Guru Kehidupan (Part 1)

Lama tak menulis, rindu akan aktivitasnya yang mampu menembus ruang dan waktu. Akhirnya bisa sedikit terpenuhi lewat tulisan ini…

Sebuah cerita yang sudah mulai dibuat sejak 3 minggu yang lalu, tapi belum terselesaikan…Semoga Bermanfaat🙂🙂 , Note : Tulisan ini sebuah kisah nyata😀

Sumber : madinahkecil.com

Beliau adalah guru ku, salah satu guru terbaik ku ketika itu bahkan sampai saat ini. Darinya lah aku memulai untuk belajar memahami arti sebuah hidup. Ternyata hidup ini tak seceria tawa ku yang saat itu mengenakan seragam putih abu-abu, kehidupan yang tak selalu dipenuhi warna merah jambu seperti saat manusia merindu. Terkadang hidup ini penuh dengan pilihan yang menyisakan sesal didalamnya.

Semoga Allah merahmatinya, melindungi dan membahagiakannya jika saat ini beliau masih ada dimuka bumi ini. Dan kelak mengizinkannya untuk membaca tulisan ini, memberikan komentar hingga aku kembali bisa bertemu dengan nya. Aku ingin kembali menjalin silaturahim denganya yang telah terputus sejak 9 tahun yang lalu, karena aku masih ingin belajar darinya. Jikapun tidak, semoga Allah terus menyayanginya di alam yang berbeda, karena ada sebuah jariyah yang dimilikinya dari ku, jariyah dari atas ilmu yang telah diberikannya.

Beliau adalah seorang guru bahasa inggris yang ku kenal saat itu, dengan bermodal ijazah D1 di jurusan yang sama beliau mengajar ditempat kursus bahasa inggris yang saat itu aku ikuti. Waktu yang sangat singkat untuk menimba ilmu darinya, hanya 3 bulan saja. Aku sendiri saat itu tak memandang lulusan dari mana beliau ini atau sampai mana level pendidikannya. Tidak, karena faktanya beliau telah berhasil membuat kami, para muridnya menyukai pelajaran yang diajarkannya dan dapat memahami dengan baik apa yang disampaikannya. Begitupula dengan ku, Beliau selalu membuat ku tak memiliki alasan untuk tak hadir setiap 2 kali dalam sepekan, sekalipun hujan begitu deras. Tak pernah ada yang beliau banggakan dihadapan murid-muridnya, namun aku merasa bangga pernah memiliki guru seperti beliau.

2 bulan sudah kami diajarkan dengan penuh semangat dan ketulusan. Mengapa demikian? Ya…rasanya memang sebuah ketulusan hati seseorang itu mampu terpancar dari dalam jiwanya. Sebuah kesimpulan yang dapat aku ambil ketika itu adalah beliau ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat dimanapun beliau berada. Selalu saja sebelum kami pulang, beliau selalu memberikan nasihat nya bagi kami. Hingga akhirnya memasuki bulan ketiga, kami yang berjumlah empat orang hari itu datang seperti biasa, masih dengan keceriaan dan semangat yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Namun, entah mengapa kami merasa aneh karena saat itu guru lain-lah yang mengajar kelas kami. Tak ada penjelasan. Aku sendiri setelah kelas berakhir mencoba bertanya kepada guru penggantinya. Namun sayang sekali beliau tak memberikan sebuah alasan yang jelas. Hanya “izin tidak mengajar”, begitu katanya. Ahh…itu terdengar aneh sekali pikir ku. Satu minggu berlalu…terus begitu hingga memasuki minggu ke-3. “Aneh” ya…hanya itu yang aku pikirkan…”Mengapa sampai tak  ada kabar jika tak mengajar hingga tiga minggu?”…Sudahlahhh…

Diminggu ke-4, betapa terkejutnya kami…sore itu, akhirnya beliau kembali mengajar. Kelas pun berjalan seperti biasa hingga waktu nya habis. Kami kembali antusias mendengarkan apa yang disampaikan hari itu. Semua masih nampak biasa. Hanya satu yang berbeda dari penampilan beliau. Ya…aku melihat ada yang berbeda. Badannya terlihat sangat kurus sekali, dengan postur yang tinggi seperti itu semakin terlihat jika selama 3 minggu menghilang beliau seperti orang yang tak terurus. “apa yang terjadi?” pikirku dalam hati…ya tak pernah terbayangkan oleh ku seberat apa masalah orang dewasa itu. Jika tak salah saat itu usia beliau adalah 27 tahun dan aku masih berusia 16 tahun. Ya…rasanya selisih yang cukup jauh itu membuat aku sulit untuk memahami masalah-masalah orang dewasa.

Satu setengah jam hampir saja berakhir, tak disangka beliau mau menceritakan apa yang dialaminya selama 3 minggu lalu pada kami berempat.

Aku tak ingat persis bagaimana narasi yang beliau sampaikan, namun beginilah yang beliau alami..

“Kalian tahu kemana saya selama 3 minggu ini? Saya akhirnya harus mengurus surat cerai dengan istri saya.”

“Apaaa??” Teriak ku dalam hati…cerai adalah sebuah kata asing yang tak pernah sengaja dikenalkan pada ku. Sebuah kata yang tak mampu terbayangkan bagi ku yang saat itu tak paham perihal kerumah tangga-an. Lagi-lagi…itu terdengar  “aneh” ditelinga ku.

Kami berempat hanya terdiam seribu bahasa, tak tahu harus berkomentar apa untuk masalah orang dewasa seperti ini.

“Iya…saya 3 minggu yang lalu harus mengurus persyaratan cerai saya dengan istri saya.” Wajahnya kini menunduk, air muka nya berubah seketika. Dan kami masih saja terdiam…

“Ini sangat berat untuk saya, karena pilihan ini tak pernah saya bayangkan sebelumnya.”

Aku pun perlahan mencoba menarik nafas sangat dalam…

“Ini adalah bukan pilihan hidup saya…” terkadang wajahnya menengadah ke langit-langit kelas…

“Saya menikah dengan istri saya sudah 4 tahun dan sudah memiliki satu orang putri. 3 tahun yang lalu saya diminta oleh mertua saya untuk mengelola usaha kayu milik bapak mertua saya. Usaha itu saya jalankan dengan sebaik mungkin. Bahkan saya sering turun ke lapangan, hingga akhirnya usaha itu sangat maju hanya dalam kurun satu tahun…Omset yang diterima melebihi target yang diharapkan. Ketika itu saya sangat dielu-elukan oleh bapak mertua saya.”

Kamipun masih serius dan khusyu mendengarkannya

“Hingga akhirnya memasuki tahun ke-3, usaha kayu ini (entah apa, saya pun tak ingat persis) mulai mengalami krisis. Pekerja akhirnya mulai dikurangi dan ketika itu saya tak putus asa hingga akhirnya saya sendiri ikut mengerjakan sendiri. Namun, gagal…usaha itu bangkrut. Sejak usaha itu mulai turun, bapak mertua sudah mulai menjelek-jelekan saya hingga akhirnya benar-benar menghina ketidakbecusan saya menjalani usaha ini.”

Saya masih saja tak bisa berkomentar

“Kemudian saya pergi ke Jakarta, saya berusaha mencari rejeki yang lain untuk menghidupi anak dan istri saya.”

Dalam ceritanya beliau kemudian sakit, mengalami batuk-batuk yang cukup lama dan mengeluarkan darah. Setelah diperiksakan ke dokter spesialis dan menjalani beberapa hasil tes laboratorium, ternyata 40% paru-parunya sudah tidak berfungsi.

Innalillahi…kali ini aku sudah tak tahan…

Kemudian akhirnya bertemu dengan teman lamanya dijakarta yang mau menampung dirumah kontrakannya. Beliau ceritakan bagaimana susah mencari kerja di ibukota, hingga akhirnya beberapa bulan kemudian, beliau menerima telpon dari istrinya. Dan yang mengejutkan adalah telpon itu adalah awal dari sebuah perpisahan. Yaa…sebuah permintaan cerai.

Kejadian itu sangat memukul dirinya, mungkin sudahh sampai tahap putus asa. Beliau bercerita, selama berminggu-minggu beliau tak nafsu makan, kerjanya hanya mengurung diri dalam kamar, bermain dengan gitarnya dan ditemani secangkir kopi saja. Sampai temannya merasa prihatin dengan kondisi beliau.

Hingga kemudian beliau mulai berpikir harus bangkit dari kondisinya saat itu. Perlahan dikumpulkan kembali sebuah kekuatan untuk bertahan hidup dan kekuatan untuk mempertahankan rumah tangga nya. Beliau melamar pekerjaan ke beberapa tempat kursus dengan modal ijazah D1 yang dimilikinya. Hingga akhirnya Allah mentakdirkannya bertemu dengan kami.

Sampai disitu, saya tak menyangka bahwa selama 2 bulan beliau mengajar disaat yang sama beliau pun mencoba membangun semangat akan mimpi-mimpinya…Tak kuasa, air matakupun menetes…

Beberapa hari sebelum beliau menghilang, ternyata beliau kembali menerima telpon dari sang istri untuk benar-benar meminta cerai, yang sebenarnya itu adalah permintaan orang tuanya.

“Jadi, adek milik siapa? Saya suami mu…”

“Maaf mas, saya memilih orang tua saya.”

Begitulah akhir percakapan telpon yang terjadi…

Bersambung….

Depok, 20 Feb 2014

Blogger ^Pembelajar Kehidupan^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s