Curhat Kalem Dibalik #Genap (Part 2)

Buku #Genap - Nazrul Anwar

Buku #Genap – Nazrul Anwar

Ada banyak hal yang membuat aku tertegun saat membaca buku ini. Ya, ini masih tentang sebuah buku berjudul genap yang ditulis oleh Sang Penulis. Dan kalimat ini adalah salah satu bagian yang kemudian menyelinap di hati, dalam senyap aku mulai meng-iya-kan nya.

genap 2-1

Rasanya pada prosesnya aku sudah mulai merasakan apa yang dimaksud olehnya di bulan pertama pernikahan kami. Sesuatu hal yang menarik, karena hal ini telah membantah perasaan yang dulu pernah singgah di hati. Sebuah pertanyaan akan keraguan, apakah kelak aku bisa menggenap dengan orang yang belum pernah ku temui? Apa yang dikatakan orang-orang banyak itu membangun cinta akan mudah dilakukan dengan orang yang benar-benar baru memasuki kehidupan kita. Ya…Aku memang termasuk orang yang sulit sekali melakukannya sejak hitungan tahun yang lalu, bahkan termasuk beberapa waktu sebelum aku menggenap. Jujur saja aku memang termasuk wanita yang masih ragu untuk memulai sebuah ikatan pernikahan dengan seseorang yang sama sekali belum pernah ditemui. Dan..katanya, sebagai seorang wanita diperlukan sekali rasa nyaman dengan seseorang yang akan menggenapi kita. Ini bukan perihal ketampanan, bukan. Harta, juga bukan.Ini perihal sebuah perasaan bagaimana bersamanya nanti aku mampu menjadi seorang istri yang patuh dan taat padanya. Sedang aspek kenyamanan itu sendiri sebenarnya berbeda parameternya pada setiap wanita. Aku sendiri bukanlah tipe wanita yang bisa mendapatkan rasa nyaman itu hanya dari beberapa lembar biodata saja. Huh…betapa aku membutuhkan energi tersendiri untuk melakukannya dalam beberapa kali. Bahkan sampai pada fase aku berkenalan dengan suami sendiri. Hal yang samapun tetap saja berlaku…

Namun…ada sesuatu hal yang unik saat aku benar-benar bertemu dengan seseorang yang datang kemudian menjadi jodohku. Ahh… kali ini Allah sungguh mengubah diri ku bukan lewat orang lain atau hikmah dari sebuah kisah. Kali itu, Allah mengubah cara pandang itu justru dengan keberanian ku sendiri yang datang tanpa ku sadari. Bagaimana tidak, belakangan aku baru menyadari bahwa aku sedang memperjuangkan seseorang yang sebenarnya tidak pernah ku temui, sama sekali. Entah energi dari mana waktu itu, hingga aku bisa melakukannya dan kemudian membuat semua hal yang sulit menjadi mudah, Alhamdulillah… Mungkin itulah salah satu perihal konsep jodoh, bahwa kedatangannya itu terkadang diluar prediksi dan tak terduga.

Disaat rasa gelisah dan ragu datang dalam memutuskan. Hari itu, aku sebagai wanita biasa pun banyak menceritakan hal, ini-itu yang mungkin agak njelimet. Sampai akhirnya, seorang guru terbaik ku cukup menyederhanakan semua benang kusut dalam benak ku dengan sebuah pertanyaan, Apakah aku merasa nyaman dengan sifat atau karakternya? Aku tak bergeming…beberapa detik berlalu, hingga disusul dengan jawaban “Iya” .. Ini sungguh hal yang aneh, aku menjawab demikian… Entahlah, yang jelas satu minggu kemudian kami baru benar-benar bertemu, ya..pertemuan perdana dalam kehidupan kami masing-masing. Baca lebih lanjut

Curhat Kalem Dibalik #Genap (Part 1)

Buku #Genap

Buku #Genap

Ada yang tahu buku ini? Judulnya Genap..Iya, Genap…Buku ini adalah buku yang diberikan oleh suami saya, (eh, waktu itu statusnya masih calon suami :D ) dihari pernikahan kami. Buku itu adalah salah satu mahar spesial gak pake telor untuk saya, Ceileh… *Padahal seinget saya dia gak pernah bilang spesial sih*. Baiklah, ini memang saya yang bilang :) . Spesial karena suami sendiri yang request alias meminta buku itu dijadikan mahar dihari pernikahan yang kemudian sekaligus menjadi moment untuk Launching-nya ( ok, kali ini dia berhasil membuat saya melting ). Jadi tentu saja permintaannya dengan senang hati saya terima..

Sekitar 2 minggu sebelum hari pernikahan kami, saya melihat buku itu sudah jadi walaupun masih dalam bentuk Dummy-nya tergeletak begitu saja di atas meja di (mantan) kamar kosan saya. Saya yang waktu itu penasaran banget mau buka itu buku dan melalap habis isi tulisannya harus dipaksa bersabar, karena memang waktu itu si calon suami bilangnya “Baru boleh baca setelah halal” . Well, entahlah apa isinya…pikir saya waktu itu. Se-spesial apa sih itu isinya sampai-sampai menunggu kami halal. Bahkan yaa… sampai ada pesan sponsor juga ternyata pada saat paket buku #Genap itu diterima oleh teman sekamar saya. Lho, kok teman sekamar saya boleh baca duluan? Itulah…beruntungnya dia jadi The 1st reader. Karena, dia adalah seseorang yang memang sengaja saya minta-in tolong untuk jadi MC dihari pernikahan kami, makannya boleh baca duluan, untuk bekal dan modal ngemsi nanti. Sebenarnya sih saya gak masalah ya, mau  kapan baca (Sok Iye.. :p ). Toh saya juga waktu itu sudah sibuk mengurus persiapan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari. Tapiii…. Si teman sekamar saya ini nampaknya ingin membuat saya kepo berat dengan manas2in via twitter. Membuat beberapa kutipan dari buku itu atau bikin kata-kata mutiara sendiri dan kemudian di Cc.in ke saya. Gimana gak mupeng pengen baca, coba?twitter echii

Duh…duh….akhirnya setiap saya mampir ke (mantan) kosan dan lihat buku itu disekitaran kamar, entah mengintip dibalik bantal atau berada diantara tumpukan buku yang lainnya, saya selalu berusaha menahan keinginan kuat-kuat, even untuk menyentuhnya. Sampai akhirnya, hari yang dijanjikan itu tiba….yeay! Thanks god, I am the champion

Buku yang kebetulan saat ini dipinjam oleh tetangga saya itu, memang cukup berkesan bagi saya…beberapa isinya memang ada yang berkaitan dengan “proses” kami sebelum menggenap (Silakan baca bukunya :) ). Saya sampai benar-benar terharu membacanya ( Ini serius … :”)  ) , Buku #Genap itu memang akan menjadi sejarah tersendiri dalam hidup saya, salah satunya adalah dibagian akhir dari buku itu terdapat nama saya, yang akhirnya membuat saya paham mengapa buku ini baru boleh dibaca sampai kita dihalalkan dalam sebuah kalimat akad :”) , Thanks for my man…

The End Story of Genap

The End Story of Genap

Pertama kali saya dengar bagian terakhir dalam buku itu adalah saat hari pernikahan kami. MC membacakan dengan penuh rasa berlebihan halaman terakhir buku #Genap. Ada rasa deg-degan dalam hati, mengingat yang duduk disebelah saya adalah penulisnya :D . Entahlah… bagaimana rasanya. Saya yang masih belum terbiasa dengan seseorang yang duduk tepat disebelah saya saat itu namun sebenarnya sudah halal, legal, formal *halah… namun tetap saja masih terasa asing. Siapa dia? Ya…dia, seseorang bernama Nazrul Anwar , sudah sejak pagi ternyata resmi menjadi Suami saya… :”) Nyatanya saya masih bingung harus berekspresi seperti apa saat mendengar kalimat itu…

I, Nazrul Anwar

Love You, Linda Kusumawardani

Ini terlalu complicated rasanya… Speechless. Rasa yang paling tepat menggambarkan saat itu adalah  keharuan dan kebahagiaan dalam diam…

Bersambung ke Part 2

Bogor, 11 Juni 2015 Linda J Kusumawardani ^Pembelajar dari Kehidupan^

Kebahagiaan

Ada sebuah konsep bahagia yang saya pahami. Sekali lagi..ini versi saya :D . Bahwa ternyata bahagia itu tidak memiliki standar. Artinya setiap orang berhak untuk memasang standar atas kebahagiaan masing2. Pun dengan kadar kebahagiaan yg tinggi.Namun, semakin tinggi standar yang dipasang,artinya tentu kita akan semakin sulit merasa bahagia. Seperti pada target2 dan keinginan dalam hidup. Kemudian sering sekali kita terjebak pada sebuah target tertentu itu, yang pada akhirnya justru membuat hidup kita lebih terorientasi padanya. Padahal bisa jadi Puncak target yang akan kita capai itu sesaat saja melewati episode kehidupan kita. Ada hal yang lebih esensi dari itu semua, yaitu menikmati setiap proses menuju kesana. Kesedihan,Kebahagiaan, senyum dan air mata adalah hal yang kemudian menjadikan kita lebih menghargai puncak dari terkabulnya keinginan dan harapan. Rasa bahagia tentu akan semakin membesar karena adanya hal-hal itu. Artinya target2 yang kita miliki itu bukan yg menjadikan kita bahagia,namun proses menuju ke arah sana-lah yang menjadikan kebahagiaan itu hadir dan lebih bernilai…

Bahkan ternyata dapat memandang suatu masalah dengan sederhana juga merupakan kebahagiaan. Masalah lebih mudah diselesaikan dan diatasi secara tepat dalam sudut pandang yang sederhana.

Makannya, ga heran kalau banyak orang yang sering bilang. “Bahagia itu sederhana”,

Dan…setelah 1 bulan ini. Cuma mau bilang terima kasih untuk seseorang yg sudah lebih menyederhanakan konsep kebahagiaan itu… Makasih mas….

 Linda J Kusumawardani ^Pembelajar dari Kehidupan^

Linda & Nazrul

Surat untuk Imamku… #NazrulAnwar

29 April 2015, Heading to 01 Mei 2015….

Genap, Linda-Nazrul

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Suamiku…

Entah diwaktu apa ketika kamu membaca surat ini. Apakah diwaktu pagi yang cerah, siang yang terik, sore yang begitu syahdu atau malam dengan heningnya. Sengaja aku tuliskan surat ini untuk kamu yang saat ini aku beri gelar “Suami-ku”. Kata sederhana namun begitu berharga, karena gelar itu hanya ada satu untuk bersanding dengan nama ku, dan tentu hanya dimiliki oleh satu-orang saja untuk membersamaiku. Gelar yang kemudian menjadikan semua orang mengakui bahwa saat ini kamu adalah Imam ku, ladang pahala bagiku karena bersama mu apapun yang ku lakukan kini akan bernilai ibadah dimata Allah.

Bagaimana kabar mu saat ini? Semoga Allah selalu menjaga mu agar senantiasa dalam kondisi terbaik, baik secara fisik, pikiran maupun kondisi ruhiyahmu….aamiin ya Rabb :”) Baca lebih lanjut

Mengharap Ridha Allah… :”)

Wedding Linda & Nazrul

Bismillahirrahmanirrahim…

Dalam ketidaksempurnaan, masih ada hati yang lapang untuk saling menerima

Dalam setiap perbedaan,  masih ada keterbukaan untuk saling memahami

Dalam setiap kesalahan, selalu ada kesempatan untuk saling memaafkan

dan selalu ada sebuah keyakinan bahwa Dia akan selalu membersamai

InsyaAllah…Perjalanan ini akan dimulai dalam dekapan harap ridha Allah atas apa-apa yang kami ikhtiarkan..

Semoga Allah memberkahi setiap keputusan, Kemudian memudahkan langkah kami menuju sebuah perjalanan panjang yang ikut mengokohkan bangunan PERADABAN. InsyaAllah…

Heading to 01052015

_Linda J Kusumawardani_

Pembelajar dari Kehidupan

Mengambil Hikmah dari Sebuah Keluarga (Part 2 , The End)

Prayer-faith-God-stones

Part Sebelumnya, Klik disini…

“Bu…saya ini juga masih belajar masalah agama. Jadi bukan berarti saya lebih paham. Ehmm…setahu saya bu, apapun perintah suami selama tidak bertentangan denga syariat dan perintah Allah memang harus dipenuhi. Kalau memang dirasa ada yang tidak sesuai dengan diri kita mungkin bisa dibicarakan baik-baik. Bukan berarti menolak sih, tapi bisa jadi kondisi kita yang tidak memungkinkan. Masalah saran, ya boleh banget sebagai istri memberikan masukan, selama itu demi kebaikan bersama. ”

“Tapi saran saya gak pernah diterima mbak”

“Ehmm…kalo saran, mungkin cara kita ada yang salah bu dalam menyampaikan. Ehmm..kalau sudah diperbaiki dan masih tidak berefek, mungkin yang kesalahan bukan pada sarannya bu, tapi personal. Manusia itu kan bisa punya frame terhadap seseorang karena kebiasaan yang sudah dilakukan, jadi bisa jadi frame yang terbentuk ke ibu yang membuat sarannya tidak diterima. Maksud saya kalau sudah dicoba dengan segala hal bisa jadi yang salah bukan sarannya, tapi sudut panda seseorang terhadap kita. Mau sebaik apapu saran yang diberikan kalau sudah terlanjur punya frame tidak suka atau negatif jadi sulit diterimanya”

“Jadi saya harus bagaimana mbak?”

“Ehm…Ibu pernah coba minta tolong ke orang yang nasihatnya bisa didengar bapak?”

“Belum sih mbak…saya gak mau juga sih kalau keluarga saya sampai tahu masalah rumah tangga saya.”

“Lha bu..saya malah bukan siapa-siapanya ibu” pikir saya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal

Suara hujan diluar terdengar semakin deras, petir dan kilat pun muncul bergantian membuat aku harus lebih berkonsentrasi mendengarkan suara si Ibu yang semakin lama terdengar semakin pelan. Suara sang Ayah yang sedang berbincang dengan sang Paman diteras rumah masih dapat sayup-sayup juga ku dengar. Ibu ini masih melanjutkan curahan hatinya, sesaat aku lihat jam didinding yang tepat berada disamping atas ku. Ternyata wsaktu sudah menunjukan pukul 19.20.

Si Ibu yang ngeh sepertinya dengan gerak tubuhku menyadari bahwa ini adalah waktu anaknya untuk belajar dan bukan sesi curhat dengan ku…

“Iya mba, nanti saya coba…soalnya kondisi saya saat ini memang berbeda dengan dulu. Dulu waktu anak saya masih 1, pelarian saya bisa ke hangout ke luar, makan keluar sama temen-temen. Tapi lama-kelamaan saya belajar juga. Saya bisa menghabiskan uang saya buat ego saya, makan, jalan-jalan setelah pulang dari kerja. Tapi saya bingung besok anak-anak makan apa kalau saya begini terus. Sekolah gimana kalau saya gak bantu suami saya kerja. Ya maklum mba, gaji PNS kan gak seberapa”

Saya tersenyum sambil manggut-manggut mendengar ucapan beliau…

“Sama jangan lupa doakan suami ibu terus ya bu, supaya Allah buka pintu hatinya bapak…”

“Saya sih sudah mendoakan suami saya mbak. Sampai kalau saya berdoa sama Allah kadang-kadang seperti orang yang sedang ngobrol gitu mbak bahasa nya..”

“Hehe…gak apa-apa bu, saya juga suka gitu kok kalau berdoa. Jadi kayak kita lagi ngobrol gitu sama Allah. Biar lebih plong curhatnya pas abis shalat”

“Kenapa hidup saya begini ya Allah…” dan…bla..bla..bla. Sambil beliau menggambarkan caranya berdoa dengan  menggerak-gerakkan tangannya ke atas layaknya orang sedang berdoa

“Iya bu, gak apa-apa…Allah Maha Tahu, InsyaAllah. Yang penting kita nya gak bosen berdoa. Kita bisa minta tolong sama siapa lagi selain ke Allah bu, yang menggerakkan hati manusia untuk membantu  kita itu Allah juga soalnya. Saya sendiri percaya sama kekuatan doa.”

“Iya mbak, saya juga percaya” katanya mantap sambil mengangguk-angguk

“Oiya bu, ngomong-ngomong masalah doa. Ada doa yang ibu bisa baca. Namanya doa pengikat hati…Ibu bisa baca doa itu setiap habis shalat. Sambil dibaca nanti sambil dibayangin wajahnya bapak, Semoga nanti Allah bisa melunakkan hatinya.”

“Oh ada mbak?” Tanya beliau memastikan dengan sangat antusias

“Ada bu, Saya punya pengalaman sama doa ini…Insyaallah kalau sungguh-sungguh doanya, Allah kabulkan”

“Oh gitu mba? Gimana ceritanya..?” Bola matanya kini nampak lebih membesar

“Ini sih bu, dulu waktu saya kerja…ada salah satu atasan saya yang emang sikapnya gak disukai sama semua bawahannya. Cara minta tolongnya, nyuruh-nyuruh gitu…pokoknya hampir semua satu departemen itu ngomongin beliau karena tiap hari ada aja yang gak disukai dari beliau. Saya sendiri termasuk yang sering dimintain tolong..yaa…saya sendiri juga harus sabar-sabar kan menghadapi beliau, kalau beliau salah pasti gak mau disalahkan. Akhirnya ya saya berdoa pakai doa itu bu, Alhamdulillah semakin kesini sikap beliau berubah, semakin lunak dan saya merasa jauh lebih bisa menghadapi beliau. Sampai temen-temen yang lain aja bingung, kenapa kalau ke saya nya jadi beda, lebih baik gitu katanya…hehe. Ya Alhamdulillah…karena gawat kan bu kalau saya kerja gak menikmati pekerjaan, setiap hari saya ngedumel terus, bisa-bisa rejeki saya malah jadi gak berkah…hehe ”

Wajah sang Ibu seketika berubah setelah mendengar cerita itu “Oh…begitu ya mbak? Boleh saya minta doanya..ada artinya dalam bahasa Indonesia kan mba?”

“Iya bu ada, nanti minggu depan Insyaallah saya bawakan buku nya. Ada artinya kok, dibuku itu juga ada semacam dzikir pagi-sore nya. Ibu bisa baca juga nanti”

“Ohhh…iya mba, makasih banyak ya…” beliau pun tersenyum

“Sama-sama bu…”

“Adeeek….Adeeeek…Ayo buruan belajar. Ini kak Linda nya udah nunggu” Finally… anak nya pun dipanggil untuk memulai belajar.

Alhamdulillah artinya si Ibu sudah lebih tenang dan uneg-uneg nya berkurang. Sesaat aku melihat lagi jam di dinding. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 lewat beberapa menit.

Baiklah …kalau begitu jatah belajar waktu kakak adik ini masing-masing 45 menit, karena 15 menit milik mereka sudah diambil Sang Ibu, hehe…

***

Banyak hal kemudian yang saya pelajari dari keluarga ini. Salah satunya adalah selelah apapun aktivitas kita diluar, keluarga dirumah adalah bukan tempat pelampiasan rasa lelah kita, anggota dirumah adalah orang yang paling berhak mendapatkan kasih sayang dari kita. Tak seharusnya mendepatkan luapan emosi kita yang sebenarnya hanya sesaat karena dampaknya justru malah lebih besar dan dapat berefek jangka panjang daripada emosi kita yang sesaat itu.

Dan Doa, jangan pernah berhenti berdoa. Karena Allah pasti mengabulkan doa-doa kita… :)
Note :

  • Alhamdulillah hubungan antara anak laki-laki dan ibu-nya sudah kembali baik
  • Dan Alhamdulillah Al-Matsuratnya sudah sampai ke tangan Sang Ibu semalam… :) , Semoga Allah segera kabulkan doanya ya bu…

Tamat, 27 Maret 2015

Linda J Kusumawardani

Blogger Pembelajar dari Kehidupan

Mengambil Hikmah dari Sebuah Keluarga (Part 1)

Broken Home

Jum’at, 20 Maret 2015

Senja baru saja berlalu, matahari sudah menenggelamkan dirinya diufuk barat menyisakan warna merah saga yang sayup-sayup tertutup awan kelabu.  Sore ini Kota Depok memang tampak mendung. Setelah sehari sebelumnya, disaat yang sama tubuh ku kuyup diguyur hujan yang datang mendadak tanpa memberikan aba-aba ketika aku berkendara diatas motor menuju kota itu dari tempat tinggal ku. Aku telat 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Dengan kondisi tubuh yang kepayahan dalam balutan pakaian yang sudah tak menyisakan kering, aku bergegas mengambil gadget dan menelpon seorang ibu dari dua orang anak yang seharusnya belajar bersama ku malam itu. Dengan segera aku meminta izin tak bisa mengajar dengan alasan kondisiku yang tak memungkinkan dan tentu saja keterlambatan saat itu. Beliau menyetujui jadwal hari ini akan digantikan esok hari di jam yang sama.

Malam ini aku berharap dengan sangat Allah tidak menurunkan hujannya, minimal sebelum aku sampai dirumah dua orang murid yang sudah menunggu pastinya, sesuai janjiku kemarin. Alhamdulillah mata ku  juga mulai membaik, tidak seperti malam sebelumnya. Sehari sebelumnya, salah satu sisi mata ku masih nampak bengkak pada bagian bawah kelopak dengan warna yang cukup memerah. Aku tidak ingin dikasihani bila orang lain melihatnya, pikirku. Jangankan orang lain, aku sendiri saja ketika bercermin merasa tidak tega pada diriku sendiri….Ahh, linda seharusnya kau memang lebih berhati-hati menjaga nikmat sehat ini. Hal yang sama juga terjadi pada teman-teman sekosan, mereka juga terus saja bertanya apa aku tidak apa-apa. Well, aku pastikan aku baik-baik saja walau sambil sedikit meringis menahan sakit menjawabnya. Alhamdulillah setelah dua hari melewati kondisi terparah, bengkak dan merahnya sudah mulai berkurang hari ini. Aku jadi lebih merasa percaya diri untuk mengajar. Setidaknya, ketika bertemu dengan si anak dan orang tuanya nanti mereka tidak sibuk bertanya apa yang terjadi dengan mataku. Mungkin ini salah satu hikmah mengapa Allah menurunkan hujan mendadak itu 10 menit sebelum aku tiba ditempat tujuan.

Sejak maghrib tadi langit yang sudah mulai sayup, pertanda hujan akan kembali turun. Petir dan kilat bersahutan silih berganti. Aku yang tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya bergegas keluar dari kosan setelah menyelesaikan shalat maghrib dan tilawah sebentar. Bersyukurnya aku, doa ku terkabul. Persis setelah aku mematikan motor dan mengunci stang kemudian masuk kedalam gerbang rumah, hujan mulai turun dan terus saja hingga semakin deras jatuhnya ke bumi. Jarak antara kosan dan murid les ku ini kebetulan memang terbilang dekat, kurang lebih 7 menit saja dengan menggunakan motor dengan kecepatan kira-kira 45 km/jam.

“Assalamu’alaykum…”

“Wa’alaykumsalam” Sahut seorang bapak yang sudah ku kenal, beliau adalah paman yang sering bertamu kerumah ini dari dua orang anak yang akan belajar dengan ku malam itu.

“Mari…mari masuk mbak” Sahut seorang bapak lainnya dengan perawakan tinggi besar dari dalam rumah. Kali ini sudah ku tebak beliau adalah Ayah dari dua orang murid ku. Jenis suara bass seperti ini hanya dimiliki oleh dua orang penghuni rumah. Selain sang Ayah, satu lagi adalah anak sulung dari pemilik rumah.

Sampai didalam rumah aku disambut lagi dengan seorang ibu yang tak lain adalah ibunda dari ketiga orang anaknya kira-kira, usianya aku prediksi 45 tahun. Sesaat setelah memberi salam pada sang Ibu, segera aku melemparkan senyum dan meminta maaf atas kejadian kemarin.

Kami pun berbincang ringan perihal anak-anaknya. Ibu ini memang sering meminta saran pada ku bila ada hal-hal yang memang dirasa penting…(Hehe…padahal siapalah aku ini). Dua pekan sebelumnya beliau bercerita bahwa anak laki-laki keduanya sudah satu bulan mogok bicara dengan beliau, kemudian uang jajan yang diberikan setiap pagi sebelum berangkat sekolah pun tidak pernah diambil. Tidak hanya itu, apa yang dimasak oleh Sang Ibunda pun tak pernah dimakannya. Masih teringat wajah beliau saat bercerita, hanya raut wajah kecewa namun lisannya terus saja mendoakannya. Beliau sadar betul, apapun yang dikatakan kepada anaknya akan menjadi doa. Selama satu bulan itu beliau benar-benar menjaga lisannya, agar tak mendoakan sesuatu yang buruk untuk sang anak. Sebagai seorang ibu yang memiliki kasih sayang tentu berbagai usaha telah dilakukan, mulai dari mengajak berbicara, meminta maaf dan mendoakan. Namun selama itu, perilaku anaknya masih belum berubah. Sepele sebenarnya, semua ini terjadi sejak permintaannya untuk membeli sebuah jaket tidak dikabulkan oleh sang Ibu. Dia berpikir bahwa Ibunya pilih kasih pada kakak dan adiknya. Dia merasa selama ini tidak pernah meminta apapun, ini adalah permintaan pertamanya dan itu tidak dikabulkan. Aku sedih mendengarnya… :( , Seharusnya dia menghitung lebih banyak lagi, apa yang telah diberikan oleh Ibunda hingga dia sebesar ini. Dan waktu satu bulan adalah waktu yang sangat lama untuk ngambek begitu. Apalagi ini pada orang tua dan itu Ibu.

Aku menyarankan untuk bekerjasama dengan sang ayah untuk memberitahu anaknya pelan-pelan. Namun, ekspresi wajah sang ibu tertunduk sambil mengatakan “Bapaknya itu gak deket sama anak-anak, mbak. Dia gak peduli dengan apa yang terjadi, cuek saja”

*Deg….Astaghfirullah… aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar kalimat ini. Sedihku kini bertambah-tambah  :( . Bagaimana perkembangan anak-anaknya dalam segala hal bisa sehat bila tidak ada kerjasama antara Ibu dan Ayah dalam mendidik anak-anaknya. Sejak itu, aku mulai mengerti kenapa dua orang anak yang belajar dengan ku memiliki kadar tanggung jawab, disiplin dan mental yang tidak cukup baik.

Kok horor banget ya dengernya…Waktu itu cuma bisa berdoa dalam hati “Ya Allah mampukan aku dan suami ku kelak menjadi orang tua terbaik yang dapat mendidik anak-anak kami untuk menjadi hamba-hamba terbaik dimuka bumi dan tidak hanya mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan dunia. Namun mengantarkan mereka sampai ke syurga” Baca lebih lanjut