Dan bagi kita yang saat ini memiliki mimpi besar untuk menjadi salah seorang pemimpin peradaban islam atau termasuk kedalam orang-orang yang berada didalamnya salah satu kunci yang perlu kita pegang adalah bagaimana kita mampu menjadi anak yang sholeh/sholehah bagi orang tua kita yang mampu menyejukkan pandangan mereka “Qurrata’ayun”. Sebuah statement yang luar biasa yang ana garis bawahi dari sang ustadz adalah “Seorang anak belum bisa menjadi seorang pemimpin sejati bila belum mampu menyejukkan pandangan Orang Tuanya”. Oleh karena itu betapa penting nya diri kita sebagai seorang anak mengamalkan secara menyeluruh mengenai materi “Birrul Walidain”. Karena sejatinya, Ridho Allah terletak pada ridho orang tua kita.

Poin Ketiga…

Ini adalah bahasan ustadz terakhir yang ku perhatikan sayup-sayup hingga akhirnya mengantarkan ku ke alam mimpi, walaupun begitu mudah-mudahan ingatan ku masih dalam kondisi baik untuk menceritakannya kembali…Amin!

Bahasan ketiga ini pun tak kalah menarik, sang ustadz menceritakan tentang berbagai macam peperangan yang berhasil dimenangkan oleh pasukan ummat muslim baik pada zaman Rasul ataupun para sahabat. Dimana kunci kemenangan-kemenangan itu hampir seluruhnya bukan karena disebabkan oleh kuantitas tentara muslim yang sangat banyak bila dibandingkan dengan jumlah tentara musuh, namun kualitas para tentara muslim.

Salah satu peperangan yang diceritakan oleh beliau adalah kisah penaklukan sebuah kota yang pernah dijanjikan oleh Rasulullah oleh seorang Pemuda bernama Muhammad Al-Fatih. Siapa yang tidak mengenal beliau?? Sang Penakluk Konstantinopel.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]

Seleksi Allah Jatuh ke tangan Muhammad Al-Fatih

Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.
Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri.

“Saudara-saudaraku di jalan Allah..” ujarnya,

“Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.
“yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”
Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.
“yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an melebihi sebulan, silakan duduk!”
Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.
“yang pernah kehilangan hafalan Al-Qur’annya, silakan duduk!”
Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan merekapun duduk.
“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”
Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggelentar.
“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaamul Bidh, silakan duduk!”
Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang Sultan sendiri. Namanya Muhammad Al-Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Begitulah kira-kira keistimewaan yang berada pada diri seorang Muhammad Al-Fatih.Sungguh patut diteladani dan harus menjadi inspirasi bagi para pemuda-pemuda muslim. Pasukkan perang Muhammad Al Fatih adalah orang-orang yang senantiasa menjalani perintah Allah dan Sunnah Rasul dengan sangat baik. Sebagai contoh adalah pasukan ini senantiasa melakukan Qiyamulail di 1/3 malam terakhir. Mereka habiskan waktu itu untuk berkhalwat dalam kecintaan kepada Rabb nya, malam-malamnya semakin berkualitas dengan larutnya mereka membaca surat-surat cinta dari Allah yang semakin menambah ketaqwaan dan keimanan mereka. Sehingga pantas saja jika Allah memenangkan pasukan dalam peperangan untuk menaklukan Konstantinopel. Walaupun secara kuantitas saat itu sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan musuh, namun kualitas keimanan merekalah yang pada akhirnya menjadi modal utama kekuatan melawan para musuh.

Masih ada satu kota lagi yaitu Romawi yang pernah Rasulullah janjikan penaklukannya akan berada pada tangan seorang muslim.Siapakan Muhammad Al Fatih selanjutnya????

_Sebagai catatan bagi kita semua adalah peneliti dari Barat pernah memprediksi  bahwa kebangkitan ummat islam akan muncul dari arah timur tepatnya adalah dari INDONESIA. Hal itu dapat dilihat dari salah satu cirinya jika sampai suatu saat nanti akan banyak ummat muslim yang berbondong-bondong datang ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah_Sungguh luar biasa…..Allahuakbar!!!!!

* Ana tak pernah bosan mendengar kisah seorang Muhammad Al-Fatih. Bila ana mendengar cerita ini ada sebuah harapan yang besar yaitu bila Allah izinkan…ana ingin menjadi Ibu dari sosok Sang Penakluk Romawi atau menjadi seorang pendamping Sosok Sang Penakluk Romawi…..Amiiiin ya Rabb….Hmmm…tapi masih banyak kekurangan dalam diri, masih banyak yang perlu diperbaiki…semuanya InsyaAllah sebuah proses. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya….

Itulah 3 poin yang dapat ana bagikan untuk antum/na semua sebagai oleh-oleh i’tikaf ana dimalam ke-25 Ramadhan tahun ini….semoga dapat diambil manfaatnya….

Syukron Katsir….

Wallahu’alam bishowab…..

Bogor, 05 September 2010

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

Puisi Part III….^Kawan…Hidupmu adalah Perjuanganmu^

Malam ini menunjukkan pukul 10.32 malam dilaptop ku…malam sudah sangat larut, namun mata ini sulit terpejam teringat puisi yang harus ku kirimkan ke panitia esok hari belum ku buat…tapi, hari ini sungguh melelahkan untuk ku.  Jam 9.00 malam aku baru tiba dirumah…ada pekerjaan mendadak harus ku selesaikan (aku tidak begitu suka dengan hal2 yang mendadak sebenarnya) dan pekerjaan itu tidak sesuai dengan prinsip yang ku pahami secara keilmuan…namun harus bagaimana lg?Mau mengeluh??inginnya sih begitu…tapi dipikir2 buat apa??hmm… ga ada manfaatnya, sayang energi ku terbuang untuk hal yg tdk manfaat, bahkan bisa membuang pahala yang skrg (baca:ramadhan) sedang diskon…melatih kesabaran…aku harus tetap melakukannya karena sudah menjadi tanggung  jawab ku…

Setelah berjam-jam lamanya melakukan persiapan sebelum melakukan tugas utama…tiba2 dengan cara-Nya sendiri…Allah membatalkan begitu saja hanya dengan hitungan menit. Lagi-lagi sungguh Luar Biasa caranya, Unpredictable!!! Alhamdulillah ya Allah akhirnya bisa pulang juga…*gumam ku dalam hati saat itu…

akhirnya kejadian hari ini pada akhirnya sedikit memberikan inspirasi untuk ku dalam membuat puisi diminggu ke-3 yang bertemakan “Perjuangan yang Hakiki”…Silakan disimak…

Kawan…Hidupmu adalah Perjuanganmu….

Kawan…
Hidupmu saat ini adalah angan mu terdahulu
Perjuangan mu dimasa lalu
Yang terkadang berwarna biru
Atau berubah menjadi kelabu

Kawan…
Jikalah dalam perjalanan hidup terik mentari mulai terasa
Kemudian mimpi mu terbang di celah dedaun udara
Bagaikan derai-derai camar di hujung senja
Yang hilang di celah pohon angkasa.
Janganlah hati lemah hingga berputus asa…

Kawan…
Sadarilah dengan hatimu bahwa dunia ini indah
Sangat banyak hal yang mampu kau ubah
Walaupun…kau hanya orang-orang bawah
Namun yakinlah kau kan sanggup menjelajah

Kawan…
Betapa hidup ini memang harus berjuang
Walau badai tlah datang menghujam
Penuh dengan batu-batu dan kerikil tajam
Bagai busur panah yang menembus dada terlalu dalam

Kawan …
Yakinlah perjuangan mu takkan menjadi kesia-siaan
Walau banyak orang mentertawakan
Namun ku yakin kau tidak diam
Karena kau kan mampu bertahan

Kawan…
Siapkanlah diri tuk hadapi hidup ini
Hingga titik akhir denyut nadi berhenti
Dengan berharap akan adanya pertolongan illahi
Tuk gapai kebahagiaan hidup abadi
Yaitu saat kau rasakan aroma syurgawi….

Sebenarnya puisi ini adalah buah lintasan pikiran ku yang sudah mulai jenuh malam ini…seperti ikatan atom karbon yang ikatannya sudah tak mampu di eliminasi lagi bahkan di substitusi karena seharusnya adalah di addisi….Tapi, ku yakin walau begitu ikatan-ikatan karbon dalam kepala ku akan terhimpun dan membentuk sebuah mutiara indah bukan sebatang arang hitam…karena masih mampu mennghasilkan suatu karya….

Jakarta-Bogor, 19 Agustus 2010

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^