Pencurian…(Part 6, The End of Story)

Lanjutan dari Part 5

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seharusnya beginilah manusia ketika Rasulullah yang dijadikan teladan dalam hidupnya. Jika diingat-ingat menyesal sudah dengan apa yang telah dilakukan. Sudah banyak hikmah yang seharusnya bisa diambil selama 2 hari ini dan tidak seharusnya jika itu semua hanya diakhiri dengan sebuah amarah.

Kembali mencoba melihat sisi lain dari kejadian ini yang ternyata ada sesuatu yang tersirat penuh makna tentang kasih sayang-Nya. Agaknya Allah ingin menunjukan bahwa Dia telah mengirimkan orang-orang yang peduli pada ku terhadap kejadian ini. Ya…setelah update status ku tempo hari, banyak sekali ucapan empati dan doa yang aku terima baik dari komentar pada status itu atau bahkan tak sedikit yang langsung mengirimkannya melalui sms. Aku hanya meng-amin-kan doa-doa yang dikirimkan oleh mereka sambil berdoa semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat untuk mereka.

Salah satu hal yang paling membuat ku terkesan dan menitikan air mata adalah sms dari salah seorang teman lama, dia adalah teman ku semasa SMP dan SMA. Orang yang penuh dengan kesederhanaan dan dengan sederhana pula dirinya beserta suami memenuhi kebutuhan untuk keluarga kecil mereka. Dalam sudut pandangku keluarga kecilnya tidak pernah merasa kekurangan atas apapun yang diterimanya, semoga keberlimpahan dan kebarokahan rejeki Allah berikan untuknya…aamiin…

Ini adalah percakapan kami melalui sms :

“Ass.ndaa katanya kmrn bis kena musibah ya? Ambil hikmahnya nda, mungkin kita kurang sodakoh dan uang itu ada hak mereka yg lbh membutuhkan, mghadapi ujian dg ikhlas dan sabar lebih baik.”

Aku balas sms ini dengan

“Wa’alaykumsalam. Iya…InsyaAllah udah ridho, gak apa-apa. Makasih ya J”

Sms kembali dibalas

“Alhamdulillah klo nda ridho. Allah Maha Kaya n Pemberi rzki, uang sgitu memang terlihat bnyk. Tp brp bnyk jg rezeki2 lain yg dilimpahkan Allah ke qt tp qt lupa bersyukur. Org yg mengambil uang itu tanpa ijin sama saja menyimpan siksaan untuk dirinya diakhirat kelak.”

Subhanallah…entah kenapa sms ini telah menenangkan sang hati untuk kembali berdamai dengan pikiran. Kembali aku balas sms ini

“Subhanallah…Jazakillah khoir, semakin menenangkan.”

Teman ku kembali membalas

“Sesama muslim seperti 1 tubuh, bila kaki trluka maka mulut berkata aduh, mata menangis, ada tangan yg mncoba mengobati seperti halnya ktika sabahat terkena musibah pasti ikut merasakan dan sebisa mungkin membantu, jk tdk bs cukuplah mendoakan.”

 

Cukuplah Allah kini menjadi sebaik-baik sandaran, ikhtiar sudah dilakukan, doa telah terhimpun dan kasih sayang-Nya mampu dirasakan dengan hadirnya sosok-sosok yang peduli akan kejadian ini. Semuanya saya ucapkan Jazakillah khoiran katsir atas doa nya hingga akhirnya doa itu benar-benar terhimpun hingga ke langit sampai akhirnya Allah mengembalikan uang itu utuh tidak kurang satu rupiah pun.

***

Urusan pencurian ini pada akhirnya ditangani langsung oleh pihak management, para bapak-bapak manager telah mengambil alih semua, aku saja sebagai korban tidak sama sekali disertakan dalam prosesnya tapi selalu diberikan update informasinya. Dalam hal ini Manager ku lah yang selalu memberikan perkembangan informasinya pada ku.

Rabu, 21/12/11. Aku yang sedang berdiskusi dengan salah seorang sensei dipanggil oleh Bapak (Manager.red).

“Nakano san, sumimasen. I need talk to linda.” Bapak meng-interupt sang sensei yang sedang berdiskusi dengan ku.

“Ohh…Oke..oke. dozo…” Kata sensei mengijinkan sambil mempersilakan dengan tangannya

“Ah…Sumimasen sensei, daijobu ne?” Kata ku kembali meminta ijin padanya

“Oke…oke…daijobu.”

“Arigatou sensei, cotto mate kudasai…”

Setelah di-iya-kan dengan segera aku meninggalkannya dan menuju meja meeting office lab, menggerser kursi kemudian duduk berhadapan dengan bapak.

“Iya pak…” kata ku

Kemudian bapak menjelaskan panjang mengenai skenario apa yang akan diambil untuk kasus ini.

“Jadi gini linda, masalah CCTV itu. Saya dan tim management sudah melihatnya. Sesuai dengan rencana kita yang kemarin. Kamu gak perlu lapor dulu ke polisi, kita akan coba dulu selesaikan masalah ini dengan pendekatan persuasif. Saya dengan tim management sudah sepakat akan ada 2 target dari kami dan akan kami usahakan dua-duanya tercapai, yang pertama adalah Orang itu Keluar dan yang kedua uang kamu dikembalikan semuanya. Tapi kalau tidak kembali uangnya, ya kita liat aja nanti dia bisa ngembaliinnya berapa. Mungkin aja udah dipake”

Aku hanya diam seribu bahasa mendengar penjelasan bapak dan bapak pun tetap melanjutkan kembali penjelasannya.

“Kalau memang dia tidak mau mengakui kesalahannya, kamu baru bisa urus ini ke kepolisian untuk menambah lagi bukti CCTV di ATM. Saya akan minta mba nita agar ada yang mengawal kamu nanti saat ngurus ini ke polisi dan Bank.”

“Apa? Sampai dikawal???” aku membatin

Dan akhirnya aku pun bersuara walau hanya

“Oh…begitu ya pak.?”

“Iya…Karena kalau sudah lapor ke pihak kepolisian itu artinya sudah masuk ke wilayah hukum. Itu kita minimalkan dulu saat ini. Besok pagi saya dan yang lain akan jalankan planning ini. Begitu Ya? ” Jelas lagi bapak sambil tersenyum pada ku

“Kalau saya sendiri, memang sebenernya juga gak mau pak sampai lapor kepolisi segala. Yaa…kalau masih bisa diselesaikan baik-baik kenapa enggak. Kemarin itu hanya alternatif aja. Masalah target, target awal saya malah hanya tahu siapa pelakunya saja”

“Tapi kalau memang dia nggak mau ngaku ya tetep harus jadi lapor ke polisinya.”

“Saya sih ikut aja pak sama rencana pihak management.”

“Oke,mungkin itu aja. Perkuat lagi ya tahajudnya” pesan bapak sebelum pergi sambil tersenyum kembali pada ku.

Dan aku pun kembali bekerja.

***

Kamis, 22/12/11

Hari itu adalah hari yang menentukan, Aku masih penasaran dengan pelakunya? Orang kantor kah? Pekerja harian kah? Operator produksi kah? Ahh…semua masih saja tidak bisa diprediksi.dan aku masih teringat dua target itu, orang itu dikeluarkan dan uang kembali.

Sekitar pukul 09.30, Pak Tri yang mengurus mengenai project pembangungan factory datang ke ruangan untuk mencari Manager ku. Namun, sayang beliau tidak ditempat. Kebetulan aku berada diruangan saat Pak Tri datang.

Mungkin beliau mengingat sesuatu ketika melihat ku, sesaat sebelum beliau keluar dari ruangan ada yang beliau sampaikan.

“Linda…”

“Eh, iya pak…”

“Kamu tenang aja ya. Semua bukti sudah siap dan lengkap, sebentar lagi orangnya akan kami panggil. Nanti bareng-bareng sama kamu juga.”

“Oh…gitu pak. Saya ikut???”

“Iya, kamu tunggu aja ya, Ini kami sedang siapkan semua.”

“Iya iya pak…”

Kemudian beliau pun keluar pintu dan hilang dari pandangan ku.

Memang benar-benar tak lama, hanya berselang 30 menit setelah itu. Telpon ku berdering, terdengar suara mba nita disebrang. Ternyata mba Nita meminta ku untuk datang menuju waiting room 1.

“Sudah waktunya…kini aku akan bertemu dengan pelakunya.” Ujar ku dalam hati. Tiba-tiba kaki ku berat melangkah, pikiran ku berkecamuk, jantung ku ku berdegub lebih cepat membayangkan bertemu dengan orang yang mencuri uang 4 juta ku itu, walaupun tetap tak bisa ku banyangkan.

Namun aku harus segera kesana, mereka menunggu. Bismillahirrahmanirrahim…dengan mengucap bismillah aku siap. Semoga urusan ini segera selesai dan mudah untuk diselesaikan.

Setibanya di waiting room 1, perlahan aku membuka pintu ruangan kecil itu. Kemudian ku lihat ada dua sosok yang sudah menunggu disana.

“Silakan duduk Linda…”

“Eh…iya pak…” jawab ku.

Aku bingung…siapa orangnya? Kenapa hanya ada bapak manager HRD dan Logistic disana. Jadi…siapa pelakunya???? Aku bertanya dalam hati.

Setelah duduk, ternyata aku baru paham apa maksud semua ini. Para manager ini hanya ingin mengintrogasi ku saja. Bagai polisi mereka menanyakan detil mengenai kronologis kejadian dan beberapa pertanyaan lainnya, mungkin terkait dengan pembuktian alibi atau lainnya. Semua pertanyaan sudah ku jawab, kemudian aku diminta menunggu diruangan. Setelah keluar ruangan rasanya aku baru saja keluar dari kantor kepolisian.

Aku penasaran menunggu hasilnya, lama juga ternyata aku harus menunggu. Saat istirahat siang, ketika aku sedang santai didepan komputer Bapak Manager masuk ke dalam ruangan kemudian kembali berbicara dengan ku.

“Linda…”

“Iya Pak…”segera aku langsung mengalihkan pandanganku

“Alhamdulillah…orangnya sudah mau mengakui.”

“Alhamdulillahirabbil’alamin.”

“Agak susah memang awalnya waktu ditanya-tanya, berbelit belit. Tapi Alhamdulillah sekarang semua sudah selesai. Orangnya berjanji akan menyelesaikan semua nya sore ini juga.”

“Menyelesaikan semuanya sore ini pak?? Masalah 2 target itu???”

“Iya…Dua-duanya tercapai. Dia akan keluar dan uangnya akan dikembalikan sore ini paling lambat.”

Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Huallahuakbar….bergetar hati ku mendengarnya. Maha suci Engkau ya Allah…Ini bagaikan sebuah keajaiban yang turun pada ku, seorang manusia yang tak pernah tahu apa rencana Tuhannya. Sekanario ini benar-benar diluar dugaan. Uang 4 juta itu akan Allah kembalikan, ya…ini hanya dipinjam saja. Rejeki itu sungguh tidak akan pernah tertukar…

Segera aku ucapkan terima kasih pada beliau

“Terima Kasih banyak pak sudah mau membantu.” Kata ku sambil menundukan kepala.

“Ini karena doa kamu yang kuat, linda”

Namun aku tidak bertanya detil mengenai siapa pelakunya, karena jika ku lihat dari raut wajah beliau, beliau tidak ingin memberitahu siapa pelakunya sekalipun itu pada ku sebagai korban. Walau rasa penasaran ku begitu kuat, namu tidak berani aku bertanya padanya.

Sore itu aku keluar dari ruaangan menuju mushola yang berada disebelah kiri ruangan ku untuk melaksanakan shalat ashar. Tepat saat aku akan masuk ke dalam mushola, terlihat Pak Tri keluar dari sana. Saat melihat ku terlihat wajah beliau sumringah dan tersenyum, rasanya beliau ikut senang dengan akhir cerita ku.

“Linda, gimana? Sudah dapat kabar kan??” Beliau bertanya dengan antusias

“Sudah pak, Alhamdulillah.”

“Sudah diberitahu juga kan siapa orangnya?”

“Ehmm…yang itu belum pak.”

“Oh belum ya.”

“Iya pak, belum. Kalau boleh saya tahu siapa ya pak?”

“Itu…OB. Biasalah bukan orang berpendidikan, jadi begitu.”

“Oh…OB???yang mana ya pak…kan ada 2.” Aku terkejut, karena keduanya baru saja bekerja dan dua-duanya sangat baik pada ku.

“ Itu yang namanya ****N”

“****N ya”

“Iya…dia ngaku setelah lebih dari sejam berbelit-belit menjawab pertanyaan. Alasannya sih karena ibu nya sakit. Tapi ya itu hanya alasan dia aja”

“Ketahuan itu dia yang ngambil gimana pak?”

“Ada 4 alasan yang kita punya, yang pertama dia keluar masuk 4 kali ke loker cewek dalam waktu 20 menit. Yang kedua, saat dia masuk pertama kali dia gak membawa apa-apa, kan itu ganjil kenapa dia masuk kesana padahal dia laki-laki dan pada saat keluar ada gelagat aneh diwajahnya,kayak orang cemas. Yang ke tiga, mungkin ini dia sedang membuat alibi, terakhir dia masuk dia membawa pel. Ini gak aneh memang, yang bikin aneh adalah kenapa setelah ngepel pantry dia nngepel loker perempuan padahal dari pantry jaraknya lebih dekat ke loker laki-laki. Kejadian terakhir itu pukul 10.57 dan yang terakhir pada saat 11.34 uang itu diambil di ATM dia memang sedang keluar tidak ada di sini.”

“Oh, jadi begitu ya pak. Terus, katanya dia mau dikeluarin ya pak?”

“Sudah dikeluarkan per tadi siang, dan uang kamu akan dikembalikan sore ini paling lambat.”

“Itu uangnya sendiri pak yang buat gantiin?”

“Kemungkinan sih uang boss nya.”

“Jadi begitu ya pak ceritanya…Terima kasih Pak Tri atas bantuannya.”

Aku segera masuk ke dalam mushola dan Pak Tri pun pergi untuk kembali bekerja.

***

15 menit menjelang jam pulang, telpon ku kembali berdering. Ternyata, aku diminta kembali untuk ke waiting room 1 bersama dengan Bapak Manager ku. Saat aku kesana, sudah ada Manager HRD yang menunggu ku.

Secara tertata beliau menyampaikan maksudnya, mulai dari permintaan maaf pelaku dan permintaan maaf pihak outsourcing tempat pelaku dipekerjakan.

“Jadi, secara pribadi ****N meminta maaf pada Linda Karena telah mengambil uangnya dan juga dari pihak Outsourcing juga memohon maaf pada linda dan tim management disini, katanya walau yang direkrut adalah orang-orang pribumi tapi tetap seharusnya tidak begini jadinya. Ini diluar kendali mereka. Yang jelas, dia sudah diberhentikan dan dikeluarkan. Karena memang tidak ada toleransi untuk hal seperti ini.” Jelas beliau.

“Orang pribumi??? Pantas saja bapak pernah bilang aku akan dikawal saat mengurus ini ke kepolisian?” gumam ku dalam hati

“Iya pak. Saya juga ingin berterima kasih pada bapak dan semua tim management karena sudah banyak membantu saya”

“Sama-sama, tapi lain kali kamu harus lebih waspada ya. Alhamdulillah sistem security disini bagus jadi mudah sekali dilacak. Dan kebetulan memang pelaku tidak tahu kalau di area situ ada CCTV nya.”

“Iya pak, pasti saya kaan lebih waspada.”

“ Uang linda bukan dia sendiri yang mengganti, ini langsung diganti oleh pihak outsourcing sebagai penyesalan mereka atas kejadian ini. Dan linda gak perlu memikirkan bagaimana nanti si ****N apakah dia harus mengembalikan uang itu ke boss nya atau tidak.”

“Iya pak.” Kata ku sambil mengangguk

“Ini uangnya. Silakan dihitung dulu” Sambil menyodorkan uang 4 juta dari tangan beliau.

Aku pun mulai menghitung pecahan uang seratus ribu dan lima puluh ribu itu, gemetar rasanya tanganku saat memegangnya. Masih ada rasa tak percaya uang ini kembali. Dan bulat, semua berjumlah empat juta rupiah. Maha Suci Engkau ya Allah.

Sekeluarnya aku dari waiting room, bergegas aku pergi menuju mushola dan sujud syukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Semoga Allah membuka hati ****N  untuk tidak lagi melakukan hal-hal seperti ini. Dan segera Allah berikan kemudahan mencari rejeki yang halal untuknya.

Keesokan harinya, aku mendengar bahwa ****N harus menggadaikan motornya untuk mengganti uang itu kepada pihak outsourcing…

Dirumah, 3 Januari 2012

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s