Model Ibadah Dalam Islam….

Malam selalu menjadi sesuatu hal yang berarti…ketenangannya tidak dapat ditukar dengan uang, kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa sering ku temukan di dalamnya. Berdialog dengan-Nya tak jarang ku lakukan… ketenangan jiwa dan hati yang sungguh dalam dan damai…hmmm….luar biasa, subhanallah….

Malam ini, kembali ingin menulis untuk mengingat kembali salah satu ilmu yang pernah ku dapatkan, apa topiknya?topik nya mengenai model ibadah dalam islam.klo udah ada yang pernah denger atau tahu atau baca gak ada salahnya baca lagi tulisan ini….😀

Baiklah, kita lanjutkan….

Pada dasarnya adalah apapun yang kita lakukan haruslah diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah. Bukan untuk dilihat manusia, disangka orang sholeh/ah atau bahkan hanya untuk mencari perhatian orang lain…na’udzubillah….ngeri ya, klo niat kita masih belum lurus….Padahal segala sesuatu yang kita lakukan tergantung dari niatnya….

Hmm…klo begitu sebelum dilanjutkan,sebelum melakukan semua aktivitas yuuuuk kembali meluruskan niat-niat dalam hati kita…hanya karena Allah ya…

Alhamdulillah, insyaAllah sudah lurus kan….😀

Baiklah akan kita lanjutkan mengenai apa saja model ibadah dalam islam. silakan nanti dinilai sendiri masing-masing diri kita termasuk ke dalam yang mana….

Langsung aja…model ibadah dalam islam itu terdiri atas 3 bagian. Nah…model yang pertama, adalah….

1. Ghulu. Apa itu ghulu???ghulu dapat diartikan berlebih-lebihan.

Lebih spesifik??? *silakan lanjutkan membacanya….😀

Model ibadah seperti ini biasanya dialami oleh orang yang baru mengenal atau mempelajari islam lebih dalam. Biasanya juga semangatnya sangat menggebu-gebu. Saking semangatnya bisa-bisa melalaikan hak-hak yang lainnya nih, baik hak dirinya sendiri atau hak orang-orang disekitarnya, atau dapat dikatakan sering tidak memperhatikan aspek sosial. Sehingga menyebabkan diri tidak tawazun/ seimbang dalam menjalani hidup ini. Padahal kalau kita tahu, ciri-ciri orang yang tawazun adalah tidak berlebih-lebihan. Segala sesuatunya dilakukan sesuai dengan porsinya masing-masing.

Sebenarnya, orang-orang terdahulu pun telah melakukannya. Contohnya adalah Ibnu mas’ud yang tidak bisa membaca Al-Quran ketika sedang berpuasa. Atau Abu Hurairah yang tidak bisa menghafal hadist ketika sedang lapar. Beliau-beliau ini adalah contoh orang-orang yang tidak berlebihan dalam beribadah. Namun, bukan berarti beliau-beliau ini tidak berusaha mengoptimalkan diri ya…tentu setelah berbuka/ tidak lagi merasa lapar maka beliau berusaha akan menggantinya lebih.

Rasulullah pun pernah mengatakan “beribadahlah seperti apa yang aku lakukan.” Saat beribadah Rasul beribadah dan saat bekerja rasul bekerja tanpa memparsialkan satu sama lain. Sehingga jangan sampai diri kita melalaikan hak-hak manusiawi.

Coba kita cek Q.S An-nisa :171

“ Wahai ahli kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agama mu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar….”

Satu lagi Q.S Al-Ma’idah : 77

“ Katakanlah (Muhammad), “Wahai ahli kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu……”

Nah….kedua ayat ini cukup mengambarkan bagaimana sesuatu yang berlebihan itu tidak diperbolehkan oleh Allah.

Ada 2 aspek bila dilihat dari model ibadah ini yaitu : Robbaniyah & Rahbaniyyah

Bila kita lihat dari aspek Robbaniyyah, maka kita perlu sekali meneladani sosok seorang Rasul, yang senantiasa berusaha tawazun dalam menjalani hidupnya. Sehingga orang yang senantiasa meneladani akhlaq nya akan terhindar dari serangan penyakit Wahn, “Cinta Dunia dan Takut akan Kematian.” ….jadi inget perkataan seorang ustadz “Janganlah mencintai dunia dengan hatimu namun cintailah dunia dalam tangan mu, sehingga kau akan mudah melepaskannya ketika harus pergi.”

Aspek robbaniyyah yang lain adalah mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. “Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat.” So, Tidak perlu menjadi seorang ustadz untuk menasehati orang lain. Bila masih ada pernyataan, “tapi kan saya bukan orang yang paham? Bukan periwayat hadist atau bukan keluaran dari pesantren???” nah, kita lihat bagaimana Rasul telah memberikan teladan pada kita. Beliau berdakwah tidak tidak menunggu dirinya mampu, setelah ayat pertama diwahyukan, Rasul kemudian langsung menyampaikannya pada orang-orang terdekatnya.

Sadar atau tidak, sebenarnya hal seperti itu akan memberikan energi luar biasa pada kita secara langsung/ tidak untuk senantiasa memperbaiki diri jauh lebih dalam. Jadi inget Qur’an Surat As-Shaff ayat 2-3. Surat ini sering sekali menjadi alarm untuk ku dan teman seperjuangan ku yang lain waktu dikampus…

“Wahai orang-orang yang beriman ! mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Itu sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”

Astaghfirullah…..tuh kan diremind lagi….

Aspek selanjutnya yang perlu kita lihat adalah Rahbaniyyah, aspek ini mengikuti konsep kependetaan dan islam tidak mengajarkan demikian, Misalnya mengurung diri dan tidak beristri. Islam mengajarkan kita harus tetap mengikuti sunnah Rasulullah.

2. Model ibadah yang ke-2 adalah Futur, atau biasa disebut melemahnya iman.

Melemahnya iman sesorang sebenarnya dapat bermula dari model ibadah yang pertama “Ghulu”. Dan biasanya hal ini terjadi jika seseorang memiliki banyak aktivitas, yang dapat menimbulkan sebuah alasan yang biasa disebut “LELAH”….(Astaghfirullah, malu sebenarnya nulis ini). Namun, Jika kita biarkan hal ini terlalu lama maka akan berakhir dengan ke Fasik-an….na’udzubillah…..

Rasulullah juga pernah mengatakan, “Iman itu sifatnya naik dan turun.” Oleh karena itu perlu suatu cara untuk menghindari hal itu. Salah satu caranya adalah tetap berada dalam lingkaran orang-orang shaleh dan berjama’ah-lah…jangan pernah merasa bangga dengan amal kita sendiri dan jangan pernah merasa nyaman dengan kesendirian….

 

3. Model Ibadah yang ke-3 adalah Istiqamah (Berkesinambungan)

Model ibadah seperti inilah yang sangat baik dan tepat. Tidak perlu tergesa-gesa atau menggebu-gebu. Berjalanlah sesuai dengan kemampuan masing-masing, karena setiap orang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda, karena islam sangat mengutamakan atau berorientasi pada proses,bukan hasil. Walau begitu namun tetap diperlukan percepatan dalam proses perjalanannya.

Dan Ciri-ciri orang yang istiqomah adalah :

  1. Tidak suka mengeluh
  2. Tidak berduka atas hilangnya sesuatu, karena meyakini segala sesuatu di dunia ini fana dan hanya Allah lah yang memiliki.

Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang istiqomah…..

Dan semoga diri kita senantiasa terus berada pada perbaikan-perbaikan diri yang lebih berkualitas…..Amiin…

Pilih model ke-3 yaa….😉

Semoga Bermanfaat….

 

Bogor, 27 Desember 2010

Linda J Kusumawardani

Bogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

2 thoughts on “Model Ibadah Dalam Islam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s