Cinta ku di Keluarga Baru

Rumah ini baru saja aku singgahi dua bulan lalu. Berbeda namun tetap sama, rumah dengan rasa kehangatan yang sama, rumah dengan cinta kasih yang sama, rumah dimana semua anggotanya memiliki kesamaan visi dan misi. Hal ini tentu bukan karena aku telah mengenal lebih dari separuh penghuni rumah tersebut, namun kiranya ini karena kami memiliki kesamaan tujuan sehingga kehangatan, cinta dan kasih sayang itu masih terasa sama untuk menggapainya walau kini dengan anggota keluarga yang berbeda.

Saat itu menjelang tahun baru Islam lalu, aku memulai belajar kembali dirumah yang baru. Diawal-awal pertemuan aku dengan mereka kami membahas apa saja yang akan kami lakukan dalam kurun waktu satu tahun ke depan untuk mencapai tujuan kami yang sama itu melalui Raker (Rapat Kerja) yang telah berlangsung selama 1 bulan. Hal ini luar biasa bagi ku, ini sungguh diluar kebiasaan ku bila dibandingkan dengan rumah-rumah sebelumnya, karena untuk menyusun program 1 tahun harus 4 kali pertemuan. Namun…seiring pekan yang ku lalui akhirnya aku mengerti dan paham mengapa bisa bagini mengapa bisa begitu. Raut wajah anggota keluarga baru ku sangatlah bersemangat, ghirah mereka bukanlah ghirah sisa akhir pekan. Ghirah mereka sama dengan hari-hari yang sebelumnya atau bahkan lebih. Setiap pembahasan tidak akan berhenti hingga kata mufakat dan mencapai titik tengah. Kami semua berpendapat dan kami tetap saling menghargai pendapat satu sama lain, jika itu maslahat maka kami putuskan tanpa mengedepankan ego masing-masing. Semua berjalan sesuai dengan adab-adab syuro (musyawarah) yang telah diajarkan Rasul, hingga akhirnya satu per satu keputusan diambil.

Satu bulan pun telah berlalu…kami harus menghisab diri kami selama bulan lalu perihal salah satu putusan yang telah kami sepakati. Aku sendiri ikut memuhasabahi diri selama satu bulan kebelakang, inisial nama ku adalah urutan ke delapan yang disebut oleh penanggung jawab masalah ini.

Inisial nama pertama yang telah disebut, ke dua hingga ke tujuh sebelum inisial nama ku yang disebutkan. Dada ku sesak mendengarnya, aku malu, ya Allah…aku malu pada-Mu, saat hamba-Mu yang lain itu ku dengar telah membaca kitab-Mu sebanyak 25 Juz selama satu bulan, sedang aku…tak sebanyak itu. Aku juga malu saat diantara mereka ada yang tidak lalai dalam sepertiga malam pertemuannya dengan-Mu. Namun, aku tetap mendengarkan hingga nama ku disebutkan oleh penanggung jawab, dan seterusnya sampai pada nama inisial nama terakhir. Aku bertanya kembali pada diri sendiri, iqab terbaik apa yang mampu ku berikan atas beberapa kelalaian ku jika ada sahabat yang mensedekahkan kebunnya karena dirinya lalai dalam shalat berjamaah???MasyaAllah…ini baru hisab dunia, bagaimana hisab akhirat-Mu yang tentunya sangatlah dahsyat????Sesak…sungguh aku tak mampu untuk membayangkannya, Astaghfirullah…

Selesai semua dibacakan, seperti catatan amal yang telah digambarkan diakhirat kelak, aku pun menerima catatan amal itu dari sang penganggung jawab selama satu bulan ke belakang. Aku memandangi secarik kertas itu dalam-dalam, berharap aku bisa melaksanakan kewajiban ku lebih baik lagi pada Mu ya Allah dan memperbaiki semua kelalaian ku selama ini. Rasa yang sama sepertinya juga dirasakan oleh mereka anggota keluarga yang lain saat ku lihat raut wajah mereka. Sebuah komitmen telah tarbaharui untuk memperbaiki kelalaian pada diri masing-masing saat ku tatap wajah mereka, baik urusan kami untuk tetap menjalankan kewajiban atau urusan melaksanakan sunnah seperti shaum dan lainnya sampai kepada komitmen kami mengenai penghargaan terhadap waktu serta kerja-kerja lainnya untuk menggapai satu tujuan…

Allah…Tujuan itu sungguh adalah pesona yang mendamaikan hati kami, sebuah pesona yang senantiasa kembali membebaskan diri dari selimut kelelahan dan kemalasan, sebuah pesona keindahan yang tak mampu digambarkan oleh dunia beserta isinya.


Duhai Allah yang menggenggam langit, bumi beserta isinya…saksikanlah bahwa kami hanyalah salah satu lingkaran kecil dari bagian sesuatu yang besar yang hanya menginginkan ridho-Mu dalam jalan panjang ini. Kuatkan langkah kami untuk tetap berada di jalan ini, yang dengan kekuatan itu kami ikut mengokohkan lingkaran yang lebih besar lagi.

 

Rabbi…kami memohon keistiqomahan pada-Mu atas pemilik hati ini. Sungguh hanya Kau lah yang mampu membolak-balik kan hati kami. Janganlah Kau biarkan kami berada terlalu lama jika kami dalam kelalaian. Izinkan kami raih kekuatan itu kembali dalam shalat-shalat berjamaah kami, saat perut-perut kami kosong, saat kami berinteraksi dengan kitab-Mu, saat sepertiga malam pertemuan dengan Mu dan sunnah sunnah lainnya yang telah Rasul Mu ajarkan…

***

Semoga kami bisa lebih baik lagi dari ini dan termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung…aamiin…

Untuk keluarga baru ku…. ana uhibukifillah…Jazakillah khoir🙂

Bogor, 11 Februari 2012

Linda J Kusumawardani

Pembelajar dari Kehidupan

2 thoughts on “Cinta ku di Keluarga Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s