Teladan Seorang Murabbi…(Episode Mabit)

“Aslmkm.nda hari jum’at ini bisa mabit? nemenin mba dirumah, soalnya suami ada Mukhoyam jum’at malem. Nenek juga kebetulan sedang ga ada dirumah.”

Itu adalah sms yang dikirimkan oleh mba kamis pagi, ku balas sms nya yang berisi

“Wlkmslm. InsyaAllah mba bisa, mungkin sore baru bisa ke sana setelah selesai kuliah ya.”

Senyum merekah dibibir ku saat membaca sms itu. Ku pikir ahh…ini kesempatan ku untuk lebih mengenal sosok beliau, karena teringat hadist yang mengatakan salah satu cara mengenal karakter seseorang adalah dengan bermalam bersamanya.

***

Waktu menunjukkan pukul 16.00….Hmm…30 menit lagi….30 menit lagi….kuliah ini masih terasa lama sekali….Konsentrasi ku buyar sudah walaupun saat itu aku duduk di kursi terdepan. Tak sabar menunggu jam 16.30…ku mainkan pulpen ku dengan gaya memutar, karena sudah tidak berminat untuk menulis. Pikiran ku sudah melayang jauuuh 2 km menuju rumah mba. Pandangan ku sudah menembus sudut-sudut ruang kelas, hingga ku mampu melihat halaman rumahnya… ku tak jarang ku hentak-hentakan kaki dengan suara pelan sebagai tanda aku sudah tak sabaaar menunggu jam kuliah ini selesai.

“Baiklah hari ini kita cukupkan. Akan kita lanjutkan pembahasan ini pekan depan.”

“Alhamdulillah….akhirnya selesai juga” senyum lebar kembali menghiasi wajah ku…

Dengan cepat ku langkahkan kaki keluar kelas, mungkin aku orang pertama yang keluar dari kelas itu…Ahh…sudahlah tak peduli yang penting cepet sampai kosan dan segera mengemasi barang-barang keperluan mabit.

Akhirnya… pintu kosan terlihat semakin dekat…sesampainya ku ketuk pintu kosan dan tak lupa ku ucap salam…

“Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumsalam.” Sahut teman ku

Ku buka pintu kosan dan ternyata terlihat teman ku yang sedang asyik menonton tv…sudah ku duga…hmm…apalagi yang ditonton jam segitu. Seperti biasa tontonan favorite anak2 kosan “Sponge Bob Square Pants”…hehe😀 , gak penting…tapi inilah kenyataanya. Salah satu acara favorite kami jika ada waktu senggang selain mengikuti berita-berita terkini😀 karena bagi kami menonton acara yang satu ini gak perlu mikir, ceritanya yang aneh dan konyol itu dapat menyegarkan otak dan pikiran kami yang sering merasa penat dengan aktivitas kuliah dan kampus.

“Misi…misi” ku langkahkan kaki melewati ela yang sedang asyik menonton si sponge kuning dan si bintang laut

“Buru-buru amat nda. Mau kemana??” Tanya ela

“Mau mabit donk dirumah mba ku. Kan udah bilang kemaren”

“Ohh…jadi toh mabitnya. Salam ya buat mba nya”

“Iya, insyaAllah.” Sahutku sambil mengambil semua perlengkapan yang dibutuhkan.

“Eh, besok tahsin gimana?bareng gak?” tanyanya

“Langsung aja dari rumah mba berangkatnya la. Kita ketemu disana aja ya”

“Oh…ok.”

Setelah ku pastikan semua perlengkapan masuk ke dalam tas selempang kesayangan ku yang berwarna merah dengan aksen hitam, aku siap berangkaaat…ku sempatkan menengok jam sebentar…MasyaAllah udah jam 5 sore??? Wah…langkah ku harus lebih cepat nih…

“Berangkat ya, bilangin la sama novi dan puput juga.”

“Iyaaaa…”jawabnya

“Assalamu’alaykum”

“Wa’alaykumsalam” sambil menutup pintu dan segera berjalan cepat.

Secepat kilat aku berjalan hingga ku menemukan angkot hijau bernomor 17 yang hanya satu-satunya trayek di daerah Tanah Baru ini.

Hanya berselang 10 menit  “Kiri bang…” kata ku…

Sesuai instruksi…angkotnya pun berhenti….

Ku berikan uang pas dua lembar 1000 rupiah sebagai tanda aku telah membayar jasa angkotnya…

Kali ini aku berjalan lebih tenang menyusuri beberapa pintu kontrakan yang berderet itu. beberapa anak tangga harus dilewati sebelum sampai ke rumah mba yang berada di paling ujung kontrakan.

Ku lihat pintu rumahnya terbuka…

“Assalamu’alaykum, mbaa…” sambil ku ketuk pintunya yang terbuka itu

“Mba…Assalamu’alaykum…” ku ulangi salam ku

“Wa’alaykumsalam…?” Terdengar suara dari dalam rumah

Sesaat ku lihat sosok beliau yang tersenyum hangat menyambut kedatangan ku.

“Eh, nda udah lama diluar ya?” tanya nya

“Belum mba, baru aja kok dateng.” Ku ulurkan tangan dan ku bersalaman dengannya tak lupa cipika-cipiki…

“Sini…sini…masuk.” Pintanya

“Iya mba. Qanita mana mba, kok gak keliatan” tanyaku.

“Itu lagi diajak main sama tetangga.”

“Ooooo…”

Padahal aku ingin sekali bermain bersama qanita. Qanita adalah nama yang diberikan mba untuk sang buah hati yang artinya adalah shalat yang berdiri lama, Subhanallah. Beliau ingin sekali malaikat kecil nya tersebut kelak menjadi hamba yang taat pada Rabb-Nya dengan salah satu jalannya adalah khusyuk dalam shalatnya…

Tak lama kemudian, seorang tetangga datang mengantarkan si kecil qanita. ku gendong dia, sangat bersahabat dengan ku. Maklum kami sudah sering bermain bersama setiap pekan…senyum-senyum kecil dari bibirnya sangat manis terlihat. Saat aku bermain denangan qanita, si mba sibuk dengan masakannya di dapur. Entah apa yang dimasak oleh beliau.

“Sebentar ya nda, aduh jadi ditinggal-tinggal gini tamunya”

“Gak apa-apa mba…ini juga lagi main sama qanita.”

15 menit berselang…“Allahuakbar…Allahuakbar…” Alhamdulillah adzan maghrib….

“Tutup aja nda pintunya, biar qanita main sama boneka-bonekanya. Tinggal shalat aja, gak apa-apa.”

“gak apa-apa nih mba?”

“gak apa-apa, udah biasa.”

Ku lihat qanita sudah mulai terlihat anteng dengan mainan-mainan disekelilingnya. Akhirnya…aku berani meninggalkannya untuk mengambil wudhu.

“Qanitaaa…ammah mau shalat dulu ya…jangan kemana-mana ya sayang”

Ahh….senyum itu…lucu sekali..Senyumnya ku anggap sebagai tanda setuju bahwa dirinya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh.

Selesai mengambil wudhu, aku dan mba shalat berjamaah disamping qanita.

“Assalamu’alaykum warahmatullah….Assalamu’alaykum warahmatullah”

Setelah selesai shalat ba’diyah maghrib, aku kembali bermain bersama qanita, sementara mba kembali ke dapur.

Ku ajak qanita ke dapur, sambil menggendongnya…

“Mba…udah selesai masaknya.”

“Udah nda…makan bareng yuuk.”sambil mengambil piring

“Iya mba….”

“ini piring nya…”sambil tersenyum menyodorkan piring kepada ku

“Oh iya mba, syukron.”

“Kebetulan hari ini ada rezeki lebih, Alhamdulillah. Ayoo…diambil nda cobain ya.”

Aku suka bagaimana cara beliau menyuguhkan makanan sederhana itu…terharu sekali saat ku lihat di atas meja makan ada 3 potongan ayam yang tidak terlalu besar ukurannya, sambel, tempe, dan sayur bayam. Saat aku makan bersama dengan beliau, subhanallah sangat nikmaaat sekali, rasanya melebihi makan di restoran-restoran mahal. Kesederhanaannya sangat menyentuh hati ku…

Setelah selesai makan, mba kemudian memeberikan susu dan meninabobokan malaikat kecilnya. Saat-saat seperti itu aku manfaatkan untuk membantu mencuci piring yang tertumpuk didapurnya. Karena aku yakin kalau ketahuan, mba tidak akan memperbolehkannya. Aku sangat memahami rasa lelah dan letihnya hari itu. Dari pagi hingga pukul 3 sore mba disibukkan dengan aktivitas mengajarnya disekolah, belum lagi setelah tiba dirumah beliau menyiapkan makan malam sampai akhirnya menemani sang buah hati tidur. Walau lelah itu terlihat namun Masiiiih saja ku lihat ketulusan senyumnya.

Tiba-tiba…

“Ndaaaa…masyaAllah…ngapaiiin?”

“Eh, mba…hehe.”

“Kok dicuciin sih semua piringnya.”

“gak papa mba…iseng aja.”

“Sini-sini mba bantu ngebilas…”

“gak papa mba, gak usah.”

Akhirnya…ke-gap juga….padahal udah ngumpet-ngumpet…hehe😀

“Assalamu’alaykum…bundaaa.” terdengar suara dari luar

“Wa’alaykumsalam..”

Mba segera keluar menyambut suami tercintanya😀

Aku rapikan piring-piring itu ke rak piring, kemudian aku keluar ke ruang tengah…

“Siapa mba…?”

“Suami, sama temen2 liqonya….”

“Ohh…katanya mau mukhoyam.?”

“Iyaa…mau makan dulu disini sebelum mabit.”

Aku pun membatu mba menyiapkan beberapa makanan yang ada. Mba pun mengeluarkan masakan yang sama yang tadi dihidangkan kepadaku…namun ternyata ada 4 potongan ayam yang disisihkan dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

Terdengar suara dari depan…

“Assalamu’alaykum….”

“Eh, akhi kebetulan antum dateng. Kita lagi makan besar nih, ikut makan yuk sebelum kita berangkat.”

“Wah….kebetulan ane belum makan akh…alhamdulillah nih”

Sesaat….kata itu terucap lagi…Subhanallah…keluarga ini sangat sederhanaaa sekali mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah….kata-kata “Eh, akhi kebetulan antum dateng. Kita lagi makan besar nih” Benar-benar sangat menyentuh hati ku…padahal aku tahu makanan yang disuguhkan tidak seberapa nilainya…😥

Setelah selesai makan-makan, suami beliau pamit…aku memperhatikan dari ruang tengah sambil menonton tipi…

“Bunda…ayah berangkat dulu ya….”

“Iya, ayah….hati-hati ya.” Sambil mencium tangan suaminya….

Setelah semua berangkat, aku dan mba membereskan semua piring-piring diatas karpet yang terhampar di ruang depan….ya…hanya karpet, sepeda qanita dan rak buku saja yang berada diruangan itu. Ku lihat hampir tidak ada sedikitpun sisa makanan ditersisa…Subhanallah…terlihat sangat nikmat sekali sepertinya….

Akupun melanjutkan aktivitas ku dengan shalat isya dan tilawah…saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam. Sedangkan mba menenangkan qanita yang tiba-tiba terbangun dan menangis.

Setelah selesai shalat, ku lihat mba sedang shalat isya…gak enak juga ya kalo tidur duluan..pikirku dalam hati. Ku tunggu mba sampai menyelesaikan shalatnya sambil membaca buku-buku bacaan yang ku ambil dirak buku beliau…Setelah selesai shalat mba kembali ke dapur…ku lihat mba keluar membawa-bawa ember…

“Belum tidur nda…?”

“Belum ngantuk mba, masih pengen baca dulu.”

“Mba mau ngapain.”

“ini, mau ngepel…kalo pagi gak sempet, qonita udah keburu bangun soalnya.”

Lagi-lagi kata itu terucap…”subhanallah…” dalam hati ku

“Tidur aja nda, udah malem loh. Besok bukannya mau berangkat tahsin pagi-pagi. Jam berapa?”

“Iya sebentar lagi mba, nanggung. Besok insyaAllah berangkat jam 6 pagi”

Mata ini sudah tak lagi mengantuk melihat semangat mba yang tak padam. Niatnya aku tidur setelah mba selesai ngepel nya. Tapiii….apa yang terjadi selanjutnya….???? mba menggelar beberapa lembar kain didepan televisi…langsung ku tanya..

“Mba…mau ngapain lagi, udah jam 11 malem. Gak tidur mba.”

“Sebentar nda, mau nytrika baju dulu. Cucian 4 hari belum sempet distrika soalnya”

Ku lihat pakaian-pakaian yang tertumpuk lumayan banyak disampingnya…untuk yang kesekian kalinya …”Subhanallah….terbuat dari apa raga Murabbi ku ini…???”…Namun tak bisa dipungkiri mata ini sudah tertahankan..

“Mba, tidur duluan ya…”

“Ooh..iya iyaa…tidur dikamar nenek aja ya…” katanya sambil tersenyum, walau sudah terlihat kelelahan dipelupuk matanya

Ku jawab…“Iya mba….”

Akupun masuk ke dalam kamar tanpa mengetahui jam berapa mba menyelesaikan tumpukan cucian itu dan tidur…Sebelum aku menutup mata aku merenungi kejadian sejak sore tadi…sungguh, keteladanan luar biasa yang ku lihat hari ini…

Pukul 03.00 pagi alarm ku sudah berbunyi…masih beraaat sekali rasanya mata ini untuk terbuka…Astaghfirullah…perlahan aku bangkit dan berjalan keluar kamar. Tiba-tiba rasa kantuk itu hilang mendadak, aku kaget karena melihat mba sudah lebih dulu bangun. Padahal aku tak tahu beliau tidur jam berapa semalam…

“Mba…udah bangun?”

“Iya…biasa kalo jam 2 qanita minta susu…”

“Oh…”

“Mau QL?”

“Iya mba…”

Lagi-lagi, Subhanallah….Strong Woman….

Setelah selesai QL ku lanjutkan tilawah, sambil mengunggu subuh…ku lihat mba pun sedang melakukan QL dikamarnya….

Seusai shalat subuh yang saat itu sekitar jam 04.30-an…aku sempatkan membantu mba mencuci piring-piring yang digunakan makan suami dan teman-teman liqonya semalam, kali ini mba tidak menolak, Alhamdulillah… Setelah selesai semuanya akupun mandi dan bersiap-siap berangkat tahsin tepat pukul 06.00 pagi…

“Mba…mau pamit, berangkat dulu ya…”

“Eh, kok udah siap sih? Belum juga sarapan”

“gak papa mba…gak usah. Takut telat…”

“Sarapan dulu aja, sebenatar.”

“gak papa mba…nanti sarapannya setelah tahsin aja.”

“Oh, yaudah…ati-ati dijalan yaa.”

“Iya mba.” Sambil bersalaman dengannya dan cipika cipiki…

“Assalamu’alaykum mba.”

“Wa’alaykumsalam. Oh ya nda….jangan lupa ya, nanti jam 10 kesini lagi kita liqo”

“Iya mba…temen-temen yang lain udah pada dikasih tahu kok. Berangkat dulu mba”

“Iyaa.” Dengan senyum ikhlas itu terpancar jelas dari wajahnya.

Sepanjang perjalanan menuju tempat tahsin, kejadian-kejadian dari hari jumat sore teringat jelas didalam kepala dan hati ku…Semua berjalan sederhana namun sangat bermakna…doa-doa itu mengalir dari dalam hati ku semoga Allah senantiasa melindungi mba beserta keluarga….Aminn!

Jam 09.30 setelah selesai tahsin, perut ku meminta haknya…akhirnya akupun tergiur dengan tukang bubur dekat masjid tempat tahsin ku…akhirnya aku dan temanku menyempatkan sebentar kesana untuk sarapan pagiii…🙂

Setelah selesai aku langsung bergegas mencari angkot untuk kembali kerumah mba…tepat pukul 10.30 aku sampai rumah beliau…telaaaat….

“Assalamu’alaykum…mba afwan telat”

“wa’alaykumsalam…baru mau dimulai kok liqonya….”

Doa pembuka majelis pun dimulai….taujih-taujinya terdengar sangat menggugah hati. Ku tatap matanya tak sedikitpun ku lihat kelelahan pagi itu. Padahal aku tahu persis bagaimana aktivitas beliau di hari sebelumnya…Lagi-lagi subhanallah mba…keteladanan mu benar-benar menyentuh hati ini….maluu rasanya ketika diri ini sering mengeluh dengan aktivitas-aktivitas kampus….

Sungguh luar biasa ya Rabb pelajaran yang Kau berikan pada ku dua hari itu…..

 

Linda J Kusumawardani

Di rumah, 17 November 2010

Blogger ^Ketika Setiap Kata Bermakna^

5 thoughts on “Teladan Seorang Murabbi…(Episode Mabit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s