The Journey To Japan (Episode : Belajar dari mereka…)

Japan…dengan segudang cerita yang ku dengar sebelumnya…

Kali ini saya akan bercerita bagaimana saya belajar dari mereka….

Sebuah pemandangan yang sangat mengagetkan memang ketika berada disana. Banyak hal yang saya pelajari dari orang-orang jepang dan ehmmm…sepertinya saya sangat  mengerti bila banyak sekali orang yang mengelu-elukan bangsa ini. Saya tidak bermaksud membandingkan negara ini dengan Negara manapun termasuk Tanah Air Indonesia. Namun bolehkan saya mengambil pelajaran-pelajaran positif dari mereka…

Satu hal yang saya poin penting dalam hal ini  adalah mereka bukanlah Negara Islam, penduduk asli (bukan pendatang) yang beragama islam pun masih sangat minoritas. Tapi, bila dilihat secara keseluruhan bangsa mereka sudah banyak menerapkan sistem ajaran Islam yang Rasulullah ajarkan kecuali masalah minum Khamr, Babi dan masalah Aurat.

Dalam bayangan saya, bila Indonesia yang memang notabene sudah memiliki penduduk muslim mayoritas menerapkan apa yang telah Rasul ajarkan, sungguh rasanya terasa luar biasa…ahh, ingin sekali dalam masa itu…

Pelajaran yang saya ambil adalah  :

1. In Time. Untuk masalah satu ini mereka benar-benar sangat memperhitungkan. Jika mereka memiliki janji dengan orang lain terkait dengan masalah waktu atau menerima schedule untuk melakukan sesuatu, dengan segera mereka akan benar-benar meng-arrange waktu, mulai dari jam berapa saya harus sarapan, jam berapa saya harus berangkat dengan perkiraan yang cukup matang mengenai apa yang akan terjadi (misal : antri) sehingga mereka bisa datang In Time, bukan On Time.

Sensei…begitulah kami memanggilnya. Sejak awal kedatangan kami, sungguh masalah waktu ini adalah hal yang benar-benar saya perhatikan dari diri beliau. Sensei sudah memperhitungkan dengan baik waktu untuk kami sehingga dapat sampai ke kantor In Time. Pukul 09.00 pagi training dimulai setiap hari, dan sensei sudah memperhitungkan dengan sangat baik mengenai space waktu agar kami bisa melakukan persiapan sebelum training seperti berganti baju, merapikan catatan training, meletakan semua perlengkapan diloker, mengambil kartu agar bisa masuk ke ruang training yang berada dilantai 2, dll. Oleh karena itu, sekitar pukul 08.15 kami sudah harus tiba disana. 45 menit adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya.

Sebelumnya sensei sudah memberitahukan pada kami sebelum masuk ke kamar hotel masing-masing, apa saja??? yaitu kita turun ke kantin pukul 06.45 untuk sarapan, 07.15 kami kembali ke kamar untuk menggosok gigi dan persiapan hingga 07.40 harus sudah ada diberada dilobby. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebh 30 menit menuju kantor sehingga semua sesuai dengan rencana.

Adalagi…saat itu Jum’at minggu pertama. Sensei akan pulang ke rumahnya di sekitar Chiba yang jaraknya cukup jauh dengan hotel tempat kami menginap, Yokohama. Sensei memang tidak menemani kami saat berlibur hari Sabtu-Minggu. Namun pada hari senin minggu depannya, beliau harus kembali menemani kami kembali training termasuk perjalanan menuju kesana. Siang itu…Aku amati apa yang sensei lakukan didepan Laptopnya saat training sudah selesai. 1 jam sudah beliau masih berada di page yang sama suatu web. Aku tebak itu seperti jadwal pemerangkatan Densa (Kereta di Jepang). Ahhh….ternyata dugaan ku benar. Dengan penuh perhitungan sensei pun akhirnya bertanya pada kami mengenai bagaimana rencana senin depan??? Apakah sensei harus kembali ke hotel atau menunggu di stasiun.  Setelah kami pikir2…Rasanya keterlaluan sekali jika kami meminta sensei kembali ke Hotel, kami kan bukan anak-anak yang harus diperlakukan seperti itu. Akhirnya kami sepakat, bertemu distasiun dan keluar dari hotel sama seperti biasanya.

Selama 1 jam itu ternyata sensei benar-benar melihat kapan saja jadwal pemberangkatan densa dan menyesuaikan waktu pemberangkatan dibeberapa stasiun. Perjalanan dari rumahnya sampai ke stasiun Kannai, Yokohama (tempat kami) adalah 2 jam. Dan…Tepat….!!! Hari senin…saat kami tiba disana sensei sudah standby…benar-benar perhitungan yang pas, walau sensei yang sudah berusia 65 tahun pagi itu harus bangun jam 5 pagi (Kepagian banget nih buat beliau…) .

Pelajaran ini, sungguh benar-benar memperlihatkan betapa pentingnya waktu bagi mereka.

2. Budaya Antri. Nah…yang ini, rasanya sudah mendarah daging dan menjadi kebiasaan bagi orang- orang jepang.Membayangkan sebentar ah…andai saja ini juga menjadi budaya di Indonesia dan sudah tertanam di alam bawah sadar setiap orang rasanya semua akan menjadi tertib.

Ya, disana rasanya masalah antri ini sudah tertanam menjadi sebuah kebiasaan yang melekat. Contoh adalah cara antrian naik eskalator, disana secara otomatis eskalator itu memiliki 2 jalur, hal ini berlaku untuk kondisi naik dan turun. Jalur kiri adalah jalur lambat dan kanan adalah jalur cepat. Jika seorang pengguna escalator hanya ingin naik dan berdiri hingga sampai diujung maka pilihlah jalur kiri dan jika seorang pengguna escalator ingin jalan cepat maka gunakanlah jalur kanan. Peraturan ini tidak sama sekali tertulis, namun sudah menjadi kebiasaan.

Selain escalator, antrian selanjutnya adalah antrian bis. Disana jika bis belum datang, sebanyak apapun penumpang yang akan naik haruslah mengantri, sepanjang apapun antrian itu. Bahkan jikaantrian sampai ke  jalan raya, tetaplah harus mengantri. Ini yang pernah aku dan teman-teman alami. Suatu pagi, antrian sangat banyak hingga pada akhirnya melebihi tempat antri yang seharusnya hingga harus sampai ke akses jalan utama. Tapi itu bukanlah alasan untuk tidak mengantri. Lalu? Yaa..akhirnya kami membuat antrian baru lagi dengan tidak menutup jalan utama orang-orang yang lewat, antrian pun terlihat semakin panjang.

Jadi tidak perlu desek-desekan waktu naik bis…😀

3. Memanfaatkan waktu. Orang jepang rata-rata adalah worker holic, terutama laki-laki. Kalau masalah lelah, itu pasti. Tapi, walau begitu mereka selalu berusaha in time dalam melakukan setiap hal, termasuk dalam  bekerja. Pagi saat berangkat dengan densa kemudian disambung oleh bis, saya sangat appreciate dengan mereka. Rata-rata mereka tidak diam, pasti akan selalu ada yang dipegangnya selama perjalanan entah buko, novel atau koran selama perjalanannya walaupun sedang dalam posisi berdiri. Ini merupakan pemandangan biasa disana. Paling banter  nih ya, ya mereka tidur selama perjalanan. Lucunya, sambil tidur eh,,, lebih tepatnya ketiduran mungkin ya…tidak sedikit dari mereka sambil memegang HP nya…begitu saja dibiarkannya ditangan.

Wah klo saya pikir “Coba ini di Jakarta, pasti udah lenyap seketika tuh Hape”…hehe😀

4. Tertib Lalu Lintas. Dalam hal masalah lalu lintas, mereka sangat saya acungi jempol. Semua serba tertib, selain masalah antrian yang sebelumnya saya ceritakan. Sangat jarang saya lihat polisi lalu lalang dijalan sehingga saya pun tidak pernah melihat ada orang yang di tilang. Disana sudah terdapat sensor yang bisa mendeteksi orang yang melanggar aturan. So…jangan kaget klo melanggar tidak dihukum ditempat karena akan datang tiba-tiba surat tilang dari kepolisian ke rumah masing-masing😀 . Tertib lalu lintas dan kenyamanan fasilitas tranportasi inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang lebih memilih angkutan umum ketimbang menggunakan transportasi sendiri, termasuk  salah seorang Managing Director ditempat kami bekerja.

Selain untuk mobil juga termasuk kedalamnya pedestrian, yang sudah diatur dengan baik lampu merah dan hijau untuk menyebrang jalan.


5. Buanglah sampah pada tempatnya (yang benar). Disini tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tapi juga membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Seperti kaleng, kotak susu, plastic, dll. Semua sudah disiapkan diseluruh area disana. Selain itu beberapa sampah yang akan dibuangpun memiliki aturan lainnya.

Misal, botol saos. Sebelum dibuang, botol saos itu harus dibilas dulu dengan air sehingga tidak lagi ada sisa sisa saos yang menempel pada dinding botol. Atau, wadah kotak seperti susu ultra, sebelum membuang itu kotak nya harus dibuka pinggirannya dan digepeng-kan baru kemudian boleh dibuang ketempat seharusnya.

***

Baiklah…untuk sementara, 5 dulu ya …kalau ada waktu InsyaAllah nanti saya lanjutkan…

Dari sini, semua yang telah saya sebutkan diatas rasanya sudah melekat dialam bawah sadar mereka….sehingga sudah menjadi biasa. Ala bisa karena biasa toh…?

Satu hal yang saya berusaha saat ini aplikasikan mengenai Waktu, bagaimana saya akan lebih menghargai waktu saya dan orang lain…

Bogor, 29 November 2011

Linda J Kusumawardani

_Belajar dari Bangsa Jepang_

11 thoughts on “The Journey To Japan (Episode : Belajar dari mereka…)

  1. Ping-balik: Journey To Japan (Episode : Hari Pertama) « Pembelajar dari Kehidupan

  2. Ping-balik: Journey to Japan (Episode : How Beautiful It Is…) « Pembelajar dari Kehidupan

  3. Ping-balik: Kami & Mimpi :’) « Pembelajar dari Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s