”Sesegera Mungkin, InsyaAllah”

Bisa tidak untuk tidak menanyakan hal itu pada saya sesering ini ??? Saya akan jawab sesegera mungkin setelah saya bertemu dengan orangnya. Saya juga paham kok, mengapa anda-anda menanyakan itu pada saya yang sudah memiliki usia yang dianggap pantas untuk memasuki gerbang itu. Saya diam bukan berarti saya tidak memikirkan, saya diam juga bukan berarti saya tidak mempersiapkan. Walau, Saya tidak paham jawaban apa yang diinginkan dari saya…

Pertanyaan ini seperti desakan, sama seperti saat saya menyusun tugas akhir kuliah dan ditanya kapan sidang??? Sama seperti saat saya sudah selesai sidang kemudian saya ditanya kembali,” sudah bekerja???” (padahal waktu itu saya belum bekerja). Terkadang tidak semua orang merasa nyaman dengan tembakan pertanyaan seperti itu pada kondisi-kondisi yang tidak mendukung. Tentu terkadang tanggal tidak selalu dapat ditebak, dan mungkin hanya tiga kata yang menjadi jawaban yang pas disaat seperti itu “Sesegera mungkin, InsyaAllah” . Sama halnya seperti saat saya tidak bisa menyebutkan tanggal berapa saya akan mulai bekerja, lha wong interview aja masih proses. Atau tanggal berapa saya sidang…? Lha wong skripsi saja masih revisi…yang jelas ketika sudah diniatkan jawaban yang paling pas hanya “Sesegera Mungkin, InsyaAllah”. Paling tidak itu sudah menunjukkan sebuah kemantapan untuk melangkah. 

Nah, jawaban yang sama akan saya berikan sekarang…”Sesegera Mungkin, InsyaAllah” setelah bertemu dengan orangnya. Walau saya terkadang masih tidak paham apakah jawaban-jawaban yang saya berikan belum cukup…bahwa Saya tidak menunda, saya tidak meninggikan kriteria saya atau pilih-pilih,  saya tidak mementingkan karir dan pendidikan. TIDAK!!! Karena semua sudah sesuai dengan porsinya masing-masing. Semoga dipahami…

Semua itu sangatlah sederhana…tidak serumit yang kalian bayangkan…sesederhana mimpi saya membuat sarapan untuknya dipagi hari, sesederhana saya mencium tangannya kelak untuk menghargai keagungan akan kedudukannya, sesederhana mimpi saya menjadi koki handal untuknya dan anak-anak kelak, sesederhana senyum yang akan saya berikan untuk meringankan bebannya dan menghapus keringat lelahnya, sesederhana menjadi makmum bagi nya yang saya ikuti setiap gerakannya tanpa harus mendahuluinya, sesederhana bayangan saya berbincang dengannya sambil meminum secangkir teh bersama untuk melepaskan penatnya, dan sesederhana mendengar panggilan “Bunda….” dari anak-anak kami kelak.

Semua itu sangat sederhana…namun lebih dari itu, dia yang akan saya temani sepanjang hidupnya bukanlah orang yang sederhana, karena tentu dia adalah orang yang luar biasa.

Tapi, tentu tidak bisa saya jawab sekarang kapan saya dianggap pantas untuk bersanding bersamanya. Hanya Dia yang tahu kapan kami harus bertemu. Saat ini saya hanya bisa menjawab “Sesegera mungkin, InsyaAllah”. Allah lebih tahu kondisi kami…yang jelas saat ini, saya masih diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri hingga kelak indah pada waktunya dan saya tetap melakukan apa yang bisa saya lakukan saat ini.

Namun, diluar kejenuhan saya menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu…saya anggap itu sebagai doa yang akan mempermudah semua jalan yang sudah dipilihkan-Nya…

Rabu, 17 April 2012

^Pembelajar dari Kehidupan^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s