Aku Akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 3)

Pagi itu perasaan nisa penuh kebimbangan. Perasaan yang semakin jenuh dalam benaknya. Nisa ingin kembali menikmati harinya dengan normal seperti biasa, seperti saat dulu sebelum hal ini terjadi padanya. Kini….pandangannya kosong menatap sendok yang dimainkannya berputar diatas piring….

”Nis….kok ngelamun??”

”Eh…iya bund…enggak kok.” kepalanya mendengak

”Enggak gimana? Itu sarapan kamu gak habis-habis dari tadi.”

”Oh…ini…hmm…ini bund. Tiba-tiba gak selera makan.”

”Akhir-akhir ini jadi sering ya kamu gak selera makan….oh iya nis,gimana ari udah sms kamu belum nis?” Tanya sang bunda pada nisa dengan tatapan penuh harap sebuah jawaban

”Bunda perasaan setiap hari nanyain itu terus….”

”habisnya bunda penasaran juga, kenapa dia belum sms sms kamu.”

”Hmmm….udah bund sebenernya, baru semalem kok.”

”Oh sudah ya ternyata, kok kamu gak bilang sih?”

”Buat apa bilang bund, belum ngobrol apa-apa kok.Lagi pula kemarin nisa banyak kerjaan dikantor, cape bund. Jadi gak lama habis shalat isya tidur deh trus gak sempet ngobrol sama bunda.” matanya tetap menghadap nasi goreng yang ada dihadapannya

”Oh begitu…untung bunda tanya lagi ya ke kamu hari ini.”

”Eh…tapi bunda jangan tanya lagi ya kelanjutannya atau isi sms nya gimana. Biar nisa ambil kesimpulan dulu Ari itu orangnya seperti apa.”

”Hmm…kalau menurut bunda Ari itu dari keluarga baik-baik. Ibu nya saja Hafidzah dan sering ngisi majelis ta’lim ibu-ibu.”

”………” nisa hanya terdiam

”Dia itu sedang menyelesaikan skripsi kuliah S1 nya, tapi sudah bekerja kok dan memang sepertinya Ari sudah waktunya menikah karena usianya sudah 27 tahun”

”……….” nisa masih terdiam sambil memainkan sendok

” Oh ya…walaupun Ari atau Ibunya itu belum tahu kamu seperti apa, tapi Ibunya itu setuju banget loh kalau Ari itu jadi sama kamu.”

Nisa tersentak kaget ”Hah????apa bund? Kok bisa? Ketemu aja gak pernah. Aduuuuh… Bundaaaa….nisa itu bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa yang masih banyak bangeeeet kekurangan. Kok bisa-bisa nya yakin begitu?”

” Yaa….mungkin dari bude nya.bunda juga gak tahu bude nya cerita apa tentang kamu sampai bisa begitu tanggepan keluarganya”

Kepalanya kembali menunduk ”Ah bund….ngobrol aja gak pernah sama budenya. Paling kalau ketemu cuma nyapa biasa aja.”

”Yaa….klo bunda sih gak maksa tergantung kamu nis gimana nantinya.”

”Hmmm….nisa juga gak bisa langsung kasih keputusan ya bund. Masih harus konsultasi lagi sama Allah”

”kalau itu mah wajib nis…istikharah aja dulu.”

”Makasih ya bund.” nisa tersenyum

Tak lama setelah sarapan nisa bergegas berangkat, terburu-buru karena kali ini berangkat lebih siang dari biasanya.

Dalam hatinya nisa bersyukur karena bunda tidak memaksakan apa-apa padanya dan bertindak sangat demokratis sekali, apalagi yang menyangkut masa depannya.

***

Hembusan angin pagi itu sangat terasa hingga menyentuh lapisan epidermis kulitnya. Langit tidak secerah biasanya, sedikit terlihat kelabu. Nisa berusaha melawan dinginnya angin pagi itu. Jilbabnya yang panjang terus bergerak searah dengan arah angin. Tak jarang nisa memegangi erat jilbabnya yang selalu bergerak ke atas. Dalam perjalanannya Nisa beberapa kali berganti angkutan umum untuk menuju kantornya.

Setibanya dikantor

”krek…krek” terdengar suara pintu yang terbuka

”Assalamu’alaykum…” Senyum merekah dibibirnya….

”Wa’alaykumsalam…” terdengar suara orang berbondong-bondong menjawab salamnya.

Di dalam ruangan sudah terlihat lengkap anggota personil ruangannya,yaa…kecuali nisa yang saat itu baru saja datang. Sudah ada 3 rekan kerjanya dan 1 orang atasannya yang berada dalam ruangan terpisah. Mereka semua sudah berada didepan computer diatas meja kerjanya masing-masing.

“Macet nis ?” tanya salah seorang temannya

“Iya nih…kesiangan bangun tadi…hehe” jawabnya cengar-cengir sambil menuju ke arah meja kerjanya yang diapit oleh meja kerja rekannya Mas Rian dan Rini. Dengan segera nisa menyalakan komputernya. Dan tiba-tiba terdengar suara samar-samar

“gimana ukh cerita yang semalam?” tanya rini sambil berbisik

“oh itu…iya, nanti istirahat ku ceritakan” Jawab nisa dengan tenang

“Hayooo….pagi-pagi udah bisik-bisik” celetuk mas rian

“Ih…mas rian sirik aja nih, urusan perempuan nih” jawab rini sambil mengernyitkan dahinya

“Yaudah besok aku pake jilbab deh, biar tahu urusan perempuan.” Mas rian ngeledek

“hihihihi….” Nisa dan Rini tertawa geli

Tak berlama-lama mereka bertiga bercanda, kemudian ruangan hening karena mereka sudah terlelap dengan pekerjaan masing-masing.

Bogor, 02 Februari 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s