Janji untuk Raisha (Part 4)

Kisah Sebelumnya Klik disini

Raisha tahu betul apa yang ada dalam benak sang kakak. Dia pun tahu kak Iffah selalu mengutamakan kepentingan adiknya setelah kepergian ibu. Raisha pun sangat paham bagaimana sang kakak berani mengambil sebuah keputusan diluar dugaannya, lengkap sepaket dengan konsekuensinya. Ya…sejak ibu pergi, kak iffah lah yang membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah raisha, hingga akhirnya iffah memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya setelah tamat Sekolah Menengah Pertama dan lebih memilih untuk menjadi buruh cuci, menjual susu kedelai dan bunga mawar. Semua itu dia lakukan demi pendidikan adik tercintanya, Raisha.

Iffah tahu adiknya memiliki kemampuan diatas rata-rata teman sebaya nya. Tak heran bila raisha selalu memperoleh nilai tertinggi disekolah. Almarhum Ayah dan ibu pun sangat bangga padanya. Ayah & Ibu selalu antusias dengan mata berbinar bangga saat mengambil raport raisha disekolah. Iffah juga sangat tahu, adalah salah satu moment terindah dalam hidup kedua orang tuanya ketika menjadi satu-satunya orang tua yang dipanggil diatas mimbar sekolah untuk menerima sebuah penghargaan putri tercintanya sebagai Juara Umum di sekolah. Terbayang senyum pada wajah ayah dan ibu diatas mimbar yang rutin setiap tahun tanpa jeda saat memberikan kata sambutan dihadapan seluruh orang tua murid yang lain. Iffah yang juga tak pernah melewatkan moment itu bersama raisha sangat terharu dan bangga pada adik semata wayangnya itu.

“Kakak bangga pada mu rais. Kakak, Ibu dan ayah sangat bangga pada mu. Walau kita bukanlah orang yang mampu dalam harta namun kakak yakin kelak kau akan bisa menjadi apa yang kau inginkan”

Itulah kata-kata iffah yang selalu diingat raisha saat menerima penghargaan itu.

***

Kepergian ibu adalah hal yang sangat memilukan hati ke dua kakak beradik itu, terutama raisha. Api kebencian pada rumah sakit sudah terlanjur terpatri kuat dalam benak dan hatinya, ibu yang tidak mendapatkan penanganan serius pada akhirnya harus pergi selama-lamanya dengan cara yang begitu tidak manusiawi. “Dimana peri kemanusiaan mereka???” Raisha sudah terlanjur membenci nya tanpa peduli ada nya birokrasi-birokrasi yang melilit sistem pada sebuah rumah sakit, apalagi untuk orang tak mampu seperti mereka. Raisha terlalu kecil untuk mendapatkan perlakuan seperti itu!!!

Kenangan itu sungguh menyakitkan baginya untuk diingat kembali. Air matanya tak kuasa tertahan mengingat tangisan kak iffah saat berhadapan dengan suster-suster rumah sakit itu. Kini Raisha mengingat kenangannya bersama almarhum ibu walau semua kenangan-kenangan pahit itu sungguh menyesakkan dada raisha.

Senyum ibu sehari sebelum kepergiannya memperlihatkan sebuah kekuatan yang mendorong raisha memenuhi janjinya pada ibu, kakak dan tentu dirinya sendiri untuk membenahi sistem rumah sakit yang kacau balau itu. Menjadi seorang dokter dan berbuat banyak untuk warga didesanya adalah pilihan hidup baginya.

Kini…Raisha telah tumbuh dewasa. Dan kini dia sedang berada dalam suatu persimpangan menggapai masa depannya.

Sore itu…masih dirinya menatap bunga-bunga kak iffah yang terlihat tersenyum seolah memberi semangat padanya. Raisha, paham ini bukanlah untuknya namun untuk kakak, ibu dan ayah. “Tak ada yang tak mungkin bagi Allah”…itulah salah satu pesan ibu yang dicam-kannya baik-baik untuk tetap berjalan menjemput semua harapan dan doa-doanya. “Belum tentu kesempatan kedua itu ada untuk ku” kini hatinya mulai bicara…

“ya…UMPTN ini adalah salah satu pintu untuk sebuah jalan untuk menggapai cita-cita mulia itu. Cita-cita keluarga kami. Cita-cita yang pernah ibu harapkan dari ku untuk dapat bermanfaat bagi orang lain”

“Kak Iffah saja tidak takut dari mana mendapatkan sisa biaya itu jika aku diterima UMPTN ini,…seharusnya aku lebih dari itu” Kini raisha lebih optimis…sesaat tampak senyum manis ibu terlintas dalam benaknya dan menguatkan hatinya dalam kegalauan…

Ditengah semilir angin sore itu…Raisha masih disana. Hati nya kini lebih tenang, senyum itu mulai terukir di bibir mungil raisha. Raisha kembali menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan hingga hatinya sudah mau berdamai dengan pikirannya.

Tiba-tiba Raisha merasakan tepukan halus diatas pundaknya yang semakin lama semakin terasa kuat namun penuh dengan kasih sayang. Dialah iffah yang baru saja menghampiri Raisha….

“Rais, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Kau tahu semua rejeki bagi orang yang menuntut ilmu itu langsung Allah yang menjaminnya.”

Tak terasa, air mata jatuh dipipinya saat mendengar ucapan kak Iffah…Kata-kata itulah yang pada akhirnya semakin membulatkan tekad Raisha untuk berusaha menembus UMPTN untuk belajar dan meraih profesi sebagai seorang dokter.

Bersambung

In my Room, 3 September 2012

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Pembelajar dari Kehidupan^

Sumber Gambar : kolomkita.detik.com

2 thoughts on “Janji untuk Raisha (Part 4)

  1. Sesaat raisha masuk ke dalam rumah, iffah kembali. Terlihat iffah turun dari mobil carry berwarna hijau tua, mobil milik salah seorang tetangganya, Pak Burhan. Iffah berjalan menghampiri ibu “Rais, sudah pulang bu?” Tanya iffah.

  2. Ping-balik: Janji Untuk Raisha (Part 5) | Pembelajar dari Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s