Pencurian…(Part 2)

Lanjutan dari Part 1

Udara malam terasa sangat dingin dan aku baru saja turun sampai di lampu merah cibitung untuk melanjutkan perjalan pulang. walau badan ku mulai sudah terasa semakin hangat tetap saja aku harus mengakui kalau malam itu sangat dingin ditambah tanpa balutan jaket yang tak ku bawa tentu ini semakin membuat terasa dingin. Sambil memandang dan mengamati setiap pengendara motor yang lewat, aku dan Mba Aas yang menumpangi motornya pun berbincang ngalor-ngidul menemaniku sambil berteduh dibawah pohon karena malam itu gerimis pun ikut menemani. Walau begitu suasana malam itu sangatlah ramai, diperempatan tol cibitung ini masih terlihat lalu lintas yang padat walau tidak terlalu macet. Lalu lalang pengendara motor pun ikut meramaikan kondisi malam itu selain mobil, bis, truk dan container. Lampu jalan memang tidak terlihat begitu terang namun agaknya cukup bagi pengendara sebagai penerangan. Kami masih menunggu kedatangan Mba Putri, maklum Mba Aas sangat cepat sekali mengendarai motornya, ahh….Pedrosa saja kalah mungkin dengan Mba Aas *ngada-ngada*. 10 menit sudah berlalu, kemana perginya mereka??? Apa secepat itu Mba Aas naik motornya? Badan ku sendiri sudah semakin hangat. Sengaja padahal hari ini aku tidak shaum, agar bisa minum obat siang tadi. Namun ternyata tak ku minum juga itu obat karena lupa terbawa alias ketinggalan dirumah. Dan malam itu aku hanya bermodalkan masker dari Lab agar tidak langsung menghirup udara kotor dari Kawasan.

Tak lama kemudian …Lagu Freedom-Maher Zain pun terdengar dari Handphone ku

“Ah…Mba Putri telpon” Celetuk ku

“Assalamu’alaykum mba, dimana?”

“Wa’alaykumsalam, aku udah didalam bis. dikau dimana?” dengan nada Aceh nya…

“Hah???? Aku di deket pangkalan ojek mba. Yaudah aku kesana” Jawab ku kaget. Karena merasa dari tadi tidak melihatnya padahal sudah diamati yang lewat satu persatu.

“Ok”

Telpon mati…

Setelah aku mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan kepada mba Aas bergegas aku menuju bis yang berada disamping pangkalan ojek itu untuk bertemu dengan mba putri yang saat itu turun lagi dibis, kami pun segera menaiki bis menuju arah Bekasi Timur. Ternyata mba putri sudah menunggu sejak 5 menit yang lalu didekat bis, karena gerimis beliau memilih masuk ke dalamnya sambil menunggu ku. Kami pun memilih duduk bersebelahan agar kami bisa berbincang sepanjang perjalanan. Beruntung masih ada kursi untuk duduk kami berdua. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari pekerjaan sampai hal-hal tidak penting. Menyangkut pekerjaan karena kami berada dalam department yang sama, tambah lagi Mba Putri adalah Leader yang juga ikut bertanggung jawab mengenai Quality.

Ketika kami sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu ku. Ahh…ini kondektur bis yang menagih ongkos. Saat mba putri masih sibuk dengan tangannya yang merogoh-rogoh ke dalam tasnya, aku keluarkan uang enam ribu rupiah untuk berdua aku dan mba putri dan memberikannya kepada kondektur bis.

Setelah masalah ongkos itu beres dengan bapak kondektur, Mba Putri menyodorkan uang tiga ribu rupiah dengan tangan kanannya.

“Ini uangnya…”

“Eh, gak usah mba. Biar aku aja, cuma tiga ribu ini.” Kata ku menolak uang pemberiannya.

“Oh…yaudah. Thanks ya” sambil memasukan kembali uangnya ke dalam tas.

Perbincangan itu pun berlanjut hingga akhirnya aku berpisah setelah keluar dari tol bekasi timur. Mba putri turun lebih dulu dari bis, sedangkan aku turun didaerah perempatan Unisma, Bekasi Timur. Tak lama setelah turun dari bis bis jurusan Jonggol-Bogor Alhamdulillah aku tak perlu berlama-lama menikmati gerimis malam itu, dengan segera ku lambaikan tangan untuk memberhentikannya dan menaiki bis tersebut.

Setelah naik bis, kembali aku merogoh tas untuk mengambil dompet. Saat ku buka dompet, aku merasa ada yang ganjil dengannya. Segera setelah uang kertas lima ribu ku raih, kembali ku lihat keganjilan apa yang ada didalamnya…

“Astaghfirullah ATM ku hilang….” aku tersentak kaget melihat ATM ku tidak ada ditempat. Mata ku terbelalak melihat ini kemudian beberapa kali ku lemparkan pandangan ku keluar jendela pertanda aku bingung. Dalam hitungan detik aku sudah lupa dengan kondisi tubuh ku yang semakin hangat. Beberapa kali tangan ku bergerak memegang kening sambil berpikir keras, dimana hilangnya??? Berulang-ulang ku rogoh isi tas ku. Mungkin saja ada didalam tas…tetap ku cari selama beberapa menit selanjutnya.

Aku pun berusaha tenang agar tetap bisa berpikir…

“Rasa-rasanya pagi tadi masih ku melihatnya berada ditempat. Tapi kenapa sekarang tidak ada?”

 Pikiran ku melayang membayangkan apa saja yang telah ku lakukan sejak hari ahad lalu. Terakhir aku menggunakannya hari ahad sore, setelah itu aku kembalikan lagi ke tempatnya semula. Apa mungkin tertinggal dirumah karena jatuh tidak sengaja??? Ahh…itu kecil sekali kemungkinannya. Tidak lagi berpikir panjang dengan segera ku raih handphone ku dari dalam tas. Kemudian dengan speed tinggi ku ketik sms yang akan ku kirimkan ke mama.

“Ma, minta tolong liatin di kamar ada ATM linda ketinggalan gak dirumah. Soalnya gak ada didompet”

 Sent

Aku masih menunggu jawaban mama.

Tak lama kemudian, Lagu Freedom-Maher Zain kembali terdengar.

Ahh….ini telpon dari papa…

“Hallo, Assalamu’alaykum pa…”

 “Wa’alaykumsalam. Disebelah mana mba naro nya?” Jawab papa dari seberang

“uh…ehmmm….coba di atas kasur pa atau di atas meja. Kalo ada kabarin ya pa. Soalnya kalo gak ada mau langsung diblokir ATM nya.”

 “Iya….”

 Tut…tut…tut…

Aku masih menunggu konfirmasi dari rumah sambil menarik nafas panjang dan beristigfar terus sambil mengingat-ngingat lagi. Terus begitu…

Beberapa saat kemudian sms pun aku terima dari papa

Mba, ATM nya gak ada.

Ahh….benar tidak ada. Aku coba tenangkan pikiran ku dengan menarik nafas beberapa kali. Terus berdoa, namun kenapa saat itu pikiran yang tidak-tidak muncul dalam benak ku. Heran sendiri rasanya, padahal sebelumnya aku sudah pernah kehilangan 2 kali tapi kenapa kali ini rasanya berbeda. Ingin segera aku blokir ATM itu, namun no rekening ada dirumah. Aku berusaha tetap tenang dalam kondisi seperti itu, ku buang jauh-jauh pikiran yang membuat cemas.

Sekitar pukul 21.30 malam aku tiba dirumah. Setibanya dirumah segera setelah salam ku ucapkan, ku lemparkan tas dan tupperware ke atas kursi. Sebelum benar-benar aku blokir, aku harus pastikan dulu ATM itu tidak ada dirumah.

Mama dan Papa tak diam, mereka ikut membantu ku mencarinya di kamar. Lebih dari 5 menit dan kupastikan ATM itu benar-benar tidak tertinggal dirumah. Dengan segera, aku ambil buku tabungan dan ku angkat telpon rumah untuk memblokir kartu ATM itu.

Sebelum ku angkat telpon, terdengar suara salam dari luar.

“Assalamu’alaykum.”

Serentak kami semua menjawab “Wa’alaykumsalam”

Oh…ternyata bude ku yang datang. Tak terlalu peduli dengan kedatangan beliau, lagi pula saat beliau masuk mama langsung menceritakan mengenai ATM ku yang hilang. Aku sendiri sibuk memencet Nomor Bank untuk segera memblokir ATM itu.

“Hallo Selamat Malam, ada yang bisa kami bantu?” Terdengar sapaan hangat dari sebrang sana.

“Selamat malam mas, saya Linda. Saya ingin memblokir kartu ATM saya yang hilang hari ini.”

“Baik mba, akan kami bantu blokir kartunya. Untuk memverifikasi data anda dengan kami mohon dibantu menjawab beberapa pertanyaan”

“Baik mas…”

“Bisa dibantu dengan No.Rekening anda?”

Bla…bla…bla…

Beberapa pertanyaan yang diajukan aku jawab dengan cepat. Terlihat 3 pasang mata menatap dan menunggu apa yang aku ucapkan selanjutnya.

Sampai sudah pada pernyataan “Baik Mba Linda, kartu ATM anda sudah kami blokir pada pukul 21.45 menit.”

“Terima kasih mas, boleh saya cek berapa saldo akhir saya?”

“Saldo terakhir mba saat ini adalah Sekian Juta Rupiah.”

“MasyaAllah…” Apa yang sudah aku dengar barusan. “Benarkah?” Walau kaki ku terasa lebih lemas namun  Aku tetap berusaha menenangkan diri ku sendiri. 3 pasang mata yang memandangku tak kalah kaget dengan ekspresi ku yang barusan.

Kembali aku lanjutkan pertanyaan ku “Mas, boleh dicek untuk transaksi terakhirnya.”

“Hari ini mba ada transaksi sebesar 4 Juta rupiah.”

“Apa? 4 Juta rupiah. Mas bisa bantu dicek pengambilan teakhirnya kapan?”

“Transaksi terakhir hari ini mba, pada pukul 11.34 menit sebesar 4 juta rupiah. Ada lagi yang bisa kami bantu?”

“Tidak ada, terima kasih mas. Itu saja.” Nada ku lebih rendah dari sebelumnya

“Terima kasih sudah menghubungi kami.”

“Iya, sama-sama…”

Tut…tut…tut…

Bersambung…

Pic.Source : jalanmalamku.blogspot.com

Di Rumah, 26 Desember 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

One thought on “Pencurian…(Part 2)

  1. Ping-balik: Pencurian…(Part 3) « Khoirunnas Anfauhum Linnas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s