Menikah…?? Siapin yuuuk… (For Ukhty…)

Alhamdulillah hari ini libur kerjanya setelah ganti hari dengan Rabu lalu…berhubung kondisi jasad kurang fit jadi mengisi waktu libur kali ini dengan membaca sambil menulis diatas kasur. Dinikmati saja… yang penting tetep manfaat…aamiin..🙂

Berhubung tingkat aktivitas menulis selama bulan Juni kemarin sangatlah tidak produktif, berharap kali ini tulisan ini benar-benar selesai dan bisa dipublish di Blog.

Bismillahirrahmanirrahim…dikarenakan akhir-akhir ini saya sering mendapatkan undangan pernikahan, saya ingin menulis hal yang berkaitan dengan ini.

Saya senang sekali mendengar banyak kapal yang akan dan sudah berlayar beberapa bulan belakangan dan alhamdulillah ada waktu untuk menghadiri acara walimatul ‘ursy walau tidak semua undangan dapat dipenuhi…afwan (maaf.red)😥

Seperti pada umumnya, hari itu sepasang pengantin adalah orang yang paling berbahagia diantara seluruh tamu yang hadir (pastinya begitu…). Hari itu adalah hari mereka yang sangat bersejarah bagi mereka, disaat sebuah mistaqon ghaliza benar-benar diikrarkan. Ketika itu Cinta pun sudah menjadi halal diantara keduanya, kebahagiaan memenuhi seluruh bagian qalbu tanpa menyisakan rongga sedikitpun hingga memancar melalui senyum yang mereka berikan pada seluruh tamu, sehingga para tamu yang hadirpun juga dapat merasakan kebahagiaan mereka.

Hari itu mungkin kedua mempelai merasa seperti ini :

While Looking at him/her, you can’t see the other people around you….you can see only THAT person…

 

Namun, cinta setelah ikrar itu tentulah berbeda bahkan sangatlah berbeda dengan sebelumnya karena keridhoan Sang Ilahi telah sampailah pada mereka hingga kasih sayang diantaranya menjadi sebuah ibadah dimata-Nya. Dalam sebuah hadist dinyatakan  : “Barang siapa yang melaksanakan pernikahan maka dia telah menyempurnakan separuh dari agamanya, maka bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan yang separuhnya lagi”

Sehingga melaksanakan pernikahan adalah bagian dari takwa. Karena menikah adalah perintah Allah sedangkan takwa menurut al-Ghazali adalah melaksanakan perintah dan menjahui larangan Allah swt.

Namun pernikahan bukanlah hal main-main. Banyak yang harus dipersiapkan mulaidari Jasadiyah, Ruhiyah dan Fikriyah.

Dalam sebuah hadist disebutkan :

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: perempuan shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, istri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban). 

 

Hadist ini menjelaskan bahwa perempuan yang shalehah itu adalah perempuan yang patuh pada ajaran agama, suami, pandai menjaga hati suaminya, pandai menjaga kehormatan dan martabat serta keluarganya.

Berhubung saya akhwat (baca : wanita), jadi saya akan berbicara mengenai wanita.

Setelah banyak menimba ilmu melalui membaca atau sharing dengan akhwat yang sedang dalam proses menuju pernikahan ataupun yang sudah menikah. Menjadi seorang istri shalehah tidaklah semudah yang dibayangkan.

Coba kita tanyakan pada hati nurani masing-masing

1.      Apakah kita sudah siap bergotong-royong dengan sang suami kelak menjadikan keluarga kita teladan dimasyarakat??? Masyarakat itu luas, yang jelas kita tidak hanya hidup sendiri. Jika sudah menikah nanti, kita tidak lagi tunggal. Namun kita sebagai pakaian suami kita. Ingat bahwa sebagai seorang istri kita harus mampu pandai menjaga kehormatan dan martabat serta keluarganya. Kalau kita tidak pandai mengelola diri kita untuk berbaur atau menutup diri dengan orang lain, tidak hanya kita yang memiliki citra negatif dimata masyarakat tapi suami kit apun demikian. Bisa jadi begini “Istri siapa sih tuh? Sombong bener gak pernah ngobrol?gak tahu adab bertetangga apa yah?” disahutnya oleh yang lain “Oh istrinya pak ****” Nah loh, kesebut juga tuh nama suami kita.  Na’udzubillahimindzalik.😥 Semoga kita tidak termasuk yang demikian…aamiin.

2.      Apakah kita sudah memiliki kafaah yang cukup sebagai bekal mendidik anak-anak kita kelak??? Pendidikan seperti apa yang akan kita berikan kepada mereka??? Pendidikan anak adalah poin penting dalam membangun masyarakat madani. Dan kita sebagai wanitalah yang akan menjadi pendidik pertama bagi anak-anak. Kita sudah harus mulai memikirkan pendidikan anak sejak dini. Misal : Berbasis apa sekolah anak-anak kita kelak? Bagaimana cara mengajarkan Ilmu Allah kepada mereka secara efektif. Bagaimana cara mengajarkan membaca dan menghapal Al-Quran sejak dini (walaupun kita bukanlah seorang hafidzah..). Mengajarkan shalat pada mereka, sehingga diusia 7 tahun kesadaran untuk mendirikan shalat sudah terpatri dihati mereka. sehingga mereka terdidik menjadi generasi qurani dan rabbani. Oleh karena itu, kita harus mampu menjadi teladan bagi anak-anak kita kelak. Sehingga Persiapan Ruhiyah perlu dilakukan sejak dini…

3.      Sanggupkah kita menciptakan syurga ditengah-tengah rumah kita kelak?? Perhatikan kebersihan dan kenyamanan rumah kita. Alhamdulillah, wanita Allah ciptakan memiliki sifat yang cenderung lebih detil daripada laki-laki. Jadi, manfaatkan kelebihan kita ini untuk menata istana kita sebaik mungkin dan hidupkan nuansa islami ditengah-tengah rumah dengan tilawah sehingga semua penghuni rumah merasakan kenyamanan berada didalamnya walau rumah yang dimiliki tidaklah sebesar istana kerajaan.

4.      Bagaimana dengan kafaah kita dalam mengelola urusan rumah tangga? Menjadi seorang manager keuangan sekaligus, menjadi seorang koki, asisten pribadi, penasehat pribadi sang suami atau yang lainnya???

Sebagai Manager Keuangan yang akan mengatur pengeluaran-pengeluaran rumah tangganya. Bukan sekadar masalah berapa besarnya uang belanja, tapi juga bagaimana kita menyikapinya. Kalo penghasilan pas-pasan, tapi kita bisa mengalokasikannya secara tepat, gaya hidup bersahaja, maka tidak akan masalah. Percuma saja, jika uang belanja besar, tapi kita tidak cermat mengelolanya, dan gaya hidup konsumtif, maka sebesar apapun uang belanja dari sang suami, tidak akan pernah merasa cukup. Trus berantem deh.. “Abi sih, ngasihnya dikit bener..”; “Uminya sih yang boros..” . Wah….jangan sampai begini nih…

Menjadi seorang koki, bukan berarti harus handal juga yah. Klo handal mah bisa buka restoran…hehe. Tidak perlu semua resep masakan kita harus bisa, yang penting mah bisa  mengolah makanan dengan baik (hehe…membela diri sendiri😀 ). Tentunya juga dengan memperhatikan gizinya.

Menjadi penasehat juga penting, jangan hanya ingin didengarkan. Kita pun harus menjadi pendengar yang baik dengan memberikan masukkan/nasihat yang menyejukkan J

 

Wah…banyak ya? Sudah siapkah kita? Yuuuk…bagi yang belum dan akan menikah…kita siapkan diri dengan sebaik-baiknya…:D

 

Alhamdulillah, akhirnya tulisan kali ini bisa dipublish😀

 

Bogor, 1 Juli 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^


8 thoughts on “Menikah…?? Siapin yuuuk… (For Ukhty…)

  1. tulisanx gud *2 jempol dah* sederhana tapi langsung ngena sama maksudx🙂

    salam ukhuwah n smg berkenan utk berbagi ilmu dalam dunia tulis menulis ini *maklum blogger pemula😉

    keep writing ’till the end ^_^,

  2. SubhanallAhhh>>>

    jadi ingin segera menyempurnakan 1/2 din….

    semoga bisa menjadi insan yg selalu memperbaiki diri>>

    Salam Ukhuwah,
    Elok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s