Keberkahan dalam Istananya….

Mba Yeni….begitu aku memanggilnya. Secara fisik dirinya ku lihat sangat sempurna, keanggunan terpancar darinya saat bertutur kata. Mba yeni adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Salah satu teman main ku saat masih anak-anak. Tak jarang aku sering sekali datang ke rumahnya yang hanya berselang 2 rumah dari rumah ku saat kami masih anak-anak untuk main bepe-bepean (bahasa kami), main congklak atau hanya sekedar ngobrol, obrolan anak-anak. Kedekatan kami agak mulai merenggang setelah aku masuk SMA…mungkin karena kami memiliki aktivitas masing-masing. Sampai akhirnya aku kuliah dan memilih untuk kost di Bogor membuat kedekatan itu sudah sangat tidak terasa.

Tahun 2008 adalah tahun yang bersejarah baginya, ditahun itu dirinya menggenapkan separuh agamanya di usia 22 tahun dengan seorang laki-laki yang tentu sangat dicintainya. Tentunya aku sempatkan hadir dihari bahagianya itu walau saat itu aku sedang disibukkan dengan tugas akhir. Masih ku ingat bagaimana meriahnya pernikahannya saat itu. Saat pernikahannya ku sempatkan untuk ngobrol-ngobrol dengan teman ku yang lain, karena lama sekali rasanya aku tak berbincang dengan mereka. Aku sempat heran, pernikahannya yang sangat meriah itu ternyata sama sekali tak ku dengar adanya organ tunggal (D*ngd*t) yang biasanya sering ku dengar setiap resepsi pada umumnya dan yang membuatku semakin heran adalah tamu-tamu yang hadir saat itu…seketika ku tebak tamu-tamu yang hadir saat itu adalah tamu dari pihak suaminya. Sosok ikhwan dan akhwat sering sekali terlihat keluar masuk area pernikahan. Subhanallah…pemandangan seperti ini tidak pernah ku lihat sebelumnya di perumahan ku. Dalam waktu cepat ku simpulkan si pengantin laki-laki adalah seorang ikhwan yang paham. Sebuah tanda tanya pun menyelimuti hati ku, siapa sebenaranya sosok laki-laki itu yang beruntung mendapatkan bidadari dunia itu???

Aku ingat dulu saat awal-awal mba yeni menggunakan kerudung, kerudung itu tidak sama sekali mengurangi kecantikan yang ada pada dirinya. Justru membuat dirinya nampak lebih terllihat anggun. Belakangan baru ku ketahui kalau keputusan itu diambil setelah mba yen mengenal calon suaminya. Beberapa bulan setelah pernikahannya, aku sudah tak pernah lagi bertemu dengan dirinya. Karena saat itu aku sudah bekerja, sampai akhirnya pernah ku lihat dirinya suatu kali sedang berbelanja sayuran ke warung didepan rumah ku, ku lihat bagaimana bergo yang digunakannya berukuran lebih panjang dengan rok yang digunakan olehnya membuat ku berpikir kualitas dirinya semakin bertambah. Perubahan ini seketika menciptakan senyum dibibir ku. Sungguh setiap kali melihat atau hanya sekedar mendengar kabar tentang dirinya selalu ada perubahan positif yang didapatkan. Beberapa bulan kemudian aku dengar mba yeni melanjutkan kuliahnya disalah satu Univ. Swasta di Jakarta mengambil jurusan Bahasa Inggris. Suaminya sangat memberikan dukungan penuh padanya, salah satu bentuk dukungannya adalah dengan membiayai kuliahnya…Tak lama ku dengar lagi, mba yeni membuka toko busana muslim kecil-kecilan dirumahnya. Saat ku Tanya, suaminyalah yang memberikan ide itu, yang katanya “Salah satu pintu rezeki itu datang dari berdagang. Rasul juga mencontohkan begitu kan?”.

Ramadhan 2009, aku ingin sekali kembali bersilaturahim dengan dirinya setelah lama sekali tak berbincang-bincang. Pikirku tak ada salahnya aku datang kerumahnya sekalian melihat butik mungilnya itu yang kata orang pernak-perniknya bagus-bagus, yaa..sambil menyelam minum air. Ramadhan kali itu aku memang sering sekali main ke rumahnya. Setiap ku datang ke rumahnya, ku pandangi foto pernikahan dirinya dengan sang suami yang telihat sangat “serasi” terpajang di salah satu dinding rumahnya.

Banyak hal yang kami bicarakan…karakternya yang rendah hati membuatku tak sungkan ngobrol dengannya, apalagi kami sudah lamaaaa sekali tidak ngobrol lama seperti itu. Banyak hal yang ditanyakan olehnya pada ku seputar jilbab dan pakaian muslimah, fiqh, hal ibadah atau bahkan tentang rumah tangga..lho???😀. Padahal yang ditanya belum nikah…kebolak ini namanya. Ya…selagi aku bisa memberikan jawaban ya aku jawab. Mengenai perkara pernikahan, rasanya tidak enak klo harus aku langsung yang menjawab pertanyaan2nya, karena pengalaman yang tidak memadai dan hanya teori-teori saja akhirnya ku pinjamkan salah satu buku koleksi ku yang berjudul “Kado Pernikahan Untuk Istri ku” karya Mohammad Fauzil Adhim. Aku sangat mengapresiasi dirinya tak malu bertanya kepada ku sebagai orang yang lebih muda.

Dari hasil diskusi dan perbincangan kami, tampak jelaaas sekali perubahan itu lebih signifikan pada pribadinya. Kemauan mendalami islam terpancar jelas dari sudut-sudut bola matanya yang ku pandangi saat kami berbincang. Tak jarang mba yen sering menanyakan mengenai tempat pengajian-pengajian yang ingin didatanginya setiap pekan. Subhanallah…dari sini ku simpulkan kualitas kurva tarbiyah dalam dirinya semakin menanjak. Aura sosok istri shalehah pun terlihat saat bagaimana dirinya menyambut sang suami saat pulang kerja. Jika suami tercintanya sudah pulang tak perlu berlama-lama aku duduk dirumahnya, segera aku pamit pulang.

Banyak sekali pelajaran yang ku ambil dari keluarga kecil ini. Suatu hari mba yeni pernah menceritakan mengenai bagaimana proses suaminya yang sedang mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan latar belakang pendidikan IT, saat itu sang suami ingin sekali berpindah tempat kerja dengan harapan mendapatkan yang lebih baik. Mba yen tentunya sangat mendukung sekali apapun yang terbaik bagi suaminya. Yang ku salut dari pasangan ini adalah adanya komunikasi efektif diantara keduanya. Begini ceritanya hari itu sang suami ada interview dengan HR salah satu perusahaan besar yang lokasinya lumayan jauh dari rumah. Yang membuatku terharu saat mba yen menceritakan apa yang terjadi saat proses interview itu berlangsung. Setelah membicarakan mengenai gaji yang diperoleh, posisi yang ditawarkan dan area penempatan kerja, selanjutnya Bapak-bapak HR memberikan kesempatan bertanya kepada suaminya..moment itu digunakan oleh sang suami untuk berkata “Sebentar pak, boleh saya telp istri saya sebentar untuk meminta pertimbangan darinya”……Subhanallah…terharu saya mendengarnya. Bahkan saat-saat seperti itu sebenarnya bisa saja sang suami membicarakannya dirumah, karena saya yakin mba yen pun akan menerima apapun yang menurut suaminya itu yang terbaik. Yang menjadi sebuah esensi adalah komunikasi diantara keduanya dan penghargaan yang luar biasa dari seorang suami terhadap pendapat seorang istri yang menganggap itu adalah penting.

Satu minggu lalu aku bertemu dengannya saat menghadiri resepsi seorang teman yang dekat dengan rumah kami berdua. Ku lihat dirinya berjalan agak sulit karena perutnya yang sudah membesar dan hanya tinggal menunggu waktu untuk menyaksikan sang buah hati lahir ke dunia ini. Ditemani dengan suaminya mereka berjalan perlahan. Saat itu ku lihat hijabnya sudah sempurna. Dengan menggunakan gamis hitam dengan corak polkadot putih dan jilbab putih yang sesuai syari’at serta kaos kaki, semakin menyempurnakan kewajibannya sebagai seorang muslimah yang wajib menutupi auratnya. Subhanallah….sungguh kebarokahan dalam sebuah rumah tangga itu terpancar dari aura keduanya…

Semoga Allah senantiasa memberikan kebarokahan untuk Mba Yeni dan Mas Ardian beserta keluarga dengan kualitas keimanan dan tarbiyah yang semakin bertambah…..Amiiin ya Rabb….

“Karena kebarokahan sebuah rumah tangga itu dapat terlihat dari kualitas tarbiyah yang semakin meningkat dalam sebuah mahligai yang disebut pernikahan…..”

Jazakillah untuk mba yeni…semoga kisahnya bisa memberi manfaat bagi yang lain juga…

Linda J Kusumawardani

Bogor, 27 November 2010

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s