Roda Kehidupan…

Tak pelak lagi rasanya saat ini masa itu kembali berulang, tak mampu mengelak karena keberadaan roda itu yang terus saja bergerak. Dia terus berputar hingga menyentuh dasar terbawah untuk kembali mengulang sebuah masa dimana pusat dari titik terberat itu ada. Pada bagian ini ada bagian terdasar yang harus mampu menopang seluruh bagian yang lain. Ini adalah masanya, saat kita harus kembali saling menguatkan. Inilah masanya, saat kita kembali dipaksa memahami hakikat sebuah tanda. Inilah waktunya saat kita harus kembali bersiap siaga. Inilah masa yang paling tak bisa dipahami apa, mengapa dan bagaimana?

Aku mengerti rasa mu, karena aku pun merasakannya….Sesak…

Raga ini memang lelah, jiwa ini memang penuh dengan peluh namun kekuatan itu masih bersisa walau sedikit…Bertahanlah…ini tak kan lama lagi…Semoga… Baca lebih lanjut

NOLI…I Will Miss You :’)

Bekerja bagi ku tidak hanya sesederhana sebuah kalimat untuk menjemput rejeki dari-Nya yang halal dan barokah. Namun lebih dari itu, bekerja juga merupakan salah satu tempat ku untuk belajar di dunia ini, ini adalah salah satu universitas kehidupan yang penuh dengan aplikasi dari teori dengan segala kompleksitasnya, disana juga merupakan salah satu tempat membentuk keluarga baru, bersilaturahim, membentuk sebuah karakter dan menambah kedewasaan dalam menjalani hidup. Kenyamanan dalam menjalaninya adalah menjadi hal yang paling utama bagi ku, karena pekerjaan yang paling baik untuk diri kita adalah pekerjaan yang menjadikan diri kita bahagia saat menjalaninya, yang tidak hanya disebabkan oleh income yang besar saja. Pekerjaan yang kita jalani harus dijalani dengan cinta dan keikhlasan. Ikhlas dan semangat untuk datang lebih awal, ikhlas dan menikmati pekerjaan dan juga bersyukur menerima rejeki yang memang sudah ditentukan untuk kita. Dengan begitu insyaAllah keberkahan akan lebih terasa….

Itulah pekerjaan bagi diri ku…

Pindah kerja dari satu tempat ke tempat yang lain bukanlah keinginan ku sebenarnya, karena itu sebenarnya terkait dengan tuntutan hidup..hehe. Sifat yang manusiawi saat kita menginginkan sesuatu hal yang lebih baik lagi dalam hidup, apapun itu yang akhirnya menuntut kita untuk berusaha lebih dari yang kita lakukan saat ini. Karena Allah tidak akan mengubah keadaaan suatu kaum melainkan kaum itu sendiri.

Alhamdulillah…Allah selalu memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Dia yang telah memberi jalan ku untuk mejemput rejeki itu disini, PT JX Nippon Oil & Energy Lubricants Indonesia (NOLI) selama kurang lebih 1 tahun 1 bulan. Banyak yang telah ku pelajari dari sini yang pada umumnya sama dengan tempat sebelumnya, mulai dari masalah pekerjaan sampai kepada perbedaan-perbedaan karakter. Namun, disini ternyata lebih dari itu, disini juga tempat Allah mengabulkan beberapa mimpi dan harapan ku. Satu per satu semua mozaik kehidupan itu mulai nampak dengan cara-Nya yang Indah, Alhamdulillah. Baca lebih lanjut

Cinta ku di Keluarga Baru

Rumah ini baru saja aku singgahi dua bulan lalu. Berbeda namun tetap sama, rumah dengan rasa kehangatan yang sama, rumah dengan cinta kasih yang sama, rumah dimana semua anggotanya memiliki kesamaan visi dan misi. Hal ini tentu bukan karena aku telah mengenal lebih dari separuh penghuni rumah tersebut, namun kiranya ini karena kami memiliki kesamaan tujuan sehingga kehangatan, cinta dan kasih sayang itu masih terasa sama untuk menggapainya walau kini dengan anggota keluarga yang berbeda.

Saat itu menjelang tahun baru Islam lalu, aku memulai belajar kembali dirumah yang baru. Diawal-awal pertemuan aku dengan mereka kami membahas apa saja yang akan kami lakukan dalam kurun waktu satu tahun ke depan untuk mencapai tujuan kami yang sama itu melalui Raker (Rapat Kerja) yang telah berlangsung selama 1 bulan. Hal ini luar biasa bagi ku, ini sungguh diluar kebiasaan ku bila dibandingkan dengan rumah-rumah sebelumnya, karena untuk menyusun program 1 tahun harus 4 kali pertemuan. Namun…seiring pekan yang ku lalui akhirnya aku mengerti dan paham mengapa bisa bagini mengapa bisa begitu. Raut wajah anggota keluarga baru ku sangatlah bersemangat, ghirah mereka bukanlah ghirah sisa akhir pekan. Ghirah mereka sama dengan hari-hari yang sebelumnya atau bahkan lebih. Setiap pembahasan tidak akan berhenti hingga kata mufakat dan mencapai titik tengah. Kami semua berpendapat dan kami tetap saling menghargai pendapat satu sama lain, jika itu maslahat maka kami putuskan tanpa mengedepankan ego masing-masing. Semua berjalan sesuai dengan adab-adab syuro (musyawarah) yang telah diajarkan Rasul, hingga akhirnya satu per satu keputusan diambil. Baca lebih lanjut

Sahabat…

Sahabat…

Ijinkanlah aku menemani mu tak hanya dikala kau bahagia, Ijinkanlah aku tetap disini berjalan beriringan bersama mu walau buliran airmata menetes dari sudut ruang mata mu.

Meringankan beban mu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi ku. Berbagi dengan mu adalah salah satu hal terindah dalam hidup ku. Dan tersenyum bersama mu adalah salah satu hadiah terbaik yang ku dapatkan.

Ingatkah dulu…

Saat kita bersama mengukir sebuah senyuman, berbagi cerita penuh cinta, mengais hikmah bersama dalam setiap episode kehidupan… hingga menitikan air mata bersama saat gulita yang kita temukan. ingatkah kau? Baca lebih lanjut

Dan Kami pun harus Belajar dari Tukang Sapu….

“La, Gw percaya kalo orang model kayak loe tuh doanya kuat,tahajudnya atau ibadahnya rajin. Gw juga yakin orang tipe loe kalo udah punya kemauan apapun bakal loe kejar, usaha loe bakal maksimal, loe tuh total orangnya. Gw liat gimana usaha loe buat dapet tuh beasiswa, Gw tahu gimana gigihnya usaha loe sampe sakit aja masih terus loe usahain …Tapi la….gw rasa loe lupa sesuatu, loe udah usaha dan doa maksimal. Loe lupa sesuatu la, loe lupa…Loe Lupa sama KEAJAIBAN ALLAH”

 

Hati ku remuk mendengar itu, bibir ku bisu,  rapat tertutup. Aliran darah ku terasa begitu cepat, tarikan nafas ku sangat dalam, keegoisan ku runtuh. Sepertinya aku baru saja tersadar dari dari pertahanan ego. Mungkin aku pun termasuk pada orang yang lupa…Astaghfirullah….

 

Dengan mantap ela menceritakannya. Perbincangan antara dirinya dengan Tukang Sapu (Sebut saja begitu) sungguh membuatku malu. Hal ini jugalah yang membuat ela sahabatku memutuskan dengan mantap pulang ke Karawang, kampung halamannya. Hal yang selama kurang lebih 3 bulan itu tidak mau berdamai dengan hatinya, saat itu dengan mantap ela mengambil keputusan untuk pulang. Tinggal bersama keluarga besarnya dan memilih menjadi seorang guru honorer di 4 sekolah SMA untuk menyamakan salary yang diterima olehnya saat itu.

 

Rasa ego ku runtuh…akan ku lepaskan dia, aku ikhlaskan dia. Walau berat rasanya menghilangkan kebiasaan bersamanya selama hampir 6 tahun belakangan. Dengan tegas aku pun mengatakan

 

“Kalau memang sudah mantap, Insyaallah…ambil keputusan yang terbaik. Ela gak perlu mikirin THR yang pernah nda jadikan pertimbangan. InsyaAllah akan ada rejeki dari keajaiban Allah itu nanti.”

 

“Iya, InsyaAllah ela mantap. Gak masalah kalau memang ela harus ngajar di 4 atau 5 sekolah supaya gaji ela sama dengan yang sekarang. Karena bisa jadi ini akan menjadi Ramadhan terakhir ela bareng keluarga setelah udah 6 tahun ela gak merasakannya bareng keluarga.”

 

Aku masih terdiam mendengarkannya…

 

“Bisa jadi tahun depan, udah waktunya ela merasakan ramdhan bareng sama suami…hehe” jelasnya sambil tersenyum…

 

“Aamiin ya Allah” Tak mau kalah akupun membalas senyumnya lebih lebar… 😀

 

*** Baca lebih lanjut

[Again] Farewell… The Second Edition…

…Farewell [Again]

Actually that was not my first time, but I never can forget how the feeling it is. It hurts me, really… Sometimes I feel worry to face new circumstances when I’m in comfort zone.

My tears fallen down suddenly when I tried to countdown the time. One by one they said about their opinion about my decision. One thing through my mind when I just knew how valuable I am for them after all we’ve been through. But, it was hard for me to say I’m sorry…However, I realized that it is only about the distance.

Then, the finally I should say good bye…See you again somewhere else in the world someday my good friends…

These are notes I got from them, with humble opinion I want to say Thanks for your attention friend… Baca lebih lanjut

Belajar dari Seorang Irfan….

Bismillahirrahmanirrahim…

Suatu hari dikantor, sekitar akhir bulan Mei menjelang makan siang setelah aku berjalan-jalan ke area proses produksi, Lab, Ruang Final Inspection, de el el. Aku memasuki ruangan kerjaku seperti biasa. Perlahan ketika ku membuka pintu, tak ku temukan orang satupun diruangan. Yasudahlah, hal ini pemandangan biasa, padahal ruangan kerja ku seharusnya berisi 4 orang (termasuk aku). Perlahan saat aku menggeser kursi untuk duduk, mataku agak tertarik dengan suatu benda yang tergeletak di atas meja kerja ku. Ku pandangi beberapa lembar kertas terselip di dalam map plastik transparan yang disimpan terbalik di atas meja kerjaku dan aku tak pernah merasa meninggalkan benda itu sejak meja itu ku tinggalkan beberapa saat yang lalu.

Dengan penuh rasa penasaran ku ambil benda itu, ku balik kemudian aku membaca mulai dari bagian atas. Belum tuntas ku baca sampai bawah, aku sudah paham kertas apa yang sedang ku pegang ini.

“Ini adalah surat kontrak karyawan…Astaghfirullah” gumamku dalam hati…

Kembali aku berkata dalam hati “MasyaAllah bukan hak ku membaca ini” dengan cepat langsung ku letakkan kembali ke posisi nya semula…

Krek…tak lama suara pintu terbuka…

“Hey fan…” panggilku

“Eh mba…” sahutnya

“Ini nih kayaknya surat kontrak karyawannya yah?kok ditaro sini sih????” kataku sebal sambil menunjuk ke arah kertas itu

“Eh, justru saya pengen kasih liat mba linda tentang surat ini, biar dibaca.”

“hah??? Buat apa??? Ini kan privacy fan….” Kata ku dengan nada malas

“Mba linda boleh baca, saya cuma pengen tahu apa aja yah yang harus saya tanyain sebelum saya tandatangan kontrak ini?” katanya

“Oh gitu…beneran boleh nih???” tanyaku yang masih heran

“Iya…boleh ibu Negara…”sahutnya sambil memperlihatkan senyum bahagia yang memanggilku dengan sebutan yang dibuatnya sendiri

“yaudah kalo gitu” sambil ku ambil kembali lembaran kertas itu

Kembali ku baca per kalimat setiap lembar itu dengan saksama…tiba, di point salary dan dengan sigap langsung ku tutup bagian itu.

“Eh, kenapa ditutup mba???” tanyanya bingung

“Ini privacy bgt fan, gak mau lihat! Bukan haknya”

Masih dengan santainya “Ih…mba gak papa, liat aja. Serius mba…biar mba linda liat.”

“ya ampun nih anak…” akhirnya ku turunkan juga jari jemari ku yang menutupi bagian itu…”Maaf ya jadi liat…” lanjutku

“gak papa mba…”

“Hmm…naiknya lumayan gak dari yang sebelumnya?” Tanya ku

“Alhamdulillah mba, biasanya saya harus lembur dulu biar sampe segitu.” Katanya dengan ekspresi campur aduk antara bahagia dan sedih

“Ohh…gitu….Alhamdulillah kalo gtu ya fan.” Kata ku sambil melemparkan senyum haru 😥 …

“Ini kan karena bantuan mba linda juga yang sudah mau memperjuangkan saya.” Katanya dengan nada lebay (pengen jitak sebenernya)

“Haiyyah….gak gitu kali, hanya sekedar membantu hak yang harusnya emang irfan dapet…”

“eeeeh…Beneran mba, saya mau bilang makasih banyaaak atas semua bantuannya.”

“Iya…sama-sama, semoga semakin barokah ya rejekinya. Eh…karena sudah dapet apa yang diharapkan berarti jadi dong abis lebaran nikahin si eneng…hehe” Kataku ngeledek

“Iya mba, InsyaAllah. Doain aja biar lancar.” Jawabnya (sambil malu-malu gak penting)

“InsyaAllah, Aamiin…” Baca lebih lanjut