Belajar dari Seorang Irfan….

Bismillahirrahmanirrahim…

Suatu hari dikantor, sekitar akhir bulan Mei menjelang makan siang setelah aku berjalan-jalan ke area proses produksi, Lab, Ruang Final Inspection, de el el. Aku memasuki ruangan kerjaku seperti biasa. Perlahan ketika ku membuka pintu, tak ku temukan orang satupun diruangan. Yasudahlah, hal ini pemandangan biasa, padahal ruangan kerja ku seharusnya berisi 4 orang (termasuk aku). Perlahan saat aku menggeser kursi untuk duduk, mataku agak tertarik dengan suatu benda yang tergeletak di atas meja kerja ku. Ku pandangi beberapa lembar kertas terselip di dalam map plastik transparan yang disimpan terbalik di atas meja kerjaku dan aku tak pernah merasa meninggalkan benda itu sejak meja itu ku tinggalkan beberapa saat yang lalu.

Dengan penuh rasa penasaran ku ambil benda itu, ku balik kemudian aku membaca mulai dari bagian atas. Belum tuntas ku baca sampai bawah, aku sudah paham kertas apa yang sedang ku pegang ini.

“Ini adalah surat kontrak karyawan…Astaghfirullah” gumamku dalam hati…

Kembali aku berkata dalam hati “MasyaAllah bukan hak ku membaca ini” dengan cepat langsung ku letakkan kembali ke posisi nya semula…

Krek…tak lama suara pintu terbuka…

“Hey fan…” panggilku

“Eh mba…” sahutnya

“Ini nih kayaknya surat kontrak karyawannya yah?kok ditaro sini sih????” kataku sebal sambil menunjuk ke arah kertas itu

“Eh, justru saya pengen kasih liat mba linda tentang surat ini, biar dibaca.”

“hah??? Buat apa??? Ini kan privacy fan….” Kata ku dengan nada malas

“Mba linda boleh baca, saya cuma pengen tahu apa aja yah yang harus saya tanyain sebelum saya tandatangan kontrak ini?” katanya

“Oh gitu…beneran boleh nih???” tanyaku yang masih heran

“Iya…boleh ibu Negara…”sahutnya sambil memperlihatkan senyum bahagia yang memanggilku dengan sebutan yang dibuatnya sendiri

“yaudah kalo gitu” sambil ku ambil kembali lembaran kertas itu

Kembali ku baca per kalimat setiap lembar itu dengan saksama…tiba, di point salary dan dengan sigap langsung ku tutup bagian itu.

“Eh, kenapa ditutup mba???” tanyanya bingung

“Ini privacy bgt fan, gak mau lihat! Bukan haknya”

Masih dengan santainya “Ih…mba gak papa, liat aja. Serius mba…biar mba linda liat.”

“ya ampun nih anak…” akhirnya ku turunkan juga jari jemari ku yang menutupi bagian itu…”Maaf ya jadi liat…” lanjutku

“gak papa mba…”

“Hmm…naiknya lumayan gak dari yang sebelumnya?” Tanya ku

“Alhamdulillah mba, biasanya saya harus lembur dulu biar sampe segitu.” Katanya dengan ekspresi campur aduk antara bahagia dan sedih

“Ohh…gitu….Alhamdulillah kalo gtu ya fan.” Kata ku sambil melemparkan senyum haru😥 …

“Ini kan karena bantuan mba linda juga yang sudah mau memperjuangkan saya.” Katanya dengan nada lebay (pengen jitak sebenernya)

“Haiyyah….gak gitu kali, hanya sekedar membantu hak yang harusnya emang irfan dapet…”

“eeeeh…Beneran mba, saya mau bilang makasih banyaaak atas semua bantuannya.”

“Iya…sama-sama, semoga semakin barokah ya rejekinya. Eh…karena sudah dapet apa yang diharapkan berarti jadi dong abis lebaran nikahin si eneng…hehe” Kataku ngeledek

“Iya mba, InsyaAllah. Doain aja biar lancar.” Jawabnya (sambil malu-malu gak penting)

“InsyaAllah, Aamiin…”

***

Sebenarnya saat ku baca setiap lembar surat kontrak itu, konsentrasi ku tidak hanya berada pada isi setiap kalimat yang tertulis didalamnya. Pikiran ku jauh melayang…dalam hitungan seper sekian detik beberapa hal ku ambil pelajaran. Aku masih ingat 3 bulan sebelum kejadian itu, Irfan pernah bercerita tentang rencananya menghalalkan wanita yang diimpikan menjadi bidadari dunianya. Namun, itu semua masih menjadi berat baginya karena satu alasan yang katanya sangat kritikal bagi seorang laki-laki. Mungkin, bagi setiap laki-laki sudah bisa menebak apa alasan ini…hayoo apa??? yak…benar, ini masalah MATERI (maaf saya tulis huruf kapital, karena alasan ini tidak sama sekali menjadi kritikal bagi wanita). Beberapa kali aku pernah berdiskusi dengan Irfan mengenai masalah ini.

Dan satu pertanyaan pernah saya lontarkan padanya “Seberapa penting sih fan masalah materi buat laki-laki, apalagi klo si calon wanita udah mau nerima apa adanya kan?” tanyaku penasaran padanya…

“Penting banget mba…okelah kalo si calon istri bisa nerima saya apa adanya. Tapi, gimana dengan keluarga calon istri?? Apa bisa?? Buat seorang laki-laki kebanyakan, kalo menurut saya yah ada sebuah gengsi ketika dia ditanyakan mengenai pekerjaan dan kemapanannya.”

“Hmm…ooh gitu yah…” aku mengiyakannya dengan mengangguk ngangguk

Sampai ini, ya ya …  saya bisa menerima alasan seperti itu…

Dan dia pun melanjutkan penjelasannya “Iya, ada sebuah nilai prestise mba buat seorang laki-laki mengenai kemapanan. Walaupun si istri juga kerja…”

Aku hanya diam sambil kembali mencerna penjelasannya dan terus mengatakan “Ooo…gitu yah?”

“Kalo rejeki udah ada sih, saya mah pengennya disegerakan. Niat mah udah bulet mba…”

“hmm…gitu ya…terus kapan rencana nikah???” Tanya ku antusias sambil memikirkan penjelasan yang sebelum2 nya

“Rencananya sih abis lebaran, saya butuh kepastian juga kerja disini mba, paling gak setelah status saya kontrak, saya berani ngelamar si eneng. Kan kerja saya kata HR bakalan di liat lagi setelah 3 bulan. Abis itu gak tahu deh kalo bagus bakal diapain”

“Oooh gitu, bulan April nanti dong klo gitu yah?”

“Iya, saya mau nanyain mba ke Pak **** nanti masalah ini”

Dengan mengangguk karena sudah paham aku pun berkata “Hmm…nanti dibantu fan InsyaAllah.”

***

Setelah percakapan itu selesai, apa yang dikatakan irfan masih saja menggelayuti pikiran ku. Aku sangat mengapresiasi, terutama karena niat baiknya. Baiklah, ini adalah bagian dari ikhtiarnya, aku berpikir dan terus berpikir…Aku yakin Allah akan menolong hamba-Nya untuk setiap niat baik. Apalagi  niat baik nya yang satu ini.

Saat itu aku berdoa pada Allah, semoga aku bisa membantunya walau tak seberapa mungkin untuk mencapai salah satu mimpinya itu. Namun, harapan ku besar untuk dapat membantunya.

Terlintas juga dalam pikiranku…

“Duhai Allah, jika seandainya calon suamiku mengalami hal serupa dalam urusan menjemput rejeki mu saat ini, ku harap Kau berkenan mempermudah urusannya, melapangkan dan memudahkan rejekinya dengan segala keberkahan didalamnya. Jika saat ini aku masih belum mampu membantunya dan meringankan bebannya karena aku belum halal baginya dan aku pun tak tahu ada dibelahan bumi mana dia, maka kirimkanlah orang baik untuknya menyelesaikan masalahnya sebagai cara-Mu mengabulkan doaku”

***

Keesokan harinya akupun berencana melakukan apa yang sudah ku rencanakan hari itu, tentunya dengan memilih waktunya yang pas berbicara pada atasan ku.

Aku rasa aku punya penilaian sangat positif tentang Irfan yang berusia 2 tahun lebih tua dari ku…(Hehe…gak sopan emang manggil2 nama…maaf yak kakak Negara😀 ). Aku menilai secara objektif tentunya. Secara keseluruhan performance yang ditunjukkan selama 3 bulan ini ku nilai Outstanding. Aku rasa atasan kami pun mengakuinya, apalagi??? InsyaAllah dirinya berhak mendapatkan sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Alhamdulillah, setelah ku upayakan apa yang ku mampu. Atasan ku pun mengatakan,  assessment akan diberikan lagi terhitung 3 bulan lagi sejak bulan april. Itu berarti penialaian akan diberikan akhir Juni.

***

3 bulan kemudian dengan segala kebimbangan, kenapa??? Karena beberapa minggu sebelum genap 3 bulan. Irfan sempat 2 kali di Interview dua perusahaan berbeda. Namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya dia memilih untuk tidak pindah  ke tempat lain.

Dan Alhamdulillah per bulan Juli ini apa yang diharapkannya sudah dikabulkan oleh Allah…

Selain ikhtiar dan doa, Azzamnya yang kuat memang pada akhirnyalah yang memudahkan semua…ya azzam…azzamlah yang pada akhirnya memberikan energi positif pada setiap manusia untuk tetap berhusnudzon pada Allah. Karena, sebenarnya mudah saja Allah memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa dengan cuma-cuma Allah memberikannya??? tentu tidak, Allah pun pada akhirnya ingin menguji azzam yang ada pada hati kita, apakah kita sungguh-sungguh dalam mengejar apa yang menjadi cita kita (Man Jada Wa Jadda…) . Jika apa yang menjadi impian kita adalah sesuatu hal yang baik dan bernilai ibadah, tentu Allah akan memberikannya. Namun, pada akhirnya akan ada ujian yang Allah berikan terkait dengan tiap-tiap niat baik itu, entah ujian itu terletak pada kesulitan dalam ikhtiar, kekhusyukan dalam doa dan ibadah, kelemahan dalam azzam, ataupun  tidak bulatnya niat…

Melalui rekan kerja sekaligus teman baik ku itu Allah kembali mentarbiyah ku…Alhamdulillah…dengan azzam yang kuat dirinya benar-benar mengoptimalisasikan dirinya dalam berusaha dan doa. Saya yakin Allah pun melihat prosesnya….

Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan dalam proses dan keistiqomahan padanya hingga Mitsaqan Ghaliza di ucapkannya….aamiin ya Allah…🙂

…Semoga Bermanfaat…

Linda J Kusumawardani

Bogor, 21 Juli 2011

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

2 thoughts on “Belajar dari Seorang Irfan….

  1. Weww,, Semoga bermanfaat…
    Tidak menyangka jika pengalaman ini menjadi inspirasi buat ibu negara dan buat yang lain mungkin. Terima kasih Untuk semua na ya,,
    Tidak bisa berkomentar bangk selain rasa syukur yang tiada henti. Ternyata stiap ucapan dan tingkah laku saya di analisa sampai sedemikian rupa sampe jadi crta sprti ini…
    Semoga Untuk setiap usaha yang telah di usahakan untuk saya dapat balasan yang berlipat ganda ya..
    Salut buat semua analisa na sampai jadi tulisan seperti ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s