Nikah dini banyak Problema…???

2 Minggu lalu, saat perjalanan saya ke kantor, saya dikagetkan dengan sesuatu…mengernyitkan dahi sesaat, membaca berulang-ulang tulisan yang baru saja saya baca hingga akhirnya angkot yang saya tumpangi melewati papan reklame itu yang bertuliskan

“Nikah Dini banyak Problema

Ayo siapkan dirimu raih Prestasi Tunda Nikah Dini. dua anak lebih baik!”

Yaa…kurang lebih begitulah tulisannya…

Saya heran…sesaat setelah saya membaca tulisan ini kok banyak pendapat saya yang menyatakan kontra dengan tulisan ini. Muncul pertanyaan-pertanyaan dalam otak saya..Padahal nikah dini gak masalah kalau sudah dipersiapkan dengan baik…

  1. Mana ada kaitannya prestasi dengan nikah dini??? Prestasi tetap bisa kita dapatkan walau dengan menikah. Siapa bilang dengan menikah berarti kita sudah tidak bisa berprestasi??? Ehmmm….aya2 wae…
  1. Nyuruh kita berprestasi,tapi…??? Sebenarnya banyak sekali orang Indonesia yang ingin berprestasi tapi sayang kesempatan tak datang seluas keinginan mereka. Masih banyak masyarakat Indonesia yang sulit sekali mendapatkan pendidikan yang layak. Terutama untuk jenjang perguruan tinggi…ckckck. Beberapa pekan lalu saya mendapat informasi kalau Dikti itu kekurangan kandidat sebagai penerima Beasiswa S2 dan S3. Muncul pertanyaan dalam otak saya…kok bisa??? Padahal banyaak sekali anak bangsa yang ingin maju, ini masalah promosi atau apanya ya yang kurang???Saya daftar kalau begitu pak… Selain itu, Dikti juga ternyata kekurangan kandidat orang-orang yang kurang mampu yang ingin disekolahkan. Ini juga…kok bisa??? [again], apa kurang kelihatan ya bagaimana tingkat pendidikan di Indonesia yang sangat mengkhawatirkan…Saya saja sudah jengah rasanya melihat kondisi pendidikan di Indonesia, salah satu contoh banyak bangunan sekolah yang bisa dikatakan tak layak disebut sebagai sekolah apalagi di desa-desa pelosok…ehmm…Padahal, Banyak orang pintar namun yang tidak memiliki kesempatan…

  1. Dua anak lebih baik,oh ya…??? Ini juga rasanya terdengar aneh, kalau latar belakang slogan ini dikarenakan masalah ekonomi setiap orang tua tidak perlu merasa khawatir masalah hal ini karena setiap orang lahir sudah sepaket dengan rezekinya masing-masing. Bukanlah manusia yang menjamin rezeki setiap makhluk di muka bumi ini, melainkan Allah…
  1. Nikah dini banyak Problema??

Klo yang ini sih tergantung orangnya, saya yakin kalau ada orang yang gak sepakat dengan pendapat ini. Beberapa hari lalu saya di tag note oleh sahabat saya yang insyaAllah menjawab pertanyaan ini, yang ternyata di ambil dari salah satu tulisan Salim A. Fillah.

Ini adalah beberapa cuplikan dari artikel yang saya baca…

…Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?

Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan…

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.

Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.

Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Pernah di sebuha milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.

Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma banyak ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.

Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang halal dinikmati (ups!) Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,

“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh 10-12)

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

 Wallahualam bishowab…

My Room, 02 May 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

4 thoughts on “Nikah dini banyak Problema…???

  1. Asslamualaikum sebulumnya salam kenal… sebenerny nikah muda juga tidak ada masalah asalakan sudah siap lahir dan batin.. namun apakah ukhti sudah menikah…

  2. hehe
    menurut ana
    nikah usia muda lbh bagus coz anak2 dapat didik dng benar, didampingi dan dibimbing sebagai teman hal yg sulit jika menikah dah senja
    apalagi tentang nafkah keluarga
    klw nikah usia tua anak mau kuliah, ortu dah gak kuatr kerja sering sakit2an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s