Curhat Kalem Dibalik #Genap (Part 1)

Buku #Genap

Buku #Genap

Ada yang tahu buku ini? Judulnya Genap..Iya, Genap…Buku ini adalah buku yang diberikan oleh suami saya, (eh, waktu itu statusnya masih calon suami 😀 ) dihari pernikahan kami. Buku itu adalah salah satu mahar spesial gak pake telor untuk saya, Ceileh… *Padahal seinget saya dia gak pernah bilang spesial sih*. Baiklah, ini memang saya yang bilang 🙂 . Spesial karena suami sendiri yang request alias meminta buku itu dijadikan mahar dihari pernikahan yang kemudian sekaligus menjadi moment untuk Launching-nya ( ok, kali ini dia berhasil membuat saya melting ). Jadi tentu saja permintaannya dengan senang hati saya terima..

Sekitar 2 minggu sebelum hari pernikahan kami, saya melihat buku itu sudah jadi walaupun masih dalam bentuk Dummy-nya tergeletak begitu saja di atas meja di (mantan) kamar kosan saya. Saya yang waktu itu penasaran banget mau buka itu buku dan melalap habis isi tulisannya harus dipaksa bersabar, karena memang waktu itu si calon suami bilangnya “Baru boleh baca setelah halal” . Well, entahlah apa isinya…pikir saya waktu itu. Se-spesial apa sih itu isinya sampai-sampai menunggu kami halal. Bahkan yaa… sampai ada pesan sponsor juga ternyata pada saat paket buku #Genap itu diterima oleh teman sekamar saya. Lho, kok teman sekamar saya boleh baca duluan? Itulah…beruntungnya dia jadi The 1st reader. Karena, dia adalah seseorang yang memang sengaja saya minta-in tolong untuk jadi MC dihari pernikahan kami, makannya boleh baca duluan, untuk bekal dan modal ngemsi nanti. Sebenarnya sih saya gak masalah ya, mau  kapan baca (Sok Iye.. :p ). Toh saya juga waktu itu sudah sibuk mengurus persiapan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari. Tapiii…. Si teman sekamar saya ini nampaknya ingin membuat saya kepo berat dengan manas2in via twitter. Membuat beberapa kutipan dari buku itu atau bikin kata-kata mutiara sendiri dan kemudian di Cc.in ke saya. Gimana gak mupeng pengen baca, coba?twitter echii

Duh…duh….akhirnya setiap saya mampir ke (mantan) kosan dan lihat buku itu disekitaran kamar, entah mengintip dibalik bantal atau berada diantara tumpukan buku yang lainnya, saya selalu berusaha menahan keinginan kuat-kuat, even untuk menyentuhnya. Sampai akhirnya, hari yang dijanjikan itu tiba….yeay! Thanks god, I am the champion

Buku yang kebetulan saat ini dipinjam oleh tetangga saya itu, memang cukup berkesan bagi saya…beberapa isinya memang ada yang berkaitan dengan “proses” kami sebelum menggenap (Silakan baca bukunya 🙂 ). Saya sampai benar-benar terharu membacanya ( Ini serius … :”)  ) , Buku #Genap itu memang akan menjadi sejarah tersendiri dalam hidup saya, salah satunya adalah dibagian akhir dari buku itu terdapat nama saya, yang akhirnya membuat saya paham mengapa buku ini baru boleh dibaca sampai kita dihalalkan dalam sebuah kalimat akad :”) , Thanks for my man…

The End Story of Genap

The End Story of Genap

Pertama kali saya dengar bagian terakhir dalam buku itu adalah saat hari pernikahan kami. MC membacakan dengan penuh rasa berlebihan halaman terakhir buku #Genap. Ada rasa deg-degan dalam hati, mengingat yang duduk disebelah saya adalah penulisnya 😀 . Entahlah… bagaimana rasanya. Saya yang masih belum terbiasa dengan seseorang yang duduk tepat disebelah saya saat itu namun sebenarnya sudah halal, legal, formal *halah… namun tetap saja masih terasa asing. Siapa dia? Ya…dia, seseorang bernama Nazrul Anwar , sudah sejak pagi ternyata resmi menjadi Suami saya… :”) Nyatanya saya masih bingung harus berekspresi seperti apa saat mendengar kalimat itu…

I, Nazrul Anwar

Love You, Linda Kusumawardani

Ini terlalu complicated rasanya… Speechless. Rasa yang paling tepat menggambarkan saat itu adalah  keharuan dan kebahagiaan dalam diam…

Bersambung ke Part 2

Bogor, 11 Juni 2015 Linda J Kusumawardani ^Pembelajar dari Kehidupan^

Pantang Mengeluh ^^

Semangat Kaka

Sesibuk apapun diri kita, ketika kesibukan itu banyak memberi manfaat bagi orang-orang disekitar dan tidak menyebabkan jarak kita dengan Allah semakin jauh seharusnya tidak membuat kita mengeluh. Dan saya sedang berusaha akan hal ini… Berusaha mencari penawar ditengah-tengah aktivitas adalah salah satu cara untuk mengatasi rasa lelah itu sendiri.

2 minggu ini bukan seperti minggu-minggu sebelumnya. MasyaAllah…rasanya kewajiban yang harus ditunaikan memang lebih banyak dari waktu yang ada. Mau mengeluh, malu rasanya sama Allah…nikmat yang diberikan sudah cukup banyak, apa pantas jika saya masih mengeluh.

Rasanya bukan suatu masalah jika 2 minggu terakhir, saya memiliki rata-rata jam tidur hanya < 5 jam/hari dan itu seringnya didepan laptop..hehe. Kalau Rasulullah saja tidurnya lebih sedikit, kenapa kita mengeluh? Apa pantas? bahkan yang beliau pikirkan jauh lebih berat dari saya…Astagfirullah…Faghfirlana ya Rabbana…

Yang perlu dipikirkan dan menjadi PR kemudian adalah bagaimana tidur saya ini bisa berkualitas, yap…bukan malah menuntut memiliki kuantitas jam tidurnya ditambahkan. Beberapa hal yang kemudian saya lakukan adalah minum susu sebelum tidur dan mandi air hangat dengan sedikit tambahan garam supaya saraf-saraf lebih rileks. Alhamdulillah tingkat keberhasilannya cukup baik. Selain itu, saya juga memanfaatkan perjalanan untuk tidur. Misalnya perjalanan Depok-Bogor dengan commuter line, kondisi CL yang sangat longgar dan dingin juga sangat membantu saya untuk memberikan kualitas tidur yang cukup. Minimalnya saya bisa seger saat ngajar mahasiswa-mahasiswa saya setelah semalaman saya mempersiapkan bahan perkuliahan. Maklum saja, saya ini bukan apoteker atau yang mahir dibidang farmasi. Kondisi ini juga yang memotivasi  untuk belajar lebih dalam tentang Kimia farmasi, ditambah lagi Kimia Farmasi sebenarnya adalah bukan spesialisasi saya. Jadi ya pada akhirnya saya merasa perlu mempersiapkan dengan sebaik-baiknya mata kuliah ini, baik teori ataupun praktikum *Tsaaah… hehe… Efek begadangnya lumayan agak sampai malam.. Padahal kata Bang Oma “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya…” eh…tapi ini ada artinya sih… 😀 ,

*Maap ya Bang…saya jadi punya alasan…

Nah…Allah juga maha baik, saya Alhamdulillah dikasih rejeki lagi…Sekarang ini jadwal ngajar les adek-adek SMA lagi full, Senin-Jumat. Dan itu biasanya malam…Ya konsekuensi, klo paginya ada jadwal ngisi kuliah di Bogor malemnya saya harus siap ngajar juga yang itu ada dikota berbeda…hoho..Padahal lokasinya cuma ada di Depok atau Kisaran Cibubur. Tapi…Alhamdulillah-nya saya bisa menyesuaikan dengan cepat kondisi saya dengan lokasi saya sebelumnya, karena sudah 3 bulan terakhir ini saya dibolehkan membawa sepeda motor…Iyeay! Jadi waktu tempuhnya bisa lebih cepat…

Selanjutnya adalah menentukan jadwal pekanan adek2. Semester ini sungguh sesuatu sekali, karena jadwal kuliah yang berbeda-beda menyebabkan ketidakstabilan kehadiran dan yang lain-lain jadinya. Alhamdulillah setelah diatur sedemikian rupa, sebaik mungkin supaya tidak bentrok…Diipilihlah Hari Rabu Pagi, Sore dan Jum’at siang…

MasyaAllah…kalau mau bersabar sedikit saja ya…semua pasti selesai sih… Alhamdulillah, Selesai kan semua… 😀 😀 😀 . Hari ini sudah mulai lebih normal dari hari-hari kemarin. Walaupun masih ada PR yang belum selesai sih memang. Cuma at least, model tidur begadang-begadang ini jadi bisa diminimalisir. Paling engga buat hati aku…eh maksudnya organ hati lho ya…biar kerjanya lebih maksimal.

Alhamdulillah juga 2 minggu kemaren kalau lagi kerasa capek jasadiyahnya, sebelum sampai pada titik jenuh sudah melakukan hal-hal yang bisa jadi penawar, salah satunya Tidur…hehe…why? Ya klo udah ngantuk dipaksa tetep melek, yakin deh melek juga hasilnya gak maksimal. Jadi mendingan tidur aja…Gak usah dipaksain juga klo mata udah gak sanggup. Terus, yang kedua Jalan-jalan. Eits, tapi ini bukan hanya sekedar jalan-jalan. Jalan-jalannya harus punya tujuan, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui gitu…Alhamdulillah gak hanya sekedar jalan-jalan. Tapi jalan-jalannya juga sekalian memenuhi tujuan yang lain, dan ini Alhamdulillah juga terpenuhi…

Jadi, kalo dipikir-pikir nih ya, tips yang bisa dikasih kalo kondisinya lagi begitu…Pertama, Pastikan segala sesuatu itu dipikirkan dulu dengan tenang…supaya engga terburu-buru jadi lebih terarah apa yang mau dikerjain. Kedua, jangan lupa tetap menjaga kestabilan emosi. Kalo emosi, uring-uringan gak jelas malah semakin semrawut yang ada. So..Belajar lebih bersabar…karena jangan sampai gegara emosi kita yang gak ke kontrol malah orang-orang terdekat kita yang jadi korban. Ketiga, kalo memang dirasa perlu semacam refreshing, why not? Just do it…Tapi tetep ya gak hanya refreshing..tapi gimana refreshing kita juga bermanfaat. Keempat, banyak-banyak beristighfar, supaya Allah tunjukan kemudahan ditengah-tengah kesulitan. Bisa jadi gak keliatan jalan keluarnya, karena ketutupan dosa kita. Terakhir, jangan lupa juga berdoa dan semangaat teruss…Pantang mengeluh..temukan penawar mu sebelum berada pada titik jenuh 😀

Mungkin sekian curhatan malam ini…

Wasalam,

Depok, 3 Maret 2015

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Pembelajar dari Kehidupan^

Bapak yang Sangat Baik Hati

help

Malam itu kesalahan saya memang tak berhati-hati dalam menyimpan dengan baik salah satu handphone hari Jumat kemarin, saya membiarkan handphone itu tersimpan disalah satu saku jaket yang saya pakai. Seharusnya memang saya titipkan saja pada teman saya yang ketika itu membawa tas kecil. Saya yang diboncengi motor dan duduk gaya perempuan, sibuk membalas chat WA beberapa orang teman. Hingga akhirnya tanpa saya sadari handphone yang tersimpan disaku jaket pun terjatuh.

HP

“Praaaang” sebuah suara nyaring pun terjatuh disaat saya menyusuri jalan Margonda-Depok

Saya yang saat itu mendengar suara nyaring itu tak terlalu menggubris, hingga akhirnya setelah motor berjalan sekitar 100 m, saya tanpa sengaja memegang saku jaket tak mendapati handphone bercasing biru tersebut. Dengan pikiran agak panik namun tetap (berusaha) tenang mencoba mengingat apa benar tadi handphone itu saya bawa. Segera saya bertanya pada teman yang membawa motor,
Eka, tadi apa aku titip handphone?”…
“Engga kak, emang dimana nyimpennya?” belum dijawab dia pun melanjutkan “Jangan bilang kalo yang tadi jatoh itu handphone kakak?”
Saat itu juga kami pun berpikir hal yang sama…dan langsung beristighfar bersama-sama “Astghfirullah….”

Dengan segera saya langsung turun dari motor “Tunggu disini aja ya” , karena saya pun tahu agak sulit untuk menyusuri jalan balik menggunakan motor yang hanya satu arah itu.

Dengan segera saya berjalan balik dengan sedikit agak berlari dan mengamati sepanjang jalan raya Margonda antara Margonda Residence sampai Gang Kober. Entah bagaimana, pikiran saya hanyalah puing-puing handphone bercasing biru yang akan saya temukan. Antara berdoa dan berpasrah dengan bentuk handphone itu, pikiran saya cukup sederhana paling tidak saya bisa mendapatkan sim cardnya. Dengan agak tergesa-gesa sepanjang jalan sayangnya saya tak kunjung menemukan handphone itu, bahkan serpihannya pun tidak. Ahh…saya mulai bingung sampai sini. Saya kembali berjalan putar balik berharap masih menemukan puing-puingnya kalaupun benar sudah hancur. Baca lebih lanjut

Guru Kehidupan (Part 1)

Lama tak menulis, rindu akan aktivitasnya yang mampu menembus ruang dan waktu. Akhirnya bisa sedikit terpenuhi lewat tulisan ini…

Sebuah cerita yang sudah mulai dibuat sejak 3 minggu yang lalu, tapi belum terselesaikan…Semoga Bermanfaat 🙂 🙂 , Note : Tulisan ini sebuah kisah nyata 😀

Sumber : madinahkecil.com

Beliau adalah guru ku, salah satu guru terbaik ku ketika itu bahkan sampai saat ini. Darinya lah aku memulai untuk belajar memahami arti sebuah hidup. Ternyata hidup ini tak seceria tawa ku yang saat itu mengenakan seragam putih abu-abu, kehidupan yang tak selalu dipenuhi warna merah jambu seperti saat manusia merindu. Terkadang hidup ini penuh dengan pilihan yang menyisakan sesal didalamnya.

Semoga Allah merahmatinya, melindungi dan membahagiakannya jika saat ini beliau masih ada dimuka bumi ini. Dan kelak mengizinkannya untuk membaca tulisan ini, memberikan komentar hingga aku kembali bisa bertemu dengan nya. Aku ingin kembali menjalin silaturahim denganya yang telah terputus sejak 9 tahun yang lalu, karena aku masih ingin belajar darinya. Jikapun tidak, semoga Allah terus menyayanginya di alam yang berbeda, karena ada sebuah jariyah yang dimilikinya dari ku, jariyah dari atas ilmu yang telah diberikannya.

Beliau adalah seorang guru bahasa inggris yang ku kenal saat itu, dengan bermodal ijazah D1 di jurusan yang sama beliau mengajar ditempat kursus bahasa inggris yang saat itu aku ikuti. Waktu yang sangat singkat untuk menimba ilmu darinya, hanya 3 bulan saja. Aku sendiri saat itu tak memandang lulusan dari mana beliau ini atau sampai mana level pendidikannya. Tidak, karena faktanya beliau telah berhasil membuat kami, para muridnya menyukai pelajaran yang diajarkannya dan dapat memahami dengan baik apa yang disampaikannya. Begitupula dengan ku, Beliau selalu membuat ku tak memiliki alasan untuk tak hadir setiap 2 kali dalam sepekan, sekalipun hujan begitu deras. Tak pernah ada yang beliau banggakan dihadapan murid-muridnya, namun aku merasa bangga pernah memiliki guru seperti beliau.

2 bulan sudah kami diajarkan dengan penuh semangat dan ketulusan. Mengapa demikian? Ya…rasanya memang sebuah ketulusan hati seseorang itu mampu terpancar dari dalam jiwanya. Sebuah kesimpulan yang dapat aku ambil ketika itu adalah beliau ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat dimanapun beliau berada. Selalu saja sebelum kami pulang, beliau selalu memberikan nasihat nya bagi kami. Hingga akhirnya memasuki bulan ketiga, kami yang berjumlah empat orang hari itu datang seperti biasa, masih dengan keceriaan dan semangat yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Namun, entah mengapa kami merasa aneh karena saat itu guru lain-lah yang mengajar kelas kami. Tak ada penjelasan. Aku sendiri setelah kelas berakhir mencoba bertanya kepada guru penggantinya. Namun sayang sekali beliau tak memberikan sebuah alasan yang jelas. Hanya “izin tidak mengajar”, begitu katanya. Ahh…itu terdengar aneh sekali pikir ku. Satu minggu berlalu…terus begitu hingga memasuki minggu ke-3. “Aneh” ya…hanya itu yang aku pikirkan…”Mengapa sampai tak  ada kabar jika tak mengajar hingga tiga minggu?”…Sudahlahhh…

Diminggu ke-4, betapa terkejutnya kami…sore itu, akhirnya beliau kembali mengajar. Kelas pun berjalan seperti biasa hingga waktu nya habis. Kami kembali antusias mendengarkan apa yang disampaikan hari itu. Semua masih nampak biasa. Hanya satu yang berbeda dari penampilan beliau. Ya…aku melihat ada yang berbeda. Badannya terlihat sangat kurus sekali, dengan postur yang tinggi seperti itu semakin terlihat jika selama 3 minggu menghilang beliau seperti orang yang tak terurus. “apa yang terjadi?” pikirku dalam hati…ya tak pernah terbayangkan oleh ku seberat apa masalah orang dewasa itu. Jika tak salah saat itu usia beliau adalah 27 tahun dan aku masih berusia 16 tahun. Ya…rasanya selisih yang cukup jauh itu membuat aku sulit untuk memahami masalah-masalah orang dewasa. Baca lebih lanjut

.: Belajar dari Sekitar :.

belajarAlam

Bismillahirrahmanirrahim…

Belajar tak hanya sekedar duduk dikelas, mendengarkan khutbah guru atau dosen kemudian mencatat dan menghafal. Katakanlah saya tidak terlalu sepakat dengan ini. Namun saya sepakat bila itu adalah salah satu tempat atau sarana menimba ilmu pengetahuan.

Saya juga sepakat kalau belajar itu tidak hanya di sekolah atau Universitas. Terlalu sempit bila orang memandang kecerdasan seseorang hanya dari IQ nya saja. Padahal sekarang tingkat kecerdasan seseorang juga diukur dari EQ, ESQ dan lainnya. Ahh… Allah itu memang Maha Luas ilmu nya dan hanya Allah lah yang Maha Memiliki Lautan ilmu itu. Yang tidak pernah memilih kepada siapa ilmu itu harus dibagikan. Mengapa ?? Ya, karena semua tergantung pada diri kita sendiri  apakah kita mau untuk mencari dan mempelajarinya.

Okesipp saya lanjutkan. Saat ini saya ingin berbagi 3 cerita yang saya temui dan saya ambil pelajaran dari dalamnya. Alhamdulillah…akhirnya, Setelah lama saya tidak posting. Sekarang akhirnya saya bisa lagi berbagi cerita lewat tulisan…

Baiklah…Cerita pertama. Langsung saja, pertama kali saya melihat beliau saya langsung mengaguminya. Ini mengenai cerita ibu pedagang yang mencoba mengais rejeki di Gang Senggol , salah satu gang untuk menembus menuju kampus saya Universitas Indonesia. Tidak ada yang istimewa dengan dagangannya. Hanya tissue yang biasa dijual dua ribuan dan permen yang dibungkus plastik kecil-kecil. Tak ada yang istimewa bukan??? Memang ini tidak istimewa…hehe. Okeh, kembali serius. Diam-diam ada hal yang membuat saya bangga pada sosok beliau adalah kondisi fisik beliau yang tuna netra. Beliau tidak memanfaatkan fisik tersebut dengan meminta-minta. Beliau memilih jalan yang lebih mulia untuk menjemput rejekinya dengan tidak khawatir  bila nanti ada mahasiswa atau orang yang iseng sengaja mengambil barang dagangannya. MasyaAllah…saya yang sehat dan lengkap begini jadi malu dengan semangat beliau…Mencari rejeki ternyata tidak hanya sekedar banyak secara kuantitas tapi bagaimana cara mendapatkannya agar rejeki itu menjadi barokah…Semoga Allah memberikan kelapangan rejeki yang barokah pada beliau ya, aamiin…:-) . Nahh…pesan saya buat temen-temen yang gak sengaja lewat gang ini jangan segan2 ya beli tissue ataupun permen yang dijual beliau ya… 🙂

  Baca lebih lanjut

Janji Untuk Raisha (Part 5)

Langit Pagi Hari

Pagi…tahukah kau? bahwa kini aku sudah menjadi semakin dewasa…

Ini bukan karena aku sudah tidak cengeng lagi

Bukan juga karena aku tak mau mendengarkan nasihat kakak

Atau Bukan karena usiaku yang semakin bertambah pada bilangan angkanya, walaupun hakikatnya itu semakin berkurang

Namun… ada hal lain yang katanya hal itu berkebalikan

Pagi…Tahukah kau? Semakin berkurangnya usia ku, maka semakin banyak hikmah yang bisa aku petik…

Jika ilmu itu ibarat sebuah pohon, maka aku telah memetik daun-daun sang pohon setiap harinya

Dengan daun itu aku membuat mahkota-mahkota cantik sebagai tanda aku telah mampu melewati hal terberat dalam hidupku

Dan itu artinya semakin banyak mahkota yang aku kumpulkan maka banyak hikmah yang aku dapatkan…

Pagi…tahukan kau? dulu aku pernah tak menginginkan mu, jika aku tahu aku tak pernah lagi bertemu ibu setelah kedatangan mu….

Namun…dipagi ini aku pun yakin ibu tersenyum menatapku dari syurga bersama ayah

Pagi…tahukah kau? kau selalu menjadi awal dari hari ku, bersama mu aku menemui tuhan ku….

Bersama mu jugalah aku memulai semangatku yang baru…

Bahkan bersama mu jugalah aku menyaksikan sebuah pengorbanan itu dimulai….

*** Baca lebih lanjut

It’s all about faith… Curlem (curhat kalem)-nya Rihan khususnya buat para pemburu beasiswa

Tulisan ini saya boleh Repost setelah dapet izin dari yang punya nya Rihan Handaulah. Semoga menginspirasi…

Dengan gaya tulisan yang sangat atraktif, pemilihan diksi yang bagus,  dibumbui humor dan sedikit dikemas dengan bahasa science ditambah lagi ini pengalaman pribadi, berhasil membuat saya yang baca, dan saya yakin yang lain klo baca juga  “Dapet” bgt isinya… Langsung aja disimak tulisannya…

Rihan Handaulah

“Life is a matter of uncertainty. The one who certain about himself will live his life.” (Galih P.)

Catatan ini ditulis di penghujung tahun 2012 sebagai bagian dari rasa syukur dan refleksi perjalanan hidup saya di tahun ini. Sekaligus berbagi pengalaman khususnya untuk teman-teman yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tulisan ini ditulis dari kedalaman 2 meter di bawah permukaan laut. Maklum Belanda adalah negeri yang sepertiga wilayahnya di mana kota-kota utama berada terletak sekian meter di bawah permukaan laut. Jadi kemana-mana harus bawa pelampung dan kaca mata renang. Berenang kita. Saya adalah mahasiswa master program “MSc Engineering and Policy Analysis” di Faculty of Technology Policy and Management, Delft University of Technology (TU Delft). Keberangkatan saya ke sini berkat dukungan beasiswa penuh dari Kemenkominfo.

Berkelana dan menjelajahi peradaban-peradaban adalah cita-cita saya sejak SD. Berawal dari hobi nonton bola liga-liga Eropa plus hobi membaca Atlas juga buku RPUL, membuat saya hapal nama-nama kota di Eropa yang ada klub sepakbolanya. Makin kesini makin menguat keinginan saya untuk bersekolah keluar negeri, bukan hanya untuk berkelana, tapi belajar langsung di tempat di mana peradaban modern ini ditulis selembar demi selembar. Duduk di kursi dan menulis di atas meja yang sama dengan orang-orang besar yang telah menorehkan namanya di lembar sejarah manusia dengan tinta emas menjadi motivasi tersendiri. Puncaknya di masa SMA saat saya sedang mencari identitas, saya membaca sosok B.J. Habibie yang soleh dan pintar sebagai gambaran ideal diri saya kelak; menguasai teknologi, bersekolah di Eropa, lalu pulang dan membangun bangsanya secara nyata.
Baca lebih lanjut