Mengambil Hikmah dari Sebuah Keluarga (Part 2 , The End)

Prayer-faith-God-stones

Part Sebelumnya, Klik disini…

“Bu…saya ini juga masih belajar masalah agama. Jadi bukan berarti saya lebih paham. Ehmm…setahu saya bu, apapun perintah suami selama tidak bertentangan denga syariat dan perintah Allah memang harus dipenuhi. Kalau memang dirasa ada yang tidak sesuai dengan diri kita mungkin bisa dibicarakan baik-baik. Bukan berarti menolak sih, tapi bisa jadi kondisi kita yang tidak memungkinkan. Masalah saran, ya boleh banget sebagai istri memberikan masukan, selama itu demi kebaikan bersama. ”

“Tapi saran saya gak pernah diterima mbak”

“Ehmm…kalo saran, mungkin cara kita ada yang salah bu dalam menyampaikan. Ehmm..kalau sudah diperbaiki dan masih tidak berefek, mungkin yang kesalahan bukan pada sarannya bu, tapi personal. Manusia itu kan bisa punya frame terhadap seseorang karena kebiasaan yang sudah dilakukan, jadi bisa jadi frame yang terbentuk ke ibu yang membuat sarannya tidak diterima. Maksud saya kalau sudah dicoba dengan segala hal bisa jadi yang salah bukan sarannya, tapi sudut panda seseorang terhadap kita. Mau sebaik apapu saran yang diberikan kalau sudah terlanjur punya frame tidak suka atau negatif jadi sulit diterimanya”

“Jadi saya harus bagaimana mbak?”

“Ehm…Ibu pernah coba minta tolong ke orang yang nasihatnya bisa didengar bapak?”

“Belum sih mbak…saya gak mau juga sih kalau keluarga saya sampai tahu masalah rumah tangga saya.”

“Lha bu..saya malah bukan siapa-siapanya ibu” pikir saya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal

Suara hujan diluar terdengar semakin deras, petir dan kilat pun muncul bergantian membuat aku harus lebih berkonsentrasi mendengarkan suara si Ibu yang semakin lama terdengar semakin pelan. Suara sang Ayah yang sedang berbincang dengan sang Paman diteras rumah masih dapat sayup-sayup juga ku dengar. Ibu ini masih melanjutkan curahan hatinya, sesaat aku lihat jam didinding yang tepat berada disamping atas ku. Ternyata wsaktu sudah menunjukan pukul 19.20.

Si Ibu yang ngeh sepertinya dengan gerak tubuhku menyadari bahwa ini adalah waktu anaknya untuk belajar dan bukan sesi curhat dengan ku…

“Iya mba, nanti saya coba…soalnya kondisi saya saat ini memang berbeda dengan dulu. Dulu waktu anak saya masih 1, pelarian saya bisa ke hangout ke luar, makan keluar sama temen-temen. Tapi lama-kelamaan saya belajar juga. Saya bisa menghabiskan uang saya buat ego saya, makan, jalan-jalan setelah pulang dari kerja. Tapi saya bingung besok anak-anak makan apa kalau saya begini terus. Sekolah gimana kalau saya gak bantu suami saya kerja. Ya maklum mba, gaji PNS kan gak seberapa”

Saya tersenyum sambil manggut-manggut mendengar ucapan beliau…

“Sama jangan lupa doakan suami ibu terus ya bu, supaya Allah buka pintu hatinya bapak…”

“Saya sih sudah mendoakan suami saya mbak. Sampai kalau saya berdoa sama Allah kadang-kadang seperti orang yang sedang ngobrol gitu mbak bahasa nya..”

“Hehe…gak apa-apa bu, saya juga suka gitu kok kalau berdoa. Jadi kayak kita lagi ngobrol gitu sama Allah. Biar lebih plong curhatnya pas abis shalat”

“Kenapa hidup saya begini ya Allah…” dan…bla..bla..bla. Sambil beliau menggambarkan caranya berdoa dengan  menggerak-gerakkan tangannya ke atas layaknya orang sedang berdoa

“Iya bu, gak apa-apa…Allah Maha Tahu, InsyaAllah. Yang penting kita nya gak bosen berdoa. Kita bisa minta tolong sama siapa lagi selain ke Allah bu, yang menggerakkan hati manusia untuk membantu  kita itu Allah juga soalnya. Saya sendiri percaya sama kekuatan doa.”

“Iya mbak, saya juga percaya” katanya mantap sambil mengangguk-angguk

“Oiya bu, ngomong-ngomong masalah doa. Ada doa yang ibu bisa baca. Namanya doa pengikat hati…Ibu bisa baca doa itu setiap habis shalat. Sambil dibaca nanti sambil dibayangin wajahnya bapak, Semoga nanti Allah bisa melunakkan hatinya.”

“Oh ada mbak?” Tanya beliau memastikan dengan sangat antusias

“Ada bu, Saya punya pengalaman sama doa ini…Insyaallah kalau sungguh-sungguh doanya, Allah kabulkan”

“Oh gitu mba? Gimana ceritanya..?” Bola matanya kini nampak lebih membesar

“Ini sih bu, dulu waktu saya kerja…ada salah satu atasan saya yang emang sikapnya gak disukai sama semua bawahannya. Cara minta tolongnya, nyuruh-nyuruh gitu…pokoknya hampir semua satu departemen itu ngomongin beliau karena tiap hari ada aja yang gak disukai dari beliau. Saya sendiri termasuk yang sering dimintain tolong..yaa…saya sendiri juga harus sabar-sabar kan menghadapi beliau, kalau beliau salah pasti gak mau disalahkan. Akhirnya ya saya berdoa pakai doa itu bu, Alhamdulillah semakin kesini sikap beliau berubah, semakin lunak dan saya merasa jauh lebih bisa menghadapi beliau. Sampai temen-temen yang lain aja bingung, kenapa kalau ke saya nya jadi beda, lebih baik gitu katanya…hehe. Ya Alhamdulillah…karena gawat kan bu kalau saya kerja gak menikmati pekerjaan, setiap hari saya ngedumel terus, bisa-bisa rejeki saya malah jadi gak berkah…hehe ”

Wajah sang Ibu seketika berubah setelah mendengar cerita itu “Oh…begitu ya mbak? Boleh saya minta doanya..ada artinya dalam bahasa Indonesia kan mba?”

“Iya bu ada, nanti minggu depan Insyaallah saya bawakan buku nya. Ada artinya kok, dibuku itu juga ada semacam dzikir pagi-sore nya. Ibu bisa baca juga nanti”

“Ohhh…iya mba, makasih banyak ya…” beliau pun tersenyum

“Sama-sama bu…”

“Adeeek….Adeeeek…Ayo buruan belajar. Ini kak Linda nya udah nunggu” Finally… anak nya pun dipanggil untuk memulai belajar.

Alhamdulillah artinya si Ibu sudah lebih tenang dan uneg-uneg nya berkurang. Sesaat aku melihat lagi jam di dinding. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 lewat beberapa menit.

Baiklah …kalau begitu jatah belajar waktu kakak adik ini masing-masing 45 menit, karena 15 menit milik mereka sudah diambil Sang Ibu, hehe…

***

Banyak hal kemudian yang saya pelajari dari keluarga ini. Salah satunya adalah selelah apapun aktivitas kita diluar, keluarga dirumah adalah bukan tempat pelampiasan rasa lelah kita, anggota dirumah adalah orang yang paling berhak mendapatkan kasih sayang dari kita. Tak seharusnya mendepatkan luapan emosi kita yang sebenarnya hanya sesaat karena dampaknya justru malah lebih besar dan dapat berefek jangka panjang daripada emosi kita yang sesaat itu.

Dan Doa, jangan pernah berhenti berdoa. Karena Allah pasti mengabulkan doa-doa kita… 🙂
Note :

  • Alhamdulillah hubungan antara anak laki-laki dan ibu-nya sudah kembali baik
  • Dan Alhamdulillah Al-Matsuratnya sudah sampai ke tangan Sang Ibu semalam… 🙂 , Semoga Allah segera kabulkan doanya ya bu…

Tamat, 27 Maret 2015

Linda J Kusumawardani

Blogger Pembelajar dari Kehidupan

Iklan

Surat untuk Calon Suami ku…..

Seperti yang ditulis dijudulnya….ini memang surat cinta untuk calon suami ku…

Tapi….sebenernya bukan diriku yang buat…lho kok???iya….soalnya, ini boleh copas dari salah seorang note temen di FB…isinya subhanallah…itu yang pada akhirnya memberanikan diriku untuk izin copas note ini…dan rasanya isi surat ini InsyaAllah mewakilli apa yang ada dalam hati ku dan mungkin akhwat yang lain untuk seseorang yang sudah Allah persiapkan….

Terharu juga nih bacanya…..

—————————————————————————————————————————————————

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Dear calon suamiku…
Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?

Wahai Calon Suamiku…
Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya? Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya. Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.

Calon suamiku…
Entah dimana dirimu sekarang. Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku. Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan. Semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang dapati.
Aku masih haus akan ilmu. Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, suamiku.

Wahai calon suamiku…
Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat. Namun nanti, setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.
Aku ini pencemburu berat. Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu.
Pernah suatu ketika aku membaca sebuah kisah; “Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Dia memberiku kaktus berduri. Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik, Dia beri aku ulat berbulu. Aku sempat kecewa dan protes. Betapa tidak adilnya ini.
Namun kemudian kaktus itu berbunga, sangat indah sekali. Dan ulatpun tumbuh dan beruba menjadi kupu-kupu yang teramat cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.”
Aku yakin kaulah yang kubutuhkan, meski bukan seperti yang aku harapkan.

Calon suamiku yang di rahmati Allah…
Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, takkan kunamai dengan gubuk derita. Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih.
Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita, Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.
Bunga akan indah pada waktunya. Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik, tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.

Calon suamiku…
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

hidup ini indah bila engkau selalu hadir di sisiku setiap waktu, hingga aku hembuskan nafas yg terakhir

“Akan ku jaga hati dan diri ku, hingga aku bertemu dengan mu….” (nah…klo yang ini asli buatan sendiri). Jadi ingat juga kata seorang teman “Jagalah hati dan dirimu, makan kau akan mendapatkan yang terjaga yang Allah sendiri penjaganya”

Bogor, 6 Agustus 2010

Linda J Kusumawardani

^Ketika Setiap Kata Bermakna^