Pencurian…(Part 4)

Lanjutan dari Part 3

20/12/11. Pagi yang tak biasa, aneh rasanya saat aku tiba di lobby kantor, rasanya itu seperti trauma. Ah, mungkin hanya perasaan saja. Semua penghuni kantor pagi itu belum banyak, aku pun tak sabar rasanya ingin bertemu dengan salah satu orang HRD.

Aku dan 4 orang teman ku yang saat itu baru saja masuk melalui lobby utama segera menuju tempat absen kemudian kembali berbalik arah menuju ruang loker untuk berganti seragam. Aku yang hari itu entah tidak terlalu bersemangat, berjalan lebih santai. Semua sudah menuju loker, sedang aku yang masih berjalan dilorong tiba-tiba berhenti melihat mba Nana yang berada di pantry.

“Ahh…mumpung tidak ada orang, aku tanya aja sama mba Nana” gumam ku dalam hati.

Mba nana adalah salah satu orang yang sibuk juga pada saat hari lalu walau pekerjaan utamanya adalah enterpreteur.

Aku saat itu bingung bagaimana cara menyampaikan ini, satu sisi aku tidak ingin membuat kehebohan dipagi hari ini tapi disisi lain aku sadar kalau berita ini sendiri pasti membuat orang sekantor heboh, walau bagaimana pun cara ku menyampaikan.

Perlahan, aku mulai masuk ke dalam pantry…pelan-pelan juga aku mulai sampaikan ini pada mba nana…

“Mba….”

“Ya…kenapa?” Jawabnya sambil sibuk dengan gelas ditangannya

“Mau tanya donk…” Mulai ku atur nada bicara ku

“Nanya apa???”

“Ehmm…diloker itu ada CCTV nya gak ya?”

“Ya enggak adalah say…kan itu tempat ganti cewek, jadi gak ditaro disana. Kenapa sih emang pagi-pagi nanya cctv segala” kali ini sambil mengaduk-ngaduk air teh ditangannya

“Oh…enggak ada ya. Iya juga ya kenapa gak kepikiran ya. …ehhmmm…gini, ATM aku kemaren hilang mba. Ada yang ambil.” Mulai ku utarakan maksud ku

“Apaaaaaa????” belum tuntas bicara aku pun melanjutkan

“Iya, gak Cuma ATM nya yang diambilnya. Uang aku juga udah diambil mba pake ATM itu.”

“MasyaAllaaaaahhh…berapaaa???” Nada suaranya kini meninggi

“Empat Juta.”

“Ya Allah…Linda….Lemesss gue dengernyaa..Serius lu????” Tangan kanannya kini sudah memegang erat bahu kanan ku. Wajahnya pias ku lihat.

“Ehmm…iya iya mba…tapi serius gak papa…aku cuma mau nanya aja kok mba ada cctv atau gak disekitar situ.” Aku jadi ikut panik melihat ekspresinya

“Kok bisa sih, gimana ceritanya. Uang segitu kan banyak. Kok bisa tahu nomor pin kamu sihhh?” Semakin panik wajahnya ku tatap

“Iya mba…ehmm…jadi gini mba kebetulan beberapa minggu lalu aku simpen kertas Pin ATM itu didalem dompet karena sempet lupa nomornya. Terus aku lupa gak keluarin lagi sampe akhirnya kejadian kemaren. Dan kebetulan juga loker aku gak dikunci kemarin” Jawab ku

“Ya Allah…Kalau dilokernya sih gak ada CCTV nya. Tapi kalo di lorong menuju loker itu ada. Tapi aku gak tahu ya kemaren waktu kita pindahan itu udah aktif belum”

“Ohh…begitu. Kalo gitu mba nita udah dateng belum ya mba?”

“Udah, yuk masuk aja ke office 1.”

Mba Nana pun ngeloyor menuju office 1 sambil menggandeng tangan ku. Sampai didalam nya Mba Nita yang sudah berada didepan monitor komputernya pun terlihat kaget, kedua kelopak matanya terangkat melihat ekspresi panik Mba Nana. Mba Nana pun menceritakan semua yang baru saja kami bicarakan dengan semangat 45, namun mba Nita masih terlihat bingung dengan apa yang disampaikannya.

“MasyaAllah…jadi…jadi gimana ceritanya???” Mba nita malah bertanya lagi

“Lah…masih bingung ternyata mba nita?” gumamku dalam hati. Akupun tersenyum mendadak sambil menggaruk-garuk kepala ku yang tidak gatal…lucu melihat mereka berdua. Bahkan saking paniknya Mba Nana saat bercerita, orang yang diajak bicara jadi tidak paham ceritanya. Padahal semua sudah diceritakannya sesuai dengan dengan apa yang dibicarakan sebelumnya.

“Mba Nana…Mba Nana…” dalam hati ku.

“Gini-gini…Mba biar aku aja yang ceritain lengkapnya sama mba Nita yah.” Kata ku

“Nah…yaudah, ayo coba diceritain sama Mba Nita gimana ceritanya.” Sahut mba nita

Mba Nana pergi meninggalkan kami dan aku pun mulai bercerita.

“Bla…bla…bla…”

Selesai sudah aku menceritakannya dengan detil dan sekarang giliran mba nita berbicara.

“Iya linda…jadi memang banyak kemungkinan kemarin itu yang bisa masuk. Kondisi kita sendiri kan kemarin repot ya, semua sibuk masing-masing. Operator juga kan kemarin ikut bantu-bantu juga ngangkutin barang. Itu pintu emergency juga kalau gak ditutup kencang kan juga bisa dibuka dari luar. Sedangkan kemarin itu juga banyak pekerja harian kontraktor yang duduk duduk depan pintu itu. Nah…masalah cctv itu harusnya sudah aktif sejak kemarin disemua area, nanti coba mba nita tanya ke Secom ya. Kebetulan juga hari ini nanti ada orang secom kesini untuk ngerubah beberapa akses yang pakai fingerprint. Nanti mba Nita kabarin lagi” dengan tenang  mba nita menjelaskan semua.

“Iya mba, aku juga gak mau ngira-ngira siapa yang ngambil. Apalagi orang office. Gak kepikiran deh. Kalau aku sih lebih ke waspada kitanya.kan ada juga yang lain yang gak suka ngunci pintu loker, ini jadi pelajaran aja. Biar mulai sekarang dikunci lokernya mba. Masalah uangnya, udah gak apa apa mba. Belum rejeki ini namanya.”

“Ahhh…iya iya itu. Semua sekarang harus dikunci pintu lokernya, gak boleh enggak. Mba nita mau coba kasih tahu dulu ke yang lain.”

“Iya mba…”

Kamipun bergegas keluar dari office 1. Mba Nita berjalan didepan ku dengan langkah cepat.  Tepat didepan pintu saat kami keluar, ternyata diluar sudah terdengar suara Mba Nana yang mengumumkan untuk mengunci loker masing-masing. Orang-orang sudah terlihat banyak, hampir semua pennghuni kantor sepertinya ada di area lorong dimana aku juga berada disana, termasuk Manager ku.

“Emang kenapa Na?” terdengar suara yang tak asing ditelinga ku sedang bertanya

“Iya pak, harus dikunci lokernya. Linda habis kehilangan.”

“Hah, Linda kamu habis kehilangan apa???”

Aku yang baru saja melewati keramaian orang itu berhenti mendadak. Kemudian memutar balik badan dan bingung harus bagaimana menyampaikannya

“Ehmm…gak apa-apa pak. Itu…abis kehilangan ATM” Jawab ku pada bapak manager

“Iya, uangnya ke ambil empat juta.” Sahut Mba Nana kembali

“Innalillahi…” Bapak Manager ku pun kaget

“gak apa-apa pak” Jawab ku sambil senyam senyum bingung. Kemudian melanjutkan langkah ku menuju loker.

Tak kalah heboh, sesampainya aku di loker aku diserbu pertanyaan-pertanyaan oleh-teman-teman yang berada disana bagaikan wartawan pencari berita dan aku pun serasa artis pagi itu. Benar sudah perkiraan ku, pagi itu berita pencurian ini telah sempurna menjadi headline news dikantor.

Aku pun akhirnya bercerita apa yang telah ku alami. Yang lain hanya mendengarkan cerita ku, sudah seperti guru TK yang sedang mendongengkan kisah kancil rasanya. Semua mata terlihat antusias mendengarkan. Sesekali pun terdengar suara dukungan pada ku…dan aku pun hanya bisa tersenyum.

Dirumah, 30 Desember 2011

Linda J Kusumawardani

_Pencari Hikmah_

3 thoughts on “Pencurian…(Part 4)

  1. Ping-balik: Pencurian…(Part 5) « Khoirunnas Anfauhum Linnas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s