Janji Untuk Raisha (Part 5)

Langit Pagi Hari

Pagi…tahukah kau? bahwa kini aku sudah menjadi semakin dewasa…

Ini bukan karena aku sudah tidak cengeng lagi

Bukan juga karena aku tak mau mendengarkan nasihat kakak

Atau Bukan karena usiaku yang semakin bertambah pada bilangan angkanya, walaupun hakikatnya itu semakin berkurang

Namun… ada hal lain yang katanya hal itu berkebalikan

Pagi…Tahukah kau? Semakin berkurangnya usia ku, maka semakin banyak hikmah yang bisa aku petik…

Jika ilmu itu ibarat sebuah pohon, maka aku telah memetik daun-daun sang pohon setiap harinya

Dengan daun itu aku membuat mahkota-mahkota cantik sebagai tanda aku telah mampu melewati hal terberat dalam hidupku

Dan itu artinya semakin banyak mahkota yang aku kumpulkan maka banyak hikmah yang aku dapatkan…

Pagi…tahukan kau? dulu aku pernah tak menginginkan mu, jika aku tahu aku tak pernah lagi bertemu ibu setelah kedatangan mu….

Namun…dipagi ini aku pun yakin ibu tersenyum menatapku dari syurga bersama ayah

Pagi…tahukah kau? kau selalu menjadi awal dari hari ku, bersama mu aku menemui tuhan ku….

Bersama mu jugalah aku memulai semangatku yang baru…

Bahkan bersama mu jugalah aku menyaksikan sebuah pengorbanan itu dimulai….

***

Yaa…Saat ini aku sudah menjadi wanita dewasa. Sekarang aku sudah mampu mengambil keputusan sendiri, aku sudah tidak cengeng lagi, aku tak perlu menangis jika kakak tak memenuhi kemauanku. Aku sudah lebih paham tentang bagaimana hikmah itu telah mendewasakan ku, karena sebuah hikmah hidup itu terbentang luas jika setiap manusia mau berpikir dan belajar dari setiap kehidupan. Hidup akan terasa lebih ringan jika kita mau berbagi, yaa…berbagi dengan Tuhan bahwa hanya Dia-lah yang mampu meringankan setiap kesulitan yang kita hadapi.

Usiaku baru saja menginjak 24 tahun tepat 2 bulan yang lalu. Dibulan yang sama ketika aku harus kehilangan ibu empat tahun yang lalu. Ahh…sudahlah, terlalu sakit rasanya jika aku harus mengingat kejadian itu. Kemiskinan, penyakit, rumah sakit, biaya berobat dan keacuhan suster-suster itu cukup memberikan rasa traumatis yang mendalam tak terobati. Tak ada yang bisa aku lakukan memang saat itu, kemiskinan telah memenangkan semua dan tak pernah mengijinkan ku untuk berusaha lebih maksimal melawan takdir kehilangan ibu. Seolah aku biarkan ibu begitu saja hingga dia pergi menghadap Allah Sang Maha Penyayang. Namun, doa-doa panjang ku untuk ibu dan bapak sudah cukup menjadi pelipur lara ku saat aku merindukan mereka. Menyakitkan memang kala aku mengingat aku seorang yatim piatu sejak 4 tahun lalu. Tak seperti kebanyakan orang yang hidup serba berkecukupan serta memiliki anggota keluarga yang lengkap. Bagi ku keluarga lebih dari cukup, walau kami dulu hidup serba kekurangan namun bisa menatap ibu, mendengar nasihatnya dan doa-doa yang beliau panjatkan untuk kami dua buah hati nya, itu lebih dari cukup!

Aku pernah merasa hidup ini tak adil, namun aku sadar aku tak boleh lagi menyesali apa yang terjadi. Aku sudah tak mau lagi menyalahkan takdir, karena Allah tak pernah salah dengan takdir-Nya.  Walau itu sangat berat bagiku dan kak iffah. Namun, pada akhirnya Allah mampu kembali membuat aku tersenyum.

Aku sungguh beruntung, karena Allah tidak membiarkan aku sendiri dibuminya yang luas ini, Dia masih sayang padaku. Memiliki seorang kakak yang menemaniku, membimbing ku dan menyayangiku dalam menjalani hari-hari dalam hidupnya adalah hal yang cukup untuk ku saat ini. Sepertinya kakak lebih sabar dalam menghadapi ujian hidup ini dibandingkan aku sendiri. Bagaimana tidak ? Kak iffah sudah memutuskan untuk berhenti sekolah sejak lulus SMP dan memutuskan untuk bekerja membantu ibu untuk biaya sekolah ku dan makan sehari-hari. Menjadi buruh cuci, setrika, berjualan bunga dan apapun asal itu halal. Itulah yang menjadikan ku lebih berani menatap hidup ini kedepan, yaitu karena Allah dan kedua aku memiliki seorang kakak yang hebat yang aku pun mencintainya karena Allah. Dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki didunia ini setelah ibu dan bapak tiada. Ibu dan bapak adalah anak tunggal dari kakek dan nenek, itulah mengapa aku tidak memiliki apa yang orang lain panggil budhe, bulek, bibi, uwak, paman, om ataupun tante. Bahkan aku tak pernah tahu bagaimana silsilah keluarga aku sendiri, kesulitan ekonomi membuat aku dan kakak sibuk membantu perekonomian ibu dan bapak. Sampai akhirnya yang aku ketahui aku tahu aku hanya memiliki kedua orang tua, kakek dan nenek yang sudah tiada. Terakhir yang aku tahu, aku hanya memiliki seorang kakak yang sangat mencintaiku. Dialah kak iffah…

***

Sore ini aku masih bersama buku-buku besar ku yang tebalnya sama dengan bantal yang berada diatas kasur. Ketebalannya yang mirip bantal sering membuatku tertidur diatasnya. Laptop ku pemberian kakak sejak 4 tahun lalu masih awet saja aku pakai. Dulu katanya kalau orang kuliah harus punya yang seperti ini. Entah dari mana kakak punya ide membelikan aku benda seperti itu.

“Kakak lihat dimana benda itu?” pikirku.

Padahal kami tak punya tv dirumah pikirku saat itu. Internet kami tak punya, bahkan mahasiswa dikampung kamipun tak ada. Belakangan aku baru tahu kalau kakak sering lihat benda itu dari salah seorang anak ibu diperumahan sebelah yang menggukanan jasa kakak untuk mencuci. Seorang mahasiswi universitas negeri di kota, dia sering menenteng-nenteng benda berukuran 14 inchi itu. Ternyata Kakak tahu itu dari sana, kakak pernah bertanya perihal benda itu kepada si pemilik barang, kemudian baru kakak tahu itu adalah Laptop.

Pikiran ku kini jauh melayang, melihat tumpukan tugas yang masih belum sempurna aku kerjakan. Buku mengenai farmasi dan kumpulan penyakit itu masih tergeletak tak beraturan dikamar kosan ku. Tebalnya buku referensi tak jarang membuatku jenuh. Namun jika mengingat ibu semangatku kembali pulih seperti kemarau yang teduh saat disiram hujan. Dari tumpukan buku itu jugalah belakangan aku tahu apa penyakit yang diderita ibu. Kanker paru-paru. Penyakit ini yang akhirnya merenggut nyawa ibu kesayangan ku. Sebagai seorang calon dokter tentu aku tak ingin kejadian yang dialami ibu dibeberapa tahun silam terulang.

Sementara, wajah kak iffah pun sering terlintas dibenak ku. Menyemangati ku dari jauh melalui sebuah ponsel lusuhnya setiap hari. Ahh….pikiran ku melayang. 1 tahun lagi aku akan mendapat gelar dr. didepan nama ku.

” dr. Raisha, ahh itu keren sekali bukan?” pikirku…

Ini adalah hadiah terindah yang akan aku berikan untuk kakak diwisuda ku nanti. Aku senyum-senyum saja membayangkannya. Imajinasiku menembus batas waktu satu tahun kedepan. Berdiri didepan cermin akupun membayangkan kebaya yang akan aku gunakan, kemudian ada seseorang mendampingiku disana dengan menggunakan kemeja putih berlapis tuxedo hitam  bersama kak iffah menuju altar sidang terbuka universitas. Sambil senyum-senyum aku berjalan dihadapan cermin. Ideal sekali rasanya

****PRANG..****  ah…lamunan ku buyar. gelas ku pecah, tak sengaja ku tendang…haha… Seketika itu, seolah ada yang membisikkan ku “Hey, Raisha…ingat kakak mu belum menikah!!”

”Ah…aku sedang bicara dengan tembok rupanya…hahaha…”Raisha tertawa geli…

***

Baca juga cerita sebelumnya yang ini : Part 4

Depok, 3 May 2013

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Pembelajar dari Kehidupan^

2 thoughts on “Janji Untuk Raisha (Part 5)

  1. hahahaa…awalnya udah serius eh belakangnya obsesi penulisnya gitu deh —> PW alias pendamping wisuda, heheee…amiin
    smg sebelum qt jadi master…qt udah dpt mister, heheee, aamiin🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s