Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 5….The end Of The Story)

Sore itu setelah jam kerja selesai nisa dan rini tidak langsung pulang. Mereka beranjak dari ruangan menuju mushola yang sore itu pasti sepi dari hiruk pikuk karyawan lain. Di area tempat shalat wanita mereka kembali berbincang yang letaknya memang terpisah dari area shalat laki-laki

”krek…” suara pintu mushola terbuka

Rini menyalakan kipas angin, kebetulan sore itu udara tidak sedingin biasanya. Mereka mengambil posisi tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol.

”Sini aja rin. Biar bisa senderan” usul nisa

”Oh iya…”

Sambil menyelonjorkan kedua kakinya rini bertanya

”Jadi???gimana nis?”

”He….aku kok cengeng banget ya ngadepin hal kayak gini.”

”Ya…namanya juga wanita, lembuut banget perasaannya.Hmm…klo aku jadi kamu sih belum tentu bisa melakukan hal ini.”

”ah…apa maksudnya rin?”

”Ya….perasaan kamu takut menzdolimi Ari itu lho.”

”Oh….”

”Lanjutin ceritanya sampe maghrib ya kita disini. Udah lebih tenang kan?”

”Alhamdulillah sudah…ya begitulah, aku bingung. Aku udah shalat istikharah beberapa kali. Tapi jawabannya belum terlihat juga.”

”Hmmm….mungkin itu karena kamu sudah cenderung ke arman. Kan kalau istikharah perasaan kita harus netral.”

”Iya, Mungkin….”

”Selain itu rin…aku sebenarnya juga bertanya-tanya apa Arman juga merasa seperti ini ya? Aku gak pernah merasa se ge-er ini rin sama seorang ikhwan.”

”Eh…kok bisa-bisa nya kamu bilang ge-er. Kalau kamu ge-er, berarti ini pertama kali nya kamu ge-er. Nis… kalo menurutku menurutku sifat arman juga ada yang salah, karena aku tahu kamu gak pernah seperti ini sebelumnya.”

”Begitu ya??”

”Iya, aku kenal banget sama kamu. Aku rasa memang ada yang salah dengan kalian berdua.”

”………………………………” nisa terdiam

”Walau begitu Nis…aku yakin, Arman itu ikhwan yang sangat paham. Kalau dia memiliki perasaan yang sama dengan mu saat ini, suatu hari dia akan mengatakannya pada mu sesuai dengan syariat.”

”Iya rin, kamu benar.” nisa mengangguk

” Kamu jangan bosen ya berdoa sama Allah.”

”InsyaAllah, tapi rin posisi ku saat ini???….aku… aku hanya bisa berdoa, tidak lebih dari itu rin, karena aku bukanlah bunda khadijah. ”

”Nis…malam ini kamu istikharah lagi ya dengan perasaan lebih netral. InsyaAllah segera jawaban itu akan ada”

Nisa mengangguk…

”Nah, kamu pun perlu tahu Ari seperti apa? Kamu kan belum tahu banyak informasi tentang Ari. Gak ada salahnya kamu cari informasi tentang dia, mungkin nanti akan ada kecendrungan yang mengimbangi perasaan kamu terhadap arman”

”Iya…aku sudah siapkan sms untuknya. Tinggal di send aja. Ini isi nya, nisa menyodorkan Hp nya pada rini.

Assalamu’alaykum.Mhn maaf mas Ari sy baru mmbls smsny.InsyaAllah,ke dpnnya kita prlu cr yg lbh baik utk brkomunikasi.Sblmnya,sy sdh mndngr niat baik mas ari thd sy. Sy hanya ingin meminta konfirmasi scr lgsung.

”Hmmm….kirim aja nis.”

”iya aku kirim”

Sent

Sms itupun akhirnya dikirim oleh nisa. Semakin sore, udara berubah menjadi lebih dingin dengan hembusan angin yang semakin sejuk. Mereka berdua pun melanjutkan kembali perbincangannya.

”Oia…nis, aku ingat. Walaupun aku tidak mengenal Arman tapi aku punya teman, dia ikhwan. InsyaAllah amanah, didi setiawan namanya. Kami sama-sama ADS. Hmmm….ini hanya saran ku aja ya.”

”Didi?? Didi Setiawan??? Oh, kami juga satu kepanitian di halal bi halal kemarin, Didi itu seksi logistik. Kalau tidak salah dia memang ADS. Trus apa hubungannya sama dia? maksud kamu apa rin???” nisa bingung, matanya memandang rini penuh dengan segala tanya.

”Iya nis, didi setiawan. Aku sering melihat Arman berkunjung ke rumah didi, kebetulan rumah kami dekat. Aku baru tahu belakangan kalau orang yang sering main ke rumahnya itu Arman dan memang satu kepanitiaan di halal bi halal kemarin. Ini sih usul aja. kalau kamu mau ya…niatkan semua karena Allah.”

”Apa sih maksud kamu rin?” nisa semakin bingung

”Begini…walau aku bukan kamu. Tapi kita sudah lama saling mengenal, aku mengerti perasaan mu saat ini. Kalau kamu gak keberatan, tidak ada salahnya kamu memulai lebih dulu.”

”Aku gak ngerti rin….” nisa mengernyitkan dahinya.

”Aku yakin kalaupun kamu siap menikah dalam waktu dekat, sebenarnya kamu lebih siap mendampingi arman kan?nis…cinta karena Allah itu perlu diperjuangkan.”

”Maksud kamu….aku yang mengajukan diriku pada Arman.????? Rini…itu gak mungkin. Aku gak bisa”

”Ini hanya saran ku yaa…kamu nanti malam memintalah pada Allah melalui shalat istikharah untuk memilih diantara keduanya. Lanjutkan dengan shalat hajat untuk meminta kesiapan diri memenui sunnah rasu-Nya. Kemudian…ikhtiarkan apa yang kamu bisa.”

”Lalu???”

”Kalau kamu gak keberatan aku bisa tanyakan ke didi untuk menanyakan mengenai planningnya arman untuk menikah dan tanggapannya mengenai kamu, nanti dua pembahasan ini akan saling dikaitkan. Begitulah kira-kira…nanti biar aku yang atur. Kalau sudah jelas, aku akan bantu hingga ke Murabbi. Bagaimana???”

”hehehe. Becanda kamu ah rin” nisa membalas usul rini dengan senyum

”Serius nis. Gimana?”

”Hmmm….begitu ya. Aku gak bisa kasih jawabannya sekarang. InsyaAllah besok aku kasih jawabnnya.”

Tak lama kemudian suara adzan terdengar merdu ditelinga mereka berdua. Dengan segera mereka kembali menunaikan kewajibannya…

***

Dalam perjalanan pulang, nisa terpikirkan apa yang diucapkan rini sore itu. Hati dan pikirannya saling berperang satu sama lain, sulit didamaikan. Satu sisi ada keinginan untuk menerima usulan rini, namun disisi lain nisa tidak merasa mantab dengan itu. Perjalanan menuju rumahnya masih sekitar 30 menit lagi. Dalam riuh pikirannya, tiba-tiba nada sms Hpnya berbunyi…dengan perlahan nisa mencari Hp dalam tasnya. Dan melihat sms yang tertera di display HP nya itu yang  tertera nama Ari. Kali ini nisa lebih tenang membuka pesan itu.

Wa’alaikumsalam. Iya tidak apa-apa. Mungkin memang nisa sudah mendengar niat baik saya pada nisa dari kerabat saya. Memang benar, jika nisa tidak berkeberatan. Sy mngrti klo ini semua prlu proses slg mngenal satu sm lain. Dan jk nisa berkenan mnjalani proses itu, sy merasa tersanjung sekali.

Nisa terdiam setelah membaca isi sms itu. Pertanyaan dan pernyataan terus saja datang silih berganti dalam benaknya.

”Kata-kata nya santun, sopan. Ya Allah….Aku merasa sangat diihargai dengan sikapnya terhadap ku.”

Perlahan nisa mencoba membalas pesan Ari…berkali-kali nisa salah menyusun kalimat smsnya untuk tetap menjaga kenetralan hati Ari yang akan membacanya. Namun, nisa ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang ari. Nisa berpikir tentang 2 pertanyaan yang akan di ajukan olehnya. Nisa berkesimpulan, 2 pertanyaan ini akan cukup menggambarkan karakternya sebelum lusa nisa berkonsultasi kembali dengan Murabbinya.

Kalau begitu, mhn maaf sblmnya. Sy ingin mmngajukn bbrp prtnyaan, jk tdk kebertn silakan dijwb, namun jk brkeberatan tdk apa-apa tidak perlu dijwb. 1. Knp mas ari mrasa mntap akn mnjlani proses ini dg sya, pdhl mas blm mngenal sm skli sya siapa. 2. Siapa yang paling dicintai saat ini.. Terima kasih.

Tidak lama kemudian nisa tiba di gang rumahnya, setelah 5 menit berjalan masuk dari depan gang rumahnya akhirnya nisa sampai didepan pintu rumahnya. Setelah masuk ke dalam rumah dan membersihkan dirinya kemudian melaksanakan shalat isya nisa mendengar kembali HP nya berdering tiga kali. Dilihat display Hpnya kemudian nisa membuka sms itu satu persatu. Sms yang pertama ternyata dari Arman…nisa menarik nafasnya cukup panjang sambil membaca sms yang berisi.

Assalamu’alaykum. Ukh, ingin mengingatkan hari ahad ada rapat evaluasi kepanitian. Dimohon kehadirannya / konfirmasi bila tidak bisa hadir. Syukrn.

Setelah membaca sms itu rasanya nisa tidak ingin hadir di agenda yang hampir dilupakannya itu. Kemudian, nisa melanjutkan membaca sms ke duanya, kali ini Ari telah mengirimkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh nisa.

Saya akan menjawab pertanyaan nisa sesuai dengan diri saya sendiri. Pertama, kenapa saya yakin akan melakukan proses ini, karena saya yakin nisa adalah wanita baik-baik. Saya juga ingin menjlani proses ini baik-baik. Biidznillah bila Allah mengizinkan semua bisa terjadi. Namun, apapun ketetapan Allah nanti saya akan menerimanya. Kedua, yang paling saya cintai saat ini adalah Allah, walaupun saya sering merasa malu pada Allah karena sring sekali membuat dosa dan bermaksiat pada-Nya. Tapi, saya akan terus berusaha untuk memperbaiki diri dihadapan-Nya…demikian jawaban saya, semoga nisa bisa mengerti.

Nisa kembali menarik nafas sangaaaat dalam setelah membaca sms ini, tanpa disadarinya air matanya mengalir. Dengan segera nisa membalas sms yang dikirimkan oleh Ari.

Terima kasih atas jawabannya….

Sudah kembali ditekadkan dengan bulat nisa kembali siap menghadap Tuhannya malam itu. Dipersiapkannya dengan baik, agar malam itu benar-benar sebuah kekhusyu’an akan diperolehnya.

Setelah sepertiga malam datang menghampirinya, nisa terbangun dengan sendirinya tanpa ada sebuah rasa kantuk yang menggelayut di kelopak matanya. Dengan tenang nisa kembali menghabiskan waktu dengan Tuhannya, berbincang dan memohon sebuah jalan keluar untuk masalah yang tengah dihadapi olehnya.

1 jam telah berlalu, nisa masih mengantuk rupanya. Nisa tertidur di atas sajadah birunya masih dalam balutan mukena yang digunakannya. Saat adzan subuh terdengar nisa terbangun dan kembali mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat subuh. Tiba-tiba setelah melaksanankan shalat subuh ada sebuah perasaan dalam hatinya untuk menerima saran yang diberikan oleh Rini. Entah ada kecendrungan seperti apa dalam hati nya hingga pada akhirnya nisa menerima saran dari sahabatnya itu. Pikirnya, ”Tak ada yang salah ketika memang ini harus diperjuangkan, toh aku bukan menginginkan sesuatu yang salah atau tidak sesuai dengan syari’at.” Kemudian, setelah dirinya bertilawah segera diraihnya HP kesayangannya itu, dicarinya dalam list phone book nomor Rini..ditekan olehnya Call.

”Assalamu’alaykum…” terdengar suara dari sebrang

”Wa’alaykumsalam” jawab nisa

”Eh nis…ada apa telp pagi-pagi??”

”Enggak rin…begini, aku mau ngomong masalah yang kemarin.”

”yang mana?”

”Masalah saran yang kamu bilang pada ku kemarin.”

”Oh itu…serius nis????”

”iya insyaAllah….aku serius.”

”Sebentar-sebentar…kok kamu jadi menerima saran ku? Padahal kemarin ragu banget kayaknya…apa alasannya?”

”Bukan apa-apa rin, pagi ini aku merasa mantap untuk menerima saran mu itu, entah perasaan dari mana. Bismillah saja…semua karena Allah dan akan ku serahkan pada Allah.”

”Kalau kamu bener-bener yakin, aku akan sampaikan ini ke didi. Hari ini aku ada syuro ADS.”tanya rini sekali lagi untuk benar-benar meyakinkannya

”Iya rin, InsyaAllah…aku harus bilang apa lagi? Sudah ku bilang kan…Semua sudah ku serahkan pada Allah. Semoga ini bisa menjadi salah satu jalan keluar atas perasaan yang ku rasakan.”

”Baiklah kalau kamu sudah yakin.”

”Aku sudah mmempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi. Mohon doanya juga rin.”

”Baik, InsyaAllah…semoga diberikan yang terbaik, Amin”

”Amin, Jazakillah ya ukh.”

”Afwan…”

***

Tak terasa waktu cepat sekali berputar hingga malam kembali menyapa. Ba’da shalat maghrib nisa menyibukkan dirinya untuk hafalan yang akan disetorkan esok hari kepada Murabbinya. Beberapa saat ketika nisa sedang muroja’ah ayat-ayat yang dihafal sebelumnya terdengar suara orang diluar pintu rumahnya mengucapkan salam.

”Assalamu’laykum…”

Merasa tidak asing dengan suara itu nisa bergegas keluar sambil menjawab salamnya

”Wa’alaykumsalam…”

Perlahan dibuka pintu rumahnya, terlihat sosok seorang ukhti berjilbab biru dongker beserta kaos lengan panjang putih dan rok yang senada dengan jilbabnya berdiri didepan pagar rumahnya. Di sapanya akhwat itu…

”Hey rin…ada apa malem-malem kesini, jauh kan dari rumah.”

”Ah, enggak. Mau mampir sebentar.” sambil membuka pintu pagar rumah nisa

”Sini masuk rin…”

”Iya…”

Mereka berdua pada akhirnya duduk santai di teras rumah nisa diatas kursi yang berjumlah 2 yang mengapit meja berbentuk lingkaran. Dengan tenang nisa bertanya pada rini…”Rin, kamu pasti kesini karena ada yang ingin disampaikan kan terkait pembicaraan kita pagi ini.”

”Hmm….iya nis. Tadi pagi setelah syuro ADS, aku sudah sampaikan pada Didi mengenai hal yang sudah kita bicarakan. Dan kebetulan ternyata siang itu,ba’da dzuhur didi memang ada janji bertemu dengan Arman. Akhirnya didi pun menyampaikan semua pada Arman. Arman pun sudah menjawab semua pertanyaan dan menanggapi pernytaan yang disampaikan didi. Kemudian sore tadi ba’da ashar kebetulan kami bertemu kembali dimasjid, dan didi sudah menyampaikan semuanya pada ku”

”Hmmm…” tanggap nisa dengan tenang

”Hmm…jadi…”

”Jadi, sudah ada jawabannya kan??”tanya nisa

”sudah…”jawab rini.

”Silakan disampaikan rin…”pinta nisa

”Hmm…apapun yang akan aku sampaikan???”

”Iya…aku kan sudah berkali-kali mengatakannya rin, aku hanya ingin semuanya jelas untuk hati ku. Tak ada yang salah dengan niat ku… aku hanya ingin tidak ada lagi kekhawatiran ataupun kegelisahan dalam hati ini. Sudah lelah rin dalam kondisi seperti itu, aku akan berdamai dengan takdirnya saat ini. Aku akan menerima apapun yang menjadi ketetapan-Nya untuk ku…”

”Baiklah nis…akan ku sampaikan. ” Rini menghela nafas cukup panjang sebelum menyampaikan apa yang didengarnya dari didi tadi sore. Setelah dirasa cukup rini kembali melanjutkan kalimatnya…dan nisa dengan teduh memandang rini, sebuah tanda jiwanya lebih tenang malam itu

”Bagini nis…yang akan aku sampaikan benar-benar memperjelas semua. Jika Ari yang terbaik untuk mu, maka pilihlah dia.Hmm…saat ini arman masih belum siap menikah. Oleh karena itu, dia tidak ingin membahas masalah ini terlalu jauh. Dia juga berbicara mengenai sosok mu dengan penilaian positif, namun belum ada keinginan dalam hatinnya untuk menggenapkan separuh imannya itu. Dan…InsyaAllah didi amanah akan masalah ini”

”Hmm….ya, tidak masalah rin. Ini lebih baik untuk ku. Aku yakin skenario-Nya jauh lebih indah. Toh yang terbaik bagi kita belum tentu yang terbaik bagi Allah. Apapun ketetapan-Nya akan ku terima, Dialah yang paling berhak atas ku.” matanya menatap ke langit memandangi bintang-bintang yang saat itu terlihat begitu bercahaya.

”Aku mengerti perasaan mu nis…”

”Makasih ya…untuk semua bantuannya. Maaf jadi merepotkan rin.”

”Ah…siapa yang direpotkan. Enggak kok” jawab rini dengan senyum…

”Malam ini masih ada 1 hal lagi yang harus ku selesaikan, meminta petunjuk untuk Ari.” dengan mata yang masih menatap pada kilauan cahaya bintang.

”Lakukan tugas mu nis, aku akan mendukung apa yang menjadi keputusan mu, yang penting sudah dikonsultasikan ke Allah ya….” rini tersenyum…

Nisa pun membalas senyumnya…”iya semua, pantang bagi ku rin mengambil keputusan tampa melibatkan Allah. Karena semua berjalan atas kehendak-Nya…”

”Baiklah…amanah sudah ku sampaikan. Aku pulang dulu ya nis…khawatir kemaleman samapi rumah.”

”Oh iya iya….maaf jadi terlalu lama ngobrolnya.”

”Enggak kok, eh…besok kan ada rapat evaluasi kegiatan Halal bi Halal ya nis. Mau hadir?”

Dengan tenang dan santai nisa menjawab ”Enggak….”

”Lho??kok enggak…” Rini terkejut

Nisa pun menjelaskan alasannya ”Saat ini aku tidak ingin bertemu dengan Arman dulu rin. Semua hasil evaluasi dari ku akan ku sampaikan ke akhwat yang lain untuk disampaikan besok. Itu kan yang penting rin. Semua perlu proses rin, tidak bisa terburu-buru.”

”Oh…ya…aku paham. Baiklah aku pulang dulu nis. Assalamu’alaykum…”

”Wa’alaykumsalam. Ati-ati dijalan rin” sambil mencium pipi kanan dan kiri rini

”Iya…”

Malam itu nisa kembali mengambil sebuah hikmah dalam salah satu episode hidupnya. Sebuah ketenangan yang selama beberapa minggu ini tidak dirasakannya seolah hadir kembali malam itu. Satu hal lagi yang harus segera diselesaikan olehnya, nisa kembali harus menemui Rabb nya untuk kembali menceritakan apa yang dialaminya dan dirasakannya. Kini….nisa akan berdamai dengan takdir-Nya untuk menerima apapun yang menjadi pilihan-Nya untuk nya.

***

Setelah malam itu dialog antar seorang hamba dan Rabb nya terjadi, kembali nisa tertidur di atas sajadahnya. Dalam tidurnya nisa bermimpi dirinya bertemu dengan sosok seorang ikhwan yang menyebut dirinya bernama Ari. Dalam mimpinya tidak ada sebuah dialog panjang, sosok ikhwan itu mengenalkan namanya dan memberikan secarik kertas untuk nisa kemudian pergi meninggalkan nisa. Setelah sosok itu menghilang, nisa membuka lipatan kertas yang diberikan untuknya dan ternyata sebuah huruf kapital terangkai membentuk sebuah kalimat. Nisa membacanya dengan seksama…

KAU PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK

Nisa bangun tersentak dari tidurnya…kaget luar biasa, dan tersadar dari mimpinya. Pelan dia mencoba kembali mengingat tulisan yang berada pada secarik kertas itu. Muncul sebuah pertanyaan dalam benaknya…”Apa ini jawaban dari permintaan dan pertanyaan ku ya Allah?”…

Masih dalam kebingungan hati…nisa mencoba kembali mencerna maksud mimpinya itu. Butuh waktu beberapa saat hingga akhirnya nisa menyimpulkan ini adalah jawaban dari semua.

Setelah dirinya merasa mantap akan kesimpulan mimpinya yang singgah malam itu, Pukul 06.30 nisa menekan keypad Hpnya dan mengirimkan pesan yang berisi…

Assalamu’alaykum. Mas Ari, mohon maaf sebelumnya. Saya ingin menyampaikan sesuatu hal. Dari hasil istikharah saya selama beberapa hari, saya tidak bisa melanjutkan proses ini. Mohon maaf bila ada kata-kata yg krg brkenan & Mhn dibukakan pintu maaf seluas-luasnya.Jazakallah khoir

Satu jam kemudian sebuah balasan nisa terima dari Ari…

Wlkmslm. Jika itu sdh mnjd kputusan nisa dg mantap, maka saya tdk akan memaksa apapun. Saya ingin mengucapkan terima kasih pada nisa beserta kelurga untuk penerimaannya yang cukup baik pada saya. Sy jg mhn maaf bl ada kesalahan yang saya lakukan.

Lega sekali rasanya nisa menerima sms itu. Tak menyangka ternyata Ari sangat lapang sekali menerima jawabannya…

Sejak itu, nisa kembali mencoba menyusun kembali puzzle-puzzle yang berserakan dalam hidupnya. Dia kembali memahami bahwa manusia hanya sekedar berusaha, namun Allah lah yang tetap menetapkan…Sebuah takdir yang terkadang tidak sama dengan yang diinginkan sering menimbulkan kontroversi dalam hati. Satu-satunya cara adalah dengan berusaha berdamai dengan Takdir-Nya dan ridho atas segala ketetapan-Nya…Karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah mentelantarkan hamba-Nya…

 

Bogor, 06 Februari 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Sebuah Kata Bermakna^

6 thoughts on “Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 5….The end Of The Story)

  1. kereeeeeeeeennnnnnnnn bangett,,,
    sampai berkaca-kaca membacany,,,

    indah sekali berbincang dengan Allah disaat sepertiga malam,,

    ya..
    mungkin kita harus bisa berdamai dengan takdir-Nya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s