Menyerah (kan) Pada Allah…

Tawakal

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah Allah berikan kesempatan kembali jari-jari ini untuk berkreasi diatas keypad dan kepala saya beserta isinya untuk berimajinasi, kedua hal ini kemudian akan saling berkoordinasi satu sama lain untuk membuat suatu tulisan. Aktivitas menulis sebenarnya sudah lama sekali dirindukan, namun ternyata memang syetan itu lebih kuat menggoda saya untuk bermalas-malasan menulis walaupun ide-ide sudah melintas disana-sini…

Semoga kali ini Allah mudahkan jari-jari saya untuk menyelesaikan tugasnya dalam rangka memenuhi keinginan untuk kembali aktif menulis…aamiin🙂

Allah yang Maha Baik telah memberikan segala nikmat dan karunia bagi kita, bahkan sebenarnya lebih banyak yang kita minta. Seperti nikmat merasakan sehat, nikmat ini adalah nikmat yang mungkin jarang berada pada doa-doa yang kita panjatkan, namun Allah memberikannya tanpa kita sering meminta. Dan ketika pada kita merasakan sakit, rasanya disitulah kita baru saja menyadari bahwa kesehatan adalah suatu nikmat yang jarang terucap dan keberadaannya pun sering lupa disyukuri.

Kita sering sekali terfokus pada apa-apa yang belum kita peroleh, sehingga membuat kita membuat “perhitungan” dengan Allah. Sehingga hal ini tentu semakin menjauhkan kita dari rasa syukur. Sungguh seandainya saja kondisi ini dibalik, tentu kita akan kalah dari Allah. Jika Allah meminta kita menghitung apa saja nikmat yang Allah berikan tentu akan lebih banyak yang tak mampu kita hitung.

Sahabat, hidup ini adalah ujian…Saya berbicara seperti ini bukan berarti ini mudah untuk dilakukan. Ujian dalam hidup adalah keniscayaan, sederhananya “Jika sudah tidak ingin mendapat ujian dunia, maka yaa mati saja”. Jika sudah seperti ini tak ada lagi ujian dunia, namun  apakah selesai hidup hanya sampai disitu? Tentu tidak…Fase kehidupan yang lain segera menanti, dimana Allah akan meminta pertanggungjawaban atas amal perbuatan kita didunia. Kemudian, apakah kita siap dengan ini? Jika belum, maka sepertinya kita harus kembali lagi pada hakikat hidup yang sesungguhnya, yaitu beramal, beribadah hanya untuk mendapatkan Ridho dari Allah.

“Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji ? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta.” [Q.S. Al Ankabut: 2-3]

Semoga Allah berkenan memaafkan kekhilafan kita…aamiin ya Rabb..

Oleh karena itu, menanti sebuah jawaban dari doa seharusnya bukanlah hal sulit bagi orang-orang mukmin. Karena, dalam ikhtiarnya dan proses penantian pengabulan doa yang diinginkan ada banyak sekali amal yang bisa dilakukan. Semua amal yang dilakukan karena Allah akan tercatat baginya pahala sesuai yang Allah janjikan. Sehingga, seorang manusia mampu menyerahkan segala urusan-Nya hanya pada Allah, Tuhan Semesta Alam dan bukan menyerah pada keadaan yang  justru membuat dirinya semakin putus asa dan berada jauh dari Rahmat dan Pertolongan Allah.

Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya engkau bertawakal dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rizki kepadamu sebagaimana ia memberi rizki pada seekor burung, pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar, pulang di sore hari dalam keadaan kenyang”.(HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Sebuah perumpamaan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. terhadap orang-orang yang bertawakal kepada Allah SWT. Ada sebuah jaminan yang jelas dan pasti dari Allah SWT. dan hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertawakal. Mereka tidak khawatir dan cemas terhadap apa yang akan terjadi dan menimpa dirinya. Entah sesuatu itu adalah sebuah kebaikan, atau bahkan sebuah keburukan, karena sudah ada yang menjadi sandaran dalam hatinya terkait hal tersebut.

Menyerahkan semuanya pada Allah sesungguhnya merupakan kunci kekuatan dan kelapangan hati seorang mukmin. Yakinilah bahwa kejadian yang baik menurut perasaan atau pikiran kita, sesungguhnya belum tentu baik menurut kaca mata Allah. Demikan juga pengalaman telah membuktikan, bahwa dibalik kejadian buruk yang menimpa, seringkali terdapat hikmah berharga. 

Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiar/usaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas bahwa tawakal tidak lepas dari ikhtiar dan penyandaran diri kepada Allah.

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim)

Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Dengan besarnya tawakal kepada Allah akan memberikan keyakinan yang besar sekali bahkan membuahkan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Yunus: 107)

Namun, hal yang perlu kita pahami adalah kesalahan dalam memahami dan mengamalkan tawakal akan menyebabkan rusaknya iman dan bisa menyebabkan terjadi kesalahan fatal dalam agama, bahkan bisa terjerumus dalam kesyirikan, yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya mampu diwujudkan oleh Allah.  Misalnya bertawakal kepada makhluk dalam perkara kesehatan. Tak kunjung sembuhnya sebuah penyakit, malah kemudian membuat diri kita bergantung pada dokter, dan tak menghiraukan meminta pada Allah. Padahal sebenarnya, Allah lah yang memberikan kesembuhan melalui perantara dokter. Pada kondisi seperti ini, keimanan seorang muslim akan benar-benar diuji.

Oleh karena itu, memintalah melalui doa, kemudian berikhtiarlah untuk menjemputnya, bersabarlah menerima ketetapan Allah dan bersyukurlah atas segala nikmat yang diberikan…

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk kita agar mampu menapaki jalan-jalan kehidupan dan memberikan ketetapan pada hati kita untuk senantiasa mampu mengingat-Nya melalui amal dan ibadah-ibadah kita…aamiin🙂

Alhamdulillahirabbil’alamin…

Akhirnya saya mampu menyelesaikan tulisan ini🙂

Depok, 30 September 2014

Linda J Kusumawardani

Pembelajar Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s