Pencurian…(Part 3)

Lanjutan dari Part 2

Perlahan ku turunkan gagang telpon dari genggaman tanganku. Sambil melakukannya, aku masih bingung apa yang harus aku ekspresikan. Hanya diam dan aku pun masih menatap 3 pasang mata yang masih menunggu klarifikasi dari ku. Hening… namun diam ku sungguh bukan karena uang 4 juta yang baru saja bukan lagi menjadi milik ku, walau aku tahu itu adalah bagian dari uang tabungan yang telah aku kumpulkan. Tahu kah kau??? Aku diam karena aku berusaha mengingat-ngingat materi tarbiyah yang telah ku dapatkan sekian tahun. Berbagai lintasan pikiran menganai kesabaran, rejeki, ujian hidup, zuhud terhadap dunia. Sungguh dengan cepat ku buka satu persatu dari folder memori otak ku dan saat itu juga aku berusaha memahami semuanya sampai akhirnya kata-kata keluar mengalir dari lisan ku

“Uang itu masih belum rejeki linda ma…pa… 4 juta nya udah diambil sama yang ngambil ATMnya” nada suara ku masih terdengar rendah

Mama dengan teduhnya menanggapi ucapanku barusan…

“Udah…gak apa-apa. Belum rejekinya, nanti diganti sama Allah dengan yang lain”

aku mengaminkan ucapan mama yang aku sangat paham itu adalah doa mujarab “Aamiin…”

“Diambilnya jam berapa mba?” Papa bertanya dengan wajah santai

 “Jam setengah 12 katanya pa”

 “Berarti ilang dikantor itu, gak mungkin kalau jatuh dijalan.” Papa mengeluarkan pikirannya

 “Kok bisa tahu pin ATMnya linda?” Bude ku pun ikut bertanya

Aku yang mendengar statement barusan, langsung menyambar tas ku yang tergeletak diatas kursi dan merogoh-rogohkan tangan ku mencari dompet ku karena tiba-tiba aku ingat sesuatu.

Dapaaat…

“Ahh…ini dia yang ku cari.” Selembar kertas biru yang berisikan no pin ATM ku yang ternyata sudah berpindah posisi.

“Ini ma…pa…puh…ini…ini penyebabnya kenapa uangnya bisa diambil. Pencurinya pasti liat ini.” Kata ku sambil menunjukan kertas pin ATM itu.

Aku ingat beberapa minggu lalu aku lupa nomor pin ATM saat akan mengambil uang kemudian aku meminta tolong ke salah satu orang rumah untuk mengambil kertas itu. Kemudian aku menyimpannya di tempat yang memang posisinya tak pernah ku buka-buka dalam dompet hingga akhirnya aku lupa dengan keberadaan kertas itu. Tak salah lagi ini pasti hilang dikantor, kecurigaan ini semakin kuat dengan aku kembali mengingat satu hal. Pagi itu sampai sebelum istirahat, aku tidak mengunci pintu loker. Aku biarkan saja kunci itu tetap menggantung ditempatnya. Karena, menjadi kebiasaan aku dan beberapa teman lain tidak mengambil kunci itu. Ini kebiasaan kami selama masih berada di office lama dan semua aman tak pernah ada kejadian semacam ini Hari itu sungguh semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing ditambah kebiasaan ini, walau untuk masuk beberapa area harus menggunakan Finger Print, namun kondisi saat itu sangatlah berpotensi. Pikiran ku terus saja menerawang semua kemungkinan yang ada, aku sendiri tidak ingin bersu’udzon kepada siapa pun. Semua memungkinkan, letak loker wanita berada persis disamping pintu Emergency yang jika saja menutupnya kurang kuat, orang lain dalam hal ini pekerja harian dari kontraktor yang duduk-duduk didepan pintu itu bisa saja masuk.

Ahh…Pikiran ku berkecamuk.

Semua yang ada disana…terutama mama dan papa tetap berusaha menenangkan anak sulungnya.

“Lagian yang ngambil alhamdulillah gak ngambil uangnya semua pa. Padahal kalau dia mau ambil batas maksimum dari pengambilan ATM masih bisa. Mungkin butuhnya emang 4 juta” Sergah ku

“gak usah dipikirin, mama…papa gak marah. Kalau belum rejeki mau diapakan lagi?” Papa berusaha menenangkan.

”Iya ya pa…dulu juga mama pernah juga kehilangan uang lebih banyak dari linda kan. Tapi sama Allah diganti dengan yang lebih lagi..”

Tiba-tiba aku ingat peristiwa sekitar tahun 2000, saat mama terkena hipnotis oleh orang yang tidak bertanggung jawab hingga uang tabungannya hilang sejumlah 11 juta rupiah. Aku masih ingat saat itu Papa dengan bijaknya tidak memarahi mama sama sekali, bahkan tidak nampak raut wajah marah saat itu. Malahan papa berusaha menenangkan mama yang saat itu terlihat shock. Aku yang saat itu masih SMP kelas 1 dan baru saja pulang sekolah hanya bingung diceritakan seperti itu. Yang aku pikirkan saat itu adalah kalau mama sedang kehilangan uang banyak, aku membayangkan uang 11 juta pada saat itu pastilah sangat banyak jumlahnya dan uang itu adalah hasil tabungan mama yang disisihkan sedikit-sedikit dari gaji papa setiap bulan.

Walau begitu, aku yakin kelapangan, keridhoan pada ketetapan Allah dan kata maaf papa telah menjadikan semua nya mudah untuk dijalani hingga saat ini.

Selain itu kami pun pernah mengalami ujian yang jauh lebih hebat dari uang 4 juta ini, jadi untuk apa menyesali keadaan kalau toh yang lebih berat saja pernah kami alami.

Setelah mama, papa dan bude ku ikut andil bicara. Alhamdulillah ini semakin membuat ku ridho atas kejadian yang baru saja aku alami. Yang aku pikirkan saat itu adalah satu, aku sedang di dzolimi oleh orang lain, bagaimanapun juga uang itu tidak sedikit jumlahnya. Namun, mungkin karena pikiran ku yang masih belum benar-benar normal, aku bingung doa apa yang harus aku minta pada Allah dalam kondisi seperti ini. Segera aku kembali meraih gagang telpon dan ku tekan nomor yang sangat familiar diotak ku. Lama sekali tak diangkatnya, maklum ini sudah lewat jam 10.00.

Terdengar dari sebrang…

“Assalamu’alaykum…ada apa bu?”

“Eh..wa’alaykumsalam. Afwan bu ganggu malem-malem gini.”

“gak ape ape…ada apaan?”

“Punya ide doa gak…?” Tanya ku pada yang berada disebrang.

“maksudnya?”

“Ehmm…gini gini…” aku berusaha tidak panik saat menceritakannya dan akupun melanjutkan ucapanku “Gini la…Atm nda hari ini ada yang ambil. Ehmm….trus uangnya udah diambil 4 juta sama orangnya…”

“Apa???? Masya Allah…kok bisa???” Nada suara ela terdengar lebih tinggi setelah mendengar berita barusan. Kaget bukan kepalang sepertinya

Aku pikir-pikir rasanya akan lebih panjang nih urusannya. Besok-besok sajalah aku ceritakan padanya.

“Iyalah…bisa…Mohon doanya aja ya supaya yang terbaik yang Allah berikan.”

“Iya iya didoain….yang sabar ya ukh. InsyaAllah akan segera diganti sama Allah.”

“Aamiin, yaudah gitu aja ya. Assalamu’alaykum…”

“Wa’alaykumsalam”

Tut…tut…tut…. Ela pun menutup telponnya…

Setelah semua selesai, aku mencuci muka ku, menggosok gigi dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat isya. Malam itu memang aku tidak mandi, karena mama tidak mengizinkannya melihat kondisi badan ku yang sedang kurang sehat.

Sebelum shalat aku tegak kan, aku rasa aku masih butuh penguat…aku ingin menghimpun doa-doa dari orang lain. Karena aku tak tahu doa siapa yang akan dikabulkan Allah. Sengaja, aku update status, dengan harapan banyak doa yang terhimpun, minimal itu menjadi penguat bagi ku untuk tetap bertawakal pada Allah.

Aku mulai shalat ku dengan 2 rakaat qabliyah isya, kemudian aku tegak kan kembali badan ku bersiap-siap untuk lebih mempersiapkan diri untuk 4 rakaat selanjutnya. Tak lupa aku tutup pintu kamar ku, agar tidak terlihat dari luar seandainya sesuatu terjadi dengan mata ku.

Dan dugaan ku benar, baru saja takbiratul ihram aku selesaikan. Mata ku sudah tak sanggup menahan tumpahnya bulir-bulir air mata. Aku bayangkan Allah kini berada dihadapan ku, menyaksikan dan akan mendengar semua curahan hati ku. Surat Al-Insyirah dan Al-Baqarah 286 pun mengiringi shalat Isya ku malam itu. Jika dihadapan manusia aku masih bisa menahannya, itu tidak berlaku jika aku sedang berhadapan dengan-Nya. Kotak tissue yang sudah ku siapkan disamping sajadah sangatlah berguna. Selesai shalat doa-doa itu mengalir begitu saja tanpa perlu berpikir keras dan semua rasa tumpah malam itu. Aku anggap ini adalah moment yang jarang sekali terjadi, waktu seperti ini harus ku manfaatkan, karena moment seperti ini adalah moment pengabulan doa bagi orang-orang yang terdzolimi.

Malam itu tuntas sudah aku sudah menyerahkan segala urusan ku pada-Nya, semakin ringan pundak ini terasa hanya satu, Fatawakalalallah…Aku baru saja benar-benar ridho atas semuanya. Pikiran ku lebih jernih untuk kembali berpikir…

11.30 aku telah menyelesaikannya. Dengan mata terlihat agak membesar, aku mulai berbaring diatas kasur dengan lampu yang sudah aku matikan.

Sebelum tertidur…tiba-tiba aku terpikirkan tentang CCTV, besok pagi inilah yang harus aku tanyakan pada HRD…

Aku tutup malam dengan membaca doa…

Bersambung….

Pict.Source : pangkalan-unik.blogspot.com

Dirumah, 26 Desember 2011

Linda J Kusumawardani

_Pencari Hikmah_

One thought on “Pencurian…(Part 3)

  1. Ping-balik: Pencurian…(Part 4) « Khoirunnas Anfauhum Linnas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s