Mengambil Hikmah…(Episode : Gara-gara Kunci)

Mengambil Hikmah…(Episode : Gara-gara Kunci)

Pagi itu cerah secerah wajah Icha yang dipenuhi dengan senyuman, berjalan berangkat menuju tempatnya bekerja dengan penuh semangat 45. Sambil mendengarkan lagu-lagu Maher Zain icha menggunakan headset yang sudah menempel ditelinganya, dia membaca artikel-artikel berita pagi dengan gadgetnya yang hampir tidak pernah terlepas dari tangannya selama perjalanan dalam angkutan umum itu.

Namun, tiba-tiba icha membuang gadget itu dari tangannya. Gerakan itu terlihat reflek tidak direncanakan.

“Kenapa cha????” tanya Ira, teman perjalanan yang juga satu kantornya.

“Kunci…kunci…” Icha menjawab sambil merogoh-rogohkan tangan ke dalam tasnya. Selama beberapa saat dia tetap mencari disemua kantong dalam tasnya. Baca lebih lanjut

Iklan

The Journey To Japan (Episode : Hari Pertama)

Sebelum Berangkat….sempet2 nya kita foto2 dulu di Bandara Soetta….dasar narsis 😀

Sesampainya di Narita….

Brrrrrrrr…..Dingiiiiin….

Kata sensei suhu pagi itu adalah 17 derajat.

“Hmm…Pantes aja dingin, kaget juga nih kulit biasa Cuma berada di area yang suhunya rata-rata 30 derajat.” Kataku dalam hati sambil menunggu JR Express dari Bandara Narita pagi itu sekitar pukul 09.00 pagi waktu Jepang. Dan akhirnya beberapa saat kemudian, kereta yang dinanti itu akhirnya datang juga.

Perjalanan menuju Yokohama membutuhkan waktu sekitar 3 jam-an dari Bandara Narita. Dan selama itu pula aku terus memandang keluar jendela. Walau mata berat rasanya ingin tidur karena sejak jam 4 pagi sampai tiba dibandara mata tidak juga mau terpejam, karena perut ku terasa mual . Walau ingin sekali tidur namun rasanya berat juga untuk ditutup. Karena saat itu aku berada dalam perasaan antara percaya dan tidak pagi itu aku sedang tidak berada di Indonesia. Senang rasanya saat melihat tulisan Yokoso Japan…. 🙂 🙂 🙂

Sambil berbincang dengan teman sebelah ku, aku berulang bertanya “Bener ya sekarang kita berada di Jepang?” . Waduhhh….mungkin terdengar katro gimana gitu ya….tp ya gimana, masih gak berasa soalnya. Gak berasa ngeluarin apa-apa hehe… eh tahu-tahu udah ada disana… :D. Semua akomodasi sudah ditanggung oleh pihak perusahaan mulai dari Fasilitas Pesawat  PP, Hotel, Uang makan perhari, Entertaint dan Allowance untuk keperluan setiap personil. Alhamdulillah 😀 Baca lebih lanjut

Pelangiku…(Cerpen Series)

5 tahun sudah penyakit ini bersarang di kepala ku, menggerogotinya hingga kini menjelang tahunnya yang ke-6. Tak jarang keputusasaan menghampiri ku hingga pertanyaan-pertanyaan itu menyerang pikiran ku…

”Ya Allah…mengapa cobaan ini harus aku yang menerimanya? Mengapa ya Allah Kau menilai ku mampu menghadapi ujian ini?kenapa…kenapa…kenapa ya Rabb?????aku sudah tak sanggup…” butiran-butiran air mata itu mengalir deras dari mata ku

Hampir setiap hari selama 1 tahun terakhir aku menangisi kondisi ini. Setelah 4 tahun aku berusaha bersabar dan menguatkan hati dalam menghadapi semuanya. Namun, kini… tak bisa ku pungkiri keputusasaan perlahan mengikiskan kepercayaan ku akan kedatangan pertolongan dari-Nya. Ataghfirullah…aku sudah tidak sanggup lagi melihat tetesan air mata ibu yang setiap hari dengan sabar mengurus dan merawat ku. Ayah…pengorbanannya untuk membiayai pengobatan ku sudah sangat banyak. Terlalu banyak materi yang dikeluarkan oleh ayah untuk mengobati penyakit ini, bahkan tanah satu-satunya warisan dari mbah pun harus dijual untuk mengobati penyakit ku. Padahal tanah itu….tanah itu seharusnya menjadi tabungan ayah dan ibu pergi haji tahun depan, namun demi aku anak satu-satunya ayah rela dan ikhlas menukarnya untuk biaya operasi ku 3 bulan yang lalu. Walau kini ternyata kondisi ku tidak mengalami perubahan yang signifikan. Bahkan kini disaat usia mereka yang sudah mulai senja akulah yang seharusnya merawatnya. Ayah…Ibu…mereka sedikit pun dia mengeluhkan penyakit yang sudah bertahun-tahun ada dalam diri ku. Aku menangis sejadi-jadinya bila ku ingat kesabaran mereka merawatku yang hanya bisa berbaring lemah ini.

Aku juga sering membayangkan, seharusnya diusia ayah dan ibu saat ini, mereka sudah bisa menimang cucu dari rahim ku. Sedih rasanya saat melihat ibu bermain dengan anak tetangga ku yang sering datang ke rumah setiap hari, usianya baru sekitar 3 tahun. Lucu dan menggemaskan…bayangan dalam benak ku selalu membuatku merasa bersalah. Andai saja anak itu adalah anak ku dan cucu dari ayah dan ibu ku. Ya Allah apakah terlalu berlebihan jika  aku memikirkan hal itu. mana ada lelaki yang ingin menikah dengan ku???wanita dengan penyakit kanker otak stadium 3 dan kini usia ku sudah tidak lagi muda. Baca lebih lanjut

Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 5….The end Of The Story)

Sore itu setelah jam kerja selesai nisa dan rini tidak langsung pulang. Mereka beranjak dari ruangan menuju mushola yang sore itu pasti sepi dari hiruk pikuk karyawan lain. Di area tempat shalat wanita mereka kembali berbincang yang letaknya memang terpisah dari area shalat laki-laki

”krek…” suara pintu mushola terbuka

Rini menyalakan kipas angin, kebetulan sore itu udara tidak sedingin biasanya. Mereka mengambil posisi tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol.

”Sini aja rin. Biar bisa senderan” usul nisa

”Oh iya…”

Sambil menyelonjorkan kedua kakinya rini bertanya

”Jadi???gimana nis?”

”He….aku kok cengeng banget ya ngadepin hal kayak gini.”

”Ya…namanya juga wanita, lembuut banget perasaannya.Hmm…klo aku jadi kamu sih belum tentu bisa melakukan hal ini.”

”ah…apa maksudnya rin?”

”Ya….perasaan kamu takut menzdolimi Ari itu lho.”

”Oh….”

”Lanjutin ceritanya sampe maghrib ya kita disini. Udah lebih tenang kan?”

”Alhamdulillah sudah…ya begitulah, aku bingung. Aku udah shalat istikharah beberapa kali. Tapi jawabannya belum terlihat juga.”

”Hmmm….mungkin itu karena kamu sudah cenderung ke arman. Kan kalau istikharah perasaan kita harus netral.”

”Iya, Mungkin….”

”Selain itu rin…aku sebenarnya juga bertanya-tanya apa Arman juga merasa seperti ini ya? Aku gak pernah merasa se ge-er ini rin sama seorang ikhwan.”

”Eh…kok bisa-bisa nya kamu bilang ge-er. Kalau kamu ge-er, berarti ini pertama kali nya kamu ge-er. Nis… kalo menurutku menurutku sifat arman juga ada yang salah, karena aku tahu kamu gak pernah seperti ini sebelumnya.” Baca lebih lanjut

Aku akan Berdamai dengan Takdirnya….(Part 4)

Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 12.00. Nisa dan Rini bergegas pergi ke kantin untuk makan siang. Kali ini mereka mengurangi jatah waktu makan siangnya menjadi hanya 15 menit. Secepat kilat setelah selesai makan, nisa dan rini melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk shalat berjamaah dimushola yang jaraknya tidak jauh dari kantin. Setelah selesai, pukul 12.30 keduanya beranjak naik ke ruangannya.

Dalam suasana hening siang itu, rini berusaha sekuat tenaga mendengarkan baik-baik dan memandang penuh cinta pada saudarinya hingga dirinya benar-benar merasakan apa yang dirasakan nisa. Dengan menggenggam erat talapak tangan nisa kini rini mulai menyampaikan sebuah pernyataan padanya.

”Ukh…silakan ceritakan apa yang terjadi pada hati mu. Aku tahu ini sangat sulit, tapi kamu harus bisa nis memilih dan melewati ini semua.”

Nisa masih saja tak bergeming, dia bingung dengan perasaannya sendiri.

”Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan. Aku tak memaksa kamu memulai dari mana, aku ingin kali ini kamu mengikuti apa kata hatimu nis.” Tatapan rini nampak semakin lembut dan begitu dalam

”Hmmm…” kali ini suaranya mulai terdengar.

”Iya….aku bingung rin harus mulai dari mana.”

”Aku tak memaksamu kalau memang ini sulit untuk diceritakan.”

”Bukan…bukan begitu maksud ku, aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Hmm…baiklah….”

”hufft” Nisa menghela nafas cukup panjang.

Nisa pun memulai ceritanya…. Baca lebih lanjut

Aku Akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 3)

Pagi itu perasaan nisa penuh kebimbangan. Perasaan yang semakin jenuh dalam benaknya. Nisa ingin kembali menikmati harinya dengan normal seperti biasa, seperti saat dulu sebelum hal ini terjadi padanya. Kini….pandangannya kosong menatap sendok yang dimainkannya berputar diatas piring….

”Nis….kok ngelamun??”

”Eh…iya bund…enggak kok.” kepalanya mendengak

”Enggak gimana? Itu sarapan kamu gak habis-habis dari tadi.”

”Oh…ini…hmm…ini bund. Tiba-tiba gak selera makan.”

”Akhir-akhir ini jadi sering ya kamu gak selera makan….oh iya nis,gimana ari udah sms kamu belum nis?” Tanya sang bunda pada nisa dengan tatapan penuh harap sebuah jawaban

”Bunda perasaan setiap hari nanyain itu terus….”

”habisnya bunda penasaran juga, kenapa dia belum sms sms kamu.”

”Hmmm….udah bund sebenernya, baru semalem kok.”

”Oh sudah ya ternyata, kok kamu gak bilang sih?”

”Buat apa bilang bund, belum ngobrol apa-apa kok.Lagi pula kemarin nisa banyak kerjaan dikantor, cape bund. Jadi gak lama habis shalat isya tidur deh trus gak sempet ngobrol sama bunda.” matanya tetap menghadap nasi goreng yang ada dihadapannya

”Oh begitu…untung bunda tanya lagi ya ke kamu hari ini.”

”Eh…tapi bunda jangan tanya lagi ya kelanjutannya atau isi sms nya gimana. Biar nisa ambil kesimpulan dulu Ari itu orangnya seperti apa.”

”Hmm…kalau menurut bunda Ari itu dari keluarga baik-baik. Ibu nya saja Hafidzah dan sering ngisi majelis ta’lim ibu-ibu.”

”………” nisa hanya terdiam

”Dia itu sedang menyelesaikan skripsi kuliah S1 nya, tapi sudah bekerja kok dan memang sepertinya Ari sudah waktunya menikah karena usianya sudah 27 tahun”

”……….” nisa masih terdiam sambil memainkan sendok

” Oh ya…walaupun Ari atau Ibunya itu belum tahu kamu seperti apa, tapi Ibunya itu setuju banget loh kalau Ari itu jadi sama kamu.”

Nisa tersentak kaget ”Hah????apa bund? Kok bisa? Ketemu aja gak pernah. Aduuuuh… Bundaaaa….nisa itu bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa yang masih banyak bangeeeet kekurangan. Kok bisa-bisa nya yakin begitu?”

” Yaa….mungkin dari bude nya.bunda juga gak tahu bude nya cerita apa tentang kamu sampai bisa begitu tanggepan keluarganya”

Kepalanya kembali menunduk ”Ah bund….ngobrol aja gak pernah sama budenya. Paling kalau ketemu cuma nyapa biasa aja.”

”Yaa….klo bunda sih gak maksa tergantung kamu nis gimana nantinya.” Baca lebih lanjut

Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya…(Part 2)

Asslmkm. Ini benar nomornya mba nisa kan ya? Bgm kabarnya mba nisa beserta keluarga? smg senantiasa dlm lindungan Allah. Amin.Sbnrnya sya bingung harus mulainya dari mana. Mhn maaf jk sms saya mengganggu.

”Nomor tidak dikenal…” gumam nisa dalam hati

”Nomor siapa ini? pengirimnya tidak menyebutkan nama sama sekali.Apa mungkin ini nomor Ari???”

Detak jantungnya mendadak bergerak cepat setelah membaca sms itu. Tangannya lemas, pikirannya melayang entah kemana. Sms yang paling dikhawatirkannya itu akhirnya harus diterimanya malam itu.

“Ya Allah…beri kekuatan pada hamba.” lirih suaranya terdengar

Tanpa sebuah instruksi butiran air mata kembali tak mampu ditahan oleh kantung mata nisa. Terbayang sosok Arman dalam benaknya, namun ditepisnya jauh-jauh dengan meluruskan kembali niatnya untuk menerima siapapun kelak yang akan didampinginya. Nisa mencoba kembali menguatkan hatinya, mengucap bismillah. 1 jam kemudian dan setelah dirinya menunaikan shalat isya akhirnya hatinya mampu dikendalikan. Nisa memutuskan untuk membalas sms itu.

Wa’alaykumsalam. Iya betul ini nisa. Mohon maaf sebelumnya ini nomor siapa? Karena tdk ada di phone book saya.

Tidak butuh waktu lama sepertinya hanya 15 menit kemudian terdngar kembali nada sms berdering dari Hpnya. Perlahan nisa kembali membuka pesan yang terlihat di display Hpnya itu.

Saya Ari, mungkin mba nisa sudah pernah mendengar nama saya. Sekali lagi saya mohon maaf bila cara saya kurang berkenan.

”MasyaAllah….ternyata benar ini Ari.” Baca lebih lanjut