Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 1…)

Butiran-butiran air mata itu menetes dari pipinya. Terdiam, sendiri berusaha menjauhi hiruk pikuk kebisingan manusia disekitarnya. Malam itu dirinya memilih untuk berlama-lama menghabiskan malam dengan Tuhan nya. Tangis nya membuncah digelapnya malam, dia berusaha menarik perhatian Tuhan nya yang tidak pernah tidur, seperti anak kecil yang merengek-rengek saat meminta dibelikan mainan oleh orang tuanya. Kali ini dia menangis sejadi-jadinya, tangis yang disebabkan oleh alasan itu tak pernah dilakukannya sebelumnya. Ini adalah puncak dari segala kegalauan hati yang menyelimuti dirinya. Dia pun meminta, merengek pada Tuhan nya untuk segera diberikan petunjuk atas kebimbangan dan kekalutan hati yang menyerangnya seminggu ini. 2 rakaat berturut-turut ditegakkannya untuk menyiapkan dirinya berhadapan pada sang Ilahi, dilanjutkan kembali dengan 2 rakaat untuk meminta keikhlasan dan kelapangan hati, 2 rakaat lagi ditegakkannya untuk meminta petunjuk atas segala pilihan yang akan diambilnya nanti. 3 rakaat ditegakkannya untuk menutup dialognya dengan Tuhannya malam itu. Kekhusyukkan malam itu sangat dirasakan olehnya, dialog dengan Sang Maha Pencipta pun terjadi disana.

“Rabbi…aku hanyalah manusia biasa yang sangat lemah, aku tak ingin berbuat dzolim dengan makhluk Mu yang lain. Sungguh berilah aku petunjuk mu….”

1 jam sudah dia berdialog dengan sang Ilahi. Dengan air mata yang masih tersisa di kantung matanya dia mencoba lebih menenangkan diri dengan membaca surat cinta dari Allah yang dia yakini sebagai obat menenangkan hati nya yang sedang rapuh. Setengah jam sudah dihabiskannya. Kini ketenangan telah menggantikan kegalauan yang menyelimuti Qalbunya. Kini dirinya akan berusaha berdamai dengan takdir, apapun akan diterima dengan segala kelapangan dan keikhlasan hati.

***

Pagi itu nisa merasa lebih tenang untuk kembali menjalani aktivitasnya. Saat dirinya bercermin terlihat mata nya yang agak bengkak, segera dia mencari es batu dikulkas untuk mengompres matanya itu agar tidak terlihat bekas tangisannya semalam. Sebelum berangkat kerja, nisa selalu meluangkan waktunya untuk meneggakkan 2 rakaat.  Setelah selesai nisa mengerjakan shalat dan bersiap-siap menggunakan manset dan kaos kaki, sang bunda bertanya

“Nis, gimana Ari udah sms?”

Dengan menghela nafas cukup panjang nisa menjawab “belum bund”.

“Padahal udah seminggu ya sejak bunda kasih nomor Hp kamu sama Bude nya.”

Nisa terdiam dan tidak ingin menjawab pertanyaan yang setiap pagi ditanyakan oleh bundanya itu.

“Nanti coba bunda tanyain ke budenya.”

“Gak usah bund.” Celetuk nisa

“Kenapa???Tapi kalau emang kamu gak mau ya udah bunda gak bakal tanyain ke budenya.”

“Huff…alhamdulillah” gumamnya dalam hati

“Nisa berangkat dulu bund, Assalamu’alaykum” sambil mencium tangan sang bunda

“Wa’alaykumsalam.”

Dalam perjalanannya, pikiran itu bahkan tak mau beranjak dari pikirannya. Nisa berusaha tetap tenang menghadapinya, dia tidak ingin masalah-masalahnya mempengaruhi pekerjaannya dikantor.

Setiap hari terus saja tanda tanya itu menghiasi pikirannya.

“Apa yang dilihat dari ku??? Berbincang dengan ku saja tidak pernah apalagi mengetahui karakter dan sifat ku” nisa bertanya-tanya sendiri dengan dirinya….

“Sosok lelaki seperti apa Ari itu?Apa dia….apakah dia yang akan ku dampingi kelak???”

Nisa berusaha tetap terlihat biasa dikantor, bekerja seprofesional dan semaksimal mungkin meski pikirannya sulit sekali berdamai dengan hatinya.

Kali ini waktu istirahatnya digunakan untuk berpikir, merenung dan memupuk sedikit demi sedikit keikhlasan dalam hati untuk menerima apapun yang akan menjadi takdirnya. Kejadian seminggu lalu telah merubah hari-harinya menjadi tidak secerah biasanya. Sejak salah seorang tetangga jauh rumahnya datang menemui sang bunda untuk ber’itikad baik mengenalkan keponakannya untuk nisa, hati nya tak mampu dikendalikan. Nisa menyadari bahkan diri nya pun tak mampu mengendalikan hatinya, sungguh hanya Allah Sang Pembolak-balik hati.

Seminggu yang lalu sang bunda memberikan nomor handphone nisa pada Ibu gilang (bude nya Ari), karena menganggap untuk hal-hal seperti ini biarkan nisa yang akan memutuskan dan sang bunda akan menghargai apapun keputusan sang buah hati tercintanya. Sebenarnya, sudah satu bulan yang lalu sang bunda mengetahui bu gilang memiliki niat ini, namun baru seminggu yang lalu bude nya benar-benar datang kerumah untuk menyampaikan niat baiknya itu.

Lagi-lagi perasaannya bimbang memikirkan hal ini. Satu minggu setelah nomor handphone nya diberikan,  Ari belum menghubungi nisa. Nisa bersyukur akan hal ini, karena dia tidak ingin menjalani proses ini sebelum hati nya benar-benar merasa sanggup menjalaninya. Karena bagi nya ini bukanlah masalah menerima atau tidak menerima niatan baik itu, namun masih ada hal yang memberatkan hatinya. Dirinya tidak ingin sama sekali mendzolimi Ari karena sesungguhnya fitrah itu sudah datang lebih dulu kepada orang lain, seorang ikhwan yang sudah menyentuh hati nya jauh lebih dulu. Salah…memang nisa mengaku dirinya bersalah…namun, nisa tetap saja tak mampu menghindari rasa itu yang perlahan masuk dan menyelinap dalam ruang-ruang hati nya. Seseorang yang hadir bukan karena harta ataupun ketampannanya namun karena ibadahnya, sifat dan ketaatan pada Rabb nya itu yang mampu menyentuh titik terlemahnya.

Hanya kepada Allah dirinya berserah…nisa menyadari hanya Allah lah yang berhak atas dirinya, Dia yang telah menentukan dengan siapa yang akan ditemaninya untuk mengarungi hidup ini. Hanya karena Allah dan untuk Allah nisa berusaha menguatkan hatinya dalam mengambil segala keputusan itu.

“Jika memang proses ini harus ku jalani, maka bantu aku membersihkan hati ku wahai Ya Rahman…bantu aku kembali meluruskan niat ini hanya karena Mu untuk memenuhi sunnah kekasih-Mu. Aku tidak ingin mendzoliminya karena ketidaksungguhan ku menjalani ini.” Nisa kembali berdialog dengan Sang Ilahi….

 

Bersambung ke Part 2

30 Januari, 2011

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

6 thoughts on “Aku akan Berdamai dengan Takdir-Nya (Part 1…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s