Janji untuk Raisha (Part 1)

“Innama’al usri usro fa innama’al usri usro, kakak yakin kamu pasti bisa rais!”

“Apa kak???” Tersentak, namun pandanganya masih terlempar jauh menuju awan-awan biru, Samar-samar suara kicauan burung itu mengaburkan pendengaran raisha, seorang gadis manis berkulit putih yang berusia 18 tahun.

“Apa kak???” kembali raisha bertanya, kali ini dia menoleh ke belakang tempat sumber suara itu terdengar, matanya menatap tajam pada seorang wanita disudut ruangan yang sedang tersenyum padanya.

Sore itu desir angin masih lembut menyapu jilbab biru raisha yang sedang duduk di beranda rumah kayu mereka dan dihiasi bunga-bunga indah milik kak iffah di pekarangannya. Kali ini beranda rumah mereka akan kembali menjadi saksi perjanjian seorang kakak setelah 3 tahun lalu janjinya keduanya sudah diikrarkan.

“Kakak yakin kau bisa, berusahalah…biar kakak yang mencari kekurangannya.” Mantap suara itu terdengar dari mulut manis iffah, sosok wanita dewasa yang berusia 21, terpaut 3 tahun dari adik satu-satunya, raisha.

“Apa yang akan kakak lakukan?? Kita ini orang susah kak, tidak perlu rasanya sekolah tinggi-tinggi. Untuk apa kak? Untuk apa?” Raisha tak sanggup lagi menahan kegundahannya. Gerimis…tak terbendung lagi, raisha kini sudah tak sanggup lagi menahan rasa itu. Rasa yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun sejak iffah memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah demi membiayai sekolahnya.

“Tidak raisha, 3 hari lagi. Kau harus bersungguh-sungguh!! Jangan sampai kau kecewakan almarhum ibu dan bapak. Kakak berharap banyak pada mu rais…kemarilah, peluk kakak dan berjanjilah pada kakak kalau kau akan melakukan yang terbaik.”

Air mata itu jatuh tak tertahan di pipi raisha. Raisha merasa sesak dalam dadanya, membuncah kini perasaannya, sebuah perasaan sayang pada kakak satu-satunya. Mungkin perasaan ini sama dengan perasaan yang dimilki oleh seorang ibu kepada anaknya, perasaan cinta yang menyebabkan raisha tak sanggup lagi melihat orang yang dicintainya tersakiti oleh keadaan, perasaan itu halus dan lembut selembut angin yang baru saja menyapu jilbab birunya.

Kini raisha sudah berada dalam pelukan sang kakak, menangis sejadi-jadinya. Raisha tetap mempertahankan segala argumen miliknya dan berharap kak iffah tidak memaksakan mimpinya itu terjadi.

“Sudahlah kak…percayalah pada rais, mimpi itu bukan untuk rais. Rais tidak ingin lagi melihat kak iffah susah lagi. Rais tidak ingin mendengar gunjingan orang yang selalu mencibir pekerjaan-pekerjaan kakak. Sudah cukup kakak selama ini menjadi seorang buruh cuci, penjual susu kedelai, penjual bunga atau pekerjaan kakak yang lain untuk membiayai hidup kita dan sekolah rais. Sudah kak…mungkin benar apa kata mereka. Takdir Allah untuk kita hanya seperti ini…Tidak akan pernah bisa rais menjadi seorang dokter. Biarkan sekarang rais membantu kakak bekerja, membantu ekonomi kita kak” Air matanya bak anak sungai yang mengalir deras. Terisak…suaranya semakin tak jelas terdengar hingga redup. Hanya dekapan yang sangat erat sekarang yang mampu dilakukannya.

Tak kuasa iffah menahannya, kini matanya sudah sembab setelah beberapa menit dia mampu menahannya. Namun, tetap tak sederas air mata raisha yang sudah menetes sejak awal pembicaraan mereka. Dia lebih terlihat kuat dari adik nya, iffah sudah terbiasa dengan kondisinya sejak ibu meninggal.

“Tidak rais, kakak akan berusaha. Kau sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah lima puluh persen dari biaya yang dibutuhkan jika kau diterima SPMB ini. Biar kakak yang mencarikan sisanya rais. Berusahalah…. Tak ada waktu lagi untuk menangis dan mendebatkan hal semacam ini rais. Ibu dan bapak akan bangga pada mu jika kau berhasil. Jangan kecewakan mereka rais, belajarlah… Kakak percaya kau bisa.”

Perlahan, raisha mulai mendengar apa yang dikatakan kak iffah…

“Tapi kak…kuliah kedokteran itu mahal sekali. Lima puluh persen yang tersisa dari tiap semester tetaplah menjadi angka yang besar bagi kita kak. ”

“Itu bagi kita rais, bukan Allah. Dia yang sudah menjamin rejeki untuk kita. Jadi apa perlu kita ragu untuk terus melangkah? karena Allah tidak pernah memberitahukan bagaimana nasib hidup kita di dunia. Jika ternyata Allah mentakdirkan dirimu menjadi seorang Dokter maka tidak lah sia-sia usaha kita..”

“Jika tidak kak?”

“Jika tidak…?? Berbaiksangkalah pada Allah…karena Allah sesuai dengan prasangkaan kita…Sudahlah jangan banyak bertanya lagi. Waktu mu hanya tinggal 3 hari rais. Tugas kita berusaha, berdoa dan menyerahkan semua urusan pada Allah. Sekarang berjanjilah pada kakak jika kau akan bersungguh-sungguh…” Sambil tersenyum ke arah adik kesayangannya itu. Senyum manis itu selalu menenangkan hati raisha, senyum yang mirip sekali dengan senyuman alhamrhum ibu. Senyum yang selalu mengembalikan jiwa raisha saat tak sedang berada dipusaranya.

Percayalah, Aku pun berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mu, raisha…!! hati kecil iffah kembali mengukir janjinya

Dan…janji ke 3 itu mengukir indah diatas langit sama seperti 3 tahun lalu. terbang bersama burung-burung itu seolah akan menyampaikan pada Sang Pencipta bersama harapan dan kebahagiaan.

Bersambung… ke Part 2

***

Pic. Source : http://masjustice.wordpress.com

1 Mei 2012

Pembelajar dari Kehidupan

Linda J Kusumawardani

11 thoughts on “Janji untuk Raisha (Part 1)

  1. Ping-balik: Janji untuk Raisha (Part 2) « Pembelajar dari Kehidupan

  2. kayanya kenal ni kata2: Kita ini orang susah kak, tidak perlu rasanya sekolah tinggi-tinggi.
    hiks…kamu bikin pipiku basah, inget keoptimisan seorang ayah yg hanya tamatan SMP yg ingin melihat anaknya sukses, merasakan bangku kuliah yg tidak pernah sama sekali ia rasakan…mskpun hrs banting tulang
    “orang tua juara 1 di dunia”

    aq mkn semangat punya blog
    *hehee dr dulu ngomongnya bgini mulu, it’s hard to start, ckckck, InsyaAlloh bln ini akan launching, hehehee, aamiin

    go ahead ukh, I’m fully support u for being an inspiring writer ^.^

  3. Ika : Itu masalah komitmen ka…aku ngusahain banget juga walau susah kayak apa, cape kayak apa terus komit buat nulis minimal 1 bulan sekali. Jadi, Alhamdulillah 1 bulan selalu ada…walaupun pernah ada didetik2 terakhir, even itu cuma sekedar puisi😀 . mudah2an istiqomah…aamiin Semangaaat ahh semuaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s