Curhat Kalem Dibalik #Genap (Part 2)

Buku #Genap - Nazrul Anwar

Buku #Genap – Nazrul Anwar

Ada banyak hal yang membuat aku tertegun saat membaca buku ini. Ya, ini masih tentang sebuah buku berjudul genap yang ditulis oleh Sang Penulis. Dan kalimat ini adalah salah satu bagian yang kemudian menyelinap di hati, dalam senyap aku mulai meng-iya-kan nya.

genap 2-1

Rasanya pada prosesnya aku sudah mulai merasakan apa yang dimaksud olehnya di bulan pertama pernikahan kami. Sesuatu hal yang menarik, karena hal ini telah membantah perasaan yang dulu pernah singgah di hati. Sebuah pertanyaan akan keraguan, apakah kelak aku bisa menggenap dengan orang yang belum pernah ku temui? Apa yang dikatakan orang-orang banyak itu membangun cinta akan mudah dilakukan dengan orang yang benar-benar baru memasuki kehidupan kita. Ya…Aku memang termasuk orang yang sulit sekali melakukannya sejak hitungan tahun yang lalu, bahkan termasuk beberapa waktu sebelum aku menggenap. Jujur saja aku memang termasuk wanita yang masih ragu untuk memulai sebuah ikatan pernikahan dengan seseorang yang sama sekali belum pernah ditemui. Dan..katanya, sebagai seorang wanita diperlukan sekali rasa nyaman dengan seseorang yang akan menggenapi kita. Ini bukan perihal ketampanan, bukan. Harta, juga bukan.Ini perihal sebuah perasaan bagaimana bersamanya nanti aku mampu menjadi seorang istri yang patuh dan taat padanya. Sedang aspek kenyamanan itu sendiri sebenarnya berbeda parameternya pada setiap wanita. Aku sendiri bukanlah tipe wanita yang bisa mendapatkan rasa nyaman itu hanya dari beberapa lembar biodata saja. Huh…betapa aku membutuhkan energi tersendiri untuk melakukannya dalam beberapa kali. Bahkan sampai pada fase aku berkenalan dengan suami sendiri. Hal yang samapun tetap saja berlaku…

Namun…ada sesuatu hal yang unik saat aku benar-benar bertemu dengan seseorang yang datang kemudian menjadi jodohku. Ahh… kali ini Allah sungguh mengubah diri ku bukan lewat orang lain atau hikmah dari sebuah kisah. Kali itu, Allah mengubah cara pandang itu justru dengan keberanian ku sendiri yang datang tanpa ku sadari. Bagaimana tidak, belakangan aku baru menyadari bahwa aku sedang memperjuangkan seseorang yang sebenarnya tidak pernah ku temui, sama sekali. Entah energi dari mana waktu itu, hingga aku bisa melakukannya dan kemudian membuat semua hal yang sulit menjadi mudah, Alhamdulillah… Mungkin itulah salah satu perihal konsep jodoh, bahwa kedatangannya itu terkadang diluar prediksi dan tak terduga.

Disaat rasa gelisah dan ragu datang dalam memutuskan. Hari itu, aku sebagai wanita biasa pun banyak menceritakan hal, ini-itu yang mungkin agak njelimet. Sampai akhirnya, seorang guru terbaik ku cukup menyederhanakan semua benang kusut dalam benak ku dengan sebuah pertanyaan, Apakah aku merasa nyaman dengan sifat atau karakternya? Aku tak bergeming…beberapa detik berlalu, hingga disusul dengan jawaban “Iya” .. Ini sungguh hal yang aneh, aku menjawab demikian… Entahlah, yang jelas satu minggu kemudian kami baru benar-benar bertemu, ya..pertemuan perdana dalam kehidupan kami masing-masing. Baca lebih lanjut

Iklan

Curhat Kalem Dibalik #Genap (Part 1)

Buku #Genap

Buku #Genap

Ada yang tahu buku ini? Judulnya Genap..Iya, Genap…Buku ini adalah buku yang diberikan oleh suami saya, (eh, waktu itu statusnya masih calon suami 😀 ) dihari pernikahan kami. Buku itu adalah salah satu mahar spesial gak pake telor untuk saya, Ceileh… *Padahal seinget saya dia gak pernah bilang spesial sih*. Baiklah, ini memang saya yang bilang 🙂 . Spesial karena suami sendiri yang request alias meminta buku itu dijadikan mahar dihari pernikahan yang kemudian sekaligus menjadi moment untuk Launching-nya ( ok, kali ini dia berhasil membuat saya melting ). Jadi tentu saja permintaannya dengan senang hati saya terima..

Sekitar 2 minggu sebelum hari pernikahan kami, saya melihat buku itu sudah jadi walaupun masih dalam bentuk Dummy-nya tergeletak begitu saja di atas meja di (mantan) kamar kosan saya. Saya yang waktu itu penasaran banget mau buka itu buku dan melalap habis isi tulisannya harus dipaksa bersabar, karena memang waktu itu si calon suami bilangnya “Baru boleh baca setelah halal” . Well, entahlah apa isinya…pikir saya waktu itu. Se-spesial apa sih itu isinya sampai-sampai menunggu kami halal. Bahkan yaa… sampai ada pesan sponsor juga ternyata pada saat paket buku #Genap itu diterima oleh teman sekamar saya. Lho, kok teman sekamar saya boleh baca duluan? Itulah…beruntungnya dia jadi The 1st reader. Karena, dia adalah seseorang yang memang sengaja saya minta-in tolong untuk jadi MC dihari pernikahan kami, makannya boleh baca duluan, untuk bekal dan modal ngemsi nanti. Sebenarnya sih saya gak masalah ya, mau  kapan baca (Sok Iye.. :p ). Toh saya juga waktu itu sudah sibuk mengurus persiapan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari. Tapiii…. Si teman sekamar saya ini nampaknya ingin membuat saya kepo berat dengan manas2in via twitter. Membuat beberapa kutipan dari buku itu atau bikin kata-kata mutiara sendiri dan kemudian di Cc.in ke saya. Gimana gak mupeng pengen baca, coba?twitter echii

Duh…duh….akhirnya setiap saya mampir ke (mantan) kosan dan lihat buku itu disekitaran kamar, entah mengintip dibalik bantal atau berada diantara tumpukan buku yang lainnya, saya selalu berusaha menahan keinginan kuat-kuat, even untuk menyentuhnya. Sampai akhirnya, hari yang dijanjikan itu tiba….yeay! Thanks god, I am the champion

Buku yang kebetulan saat ini dipinjam oleh tetangga saya itu, memang cukup berkesan bagi saya…beberapa isinya memang ada yang berkaitan dengan “proses” kami sebelum menggenap (Silakan baca bukunya 🙂 ). Saya sampai benar-benar terharu membacanya ( Ini serius … :”)  ) , Buku #Genap itu memang akan menjadi sejarah tersendiri dalam hidup saya, salah satunya adalah dibagian akhir dari buku itu terdapat nama saya, yang akhirnya membuat saya paham mengapa buku ini baru boleh dibaca sampai kita dihalalkan dalam sebuah kalimat akad :”) , Thanks for my man…

The End Story of Genap

The End Story of Genap

Pertama kali saya dengar bagian terakhir dalam buku itu adalah saat hari pernikahan kami. MC membacakan dengan penuh rasa berlebihan halaman terakhir buku #Genap. Ada rasa deg-degan dalam hati, mengingat yang duduk disebelah saya adalah penulisnya 😀 . Entahlah… bagaimana rasanya. Saya yang masih belum terbiasa dengan seseorang yang duduk tepat disebelah saya saat itu namun sebenarnya sudah halal, legal, formal *halah… namun tetap saja masih terasa asing. Siapa dia? Ya…dia, seseorang bernama Nazrul Anwar , sudah sejak pagi ternyata resmi menjadi Suami saya… :”) Nyatanya saya masih bingung harus berekspresi seperti apa saat mendengar kalimat itu…

I, Nazrul Anwar

Love You, Linda Kusumawardani

Ini terlalu complicated rasanya… Speechless. Rasa yang paling tepat menggambarkan saat itu adalah  keharuan dan kebahagiaan dalam diam…

Bersambung ke Part 2

Bogor, 11 Juni 2015 Linda J Kusumawardani ^Pembelajar dari Kehidupan^

Kebahagiaan

Ada sebuah konsep bahagia yang saya pahami. Sekali lagi..ini versi saya 😀 . Bahwa ternyata bahagia itu tidak memiliki standar. Artinya setiap orang berhak untuk memasang standar atas kebahagiaan masing2. Pun dengan kadar kebahagiaan yg tinggi.Namun, semakin tinggi standar yang dipasang,artinya tentu kita akan semakin sulit merasa bahagia. Seperti pada target2 dan keinginan dalam hidup. Kemudian sering sekali kita terjebak pada sebuah target tertentu itu, yang pada akhirnya justru membuat hidup kita lebih terorientasi padanya. Padahal bisa jadi Puncak target yang akan kita capai itu sesaat saja melewati episode kehidupan kita. Ada hal yang lebih esensi dari itu semua, yaitu menikmati setiap proses menuju kesana. Kesedihan,Kebahagiaan, senyum dan air mata adalah hal yang kemudian menjadikan kita lebih menghargai puncak dari terkabulnya keinginan dan harapan. Rasa bahagia tentu akan semakin membesar karena adanya hal-hal itu. Artinya target2 yang kita miliki itu bukan yg menjadikan kita bahagia,namun proses menuju ke arah sana-lah yang menjadikan kebahagiaan itu hadir dan lebih bernilai…

Bahkan ternyata dapat memandang suatu masalah dengan sederhana juga merupakan kebahagiaan. Masalah lebih mudah diselesaikan dan diatasi secara tepat dalam sudut pandang yang sederhana.

Makannya, ga heran kalau banyak orang yang sering bilang. “Bahagia itu sederhana”,

Dan…setelah 1 bulan ini. Cuma mau bilang terima kasih untuk seseorang yg sudah lebih menyederhanakan konsep kebahagiaan itu… Makasih mas….

 Linda J Kusumawardani ^Pembelajar dari Kehidupan^

Linda & Nazrul

Surat untuk Imamku… #NazrulAnwar

29 April 2015, Heading to 01 Mei 2015….

Genap, Linda-Nazrul

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Suamiku…

Entah diwaktu apa ketika kamu membaca surat ini. Apakah diwaktu pagi yang cerah, siang yang terik, sore yang begitu syahdu atau malam dengan heningnya. Sengaja aku tuliskan surat ini untuk kamu yang saat ini aku beri gelar “Suami-ku”. Kata sederhana namun begitu berharga, karena gelar itu hanya ada satu untuk bersanding dengan nama ku, dan tentu hanya dimiliki oleh satu-orang saja untuk membersamaiku. Gelar yang kemudian menjadikan semua orang mengakui bahwa saat ini kamu adalah Imam ku, ladang pahala bagiku karena bersama mu apapun yang ku lakukan kini akan bernilai ibadah dimata Allah.

Bagaimana kabar mu saat ini? Semoga Allah selalu menjaga mu agar senantiasa dalam kondisi terbaik, baik secara fisik, pikiran maupun kondisi ruhiyahmu….aamiin ya Rabb :”) Baca lebih lanjut

Mengharap Ridha Allah… :”)

Wedding Linda & Nazrul

Bismillahirrahmanirrahim…

Dalam ketidaksempurnaan, masih ada hati yang lapang untuk saling menerima

Dalam setiap perbedaan,  masih ada keterbukaan untuk saling memahami

Dalam setiap kesalahan, selalu ada kesempatan untuk saling memaafkan

dan selalu ada sebuah keyakinan bahwa Dia akan selalu membersamai

InsyaAllah…Perjalanan ini akan dimulai dalam dekapan harap ridha Allah atas apa-apa yang kami ikhtiarkan..

Semoga Allah memberkahi setiap keputusan, Kemudian memudahkan langkah kami menuju sebuah perjalanan panjang yang ikut mengokohkan bangunan PERADABAN. InsyaAllah…

Heading to 01052015

_Linda J Kusumawardani_

Pembelajar dari Kehidupan

Hanya Ingin Memberi yang Terbaik…

terbaik

Ya Allah… Seandainya semua permasalahan ini bisa aku selesaikan sendiri, tak perlu rasanya aku merepotkan orang lain.

Ya Allah…Seandainya semua hal ini bisa berjalan sesuai dengan inginku, tak perlu susah payah aku menumpuk pikiran bagaimana cara menyelesaikannya.

Itu semua memang tak mungkin terjadi, karena hambatan yang ada adalah bagian dari ujian yang hadir. Minimal untuk diri sendiri, agar aku lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan.Aku pun memahami bahwa semua itu adalah letak ujian dari setiap perjalanan yang akan mencapai satu titik capaian hasil yang akan aku syukuri.

Menumpuk-numpuk pikiran sendiri rasanya juga bukan hal yang bijak, semakin menumpuk rasanya semakin dzalim pada diri sendiri. Mengapa tak mencoba dikomunikasikan saja pikir ku, tapi tetap saja aku tak ingin membebani orang lain. Sulit bagiku untuk bahkan sekedar meminta tolong apalagi selama aku masih bisa mengusahakannya, perasaan segan yang muncul masih terlalu besar sehingga sering menghalang-halangi ku untuk bicara. Karena justru adalah hal lebih membebani adalah ketika aku malah memberatkan dan membuat repot orang lain. Aku lebih mampu berpura-pura kuat dan menutupi rasa yang sebenarnya daripada harus merasa memberatkan orang lain. Karena menjadi dan memberikan yang terbaik tanpa membebani orang lain adalah hal yang lebih penting bagiku, tak peduli betapa sulitnya perjalanan, karena aku mempunyai sumber kekuatan terbesar….yaitu Kau ya Allah.

Rabbuna…Mampukan aku agar bisa memberikan yang terbaik bagi siapapun orang-orang yang aku kasihi. Walau aku pun menyadari memberikan yang terbaik memang belum tentu menjadi yang terbaik…

Disini, Seorang Manusia yang masih harus banyak belajar memperbaiki diri…

Linda J Kusumawardani

_Pembelajar dari Kehidupan_

Pantang Mengeluh ^^

Semangat Kaka

Sesibuk apapun diri kita, ketika kesibukan itu banyak memberi manfaat bagi orang-orang disekitar dan tidak menyebabkan jarak kita dengan Allah semakin jauh seharusnya tidak membuat kita mengeluh. Dan saya sedang berusaha akan hal ini… Berusaha mencari penawar ditengah-tengah aktivitas adalah salah satu cara untuk mengatasi rasa lelah itu sendiri.

2 minggu ini bukan seperti minggu-minggu sebelumnya. MasyaAllah…rasanya kewajiban yang harus ditunaikan memang lebih banyak dari waktu yang ada. Mau mengeluh, malu rasanya sama Allah…nikmat yang diberikan sudah cukup banyak, apa pantas jika saya masih mengeluh.

Rasanya bukan suatu masalah jika 2 minggu terakhir, saya memiliki rata-rata jam tidur hanya < 5 jam/hari dan itu seringnya didepan laptop..hehe. Kalau Rasulullah saja tidurnya lebih sedikit, kenapa kita mengeluh? Apa pantas? bahkan yang beliau pikirkan jauh lebih berat dari saya…Astagfirullah…Faghfirlana ya Rabbana…

Yang perlu dipikirkan dan menjadi PR kemudian adalah bagaimana tidur saya ini bisa berkualitas, yap…bukan malah menuntut memiliki kuantitas jam tidurnya ditambahkan. Beberapa hal yang kemudian saya lakukan adalah minum susu sebelum tidur dan mandi air hangat dengan sedikit tambahan garam supaya saraf-saraf lebih rileks. Alhamdulillah tingkat keberhasilannya cukup baik. Selain itu, saya juga memanfaatkan perjalanan untuk tidur. Misalnya perjalanan Depok-Bogor dengan commuter line, kondisi CL yang sangat longgar dan dingin juga sangat membantu saya untuk memberikan kualitas tidur yang cukup. Minimalnya saya bisa seger saat ngajar mahasiswa-mahasiswa saya setelah semalaman saya mempersiapkan bahan perkuliahan. Maklum saja, saya ini bukan apoteker atau yang mahir dibidang farmasi. Kondisi ini juga yang memotivasi  untuk belajar lebih dalam tentang Kimia farmasi, ditambah lagi Kimia Farmasi sebenarnya adalah bukan spesialisasi saya. Jadi ya pada akhirnya saya merasa perlu mempersiapkan dengan sebaik-baiknya mata kuliah ini, baik teori ataupun praktikum *Tsaaah… hehe… Efek begadangnya lumayan agak sampai malam.. Padahal kata Bang Oma “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya…” eh…tapi ini ada artinya sih… 😀 ,

*Maap ya Bang…saya jadi punya alasan…

Nah…Allah juga maha baik, saya Alhamdulillah dikasih rejeki lagi…Sekarang ini jadwal ngajar les adek-adek SMA lagi full, Senin-Jumat. Dan itu biasanya malam…Ya konsekuensi, klo paginya ada jadwal ngisi kuliah di Bogor malemnya saya harus siap ngajar juga yang itu ada dikota berbeda…hoho..Padahal lokasinya cuma ada di Depok atau Kisaran Cibubur. Tapi…Alhamdulillah-nya saya bisa menyesuaikan dengan cepat kondisi saya dengan lokasi saya sebelumnya, karena sudah 3 bulan terakhir ini saya dibolehkan membawa sepeda motor…Iyeay! Jadi waktu tempuhnya bisa lebih cepat…

Selanjutnya adalah menentukan jadwal pekanan adek2. Semester ini sungguh sesuatu sekali, karena jadwal kuliah yang berbeda-beda menyebabkan ketidakstabilan kehadiran dan yang lain-lain jadinya. Alhamdulillah setelah diatur sedemikian rupa, sebaik mungkin supaya tidak bentrok…Diipilihlah Hari Rabu Pagi, Sore dan Jum’at siang…

MasyaAllah…kalau mau bersabar sedikit saja ya…semua pasti selesai sih… Alhamdulillah, Selesai kan semua… 😀 😀 😀 . Hari ini sudah mulai lebih normal dari hari-hari kemarin. Walaupun masih ada PR yang belum selesai sih memang. Cuma at least, model tidur begadang-begadang ini jadi bisa diminimalisir. Paling engga buat hati aku…eh maksudnya organ hati lho ya…biar kerjanya lebih maksimal.

Alhamdulillah juga 2 minggu kemaren kalau lagi kerasa capek jasadiyahnya, sebelum sampai pada titik jenuh sudah melakukan hal-hal yang bisa jadi penawar, salah satunya Tidur…hehe…why? Ya klo udah ngantuk dipaksa tetep melek, yakin deh melek juga hasilnya gak maksimal. Jadi mendingan tidur aja…Gak usah dipaksain juga klo mata udah gak sanggup. Terus, yang kedua Jalan-jalan. Eits, tapi ini bukan hanya sekedar jalan-jalan. Jalan-jalannya harus punya tujuan, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui gitu…Alhamdulillah gak hanya sekedar jalan-jalan. Tapi jalan-jalannya juga sekalian memenuhi tujuan yang lain, dan ini Alhamdulillah juga terpenuhi…

Jadi, kalo dipikir-pikir nih ya, tips yang bisa dikasih kalo kondisinya lagi begitu…Pertama, Pastikan segala sesuatu itu dipikirkan dulu dengan tenang…supaya engga terburu-buru jadi lebih terarah apa yang mau dikerjain. Kedua, jangan lupa tetap menjaga kestabilan emosi. Kalo emosi, uring-uringan gak jelas malah semakin semrawut yang ada. So..Belajar lebih bersabar…karena jangan sampai gegara emosi kita yang gak ke kontrol malah orang-orang terdekat kita yang jadi korban. Ketiga, kalo memang dirasa perlu semacam refreshing, why not? Just do it…Tapi tetep ya gak hanya refreshing..tapi gimana refreshing kita juga bermanfaat. Keempat, banyak-banyak beristighfar, supaya Allah tunjukan kemudahan ditengah-tengah kesulitan. Bisa jadi gak keliatan jalan keluarnya, karena ketutupan dosa kita. Terakhir, jangan lupa juga berdoa dan semangaat teruss…Pantang mengeluh..temukan penawar mu sebelum berada pada titik jenuh 😀

Mungkin sekian curhatan malam ini…

Wasalam,

Depok, 3 Maret 2015

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Pembelajar dari Kehidupan^