Hikmah Perjalanan (Silaturahim Series)

Hikmah Sebuah Perjalanan (Silaturahim Series)

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah setelah sekian lama (setelah tanggal 2 mei) saya akhirnya bisa menulis lagi😀 . Tapi, Ini bukan karena perkara kemalasan yang menggelayuti jasad saya yah…

Kembali saya mencoba menyibak hikmah dari sebuah kejadian yg saya alami, dan tentunya sudah dicatat baik-baik semuanya dalam otak dan hati saya yang pada akhirnya saya coba tuangkan dalam bentuk tatanan huruf….semoga bermanfaat…

Langsung aja yak…

Awal bulan lalu saya diminta oleh Murrabbi untuk Silaturahim ke salah seorang ummahat yang rumahnya berada di daerah ciomas yang kebetulan juga saya belum pernah bertemu dengan beliau. Bermodalkan nomor handphone yang diberikan, saya mencoba menghubungi si Ibu ini 4 hari kemudian untuk membuat janji kapan saya bisa bersilaturahim kerumahnya. Alhamdulillah…sms saya direspon cukup cepat setelah sms saya kirim, dan akhirnya saya mendapatkan alamat rumah beliai lengkap dengan rute angkotnya. Walaupun sebenarnya saya tidak familiar dengan daerah sana, ah…tapi saya pikir kalau masih daerah Bogor saya gak akan jauh jauh kalo pun nyasar.

1 minggu kemudian, tepatnya Sabtu pagi, 14 Mei 2011 saya bersiap-siap berangkat dari rumah. Sekitar pukul 07.15 saya pun sudah keluar rumah karena saya janji bertemu dengan beliau pukul 11.00. Saya estimasikan jam 9 sudah tiba di Terminal Barang Siang, jadi gak terlalu terburu-buru maksudnya. Alhamdulillah sesuai dengan prediksi, saya tiba diterminal pukul 09.00. Tapi, setelah saya pikir-pikir masih lama juga menuju jam 11.00 . Akhirnya saya putuskan untuk mampir dulu ke Masjid Alumni IPB. dikarenakan sebelum berangkat saya sudah sempat shalat duha dan membaca Al matsurat saat perjalanan di Bis Cileungsi-Bogor, jadi saya pikir “ah tilawah yang belum nih”. Alhamdulillah setelah 30 menit ½ juz sudah saya selesaikan. Setelah itu, sayapun ber-smsan dengan beberapa teman saya yang lain untuk memastikan rute angkot yang akan saya naiki kesana dan bertanya estimasi waktu perjalanan yang dibutuhkan. Alhamdulillah jadi lebih terbayang.

Setelah waktu menunjukkan pukul 09.45, saya langsung bergegas pergi meninggalkan masjid dan berjalan menuju Tugu Kujang (Simbol Warga Kota Bogor). Setibanya disana, saya langsung memburu angkot 03 untuk menuju Plasa Jembatan Merah (tujuan saya selanjutnya). Dengan tenangnya saya naik angkot itu… namun tiba-tiba setelah setengah perjalanan saya lupa akan sesuatu.

 “MasyaAllah…!!!Jembatan Merah sama Taman Topi itu sama gak ya?????”

Waduh gawat saya panik, karena sebentar lagi sudah mau sampai taman topi. Tiba-tiba saya amnesia. Ini sudah ketiga kalinya selama 1 minggu itu dan kali ini saya terserang lagi sindrom seperti itu….

”Ya Allah…Ada apa dengan memori otak saya ya sebenarnya???” saya bertanya tanya dalam hati.

Padahal…seharusnya saya tahu benar jawaban dari pertanyaan itu. Tapi…entah ketika itu Allah menghendaki untuk benar-benar menutup pengetahuan saya tentang perbedaan daerah taman topi denga jembatan merah. Bahkan untuk bertanya pada supir saja saya linglung. Akhirnya saat sampai ditaman topi saya memutuskan untuk turun. Setelah turun saya beristighfar berkali-kali, walau ingatan saya belum juga pulih mengenai Taman Topi Vs Jembatan Merah. Akhirnya, saya sms ke salah seorang teman untuk menanyakan hal itu. Dan ternyata, saya harus berjalan lagi menuju Jembatan Merah sekitar 10 menitan. Alahmdulillah, akhirnya ingatan saya pulih kembali setelah melihat Jembatan Merah yang memang berbeda dengan taman topi….😀.

Perjalanan belum berkhir….mari kita lanjutkan, yuuk mariii…

saya masih harus naik 1 angkot lagi jurusan ciomas yang berwarna biru (saya lupa nomor berapa). Kali ini karena saya benar-benar tidak tahu jalannya (bukan lagi amnesia ya).  Dari awal naik saya sudah mewanti-wanti pak supir

“Pak, Perempatan Pasir Kuda ya nanti saya minta tolong dikasih tahu.”

Dengan sigap pak supir pun menjawab “Iya neng.” .

ternyata hanya sekitar 15 menit saja saya tiba ditempat tujuan dan waktupun masih menunjukkan pukul 10.30 .

“Wah, jam 11 masih 30 menit lagi” kata saya dalam hati

Padahal dari sms yang dikirimkan Ibu nya bilang ”rumah saya tidak jauh dari perempatan pasir kuda ukh” disebutkan lengkap dengan nama dan nomor jalannya.

Dari jauh kebetulan saya melihat plang alfamart, dan akhirnya saya putuskan untuk kesana dengan berjalan kaki sekitar 100 meter dari tempat saya berdiri. Setelah saya membeli beberapa buah tangan untuk dibawa, saya kembali ketempat saya berdiri artinya saya sudah berjalan 200 meter.

Setibanya saya ditempat semula saya pun mengetik sms

“Bu saya sudah di perempatan pasir kuda, dari sini ke rumah ibu ke arah mana ya?”

15 menit sudah sms saya tak kunjung dibalas.

Akhirnya saya pun bertanya kepada seseorang bapak-bapak yang lewat situ

“Pak, maaf Jalan Cendana 1 (bukan nama sebenarnya, karena saya lupa lagi…hehe) sebelah mana ya?”.

Si bapak-bapak pun menjawab “Oh, neng pendatang ya. Itu neng disebelah sana. Nanti neng tanya sama tukang ojeg aja ya” Sambil menunjuk ke sebuah perumahan yang persis ada disebrang Alfamart yang tadi saya datangi.

Saya pun kaget….tuing tuing…berarti saya harus kembali lagi (dalam hati)…

”Oh begitu ya Pak. Terima Kasih.”

Dan itu artinya saya akan menempuh perjalanan sejauh 300 m.

Baiklah…saya harus kembali lagi kesana kalau bagitu. Setibanya didepan gang itu, saya lihat plang disana “Jl. Cendana 4” …lho??? Kok udah 4 aja 1 nya juga belum. Astagfirullah…Akhirnya saya pun bertanya lagi ke tukang ojeg yang mangkal disana. “Pak maaf saya mau Tanya, Jalan Cendana 1, ke arah mana ya?”

Salah 1 dari 3 tukang ojeg itupun menjawab..”Oh, neng cendana 1 mah ada disebelah lampu merah sana neng” sambil menunjuk ke arah tempat saya pertama kali turun angkot tadi

“Astaghfirullah……………… ” saya menelan ludah dengan wajah yang bingung

“nanti dari lampu merah, ada gang masuk ke sebelah kiri. Neng masuk aja gang itu, jalan cendana 1 itu ada didalam gang. Nanti kalau bingung neng tanya aja sama orang disana”

“Oh gitu ya pak? Makasih banyak ya pak.”

“Sama sama neng”

Saya pun segera meninggalkan 3 tukang ojeg itu dengan semangat yang tidak se-full awal. Matahari sudah terlihat lebih terik dan terasa lebih menyengat. Ketika saya mengintip jam tangan saya yang tertutup lengan baju waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 dan Ibu yang akan saya kunjungi rumahnya pun belum juga membalas.  Berhubung saat itu pulsa saya tidak mencukupi untuk telp, jadi saya akhirnya memutuskan untuk berjalan terus sesuai dengan petunjuk dari bapak tukang ojeg tadi. Dan ini artinya saya sudah berjalan lebih dari hampir ½ Km.

Dengan harap harap cemas, saya menunggu balasan sms. Setelah sekitar 5 saya masuk dari gang itu saya temukan plang dengan tulisan Jl. Cendana 1, Alhamdulillah….

Tiba-tiba semangat saya muncul kembali, 1 petunjuk jalan sudah saya temukan. Saya terus menyusuri jalan itu. Sesampainya di sebuah gapura, Handphone saya berbunyi, Wah…si Ibu nya telpon….

“Assalamu’alaykum bu…”

“Wa’alaykumsalam…” terdengar dari sebrang menyahut salam saya

“Ukh…sudah sampai mana?”

“Saya sekarang dipertigaan gapura bu. Dari sini rumah ibu ke arah mana ya?”

“Belok kanan saja ukh, eh tapi belok kiri saja. Eh…kanan saja. Sama saja nanti juga ketemu rumah saya. Nanti setelah belok kanan, belok kiri, belok kanan lagi…ukhti cari rumah nomor 31 ya”

“Iya bu…syukron”

Tiiit….telpon pun mati…

Saya pun berusaha mengingat-ngingat arah kanan dan kiri yang tadi dijelaskan. Setelah belokkan kanan terakhir itu adalah pertigaan. Saya mengurut-ngurut nomor rumah digang terakhir yang saya lewati itu

“27, 28, 29….nah….sedikit lagi….30……….” tiba tiba rumah itu habis dan sudah sampai diujung. Dan rumah yang persis ada ditengah2 pertigaan jalan adalah rumah nomor 41.

“Dimana nomor 31 nya???” saya cari ke arah kanan ternyata rumah nomor 32. Mana sepanjang jalan itu terlihat sepi, tidak ada orang. Akhirnya saya berbalik arah dan alhamdulillahnya di rumah nomor 43 saya melihat seorang ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian. Saya pun akhirnya bertanya “Bu, rumah nomor 31 sebelah mana ya?”

“Waduh saya kurang tahu ya dek…”

“Ya Allah bahkan tinggal sedikit lagi saja kok susah banget…” saya berusaha curhat sama Allah dalam hati.

Saya pun terdiam menatap jalan dihadapan saya tepat didepan pagar rumah bernomorkan 43 itu. Dan ketika itu tiba-tiba saya melihat lambaian tangan ibu-ibu dari kejauhan salah satu rumah..

“Alhamdulillah, mungkin itu ibu nya…”

3 rumah dari nomor 43 itu adalah nomor 31????

Tapi, tak apalah….Akhirnya semangat saya muncul lagi dan yang terpenting akhirnya saya tiba juga ditempat tujuan pada jam 11.20 dengan total perjalanan saya kurang lebih 700 m, karena jalan gang masuk sampai rumah yang saya tuju berjarak sekitar 300 m. Dan kalau ditotal dengan perjalan pulang yang saya tempuh berarti genap 1 Km saya berjalan…hehe😀 …mantap deh….

Dan saya pun memasuki pintu pagar rumah…(Akhirnya…..)

“Assalamu’alaykum”

“Wa’alaykumsalam, masuk ukh.”

“Iya bu”

“Sini duduk…”sambil menyodorkan air mineral dalam kemasan pada saya

“ Iya bu, terima kasih.”

“Diminum dulu, haus kan?”

“Iya bu, oia ini ada sedikit buat ade-ade kecilnya bu”

“Ya Allah…pake repot segala.”

“Gak kok bu.”

Akhirnya silaturahim kami pun berjalan hingga adzan dzuhur…beberapa topik kami bahas. Mulai dari masalah politik, Sirah Nabawiyah, Aktivitas sampai kepada masalah pernikahan juga…(sip…sip😀 )

Walau beberapa topic terkesan teks book, tapi silaturahim kali itu sangat berhikmah dan berilmu bagi saya…apalagi ditambah dengan perjalanan yang saya tempuh sangat berliku (halah bahasanya…). Beberapa obrolan menjadi masukkan bagi saya. Nah…tapi kalau isi obrolannya biarlah menjadi konsumsi saya pribadi yah….

Saya ingin berbagi yang lain selain topik pembahasannya, yaitu mengenai perjalanan saya menuju ke tempat tujuan. Luar Biasa ada sebuah hikmah yang saya ambil. Allah sudah berhasil men-Tarbiyah-kan saya lewat perjalanan itu.

Ada yang bisa menebak apakah itu???

Begini….Bila dianalogikan dengan perjalanan hidup, ya itulah contoh gambaran sederhananya. Saya yakin ketika seseorang sudah mulai dewasa, (seharusnya) dia mengetahui apa yang menjadi tujuan hidupnya, ingin menjadi apa kelak, apa yang akan dilakukan nanti atau keinginan-keinginan lainnya. Saya yakin hampir semua orang pasti akan memikirkan mengenai masa depannya dan akan mulai mencari strategi-strategi atau langkah-langkah untuk mencapai apa yang diinginkannya baik akhirat ataupun dunia…(Akhirat dulu ya…karena dunia akan mengikuti, InsyaAllah)

Nah…walau kita mengetahui langkah-langkah apa yang akan kita tempuh untuk mencapai tujuan dan keinginan kita itu, tapi sungguh kita TIDAK akan pernah tahu ujian apa yang berada didalamnya, kesulitan apa yang akan mengiringinya, ujian/kesulitan yang pada akhirnya menguji apakah kita benar-benar bisa bersabar dengan sebenar-benarnya sabar (Fashbir Shabran Jamila), apakah kita mampu bertahan dan yakin akan adanya jalan yang akan Allah berikan…????

Ya begitulah… ujian adalah sunnatullah yang harus dihadapi dengan kesungguhan (Man Jadda Wa Jadda) . Dalam perjalanannya terkadang ada fatamorgana bisa kita jumpai, seperti cerita saya diatas, ketika saya pikir saya sudah menemukan tujuan saya yaitu Jl. Cendana 1 yang padahal sebenarnya itu Jl. Cendana 4 (dan itu bukan tujuan saya). Hal itu sama dengan dengan hidup, terkadang kita pikir atau bahkan yakin ketika itu adalah sesuatu yang kita pikir terbaik untuk kita. Padahal bisa jadi kata Allah “BUKAN”. berhati-hatilah…karena kalau dipaksakan kita bisa salah jalan dan tersesat. Tetaplah berfikir jernih ketika kesulitan kita hadapi, walau kelelahan telah mengguyur tubuh kita. Namun bersabarlah, karena Allah pasti akan memberi petunjuk kemana arah selanjutnya harus kita tempuh hingga tujuan sebenarnya kita dapati. Dan ujian itu pada akhirnya akan menguji keistiqomahan serta kesabaran kita.

Dan ingatlah jika Allah melarang kita “BERPUTUS ASA” atas ujian yang telah diberikannya pada kita. Yakinlah bahwa apapun ujian yang diberikan-Nya pada kita, sebenarnya kita masih mampu untuk menghadapinya (Janji Allah begitu kan???). yang menjadi masalah sebenarnya adalah kita mau atau tidak menghadapinya. Bersabarlah, karena ini termasuk bagian dari kesabaran dalam menjauhi larangan-Nya. Kenapa??? Sekali lagi, karena Allah melarang kita “BERPUTUS ASA”.

Perjalanan yang begitu jauh dan berliku itu akan membuahkan kebahagiaan dan kepuasaan pada qalbu kita bila benar-benar tulus ikhlas kita jalani bersama-Nya. Sungguh, Allah tidak akan pernah mengecewakan kita pada akhirnya. Dia hanya ingin menguji kesungguhan kita dalam setiap perjalanan. Yakinlah setiap perjalan hidup ini sesungguhnya akan melahirkan sebuah hikmah. Jika pun ada ujian/cobaan dalam menjalaninya, yakinlah itu bukan cara Allah menyia-nyikan kita dan yakinlah akan ada kebaikan yang kita peroleh dari sana.

“Jika Allah menghendaki Kebaikan bagi seseorang, ia diberikan cobaan. Siapa saja yang ridha (dengan cobaan itu), baginya ridha Allah. Siapa saja yang keberatan, baginya kemarahan Allah.” (Al-Hadist)

Wallahu’alam bishowab…

Bogor, 24 Mei 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna

4 thoughts on “Hikmah Perjalanan (Silaturahim Series)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s