Pencurian…(Part 5)

Lanjutan Part 4

Segera setelah berganti dengan seragam biru muda dengan rok berwarna abu-abu, aku menuju office lab melewati lorong yang sama. Pagi itu entah kenapa aku jadi merasa trauma sejak masuk ke dalam lobby tadi. Hal inilah yang menyebabkan, aku membawa semua barang-barang ku baik tas atau pun tas Tupperware yang berisi makan siang kecuali rok rempel hitam yang aku tinggalkan didalam loker, hanya itu saja.

Setibanya di ruangan, disana semua personil sudah lengkap 6 orang kecuali aku yang saat itu baru saja masuk. Saat ku membuka pintu, aku sudah tahu apa yang sedang dibahas oleh Bapak Manager dan teman-teman yang lain. Perlahan aku berjalan seolah tak terjadi apa-apa, menyalakan komputer ku kemudian duduk diatas kursi. Masih terdengar suara mereka ditelinga ku, ternyata 3 dari 6 orang lainnya belum tahu perihal berita yang menyebabkan kehebohan pagi ini.

“Emang siapa pak yang kehilangan?” Tanya Mas Mukhlis

“Linda…” Pak Manager menjawab

“Hah…teh kehilangan uang???” tanya nunu yang posisinya berada disamping ku dengan wajah penasarannya

Aku hanya menganggut saja, cape juga rasanya kalau harus menceritakan lagi karena aku sudah memutar cerita ini dua kali selama pagi ini satu saat aku bercerita pada Mba Nana dan satu lagi pada Mba Nita.

 “Saya juga belum denger kronologis cerita nya langsung dari orangnya, gimana…” Bapak Manager pun sepertinya ingin segera mengetahui cerita ini langsung dari mulut ku sendiri

“Iya pak…”

“Kok kamu gak cerita sama saya sih Linda” Beliau pun bertanya lagi

“Kejadiannya aja baru semalem pak, jadi saya emang belum cerita ke banyak orang. Tadinya juga saya gak mau bikin heboh pagi-pagi. Saya juga maunya cerita ke Bapak, eh bapak udah denger duluan beritanya.”

“Jadi gimana itu ceritanya?” beliau bertanya lagi

Ya begitu pak…bla bla bla…kali ini aku bercerita lebih ringkas dari yang sebelumnya karena waktu nyaris tepat jam 08.00 pagi.

“Kalau saya sendiri udah gak apa-apa kok pak. Memang belum rejeki saya.”

“Tapi, terlepas itu rejeki kamu atau bukan ya, kita harus tetep waspada.”

“Iya pak…bener.” Jawab ku sambil memainkan jari diatas mouse dan membuka Ms Outlook dan Windows Explorer.

“Terus…yang lainnya gak diambil teh, uang yang ada didompet gitu.” Tanya nunu masih penasaran

“Enggak, mana tertarik dia sama uang dua puluh ribu kalau ATM ditambah pin nya udah dapet.” Jawab ku

Aku memang tidak pernah membawa uang banyak kalau berangkat kerja. Secukupnya saja, biasanya hanya untuk transport selama satu minggu. Kecuali kalau ada hal-hal yang dibutuhkan, aku harus menarik uang dari ATM. Dan saat kejadian itu sisa uang yang ada didompet ya memang hanya dua puluh ribu.

Setelah ngalor ngidul bicara, akhirnya terdengar juga pemberitahuan briefing dari bapak.

“Seperti biasa, 08.15 ya kita mulai briefing.” Bapak kembali mengingatkan jadwal rutin Asakai kita.

Sesaat aku pun segera keluar ruangan setelah mendengar peringatan itu, beberapa saat lagi waktu tepat menunjukan pukul 08.00. Dari arah lab, aku keluar dan berjalan ke arah kanan dimana mushola berada. Kemudian aku ambil air wudhu dan aku tegakan duha 2 rakaat. Seketika setelah selesai mengucapkan salam aku baru saja menyadari sesuatu bahwa hari kemarin, senin aku lupa tidak duha. Kesibukan aktivitas pindahan sempurna membuatku lupa selama satu hari itu kalau aku tidak mengerjakannya.

Kembali aku beristighfar berkali-kali, memohon ampun atas setiap kesalahan dan juga keberkahan rejeki atas apa yang aku kerjakan hari itu dan tak lupa mengenai uang yang hilang itu. Yang aku minta tetap sama, diberi kelapangan hati untuk ridho menerima segala ketetapan-Nya dan kemudahan jalan bila ternyata uang itu masih rejeki ku, karena setelah mendengar adanya CCTV dilorong sebelum loker, rasanya seperti terlihat adanya setitik harapan, setidaknya untuk mengetahui siapa pencurinya.

Intinya pagi itu adalah Fatawakalalallah, aku sudah pasrah atas semuanya. Toh, uang itupun sebenarnya hanyalah titipan. Tak pantas rasanya jika harus gusar dengan merasa kehilangan sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita. Satu hal yang juga menjadi Prinsip hidup ku adalah sebenarnya  Tidak ada yang Hilang, Karena pada dasarnya kita tidak memiliki apa-apa.

Ketengan kembali mewarnai sanubari, seperti hujan yang baru saja tumpah diatas bumi yang gersang. Tiap detik waktu menjadi lebih ringan setelah kejadian semalam, Alhamdulillah.

Beberapa saat sebelum briefing dimulai, aku sudah kembali ke ruangan. Briefing pagi itu berjalan kurang lebih 45 menit. Setelah selesai, Pe-eR kami untuk kualifikasi instrument pun harus kembali dilakukan sesuai dengan hasil briefing. Bersama-sama dengan 2 sensei yang telah didatangkan dari Jepang. Minggu itu adalah minggu terakhir bagi mereka berada di Indonesia untuk membatu kami memastikan kesesuaian performance setiap instrument.

Saat sudah mulai bekerja, aku pun hampir tidak mengingat lagi perihal pencurian itu. Kami semua termasuk aku pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Ditengah-tengah aktivitas bekerja, tepatnya sekitar 30 menit sebelum istirahat aku ngobrol dengan 2 orang rekan kerja ku yang aku sendiri pun lupa apa yang mengawali obrolan kami. Untuk ke empat kalinya aku kembali bercerita, kali ini lebih tenang dan detil. Nunu yang saat itu menjadi pendengar tiba-tiba memberikan usulan.

“Teh udah ditanya belum, itu diambilnya di ATM mana?” tanyanya

“Belum.” Jawab ku

“Coba ditelpon lagi aja Customer Service nya. Di ATM mana ngambilnya. Kan biasanya di ATM suka ada juga CCTV, bisa dari situ juga buktinya.”

“Ahh….Bener juga ya nu…” aku pun tercerahkan.  Ini ide bagus pikir ku…

Setelah mendengar usulan itu, aku setuju. Nunu adalah adik tingkat ku semasa kuliah dulu.

“Iya…mending lu coba telpon sekarang deh, kan kalo ngambilnya masih di area kawasan lu bisa datengin tempatnya.” Mas Mukhlis menambahkan

Bergegas aku menuju ruangan dan mengangkat gagang telepon kemudian memencet dengan lincah nomor customer service Bank tersebut.

Ahh….dan benar adanya surprise saat mendengar, benar uang itu diambil disalah satu ATM yang masih berada disekitar kawasan yang jaraknya hanya 10 menit dari kantor dengan menggunakan kendaaraan.

Aku yang saat itu sudah tidak berharap apa-apa mengenai uang itu, kini aku mantap dengan 1 target ku, yaitu ingin mengetahui siapa orangnya dan mengetahui apa alasannya berani membuka pintu loker sampai akhirnya mencuri uang itu. Perkara dikembalikan atau tidak, itu urusan belakangan. Kalau pun memang kembali terlalu berlebihan rasanya jika aku berharap uang itu kembali 100%.

Saat istirahat tiba pun, salah seorang teman ku berbaik hati mau mengantarkan ku ke Bank sekaligus ATM tempat pengambilan uang itu. Setelah 10 menit dari kantor tiba juga kami di Bank sekaligus ATM yang dituju. Dengan menenteng KTP dan buku tabungan, segera ku sampaikan maksud dan tujuanku kepada bapak security.

Aku sangat berharap ini akan langsung ditindak lanjuti segera setelah aku jelaskan semua duduk persoalannya. Namun, ternyata aku diminta ikut mengantri pada Customer Service. Sampai sini aku sempat kecewa, karena ini tidak sesuai dengan apa yang disampaikan CS nya lewat telpon sebelumnya yang katanya hanya tinggal menghubungi pihak security nya saja. Nomor antrian ku membuatku menunggu selama 30 menit hingga pada akhirnya aku bisa duduk didepan Mba Customer Service. Akupun kembali menceritakan maksud dan tujuan kedatangan ku. Namun kali ini rasanya semua kembali terbentur dengan birokrasi.

“Sekali lagi kami mohon maaf mba, kami tidak bisa membantu jika tidak ada surat keterangan dari kepolisian. Setelah itu pun masih harus melalui tahapan  proses selanjutnya.” Jelas Mba CS kembali.

“Apa? Mba…tapi kalau harus melalui proses yang panjang itu pencuri ATM saya keburu kabur. Karena saya gak tahu siapa orangnya. Nah, kalaupun bukan orang internal kami pencurinya bisa saja dia sudah keburu kabur duluan kalau sampai saya harus nunggu berhari-hari.” Tegas saya menjelaskan dengan nada agak tinggi.

“Mohon maaf mba memang harus begitu prosedurnya.”

“Ohh…yasudah kalau begitu, terima kasih.”

Aku berbalik badan dengan perasaan kecewa karena ternyata birokrasi ini memakan waktu berhari-hari. Ahh…kenapa jadi terasa lebih berat begini setelah diusahakan?? Kejadian ini malah tidak meringankan sama sekali. Pikiran ku tak terkendali, semua berkecamuk. Aku kembali dengan membawa beban dalam hati, entah apa itu. Yang jelas, aku menyesal telah datang ke Bank. Tahu begini repotnya birokrasi, lebih baik aku tidak datang karena kondisinya malah lebih memperburuk diri ku sendiri.

Pukul 13.00 aku baru tiba dikantor, aku laksanakan shalat dzuhur kemudian meminta izin untuk makan siang sejenak pada Bapak Manager. Setelah selesai semua, akupun kembali bekerja dengan pikiran yang lebih tenang namun masih belum terkonsentrasi.

Menjelang ashar, aku ingat mengenai kedatangan secom siang ini. Penuh harap, informasi secom bisa mengobati perasaan ku siang tadi. Aku tekan nomor ext mba nita dan kemudian terdengar suara dari sana.

“Anita disini…”

“Mba…Linda nih.”

“Iya linda…”

“Mau tanya cctv yang dari secom hari ini gimana ya?”

“Oh iya, tadi mba nita baru lihat sampai 30 menit. Sekarang mba nita harus ngejar deadline ngerjain payroll dulu. Jadi, rekaman CCTV nya mba nita minta ditransfer dulu ke hardisknya irsan.” Mba nita menjelaskan

“Oh…gitu ya mba…”

“Iya, besok ya kita lihat bareng-bareng.”

“Iya mba gak apa-apa.”

“Eh, Linda katanya tadi dari Bank nya ya buat liat CCTV, gimana bisa gak say?”

“Ehmm….gak bisa mba. Harus buat surat pengantar dulu dari kepolisian abis itu masih harus ada beberapa proses tahapan lagi.”

“Oh, begitu ya..Yaudah kalau begitu besok kita coba liat dulu dari CCTV secom.”

“Iya mba…makasih ya.”

“sama-sama”

Tut…tut…tut…

 

Walau kata-kata mba nita sore itu cukup menenangkan namun sampai pulang kerja entah kenapa aku masih sulit untuk berpikir jernih. Berkali-kali mengucap istighfar, namun masih saja terasa terlalu sensitif rasanya sang hati untuk berbenturan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, apapun itu masalahnya. Aku sadar seharusnya ini tak begini. Karena seharusnya aku bisa berpikir lebih logis dan berhusnudzon terhadap apapun itu.

Sekalian mau bilang terima kasih sekali lagi untuk orang yang sudah memberikan saran malam itu untuk bisa berpikir lebih logis dan tetap berhusnudzon…

Dirumah, 01 Januari 2012

Linda J Kusumawardani

_Pencari Hikmah_

One thought on “Pencurian…(Part 5)

  1. Ping-balik: Pencurian…(Part 6, The End of Story) « Khoirunnas Anfauhum Linnas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s