Surat untuk Imamku… #NazrulAnwar

29 April 2015, Heading to 01 Mei 2015….

Genap, Linda-Nazrul

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Suamiku…

Entah diwaktu apa ketika kamu membaca surat ini. Apakah diwaktu pagi yang cerah, siang yang terik, sore yang begitu syahdu atau malam dengan heningnya. Sengaja aku tuliskan surat ini untuk kamu yang saat ini aku beri gelar “Suami-ku”. Kata sederhana namun begitu berharga, karena gelar itu hanya ada satu untuk bersanding dengan nama ku, dan tentu hanya dimiliki oleh satu-orang saja untuk membersamaiku. Gelar yang kemudian menjadikan semua orang mengakui bahwa saat ini kamu adalah Imam ku, ladang pahala bagiku karena bersama mu apapun yang ku lakukan kini akan bernilai ibadah dimata Allah.

Bagaimana kabar mu saat ini? Semoga Allah selalu menjaga mu agar senantiasa dalam kondisi terbaik, baik secara fisik, pikiran maupun kondisi ruhiyahmu….aamiin ya Rabb :”)

Terlalu sulit mungkin bagi ku untuk menyampaikan setiap isi hati, hingga pada akhirnya surat inilah yang harus berada digenggaman tangan mu untuk kemudian menyampaikan apa yang ku rasa saat ini.

Oiya… waktu surat ini ditulis, aku pun belum memilih bagaimana cara ku nanti memanggilmu. Baiklah…masalah ini nanti saja kita sepakati bersama, karena aku pun menginginkan sebuah panggilan terbaik dari mu. Kalau begitu sementara, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan Suamiku?🙂

Suamiku…rasanya baru beberapa waktu yang lalu aku mulai mengenalmu dengan serius melalui sebuah tulisan pada 3 lembar halaman melalui sebuah email. Entah bagaimana rasanya saat itu, rasa yang tentu berbeda, berbeda dengan saat aku membaca dan menyisir setiap kata yang biasanya tertulis pada setiap note milikmu yang singgah diberanda sosial media milik ku. Sungguh hal yang tak pernah terbayangkan atau terlintas sedikitpun dalam pikiran jika rasa seperti itu akan aku alami. Sebuah rasa yang aneh, mungkin karena aku sedang membaca sebuah tulisan yang tidak biasa, sebuah tulisan yang khusus kamu tulis untuk seseorang yang akan kamu genapi. Entah kenapa kemudian Allah memilih ku untuk membacanya dan mengalami rasa yang aneh itu. Agaknya rasa ini juga muncul karena nama mu tidaklah asing bagiku. Sebuah rasa yang sulit dimengerti dan  hinggap dalam hati sejak satu bulan sebelum aku menerima biodata milikmu, sejak aku menyadari bahwa namamu-lah yang ternyata sedang dibicarakan oleh seorang guru terbaik ku.

Memahami bahwa setiap kejadian di dunia ini bukanlah suatu hal yang kebetulan memang sudah aku yakini sejak lama, termasuk perihal jodoh dan termasuk kamu yang saat ini telah menggenapi aku. Entah kenapa aku yang tak pernah bertatap, berbincang apalagi memikirkan mu. Saat itu merasa sudah mengenal jauh lebih dalam dari hanya sekedar 3 halaman biodatamu yang aku terima. Tapi maaf, jika diawal-awal aku terlalu banyak bertanya padamu. Nyatanya aku ini hanya wanita biasa yang tak bisa membohongi diri atas setiap rasa yang muncul dalam hati.  Seperti ada banyak hal yang kemudian terangkum dalam 3 pertanyaan saat kali pertama kita bertemu. Namun, Aku tahu kamu pasti memahami ini.

Suamiku…Kisah kita bukanlah kisah yang biasa, entahlah rasanya aku seperti ada di sebuah dongeng kisah cinta yang aku dan kamu adalah pemeran utamanya. Dengan skenario yang tak pernah terlintas oleh pikiran manusia. Terlalu sempurna jika hanya manusia yang mengatur semuanya, tidak ada yang bisa melakukan ini melainkan Allah yang telah dengan rapi menuliskan dalam kitab-Nya di Lauh Mahfudz. Sadar atau tidak banyak hal yang kemudian ku rasakan bahwa begitu banyak pengorbanan yang kita lakukan bersama untuk saling menggenapkan. Ini bukan mengenai perasaan cinta, ini jauh lebih dari itu, ini adalah perjuangan babak baru dari episode kehidupan yang akan kita jalani bersama. Perjuangan yang justru melahirkan rasa cinta itu sendiri dan bermuara pada tempat yang seharusnya, Kepada-Nya, Dzat Maha Cinta.

Suamiku…kini aku baru mengerti mengapa Allah mempersiapkan aku sedemikian rupa beberapa tahun terakhir. Sudah banyak cara Allah mendidik-ku, memberikan pemahaman dan pelajaran tentang kehidupan. Dan diakhiri dengan banyaknya hikmah hidup yang baru aku temui setelah aku bertemu denganmu, kemudian meyakini bahwa kamu-lah yang aku tunggu.

Terima kasih untuk setiap komitmen yang telah dibangun sejak awal, mungkin jauh sebelum Allah mempertemukan. Dan aku…bisa melihatnya sejak awal pertemuan kita. Terima kasih untuk segala pengertiannya, pengorbanannya dan keberterimaan dirimu atas aku dan keluarga ku.

Imamku… Sejak saat akad sudah terucap, disaat itu sebuah perjanjian menggetarkan arasy milik-Nya, disaat yang sama tanggung jawab orang tua ku berpindah pada mu. Kamu yang kemudian berani menggambil alih tanggung jawab sepenuhnya atas diri ini dan keluarga kita nanti. Semoga Allah menguatkanmu untuk menjalani amanah ini. Semoga akupun demikian, diberi kekuatan untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, tidak merasa berat untuk memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik untuk mu dan keluarga kita.

Semoga Allah memberkahi keluarga ini hingga kembali dipertemukan di syurga-Nya…aamiin🙂

Istrimu…

Linda J Kusumawardani

^Pembelajar dari Kehidupan^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s