Doa Bunda Zainab Al-Ghazali

Ini adalah doa ibunda Zainab Al Ghazali rahimahullah ketika beliau mengalami penyiksaan dipenjara…

“Ya Allah sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu, hingga melupakan selain-Mu. Sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu, wahai Tuhanku. Wahai zat Yang Maha Esa, wahai zat Yang menjadi tempat bergantung. Bawalah aku dari alam kasar (dunia) ini. Sibukkanlah aku agar tidak mengingat seluruh hal selain-Mu. Sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu, bawalah aku di hadirat-Mu. Berilah aku ketenangan yang sempurna dari-Mu. Liputilah aku dengan pakaian kecintaan-Mu. Berikanlah kepadaku rezeki mati syahid dijalan-Mu. Karunikanlah kepadaku kecintaan yang tulus kepada-Mu, keridhaan pada (ketentuan)-Mu dan Ya Allah, teguhkanlah diriku, sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh para ahli tauhid ya Allah!”

Doa yang sangat indah…

2 November 2013

Pengagum karakter, kisah dan sejarah mu…

Linda J Kusumawardani…

Iklan

Cukuplah Allah Sebaik-baik Penolong….

Bismillahirrahmanirrahim…

Allahu-Akbar-690x517

Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir…

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

Ya Rabb…kami menyadari kami bukanlah sekumpulan malaikat atau bahkan Nabi yang Kau Makshum dari dosa-dosa. Kami hanyalah sekumpulan manusia yang senantiasa berusaha menjalankan apa yang menjadi perintah-Mu dan Meninggalkan apa yang menjadi larangan-Mu. Kami hanyalah manusia yang berusaha taat kepada-Mu. Kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan tak akan pernah luput dari penglihatan-Mu ya Allah, jika dihadapan manusia Kau telah dengan baik dan rapi menutup aib-aib kami, maka tak sanggup lagi kami menutup setiap helai dosa atas setiap kelalaian kami atas-Mu. Lisan kami, mata kami, tangan kami, kaki kami sungguh tak satupun yang luput dari pantauan-Mu. Maka, jauhkanlah kami dari hal-hal yang Kau haramkan atasnya dan bantu kami untuk tetap teguh di Jalan ini, Karena Jalan ini adalah jalan yang telah kami Pilih…

Ujian dalam sebuah kehidupan adalah keniscayaan, ujian Kau berikan untuk menguji bagaimana keimanan kami. Ya Rabb…Semoga setiap ujian yang Kau berikan, akan menambah keimanan kami kepada-Mu, semakin Mendekatkan kami pada-Mu dan Semakin Meneguhkan langkah-langkah kami untuk tetap istiqomah dalam menjalani perintah-Mu…

Berkata Aidh Al Qarni : “Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri Anda dengan Rabb. Akan mengajarkan kpd diri Anda, bagaimana berdoa, dan akan menghilangkan kesombongan, ujub, dan rasa bangga diri pada diri Anda.”

Ketika Ujian itu berupa Fitnah, maka Kebenaran itu tetap milik-Mu ya Allah…Kau-lah dzat yang Maha Mengetahui apa-apa yang benar. Maka tak sulit bagi-Mu untuk membongkar nya. Kau-lah yang akan memudahkan semua urusan. Tunjukilah kami jalan-jalan Kebenaran yang tidak ada kesesatan didalamnya. Kami menyadari ini adalah ujian bagi keimanan dan keteguhan hati kami untuk tetap kuat dan tegar di Jalan in. Dan kami pun meyakini bahwa Kau akan selalu bersama orang-orang yang benar. Maka tunjukillah kebenaran itu pada kami ya Rabb… Baca lebih lanjut

Karena Ukuran Kita Tidak Sama

Saya Boleh Copas Taujih ini dari Ust. Salim A Fillah…


Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

 

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

 

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya, Baca lebih lanjut

Cinta ku di Keluarga Baru

Rumah ini baru saja aku singgahi dua bulan lalu. Berbeda namun tetap sama, rumah dengan rasa kehangatan yang sama, rumah dengan cinta kasih yang sama, rumah dimana semua anggotanya memiliki kesamaan visi dan misi. Hal ini tentu bukan karena aku telah mengenal lebih dari separuh penghuni rumah tersebut, namun kiranya ini karena kami memiliki kesamaan tujuan sehingga kehangatan, cinta dan kasih sayang itu masih terasa sama untuk menggapainya walau kini dengan anggota keluarga yang berbeda.

Saat itu menjelang tahun baru Islam lalu, aku memulai belajar kembali dirumah yang baru. Diawal-awal pertemuan aku dengan mereka kami membahas apa saja yang akan kami lakukan dalam kurun waktu satu tahun ke depan untuk mencapai tujuan kami yang sama itu melalui Raker (Rapat Kerja) yang telah berlangsung selama 1 bulan. Hal ini luar biasa bagi ku, ini sungguh diluar kebiasaan ku bila dibandingkan dengan rumah-rumah sebelumnya, karena untuk menyusun program 1 tahun harus 4 kali pertemuan. Namun…seiring pekan yang ku lalui akhirnya aku mengerti dan paham mengapa bisa bagini mengapa bisa begitu. Raut wajah anggota keluarga baru ku sangatlah bersemangat, ghirah mereka bukanlah ghirah sisa akhir pekan. Ghirah mereka sama dengan hari-hari yang sebelumnya atau bahkan lebih. Setiap pembahasan tidak akan berhenti hingga kata mufakat dan mencapai titik tengah. Kami semua berpendapat dan kami tetap saling menghargai pendapat satu sama lain, jika itu maslahat maka kami putuskan tanpa mengedepankan ego masing-masing. Semua berjalan sesuai dengan adab-adab syuro (musyawarah) yang telah diajarkan Rasul, hingga akhirnya satu per satu keputusan diambil. Baca lebih lanjut

Inilah…(Perbincangan Allah dengan Malaikat Jibril)

Bismillahirrahmanirrahim….

Sebuah kisah dari Usaid bin Hudlair ra, menceritakan, “Suatu malam ia membaca surat Al-Baqarah, sedangkan kudanya terikat disisinya. Tiba-tiba kuda tersebut berputar-putar gelisah, ia lalu menghentikan bacaan dan kudanya pun berhenti berputar. Ia lalu membaca lagi, kuda yang ada disampingnya langsung berputar-putar. Ia lalu menghentikan bacaan, kudanya terdiam. Kemudian ia meneruskan bacaan lagi dan kejadian yang sama terulang kembali, kudanya berputar-putar kegelisahan. Ia lalu pergi (menjauhi kuda). Saat kejadian tersebut anaknya (Yahya) berada di dekat usaid, karena ia takut kuda tersebut akan menginjak Yahya, ia menarik yahya. Saat itulah ia melihat keatas dan melihat sesuatu yang menyebabkan kudanya gelisah. Paginya usaid melaporkan kejadian semalam kepada Rasulullah SAW. Seraya berkata “ ….ketika saya melihat ke atas ternyata ada gumpalan awan seperti lampu-lampu. Saya terus memandangnya hingga ia menghilang.”

Rasulullah lalu berkata, “kamu tahu apa itu?” Usaid menjawab,”Tidak” …

Rasulullah kembali bersabda “itu adalah malaikat yang mendekat karena suaramu, dan andai kamu terus membacanya tentulah orang-orang akan melihatnya hingga akan tampak jelas” (H.R Bukhari & Muslim)

Demikianlah, semakin banyak orang yang membaca Al-Quran, maka semakin banyak malaikat yang mendekat hingga berkerumun dekat mereka….Subhanallah…

Apa makna dan dampak dari turunnya malaikat tersebut? Semua itu mengindikasikan bahwa orang-orang yang membaca Al-Quran dan mempelajarinya berada dalam keadaan aman dan penuh dengan keselamatan. Karena keberadaan para malaikat akan menjaga mereka dari setiap merabahaya yang mengancam.

Allah berfirman :

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Q.S Ar-Ra’d : 11) Baca lebih lanjut

Menjaga Keistiqomahan dalam Dunia Kerja…

Bismillahirrahmanirrahim

Semoga keistiqomahan senantiasa menghiasi para prajurit-Nya di jalan ini. Amin ya Rabb….

Sebuah serangkaian kata ini akan ku coba himpun dalam sebuah lingkaran kasih sayang untuk mu wahai saudara/i ku. Jika sebuah karet yang notabene bersifat elastis, saat ditarik lebih panjang dan jauh lebih panjang lama kelamaan akan putus juga. Oleh karena itu maka janganlah kau menariknya terlalu jauh, karena jika sudah putus akan sulit bahkan teramat sulit untuk menyatukannya lagi. Sama halnya dengan keimanan kita, jika terlalu lama diri ini dibiarkan jauh dari tempatnya semula, maka tak segan-segan Allah memutus rahmatnya dari kita, Na’udzubillah…

Aku ingat bagaimana seorang ukhti pernah mengatakannya pada ku,

“Jika kau ingin mengetahui kefuturan dalam diri mu maka lihatlah ibadah yang kau lakukan. Jika sudah dengan ringannya kau tinggalkan Ibadah-ibadah sunnah mu maka sebenarnya dirimu sedang mengalami kefuturan itu. Jika kau biarkan terlalu lama maka ibadah wajib seperti shalat perlahan akan kau ulur waktunya. Hingga akhirnya itu semua kau jalankan hanya sekedar untuk menggugurkan sebuah kewajiban saja. Kemudian perlahan terkikislah prinsip-prinsip syari’at yang dulu pernah terpatri dalam hati mu. Dan seterusnya….”

Astaghfirullah… Baca lebih lanjut