Aku, Penjual Bakso & Penjual Celana di Malam 12 Ramadhan….

Saat itu malam ke -12 Ramadhan….

Lelah menggelayuti tubuhku, Penat sungguh membebani pikiranku..

Keduanya memaksaku untuk segera mendatangi tempat peraduan itu.

Nyaris saja aku kalah, karena mereka mendapat dukungan dari kelopak mataku Berat…aku hampir menyerah melawan hitungan kilo beban yang menempel diatasnya. Sungguh ini nyaris mengalahkan ku!

Mereka boleh saja merayuku, membujukku dengan segala ketenangan. Namun, tidak dengan hati ku. Ramadhan telah berhasil mengambilnya dan mengembalikan kembali semangatnya yang kemudian menuntunku untuk tetap membayar hutang yang belum ku lunasi hari itu.

Aku butuh 2 jam untuk melunasinya dengan harapan segera aku bisa merebahkan kekakuan tubuh ku. Membalaskan kepada mereka yang gagal merayuku lebih dulu. Tak sabar rasanya aku merasakan sunyinya malam itu melalui alam mimpi, ketenangan yang menembus dimensi ruang dan waktu.

Ku pikir ini tibalah saatnya…

Namun…

Sesaat setelah perbincangan ku dan mama berakhir, waktu ku telah tiba….

Tidak, ternyata tidak… Suara mangkuk yang beradu dengan sendokitu terdengar jelas ditelinga ku. Jelas dengan resonansi yang cukup untuk menyayat hati ku malam itu, pukul 11.00 malam.

Tak perlu bicara ma…aku sudah ingin menangis rasanya. Namun, aku tahu mama akan mengatakannya

“Mencari beberapa lembar uang itu susah kan??”

Aku pun menahan tangis, mama telah menegaskan dengan nadanya.

Rasa kantuk ku hilang, lelah ku lenyap, penat ku mati rasanya. Suara mangkuk bakso itu berhasil mengalahkan semua. Aku diam…diam ku pertanda aku mengiyakan apa yang mama katakan. Mama tahu itu…

Nyaris tengah malam…mama tentu tidak bermaksud menunda waktu istirahat ku. Mama hanya ingin aku kembali belajar dari kehidupan.

“Mama jadi ingat cerita tentang tukang jual celana beberapa hari kemarin” perlahan mama memulai ceritanya

“Tukang celana apa ma?”

“Kemarin temen mama cerita…beberapa hari sebelum ramadhan, pagi sekitar jam 10 an teman mama dan beberapa lainnya ngobrol sambil minum kopi disuatu rumah, biasalah ibu-ibu. Tiba-tiba tukang ada bapak-bapak lewat jual celana panjang lewat didepan mereka dan melihat sekelompok ibu-ibu itu yang lagi asik ngobrol.”

Tiba-tiba bapak penjual celana itu datang menghapiri ibu-ibu dan berkata

“Bu…PADA INGET GAK SEKARANG SUAMINYA LAGI NGAPAIN???”

Sontak saja suasana yang tadinya riuh itu menjadi hening …dan setelah bapak si penjual celana itu pergi, salah satu dari beberapa ibu itu bangun kemudian pulang dan menangis setibanya dirumah. Ibu inilah yang menceritakan kisah ini pada mama…

Aku diam…tak ada komentar dariku, aku sudah menahan air mata yang terasa berat itu dimataku. Tak lama kemudian, dengan dalih perasaan lelah aku pamit dan menuju kamar ku…

“Ma, linda duluan ya. Udah ngantuk….”

“Iya, tidur aja…udah malem, besok nanti susah lagi dibangunin sahurnya.”

Setelah ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Akhirnya aku menyerah, air mata itu tak sanggup ku bendung lagi. Hikmah luar biasa dari bapak si penjual bakso dan bapak si penjual celana itu mengingatkan aku pada banyak hal, keduanya tentu tidak mendapat kepastian berapa banyak rejeki yang akan didapatkannya hari itu. Tentu kepercayaan pada Allah dan tanggung jawab pada keluarganya lah yang pada akhirnya memberikan kekuatan bagi keduanya…😥

Cobalah ingat,bagaimana kelalaian kita saat menyandang status pelajar (siswa/mahasiswa). Saat ayah kita bekerja dan ternyata kita mungkin tengah sibuk bersantai-santai saat itu, ada waktu kita tidak serius dalam belajar. Padahal ayah kita sudah bersusah payah untuk membuatku menuntut ilmu…Astaghfirullah.

Suara mangkuk bakso itu menyayat hati ku, menangis hati ku mendengarnya. Bahkan malam saja yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, masih banyak orang yang bekerja demi keluarganya…Bapak penjual Bakso itu telah mengajarkan ku…

Cobalah ingat apa saja yang pernah kita lakukan. Ketika  ada beberapa waktu  yang terbuang sia-sia dan tidak mendatangkan manfaat apapun…padahal setiap detik yang terlewat itu sungguh tidak akan bisa terulang lagi.

Cobalah juga ingat, disaat akita mampu merasakan mudahnya menuntut ilmu tanpa adanya kendala biaya sampai jenjang sarjana. Bertanyalah  dalam hati apakah ilmu itu benar-benar telah memberikan manfaat bagi orang lain??? Disaat banyak orang tak mampu melanjutkan pendidikannya…

Kini…Aku pun ingin waktu ku lebih bermanfaat bagi orang lain, untuk keluarga, orang-orang disekelilingku, suami dan anak-anak ku kelak.

Aku pun berjanji pada diri sendiri, tidak akan terjadi cerita diatas. Disaat suami ku kelak bekerja untuk keluarga kami, bersusah payah mencukupi kehidupan keluarga aku tidak akan membuang waktu ku untuk hal yang sia-sia…Bapak Penjual Celana itupun telah mengajarkan aku.

Malam itu mata terasa semakin berat dengan sisa air mata yang ku hapus perlahan. Aku tutup malam itu dengan doa dan istighfar….Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku…aamiin ya Rabb…😥

***

Alhamdulillah…akhirnya aku rampungkan tulisan ini yang ku tulis  dimalam ke 15 Ramadhan…

Semoga bermanfaat…

11 September 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

8 thoughts on “Aku, Penjual Bakso & Penjual Celana di Malam 12 Ramadhan….

  1. Subhanallah…T_T

    maka nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan..

    Ya Allah…. jadikan kami insan yg senantiasa bersyukur kepadaMu ya Rabb T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s