Menjaga Keistiqomahan dalam Dunia Kerja…

Bismillahirrahmanirrahim

Semoga keistiqomahan senantiasa menghiasi para prajurit-Nya di jalan ini. Amin ya Rabb….

Sebuah serangkaian kata ini akan ku coba himpun dalam sebuah lingkaran kasih sayang untuk mu wahai saudara/i ku. Jika sebuah karet yang notabene bersifat elastis, saat ditarik lebih panjang dan jauh lebih panjang lama kelamaan akan putus juga. Oleh karena itu maka janganlah kau menariknya terlalu jauh, karena jika sudah putus akan sulit bahkan teramat sulit untuk menyatukannya lagi. Sama halnya dengan keimanan kita, jika terlalu lama diri ini dibiarkan jauh dari tempatnya semula, maka tak segan-segan Allah memutus rahmatnya dari kita, Na’udzubillah…

Aku ingat bagaimana seorang ukhti pernah mengatakannya pada ku,

“Jika kau ingin mengetahui kefuturan dalam diri mu maka lihatlah ibadah yang kau lakukan. Jika sudah dengan ringannya kau tinggalkan Ibadah-ibadah sunnah mu maka sebenarnya dirimu sedang mengalami kefuturan itu. Jika kau biarkan terlalu lama maka ibadah wajib seperti shalat perlahan akan kau ulur waktunya. Hingga akhirnya itu semua kau jalankan hanya sekedar untuk menggugurkan sebuah kewajiban saja. Kemudian perlahan terkikislah prinsip-prinsip syari’at yang dulu pernah terpatri dalam hati mu. Dan seterusnya….”

Astaghfirullah…

Dulu…mungkin ketika kita berada dalam sebuah tempat yang disebut Syurga Dakwah, mungkin hal itu tidak sama sekali terlintas dalam benak kita. bahkan sepertinya “Tidak Mungkin”akan menjadi seperti itu. Namun, ketika dunia itu kini berbalik 180 derajat, kata-kata itu mampu menjadi sebuah pembenaran bahwa sebuah keistiqomahan memang memerlukan perjuangan. Itulah Dunia Kerja yang katanya menuntut ke-professional-an dalam kesehariannya. Sebuah dunia yang mampu menciptakan alasan-alasan baru untuk membela kemalasan kita untuk melakukan sebuah proses tarbiyah dalam diri atau alas an-alasan untuk memaklumi sebuah kewajiban yang telah kita ketahui dan pahami.

Oleh karena itu, berhati-hatilah untuk memasuki dunia itu (Dunia Kerja). Sebuah dunia yang sangat menuntut keistiqomahan. Karena leistiqomahan tidak akan kita dapatkan jika tidak diperjuangkan. Ingatlah bahwa kita adalah Da’i sebelum segala sesuatu, bahkan sebelum kita bekerja. Karena, dakwah tidak pernah membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkannya.

Mungkin hanya sekedar sharing mengenai apa saja yang perlu diperhatikan oleh kita ketika akan masuk kedalamnya untuk tetap menjaga keistiqomahan itu. Yang nulis juga masih banyak yang perlu diperbaiki, namun hal ini bukan berarti saya tidak boleh mengingatkan kan??? Karena saling mengingatkan dalam kebaikan itu harus. Karena, bila kita sudah memiliki niat maka Allah akan memudahkan jalannya….InsyaAllah…Semoga sharing ini bermanfaat. Langsung aja ya….

  • Upayakan Shalat tepat waktu…baik shalat dzuhur atau ashar. Biasanya yang agak susah shalat asharnya, beberapa alasannya bisa disebabkan oleh kerjaan yang urgent, deadline atau “lagi nanggung”. Saya pernah membaca sebuah artikel bagus, intinya adalah “kita seharusnya menunggu waktu shalat sambil mengisinya dengan bekerja.”.  Dalam konteks kalimat ini shalat akan tetap menjadi prioritas utama dalam hidup. Kalau pekerjaan aja gak selesai kita khawatir dimarahin atasan, apa kita tidak lebih takut lagi kalau Allah marah karena kita lebih menakuti makhluk-Nya bukan Dirinya. Na’udzubillah…Ingatlah, bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab sebelum amalan yang lain. Dan jika yang wajib sudah dilakukan, tetap upayakan yang sunnah nya juga. Untuk lebih menyempurnakannya.

“Amal yang kali pertama dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya. Bila shalatnya sempurna, maka akan dituliskan pahalanya dengan sempurna. Bila belum sempurna, maka Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah apakah kalian mendapatkan hamba-Ku itu mengerjakan shalat tathawwu’ sehingga dengannya kalian menyempurnakan shalat wajibnya?’ Demikian juga dengan zakatnya, kemudian baru amal perbuatan lain dihisab menurut ukuran tersebut.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Jadi ingat juga dari sebuah artikel yang menyatakan jika shalat seharusnya menjadi tempat istirahatnya seorang muslim dalam lelahnya.

 

  • Shalat Duha. Jika udah masuk jam kerja kita sulit meluangkan waktu untuk shalat, maka kita bisa lakukan sebelumnya. Misal kalau kerjanya masuk jam 08.00, nah shalat duha bisa kita lakukan sebelum jam masuk kerja (jam 8). Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam.

“Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga”(H.R. Tarmidzi dan Ibnu Majah)

  • Membaca Al-Matsurat. Kalau saya biasanya ketika dalam perjalanan menuju dan pulang kantor.
  • Shaum sunnah. Apa saja boleh, bisa Senin-Kamis, Ayyamul Biidh atau lainnya. Tidak perlu mengeluh cape atau khawatir lelah dan tidak sanggup. InsyaAllah itu tergantung paradigma kita sendiri. Kalau dulu waktu dikampus saja bisa, pasti sekarang juga bisa. Karena sama-sama beraktivitas, bedanya kalau dulu aktivitasnya kuliah dan syuting a.k.a Syuro Penting nah sekarang ya kerja.kecuali kalau alasannya sakit ya…
  • Tilawah Al-Quran. Kalau waktu istirahat kita 1 jam, maka sempat kok 15 menit kita gunakan untuk tilawah setelah 20 menit digunakan untuk makan siang dan 15 menit digunakan untuk shalat. Kalau dihitung-hitung 15 menit itu kita bisa dapet 2 lembar/ 4 halaman dan ini sudah membacanya dengan tartil lho.
  • Tidak berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya. Hal ini bukan berarti kita tidak professional ya. Profesionalisme itu kan bukan melalui hal itu, tapi lebih kepada bagaimana cara kita bekerja. Pun itu kepada atasan kita. Hal ini sangat penting sekali dan semoga bukan lagi menjadi hal dilematis ketika kita dihadapkan oleh yang demikian. Dalam bekerja saya sendiri sering bertemu dengan banyak orang dari luar yang merupakan rekanan dari tempat saya bekerja. Biasaya saya siasati dengan lebih dulu menunjukkan diri dengan menyatukan kedua tangan saya sebelum mereka mngulurkan tangannya, sambil tersenyum dengan kepala sedikit menunduk ke arah mereka. Krena menurut saya hal demikian pun sudah menunjukkan rasa hormat saya pada mereka dengan tidak harus berjabat tangan.

 

Telah berkata ‘Aisyah:
“Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. ath-Thabrani].


  • Ini yang terakhir bisa dilakukan disaat hari kerja, yaitu Muraja’ah/ Hafalan. Alhamdulillah, sekarang ini menjadi salah satu program saya, dan Alhamdulillah ada partnernya untuk melakukan itu dikantor. Kalau tidak sempat setiap hari, saya biasanya mentargetkan ini minimal 3 kali dalam 5 hari kerja. Tidak perlu banyak-banyak, semampunya saja, paling tidak ini bisa menjadi motivasi kita dalam menambah hafalan atau mempertahankannya. Gak perlu lama-lama, kalau saya 10 menit cukup. Masing-masing 5 menit untuk cek hafalan. Ini adalah sebuah cara unuk menjadi keluarga Allah kelak di syurga….Amin. Karena itu adalah salah satu keutamaan penghafal Al-Quran.

Sabda Rasulullah s.a.w: “Dari Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “Yaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.


Semoga sharing diatas bisa bermanfaat…Amin..

Keep Istiqomah….

Bogor, 13 Februari 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

4 thoughts on “Menjaga Keistiqomahan dalam Dunia Kerja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s