Janji untuk Raisha (Part 2)

 Lanjutan dari Part 1

Iffah adalah sosok seoarang kakak dengan kesabaraanya yang tak terbatas. Pekerjaan apapun asalkan itu halal akan dilakukannya demi kebahagiaan adiknya. Baginya tidak ada hal lain yang membuatnya bahagia selain melihat kebahagiaan raisha dan keberhasilannya menggapai cita-citanya menjadi seorang Dokter. Adalah hal terindah jika kelak menyaksikan raisha menggunakan pakaian seperti para wisudawan di universitas-universitas ternama itu, kemudian membayangkan adik manisnya menggunakan jas putih dokter dan memiliki sebuah klinik di desa dan mengobati tetangga-tetangganya yang sakit tanpa memaksa meminta biaya pengobatan seperti dikota. Seperti itulah mimpinya selama ini, mimpi yang sama dengan mimpi raisha sejak 6 tahun yang lalu.

***

Raisha masih kecil saat itu, usianya 11 tahun dan masih kelas 6 sekolah dasar. Raisha kecil yang manis adalah anak yang baik, penurut dan sangat menyanyangi ibunya. Hatinya selalu menangis jika melihat darah keluar dari mulut sang ibu.

“Rais mau ibu sembuh, bagaimana caranya?” raisha bertanya sambil membersihkan darah yang keluar dari mulut ibunya.

“kau mau tahu rais?”sambil mengusap lembut kepala raisha

“Iya bu, apa???”

“Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan berdoalah.” Kata ibu sambil tersenyum

“Rais, sudah berdoa supaya ibu cepat sembuh, selalu setiap rais selesai shalat. Tapi kenapa rais harus belajar bu?”

Ibu hanya tersenyum melihat mimik wajah bingung raisha,rambut panjangnya terurai, bola matanya yang besar menatap ibu lamat-lamat. Tingkah raisha lucu dan menggemaskan.

“Bu…rais tidak suka deh sama suster-suster rumah sakit itu.” Kini raisha memijat kaki ibu yang sedang duduk dan bersandar diatas kursi. “Kenapa sih, ibu tidak boleh diperiksa dokter? Rais kan mau ibu cepat sembuh. Ehmmm….pasti karena kita tidak punya uang ya bu?”

“Rais…kamu itu lucu sekali sayang…” ibu mencium kening raisha

“Nanti kalau sudah besar, rais mau jadi dokter aja bu. Biar bisa jagain dan ngobatin penyakit ibu. Jadi kita gak perlu lagi nanti ke Rumah Sakit yang pelit itu bu. Raisha janji bu, kalau raisha jadi dokter orang-orang miskin seperti kita ini gak perlu bingung lagi nanti kalau sakit, tinggal datang ke Dokter Raisha. Iya kan bu?hehehe”

Ibu tersenyum mendengar apa yang diucapkan si bungsunya…“Cita-cita yang mulia itu rais, belajarlah dengan sungguh-sungguh…kelak kau akan benar-benar menjadi seorang Dokter”

“Eh, kak…sudah selesai ya masaknya….sini sini biar rais yang suapin ibu.” Raisha bangun dari duduknya dan berlari ke arah kak iffah yang membawa makan malam mereka.

“Iya…sudah rais, kamu ini gak perlu berlari seperti itu nanti jatuh.”

“Kak iffah, rais kan sudah besar mana mungkin jatuh…iya kan bu?”

“Iya…sayang.”

Suasana malam itu sangatlah terasa hangat, udara diluar rumah kayu mereka yang dingin tak mampu menembus ke dalam. Kasih sayang dalam keluarga ini tlah menjelma menjadi kehangatan yang mampu menghangatkan seluruh isi rumah. Terdengar suara petir dari luar yang menandakan akan turun hujan. Di malam itu seperti biasa, raisha terus berbicara dan menunjukan nilai-nilainya disekolah. Senyum kebanggaan ibu pada putri bungsunya karena prestasi yang ditunjukan raisha amatlah mengagumkan. Tak ada yang meragukan kepandaian raisha. Raisha kecil tumbuh begitu cantik, pintar dan sangat aktif. Raisha senang berbicara. Dan dia terus berbicara malam itu, menceritakan kejadian kejadian lucu disekolah dan hal yang tidak penting lainnya. Ibu dan Kak iffah lebih banyak diam dan mendengarkan cerita raisha, sekali-sekali terdengar ledekan kak iffah karena raisha tidak bisa bermain karet disekolah bersama dengan teman-temannya.

Kehangatan keluarga ini tetap sama seperti pada malam-malam sebelumnya. Namun tidak untuk besok dan seterusnya. Hari itu tanpa disadari oleh raisha, itu adalah malam terakhir dirinya menceritakan aktivitas sekolahnya kepada ibu.

Bersambung ke sini

***

Pic. Source : http://hikmah-story.blogspot.com/2012/03/semangkuk-bakmi-panas-kisah-hikmah.html

1 Mei 2012

Pembelajar dari Kehidupan

Linda J Kusumawardani

4 thoughts on “Janji untuk Raisha (Part 2)

  1. Ping-balik: Janji untuk Raisha (Part 1) « Pembelajar dari Kehidupan

  2. Ping-balik: Janji untuk Raisha (Part 3) « Pembelajar dari Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s