Aku akan Berdamai dengan Takdirnya….(Part 4)

Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 12.00. Nisa dan Rini bergegas pergi ke kantin untuk makan siang. Kali ini mereka mengurangi jatah waktu makan siangnya menjadi hanya 15 menit. Secepat kilat setelah selesai makan, nisa dan rini melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk shalat berjamaah dimushola yang jaraknya tidak jauh dari kantin. Setelah selesai, pukul 12.30 keduanya beranjak naik ke ruangannya.

Dalam suasana hening siang itu, rini berusaha sekuat tenaga mendengarkan baik-baik dan memandang penuh cinta pada saudarinya hingga dirinya benar-benar merasakan apa yang dirasakan nisa. Dengan menggenggam erat talapak tangan nisa kini rini mulai menyampaikan sebuah pernyataan padanya.

”Ukh…silakan ceritakan apa yang terjadi pada hati mu. Aku tahu ini sangat sulit, tapi kamu harus bisa nis memilih dan melewati ini semua.”

Nisa masih saja tak bergeming, dia bingung dengan perasaannya sendiri.

”Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan. Aku tak memaksa kamu memulai dari mana, aku ingin kali ini kamu mengikuti apa kata hatimu nis.” Tatapan rini nampak semakin lembut dan begitu dalam

”Hmmm…” kali ini suaranya mulai terdengar.

”Iya….aku bingung rin harus mulai dari mana.”

”Aku tak memaksamu kalau memang ini sulit untuk diceritakan.”

”Bukan…bukan begitu maksud ku, aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Hmm…baiklah….”

”hufft” Nisa menghela nafas cukup panjang.

Nisa pun memulai ceritanya….

”Semalam Ari sudah mengirimkan sms nya pada ku rin, sebenarnya…tidak ada hal yang aneh atau seperti apa. Tapi…setelah aku menerima sms itu…hmm…tiba-tiba ada perasaan bersalah dalam hati ku. Aku baru menyadari ada sosok lain dalam hati ku, bahkan malam itu nampak sangat jelas dalam benak ku. Aku tak pernah menyangka sosok nya begitu sangat berkesan bagi ku.” mata nya menatap rini begitu dalam

”…………………….” nisa terdiam sesaat dan rini tetap pada pandangannya

”Aku….bingung dengan perasaan ini. Iya….sosok itu….Arman” tiba-tiba wajahnya tertunduk

”Hmmmmf…” rini mengehela nafasnya

”Walau aku sudah memutuskan untuk tetap menjalani proses ini, karena Murabbi ku bilang kalau aku berhak mengetahui siapa Ari tapi tetap saja aku berat menjalaninya….”

Mata nisa kembali menatap rini…kini jauh lebih dalam

”Aku rasa tidak pernah ada yang salah dengan komunikasi ku dengan Arman, semua berjalan begitu saja rin. Pertemuan kami pun tidak disengaja….Hmm…ternyata waktu 4 bulan itu sangat berkesan rin bagiku rin. Komunikasi kami pun hanya sebatas keperluan kepanitian saja..” aura wajahnya sendu…

”……………….”

”silakan dilanjutkan nis”

”Namun sebagai wanita biasa, akupun memiliki kelemahan itu. Saat ada perhatian-perhatian kecil yang diberikan olehnya aku merasa ada sesuatu yang terjadi dihati ku. Aku sudah berusaha menepisnya jauh-jauh. Padahal aku tahu hal itu juga bisa saja dilakukannya pada akhwat lain. Seperti meminjamkan payungnya saat hujan, mengatakan hati-hati ukh saat kondisinya memang sesuai atau hal yang lainnya rin….”

”Dan….akhir-akhir ini setelah acara itu selesai, masih saja ada beberapa hal yang aku harus urus dengannya. Aku ingin menghindar rin rasanya. Dan….rin…ini yang tidak ku mengerti…Saat beberapa kali tidak sengaja mata kami bertemu, terlihat ada yang berbeda dengan caranya memandang ku. Beberapa akhwat panitia lain pun merasa ada yang berbeda dengan caranya berkomunikasi dengan ku, menurut mereka caranya menyampaikan sesuatu tidak sedingin terhadap mereka.” Perlahan air matanya mulai menetes…

Rini tetap memandang wajah saudarinya dengan tenang, bola matanya tak bergeser sedikitpun dari wajah nisa.

”Awalnya aku tidak merasa terjadi apa-apa….namun ketika sosok Ari datang, aku baru merasakan kalau sosok arman sudah terekam dalam otak bawah sadar ku. Aku baru menyadari arman sudah menyentuh titik terlemah ku.Hmm….Dan ketika akhwat lainpun bisa menilai Arman demikian. Itu membuatku semakin merasa bersalah…Astaghfirullah”

”Nis…..apa yang kamu rasa sekarang?”

”Entahlah….aku bingung” Air mata itu masih saja mengalir….

”Nis…kamu tenang ya. aku yakin kamu kuat nis…Hmm…kita lanjutkan setelah pulang kerja gak papa kan…Sebentar lagi Mas Rian pasti dateng.” rini mengusap dengan tissue nya air mata nisa…

Nisa hanya mengangguk….

Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum mas rian dan atasannya datang ke ruangan. Kemudian Nisa pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang terlihat pucat…

Bersambung….

Bogor, 02 Februari 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

6 thoughts on “Aku akan Berdamai dengan Takdirnya….(Part 4)

    • salam kenal jg mba….iya, cerita ini bersambung dari Part sebelumnya 1, 2 dan 3. Postingannya sudah ada sebelumnya kalu mau baca. dan cerita ini belum selesai, jd masih ada part selanjutnya…InsyaAllah nanti saya mampir….

  1. Ping-balik: Aku Akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 3) « Khoirunnas Anfauhum Linnas

  2. Ping-balik: Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 5….The end Of The Story) « Khoirunnas Anfauhum Linnas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s