Mengambil Hikmah dari Sebuah Keluarga (Part 1)

Broken Home

Jum’at, 20 Maret 2015

Senja baru saja berlalu, matahari sudah menenggelamkan dirinya diufuk barat menyisakan warna merah saga yang sayup-sayup tertutup awan kelabu.  Sore ini Kota Depok memang tampak mendung. Setelah sehari sebelumnya, disaat yang sama tubuh ku kuyup diguyur hujan yang datang mendadak tanpa memberikan aba-aba ketika aku berkendara diatas motor menuju kota itu dari tempat tinggal ku. Aku telat 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Dengan kondisi tubuh yang kepayahan dalam balutan pakaian yang sudah tak menyisakan kering, aku bergegas mengambil gadget dan menelpon seorang ibu dari dua orang anak yang seharusnya belajar bersama ku malam itu. Dengan segera aku meminta izin tak bisa mengajar dengan alasan kondisiku yang tak memungkinkan dan tentu saja keterlambatan saat itu. Beliau menyetujui jadwal hari ini akan digantikan esok hari di jam yang sama.

Malam ini aku berharap dengan sangat Allah tidak menurunkan hujannya, minimal sebelum aku sampai dirumah dua orang murid yang sudah menunggu pastinya, sesuai janjiku kemarin. Alhamdulillah mata ku  juga mulai membaik, tidak seperti malam sebelumnya. Sehari sebelumnya, salah satu sisi mata ku masih nampak bengkak pada bagian bawah kelopak dengan warna yang cukup memerah. Aku tidak ingin dikasihani bila orang lain melihatnya, pikirku. Jangankan orang lain, aku sendiri saja ketika bercermin merasa tidak tega pada diriku sendiri….Ahh, linda seharusnya kau memang lebih berhati-hati menjaga nikmat sehat ini. Hal yang sama juga terjadi pada teman-teman sekosan, mereka juga terus saja bertanya apa aku tidak apa-apa. Well, aku pastikan aku baik-baik saja walau sambil sedikit meringis menahan sakit menjawabnya. Alhamdulillah setelah dua hari melewati kondisi terparah, bengkak dan merahnya sudah mulai berkurang hari ini. Aku jadi lebih merasa percaya diri untuk mengajar. Setidaknya, ketika bertemu dengan si anak dan orang tuanya nanti mereka tidak sibuk bertanya apa yang terjadi dengan mataku. Mungkin ini salah satu hikmah mengapa Allah menurunkan hujan mendadak itu 10 menit sebelum aku tiba ditempat tujuan.

Sejak maghrib tadi langit yang sudah mulai sayup, pertanda hujan akan kembali turun. Petir dan kilat bersahutan silih berganti. Aku yang tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya bergegas keluar dari kosan setelah menyelesaikan shalat maghrib dan tilawah sebentar. Bersyukurnya aku, doa ku terkabul. Persis setelah aku mematikan motor dan mengunci stang kemudian masuk kedalam gerbang rumah, hujan mulai turun dan terus saja hingga semakin deras jatuhnya ke bumi. Jarak antara kosan dan murid les ku ini kebetulan memang terbilang dekat, kurang lebih 7 menit saja dengan menggunakan motor dengan kecepatan kira-kira 45 km/jam.

“Assalamu’alaykum…”

“Wa’alaykumsalam” Sahut seorang bapak yang sudah ku kenal, beliau adalah paman yang sering bertamu kerumah ini dari dua orang anak yang akan belajar dengan ku malam itu.

“Mari…mari masuk mbak” Sahut seorang bapak lainnya dengan perawakan tinggi besar dari dalam rumah. Kali ini sudah ku tebak beliau adalah Ayah dari dua orang murid ku. Jenis suara bass seperti ini hanya dimiliki oleh dua orang penghuni rumah. Selain sang Ayah, satu lagi adalah anak sulung dari pemilik rumah.

Sampai didalam rumah aku disambut lagi dengan seorang ibu yang tak lain adalah ibunda dari ketiga orang anaknya kira-kira, usianya aku prediksi 45 tahun. Sesaat setelah memberi salam pada sang Ibu, segera aku melemparkan senyum dan meminta maaf atas kejadian kemarin.

Kami pun berbincang ringan perihal anak-anaknya. Ibu ini memang sering meminta saran pada ku bila ada hal-hal yang memang dirasa penting…(Hehe…padahal siapalah aku ini). Dua pekan sebelumnya beliau bercerita bahwa anak laki-laki keduanya sudah satu bulan mogok bicara dengan beliau, kemudian uang jajan yang diberikan setiap pagi sebelum berangkat sekolah pun tidak pernah diambil. Tidak hanya itu, apa yang dimasak oleh Sang Ibunda pun tak pernah dimakannya. Masih teringat wajah beliau saat bercerita, hanya raut wajah kecewa namun lisannya terus saja mendoakannya. Beliau sadar betul, apapun yang dikatakan kepada anaknya akan menjadi doa. Selama satu bulan itu beliau benar-benar menjaga lisannya, agar tak mendoakan sesuatu yang buruk untuk sang anak. Sebagai seorang ibu yang memiliki kasih sayang tentu berbagai usaha telah dilakukan, mulai dari mengajak berbicara, meminta maaf dan mendoakan. Namun selama itu, perilaku anaknya masih belum berubah. Sepele sebenarnya, semua ini terjadi sejak permintaannya untuk membeli sebuah jaket tidak dikabulkan oleh sang Ibu. Dia berpikir bahwa Ibunya pilih kasih pada kakak dan adiknya. Dia merasa selama ini tidak pernah meminta apapun, ini adalah permintaan pertamanya dan itu tidak dikabulkan. Aku sedih mendengarnya… 😦 , Seharusnya dia menghitung lebih banyak lagi, apa yang telah diberikan oleh Ibunda hingga dia sebesar ini. Dan waktu satu bulan adalah waktu yang sangat lama untuk ngambek begitu. Apalagi ini pada orang tua dan itu Ibu.

Aku menyarankan untuk bekerjasama dengan sang ayah untuk memberitahu anaknya pelan-pelan. Namun, ekspresi wajah sang ibu tertunduk sambil mengatakan “Bapaknya itu gak deket sama anak-anak, mbak. Dia gak peduli dengan apa yang terjadi, cuek saja”

*Deg….Astaghfirullah… aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar kalimat ini. Sedihku kini bertambah-tambah  😦 . Bagaimana perkembangan anak-anaknya dalam segala hal bisa sehat bila tidak ada kerjasama antara Ibu dan Ayah dalam mendidik anak-anaknya. Sejak itu, aku mulai mengerti kenapa dua orang anak yang belajar dengan ku memiliki kadar tanggung jawab, disiplin dan mental yang tidak cukup baik.

Kok horor banget ya dengernya…Waktu itu cuma bisa berdoa dalam hati “Ya Allah mampukan aku dan suami ku kelak menjadi orang tua terbaik yang dapat mendidik anak-anak kami untuk menjadi hamba-hamba terbaik dimuka bumi dan tidak hanya mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan dunia. Namun mengantarkan mereka sampai ke syurga” Baca lebih lanjut

Motivation Letter (Sample 3)

This is just the simple motivation letter which I sent when I applied Erasmus Mundus 2 years ago. So simple…that’s because there is limited words I should use.

***

To whom it my concern,

 

No one can deny that most of the European Union universities are highly developed whether in their academic studies or scientific research. Therefore, my greatest dream is to be a member of one of these developed universities, through which I can improve my special skills and work experiences.

The study in your universities will get a well educated and self discipline person out of me and give me the chance to see what I always hear about your culture, civilization, and hospitality.

I have already finished my Bachelor degree and I would like to express my wish of getting my master  study under the frame Erasmus Mundus project in the field of European Joint Master in Quality in Analytical Laboratories. I hope to provide a contribution in this field to my country in the future.

I also would like to establish a scientific network between my country and the hosting country abroad for the future collaboration. Another advantage is to have a better understanding of the other culture and to give a good example of our culture.

After backing home I hope I can transfer your way of thinking and your research strategy to my country colleges to follow your foot steps in the road of development.

Finally, I would like to thank you for giving me the opportunity of studying abroad and I look forward to hearing from you.

Linda J Kusumawardani

Blogger Pembelajar dari Kehidupan

Motivation Letter (Sample 2)

Dear Sir/Madam,

I am writing to you to express my interest and motivation to apply for PhD position at the Department of Medical Microbiology at the University of ***. This research would assist me to start my career as a scientist, preparing to work in a team as well as to carry on my independent research work.

 I graduated in Bio engineering at the University of X, Y (4 years studies) during those four years; I studied Biology, Chemistry, Biochemistry, Organic chemistry, Mycology, Viral & Bacterial diseases of plant, , and as well as several subjects in biology. I did a research in KULeuven – Belgium in 2004; my research was focused mainly on effect of TBT on fertilization success in Zebrafish.

During my research in the University of Leuven, I was participanting in lab work especially in some techniques and methods and besides this I joined to laboratory of toxicology in UA .Regarding to my activities background I am quite familiar with lab work and some techniques and enjoy doing lab work.

 My career aspirations go in the direction of medical sciences. I want to do something that includes medical, international contacts.  I am particularly interested in Viral & Bacterial diseases and especially bacterial genetics and in laboratory work. With my undergraduate research background, my training in bioengineering and my work experience; I believe I could make a valuable contribution in this position. My background and goals seem to match your requirements well. I am confident that I can perform the job effectively, and I am excited about the idea of working for a dynamic university.

I would like to have the opportunity to enrol in the PhD Programme to put my knowledge into a higher standard. Your top-level programme will provide me plenty of knowledge in the field of bacterial genetics area. In addition, working and attending this research, I will have opportunities to meet professional scientist, offering me different points of view and contributing to my flexibility and creativity.

Personally, I am a perseverant person, someone who is motivated and ambitious.   I am also an open-minded, organized person who likes to work in a team, so I am able to adapt to a constantly changing work environment and maintain good working relationships with individuals of different cultural backgrounds.

I hope that I will be accepted as an applicant I am confident that I’m qualified and eager, and prepared to meet all of its challenges I would be most grateful if you could give my application your most favorable consideration. I look forward to hearing from you about meeting for an interview at your convenience.

Yours faithfully,

Shiva Nazeri

Linda J Kusumawardani

Blogger Pembelajar dari Kehidupan

Motivation Letter (Sample 1)

Let me share some the documents related the scholarship. Just found when I was looking for some data.  Wish you’ll get some inspirations to write down your motivation letter. Because most of the scholarship requirement to study abroad need it. Okay…then… I will make it into some  parts..Check it out… 😉

 

Motivation Letter (Part 1)

Since I was in Senior High School, I have believed that mathematics is an important factor in a life. All human activities in several fields such as information technology, economics, physics, social and others will run well if they are cited in a good mathematics framework. This circumstance stimulated me to attend faculty of mathematics and natural science. I choose statistics as my specialization even though at this time, there weren’t many people know about statistics and few students choose statistics as their specialization. I saw in several developed countries such as The Netherlands and Belgium, the mathematics degree-holders not only have many opportunities but also were cited as important scholar in their societies.

As a student at XXXX Department faculty of XXX of XXX University, I had numerous opportunities to do many activities. From XXX to XXX I had chances to become a lecturer assistant in mathematics and statistics laboratory. My resposibilities are taught and supervised students in the following subjects; Basic Programming, Computational Statistics, Statistical Methods and XXX.

Besides studying, I was active in the student senate and became the head of research and development division. In XXX I, in a team, became the third winner of Indonesian student research competition. Overall I am pleased with my academic record and I believe that it has prepared me very well for graduate school.

Presently, I work as a XXX for XXX. My responsibilities are teaching, conducting research individually or in a team and etc (mention your responsibilities)…… Working as a statistics lecturer needs deep knowledge of fundamental mathematics and experiences in advanced research of applied statistics. Even though my undergraduate programme has given me a strong background in the fundamentals of various mathematics especially statistics, this is not enough for me to be a professional lecturer. I have to continue my study to enrich my skills and broaden my knowledge.

Currently, our institution which one of the functions is to XXXX to the government of Indonesia, has formulated its Long Term Plan known as the XXX PLAN, which directed toward the establishment of the Integrated National XXX System. This plan is including the development of statistics in various fields such as economy, demography, agriculture, and health. It leads the need of statistician who expert in those fields. Today, there is no Master of Science in XXX in our institution. These circumstances persuade me to apply Master of Science in XXX under XXX Scholarship programme.

Master of Science in XXX is needed in Indonesia because of the following reasons:

  1. It will improve education in XXX and Indonesia in general, and strenghten the establishment of the Integrated National System
  2. I will fill the masters of XXX scarcity and strengthen the sustainable development of Indonesia.

Considering all factors above. I believe that the chosen study will benefit Indonesia in general

I consider myself to be a good candidate for XXX Scholarship because I am young, energetic, hardworking, visionary, and motivated person who believes that I can do something for the benefit of my country to whom I have been working. I did my best with all maximum efforts I could give for my institution. But this is not enough. Frankly, I am not satisfied yet with what I did. I believe that I can do much better if I am trained and developed through a master of science in Belgium.

Source : Pak Tio’s blog…

Linda J Kusumawardani

Pembelajar dari Kehidupan

Erasmus Mundus, kata-Nya kau bukan untuk ku tahun ini….

21 Maret 2011….akhirnya kabar yang saya tunggu tunggu sejak 3 bulan terakhir keluar juga. Apa itu??? sesuai dengan judulnya berita itu adalah pengumuman Aplikasi Beasiswa Erasmus Mundus yang saya kirimkan pada akhir bulan Desember tahun lalu. Bagaimana hasilnya???belum rezekinya tahun ini mungkin bagi saya untuk menuntut ilmu di Eropa sana. Tidak ada satu kata penyesalan pun ketika pengumuman itu saya terima, karena semua sudah saya ikhtiarkan semaksimal mungkin sebelum deadline Aplikasi.

Luar biasanya ada sebuah rasa kebahagiaan yang luar biasa dalam hati saya ketika setiap poin dari kriteria penilaian itu saya lihat… Dari 5 kriteria, 1 yang tidak memenuhi untuk melanjutkan studi disana. Terbersit dalam benak saya ”Saya tidak gagal, tapi saya belum berhasil.“ kata-kata itulah nampaknya lebih cocok saya ucapkan.

Ini adalah ke 5 kriteria yang harus saya penuhi dari Program Master yang saya ambil (EMQAL = European Joint Master in Quality in Analytical Laboratories) untuk mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus ini (Copas dari Web nya) beserta dengan score yang saya peroleh

Each criterion A-E is scored 0-5. Only very high quality candidates, with all criteria above 3.5, are accepted to the course. 

The scores for all criteria are summed, and candidates are ranked by order of merit according to their global score (17.5-25.0).

A – Quality of previous qualifications – evaluates the academic curriculum of the candidate: previous degrees, post-graduate courses, specialization courses, scientific publications (Score : 3.8) 

B- Proficiency in languages of the consortium (Score : 2.4)

C- Motivation and Potential – measures the benefit to the candidate from the Master (Score : 4.3)

D- Suitability – match between the candidate’s profile and the Master. Appropriate professional experience is evaluated (Score : 4.5)

E – Recommendations – based on the confidential evaluation of the candidate by two referees (Score : 4.0)

Dan total score saya adalah 19.00 Baca lebih lanjut

Cara “Gila” Membangun Indonesia (Belajar dari Tolikara,Papua)

sumber: dari milist tetangga  jurnalisme@yahoogroups.com

Pak Kunjaya and colleagues,

Salam dari Jayapura! Kami bertiga baru saja keluar dari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.

Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, dengan perolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutan pertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia, Kazakshtan, Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan lagi, 3 medali perunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten terpencil di Tolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan pendidikan dan SDM. Dari Tolikara, Indonesia belajar!

Kisahnya dimulai dengan seorang “gila” bernama Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiade science dunia, yang telah sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science dunia, memprakarsai  dilaksanakannya Olimpiade Astronomi Asia Pacific (APAO) di Indonesia. Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di Indonesia, namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari… Baca lebih lanjut

It’s Aspiration Something…

I am an ordinary person and still ordinary. I do love my family, My Mom, My Dad and my brothers (one of them passed away on Feb 2010). I didn’t come from rich family, but my parents have been giving me a highly support for the education field since I was a child. I proud to have both of them as my parents. Just a simple thing and simple aspiration I want to achieve, that would be dedicated for my family, my kids and my husband in the future, and the last is for the people around me. What is it???? Because of Allah as my purpose, Bismillah…become an Educator. Baca lebih lanjut