Janji untuk Raisha (Part 3)

Lanjutan dari Janji Untuk Raisha (Part 2)

Matahari siang itu sangatlah terik, suhu udara mencapai 34 derajat celcius. Suhu yang sudah cukup membuat kulit manusia terasa terpanggangg bila berjemur terlalu lama berjemur dibawah matahari, sungguh menyengat! Bahkan hujan saja rasanya enggan untuk datang menghampiri desa mereka sejak dua bulan lalu. Saat ini giliran musim kemarau yang menghampiri desa.  Musim yang paling tidak diharapkan oleh masyarakat desa. Karena ini artinya mereka harus kehilangan sebagian penghasilan dari sumber mata pencaharian utama, bertani. Banyak masyarakat yang memilih untuk mengganti nasi sebagai makanan pokok mereka menjadi singkong, karena daya adaptasinya yang lebih cocok saat musim kemarau seperti ini.

Terik masih terasa menyengat siang itu, dan raisha baru saja keluar dari kelasnya. Bergegas ia berlari pulang ke rumah. Perasaannya sebagai seorang anak sudah tidak enak sejak tadi, entah sejak pukul berapa. Dia merasa ada yang tidak beres dirumah, hanya satu yang ada dalam ingatannya…Ibu. Walau usianya masih terbilang kecil, raisha sangat paham kalau sakit ibu tidaklah sama dengan sakit pusingnya, batuknya atau bahkan demamnya. “Ini betul-betul sangat serius!” katanya dalam hati yang sok dewasa itu. Bergegas, raisha berlari bergerak menuju gerbang sekolah. Udara yang panas tidak memberatkan langkah raisha untuk segera pulang kerumah, hari itu tidak ada keluhan-keluhan mengenai panasnya udara seperti biasanya. Baru saja dia sampai digerbang sekolah, raisha bertemu dengan fika yang sudah duduk di atas motor ayahnya.

“Rais…Rais…. Kenapa lari-lari?” fika berteriak memanggil raisha dari atas motor yang ditumpanginya

“Eh….aku harus segera pulang sekarang. Ibu rais sakit fika…” Berhenti sambil ngos…ngosan raisha menghela nafas…”hosh…hosh…hosh….”

“Pulang bareng fika saja rais, nanti biar ayah fika yang antar kamu sampai rumah.”

“Memangnya adik fika tidak ikut menjemput ya?” Tanya raisha sambil menengok ke belakang badan ayah fika, memastikan.

“Tidak rais, adik fika tidak ikut. Mungkin sedang asyik dengan mainan mobil baru nya dirumah…” fika meyakinkan raisha.

“Kalau begitu, artinya boleh rais ikut ya ayah nya fika…”  Sambil tersenyum manis, senang karena itu artinya raisha akan lebih cepat bertemu dengan ibu.

Dengan segera raisha menaiki motor yang juga dinaiki oleh fika dan ayahnya.

“Pegangan ya fika, raisha…” Ayah fika mengingatkan sebelum menjalankan motornya.

***

“Ibu harus ke dokter bu…” iffah tak tahan melihat darah yang keluar semakin banyak dari mulut ibu nya.

“Nggak usah nak…ibu gak apa-apa.” Batuk ibu terus saja terdengar…dan lagi lagi mengeluarkan darah.

“Nggak bu, iffah akan minta tolong sama Pak Burhan untuk meminjamkan mobil nya agar bisa membawa ibu ke dokter. Jangan paksa iffah untuk diam bu… iffah sayang ibu, ibu harus sembuh. Bertahanlah bu” Air matanya sudah tak tertahankan. Kain putih sobekan sprei itu kini sudah berubah menjadi merah karena lumuran darah ibu yang semakin banyak keluar.

“Baiklah, tapi tunggu adik mu pulang ya” Terbata suara ibu terdengar.  Uhuk….uhuk….“kita pergi bersama ke dokter. Ibu tidak ingin meninggalkan rais dirumah sendirian” Ibu berusaha mengangkat kepalanya dari senderan kursi. “Tolong bantu ibu ke halaman depan iffah, begitu adik mu pulang kita segera berangkat.”

“Iya bu,,,” Iffah pun membantu membopong ibu menuju ke halaman rumah…

Walau nampak lemah, wajah ibu sudah terlihat pucat namun semangatnya untuk tetap bertahan hidup masih jelas terlihat. Kekuatan itu…ya kekuatan seorang ibu selalu ada dan tak pernah bersisa untuk anak-anaknya, kekuatan yang muncul dari keinginannya yang sangat besar untuk melihat putri-putrinya yang cantik dan pintar itu tumbuh dewasa dan sehat. Terlebih setelah kematian suaminya, Ibu sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sekolah ke dua orang putri lucunya itu, Iffah dan Raisha. Walau ekonomi keluarganya tidak seberuntung keluarga-keluarga lainnya, ibu tetap berusaha mencukupi kebutuhannya dengan bertani, sebagai penjual bunga dan sebagai penjual susu kedelai. Agaknya itu sudah lumayan cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah kedua putrinya.

Setelah membantu ibu menuju teras halaman rumah, iffah bergegas pergi menuju rumah pak Burhan untuk meminjam mobilnya agar bisa mengantar ibu ke rumah sakit di kota. Pak Burhan adalah satu-satu nya tetangga didesa yang memiliki mobil dan terbilang kaya didesa mereka dengan mobil carry yang dimilikinya.

“Iffah pergi ke Pak Burhan sebentar ya bu, mau pinjam mobilnya.”

Ibu hanya mengangguk.

Sesaat iffah pergi, raisha tiba di depan pekarangan rumah.

“Ibuuuu……ibuuuuu….ibuuuuu….” raisha berteriak dan berlari melewati pekarangan rumah yang tidak seindah 3 bulan lalu. Bunga-bunga dipekarangan itu sudah layu semua karena musim kemarau.

Senyum tulus dan menenangkan itu menghiasi wajah ibu menyambut putri bungsunya, raisha. Senyum hari itu mengisyaratkan sesuatu “Rais….uhuk….uhuk….”

Sesaat setelah tiba didekat ibu, dengan segera raisha memeluk ibu “Ibu…ibu…ibu sudah sehat…? Kok ada diluar bu? Kan panas sekali. Matahari nya seperti sedang marah-marah pada rais bu, panasss” matanya menatap ibu sungguh sungguh. Dia  ingin mengetahui kabar ibu…Ibu hanya tersenyum, senyum yang selalu menenangkan hati raisha. “Sebentar lagi ibu sembuh rais, kita akan pergi ke dokter. Tapi kita tunggu kak iffah sebentar ya. Kakak mu sedang meminjam mobil ke Pak Burhan. Shalat lah dulu sambil menunggu kakak mu kembali.”

“Iya bu…rais mau berdoa supaya setelah pulang dari dokter nanti, ibu sembuh”

“Terima Kasih ya rais, ibu sayang rais…” sambil membelai kepala raisha yang ditutupi jilbabnya

“Rais juga sayang ibu.” Rais membalas dengan pelukan hangat

Sesaat raisha masuk ke dalam rumah, iffah kembali. Terlihat iffah turun dari mobil carry berwarna hijau tua, mobil milik salah seorang tetangganya, Pak Burhan. Iffah berjalan menghampiri ibu “Rais, sudah pulang bu?” Tanya iffah.

“Sudah, adik mu sedang shalat….ehmm…iffah, ibu ingin bertanya sesuatu.”

“Apa bu”

 “Apa kamu yakin akan memakai uang itu?”

“Iya bu, kenapa memang?” walau iffah sudah paham maksud pertanyaan ibu barusan

“Uang itu….uang itu seharusnya untuk mu masuk SMA nanti.”

“Tak mengapa bu, itu tidak penting untuk iffah. Kesehatan ibu jauh lebih penting dari semuanya…”

Hati ibu sedih mendengarnya, uang hasil pekerjaan ibu sehari-hari selalu disisihkan ke dalam dua celengan yang terbuat dari toples biskuit. Satu untuk sekolah raisha nanti saat memasuki SMP dan satu lagi untuk iffah untuk masuk SMA nanti. Uang itu tak seharusnya digunakan untuk dirinya.

“Ya Allah, Kau lah sang Maha Pemberi Rejeki. Bahagiakanlah kedua permata ku. Ku titipkan pada Mu ya Allah ke dua harta berharga milik ku ini jika masa ku tlah habis untuk merawat mereka.” Tanpa sadar ibu menitikan air mata…

“Ibu kenapa…?”

Segera ibu hapus air mata itu, bertepatan dengan keluarnya raisha yang sudah mengganti pakaiannya dari dalam rumah, mengalihkan pembicaraan yang baru saja terjadi.

“Ayo bu, kita berangkat. Kak iffah, mobil nya ada??” Tanya raisha sambil mengangkat ngangkat kepalanya, melihat ke jalan.

***

Setibanya di rumah sakit… Ibu, Kak Iffah dan Raisha yang diantar oleh anak sulung Pak Burhan segera turun dari mobil carry hijau itu. Kak iffah membopong ibu yang semakin terlihat pucat wajahnya, sebuah firasat tidak baik tiba-tiba melintas dalam benak nya. Namun, dibuangnya jauh-jauh pikiran itu. “ahh…Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah!!!” Iffah mencoba menenangkan hatinya. Bergegas, Bergegas!!! sebelum terlabat semuanya. Iffah semakin cemas, membopong tubuh ibu yang semakin berat,  Itu artinya ibu semakin melemah tak bertenaga.

Segera di dudukan nya ibu di kursi ruang tunggu di loby rumah sakit. Iffah meminta raisha menjaga selama dia tidak ada. Iffah berlari menuju suster-suster jaga itu, berharap segera datang pertolongan dari dokter untuk mengobati ibu nya. Segera iffah menjelaskan kondisi mereka tanpa berpanjang-panjang berbasa basi, ibu harus segera ditangani dokter!!!hanya itu, hanya itu yang ada dalam pikirannya. Namun, ini tak semudah dibayangkan iffah. 10 menit berlalu Ibu masih belum mendapatkan pertolongan dokter. Ini bukan perkara antrian, bukan perkara dokter yang tidak ada, bukan!!! Ini perkara biaya…habis sudah penjelasannya, sekali itu…sekali itu ya Allah mengapa Kau tak menolong mereka??? Wajahnya kini sudah dipenuhi air mata, iffah sudah mengemis-ngemis pada suster. Sesekali dia melihat wajah ibu yang kini sudah semakin pucat, terlihat matanya tertutup. “Mungkin Ibu sedang tertidur karena lelah dalam perjalanan” dia berusaha menenangkan hatinya.

15 menit sudah berlalu, raisha sudah tak sabar menunggu kakaknya bersama suster-suster jaga itu. Sementara ibu masih terpejam matanya. Segera dia menghampiri sang kakak yang saat itu sudah tak bisa meyakinkan suster-suster itu…

“Tolonglah kami suster, ibu saya sakit…hanya ini uang yang saya bawa. Saya berjanji akan melunasinya dengan segera…tolonglah…ibu saya harus diperiksa dokter”air matanya sudah habis…

Percuma!!! Anak berusia 15 tahun itu tetap tidak digubris!!!

“Kenapa kak?” Raisha tahu persis apa yang dihadapi kakaknya, hal yang sama sudah pernah dilihat dulu saat ibu mengalami hal yang sama. Beruntung saat itu ada orang yang baik untuk membiayai pemeriksaan dokter hingga akhirnya diketahui Kanker Paru-Paru itu sudah mencapai stadium IV dan sudah perlahan menggerogoti tubuh ibu…

“Suster tolonglah ibu kami, tolonglah….Lihat suster, lihatlah itu ibu kami” Raisha menunjuk ke arah ibu yang sudah terpejam.

“maaf Itu sudah aturan dirumah sakit ini..”

“Ibu kami sakit suster, mengertilah…apa kalian tidak memiliki ibu??? Mengertilah suster….” Basah sudah wajah raisha kecil

Iffah memeluk raisha. Raisha berontak dari pelukan sang kakak, menarik-narik tangan suster… ”Lihatlah…lihatlah…ibu…”

Iffah menyeret raisha dan berlari ke arah ibu, diguncang-guncangkan tubuh ibu. Terlambat!!! Ibu sudah tidak bergerak…!

“Kenapa ibu kak?” Raisha panik menyeka air mata dipipinya.

Terlambat!!! Ibu sudah Tak tertolong…

Bersambung…

Pic.source : http://airmatasyahdu-leeyana.blogspot.com/2010_04_01_archive.html

***

Bogor, 17 Mei 2012

Linda J Kusumawardani

Blogger Pembelajar dari Kehidupan

 

6 thoughts on “Janji untuk Raisha (Part 3)

  1. Ping-balik: Janji untuk Raisha (Part 2) « Pembelajar dari Kehidupan

  2. Hayu asah lagi kemampuan tulis menulis nya… Klo dari sini ada rejeki kita, ya Alhamdulillah.

    Tgl 20 mei itu sampe jam 12 malem, masih ada waktu. Mudah2an ada rejeki disana ya… Klo emang belum rejeki pasti ada yang lebih baik lagi…aamiin🙂🙂🙂

  3. Ping-balik: Janji untuk Raisha (Part 4) « Pembelajar dari Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s