Mengambil Hikmah dari Sebuah Keluarga (Part 2 , The End)

Prayer-faith-God-stones

Part Sebelumnya, Klik disini…

“Bu…saya ini juga masih belajar masalah agama. Jadi bukan berarti saya lebih paham. Ehmm…setahu saya bu, apapun perintah suami selama tidak bertentangan denga syariat dan perintah Allah memang harus dipenuhi. Kalau memang dirasa ada yang tidak sesuai dengan diri kita mungkin bisa dibicarakan baik-baik. Bukan berarti menolak sih, tapi bisa jadi kondisi kita yang tidak memungkinkan. Masalah saran, ya boleh banget sebagai istri memberikan masukan, selama itu demi kebaikan bersama. ”

“Tapi saran saya gak pernah diterima mbak”

“Ehmm…kalo saran, mungkin cara kita ada yang salah bu dalam menyampaikan. Ehmm..kalau sudah diperbaiki dan masih tidak berefek, mungkin yang kesalahan bukan pada sarannya bu, tapi personal. Manusia itu kan bisa punya frame terhadap seseorang karena kebiasaan yang sudah dilakukan, jadi bisa jadi frame yang terbentuk ke ibu yang membuat sarannya tidak diterima. Maksud saya kalau sudah dicoba dengan segala hal bisa jadi yang salah bukan sarannya, tapi sudut panda seseorang terhadap kita. Mau sebaik apapu saran yang diberikan kalau sudah terlanjur punya frame tidak suka atau negatif jadi sulit diterimanya”

“Jadi saya harus bagaimana mbak?”

“Ehm…Ibu pernah coba minta tolong ke orang yang nasihatnya bisa didengar bapak?”

“Belum sih mbak…saya gak mau juga sih kalau keluarga saya sampai tahu masalah rumah tangga saya.”

“Lha bu..saya malah bukan siapa-siapanya ibu” pikir saya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal

Suara hujan diluar terdengar semakin deras, petir dan kilat pun muncul bergantian membuat aku harus lebih berkonsentrasi mendengarkan suara si Ibu yang semakin lama terdengar semakin pelan. Suara sang Ayah yang sedang berbincang dengan sang Paman diteras rumah masih dapat sayup-sayup juga ku dengar. Ibu ini masih melanjutkan curahan hatinya, sesaat aku lihat jam didinding yang tepat berada disamping atas ku. Ternyata wsaktu sudah menunjukan pukul 19.20.

Si Ibu yang ngeh sepertinya dengan gerak tubuhku menyadari bahwa ini adalah waktu anaknya untuk belajar dan bukan sesi curhat dengan ku…

“Iya mba, nanti saya coba…soalnya kondisi saya saat ini memang berbeda dengan dulu. Dulu waktu anak saya masih 1, pelarian saya bisa ke hangout ke luar, makan keluar sama temen-temen. Tapi lama-kelamaan saya belajar juga. Saya bisa menghabiskan uang saya buat ego saya, makan, jalan-jalan setelah pulang dari kerja. Tapi saya bingung besok anak-anak makan apa kalau saya begini terus. Sekolah gimana kalau saya gak bantu suami saya kerja. Ya maklum mba, gaji PNS kan gak seberapa”

Saya tersenyum sambil manggut-manggut mendengar ucapan beliau…

“Sama jangan lupa doakan suami ibu terus ya bu, supaya Allah buka pintu hatinya bapak…”

“Saya sih sudah mendoakan suami saya mbak. Sampai kalau saya berdoa sama Allah kadang-kadang seperti orang yang sedang ngobrol gitu mbak bahasa nya..”

“Hehe…gak apa-apa bu, saya juga suka gitu kok kalau berdoa. Jadi kayak kita lagi ngobrol gitu sama Allah. Biar lebih plong curhatnya pas abis shalat”

“Kenapa hidup saya begini ya Allah…” dan…bla..bla..bla. Sambil beliau menggambarkan caranya berdoa dengan  menggerak-gerakkan tangannya ke atas layaknya orang sedang berdoa

“Iya bu, gak apa-apa…Allah Maha Tahu, InsyaAllah. Yang penting kita nya gak bosen berdoa. Kita bisa minta tolong sama siapa lagi selain ke Allah bu, yang menggerakkan hati manusia untuk membantu  kita itu Allah juga soalnya. Saya sendiri percaya sama kekuatan doa.”

“Iya mbak, saya juga percaya” katanya mantap sambil mengangguk-angguk

“Oiya bu, ngomong-ngomong masalah doa. Ada doa yang ibu bisa baca. Namanya doa pengikat hati…Ibu bisa baca doa itu setiap habis shalat. Sambil dibaca nanti sambil dibayangin wajahnya bapak, Semoga nanti Allah bisa melunakkan hatinya.”

“Oh ada mbak?” Tanya beliau memastikan dengan sangat antusias

“Ada bu, Saya punya pengalaman sama doa ini…Insyaallah kalau sungguh-sungguh doanya, Allah kabulkan”

“Oh gitu mba? Gimana ceritanya..?” Bola matanya kini nampak lebih membesar

“Ini sih bu, dulu waktu saya kerja…ada salah satu atasan saya yang emang sikapnya gak disukai sama semua bawahannya. Cara minta tolongnya, nyuruh-nyuruh gitu…pokoknya hampir semua satu departemen itu ngomongin beliau karena tiap hari ada aja yang gak disukai dari beliau. Saya sendiri termasuk yang sering dimintain tolong..yaa…saya sendiri juga harus sabar-sabar kan menghadapi beliau, kalau beliau salah pasti gak mau disalahkan. Akhirnya ya saya berdoa pakai doa itu bu, Alhamdulillah semakin kesini sikap beliau berubah, semakin lunak dan saya merasa jauh lebih bisa menghadapi beliau. Sampai temen-temen yang lain aja bingung, kenapa kalau ke saya nya jadi beda, lebih baik gitu katanya…hehe. Ya Alhamdulillah…karena gawat kan bu kalau saya kerja gak menikmati pekerjaan, setiap hari saya ngedumel terus, bisa-bisa rejeki saya malah jadi gak berkah…hehe ”

Wajah sang Ibu seketika berubah setelah mendengar cerita itu “Oh…begitu ya mbak? Boleh saya minta doanya..ada artinya dalam bahasa Indonesia kan mba?”

“Iya bu ada, nanti minggu depan Insyaallah saya bawakan buku nya. Ada artinya kok, dibuku itu juga ada semacam dzikir pagi-sore nya. Ibu bisa baca juga nanti”

“Ohhh…iya mba, makasih banyak ya…” beliau pun tersenyum

“Sama-sama bu…”

“Adeeek….Adeeeek…Ayo buruan belajar. Ini kak Linda nya udah nunggu” Finally… anak nya pun dipanggil untuk memulai belajar.

Alhamdulillah artinya si Ibu sudah lebih tenang dan uneg-uneg nya berkurang. Sesaat aku melihat lagi jam di dinding. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 lewat beberapa menit.

Baiklah …kalau begitu jatah belajar waktu kakak adik ini masing-masing 45 menit, karena 15 menit milik mereka sudah diambil Sang Ibu, hehe…

***

Banyak hal kemudian yang saya pelajari dari keluarga ini. Salah satunya adalah selelah apapun aktivitas kita diluar, keluarga dirumah adalah bukan tempat pelampiasan rasa lelah kita, anggota dirumah adalah orang yang paling berhak mendapatkan kasih sayang dari kita. Tak seharusnya mendepatkan luapan emosi kita yang sebenarnya hanya sesaat karena dampaknya justru malah lebih besar dan dapat berefek jangka panjang daripada emosi kita yang sesaat itu.

Dan Doa, jangan pernah berhenti berdoa. Karena Allah pasti mengabulkan doa-doa kita… :)
Note :

  • Alhamdulillah hubungan antara anak laki-laki dan ibu-nya sudah kembali baik
  • Dan Alhamdulillah Al-Matsuratnya sudah sampai ke tangan Sang Ibu semalam… :) , Semoga Allah segera kabulkan doanya ya bu…

Tamat, 27 Maret 2015

Linda J Kusumawardani

Blogger Pembelajar dari Kehidupan

Mengambil Hikmah dari Sebuah Keluarga (Part 1)

Broken Home

Jum’at, 20 Maret 2015

Senja baru saja berlalu, matahari sudah menenggelamkan dirinya diufuk barat menyisakan warna merah saga yang sayup-sayup tertutup awan kelabu.  Sore ini Kota Depok memang tampak mendung. Setelah sehari sebelumnya, disaat yang sama tubuh ku kuyup diguyur hujan yang datang mendadak tanpa memberikan aba-aba ketika aku berkendara diatas motor menuju kota itu dari tempat tinggal ku. Aku telat 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Dengan kondisi tubuh yang kepayahan dalam balutan pakaian yang sudah tak menyisakan kering, aku bergegas mengambil gadget dan menelpon seorang ibu dari dua orang anak yang seharusnya belajar bersama ku malam itu. Dengan segera aku meminta izin tak bisa mengajar dengan alasan kondisiku yang tak memungkinkan dan tentu saja keterlambatan saat itu. Beliau menyetujui jadwal hari ini akan digantikan esok hari di jam yang sama.

Malam ini aku berharap dengan sangat Allah tidak menurunkan hujannya, minimal sebelum aku sampai dirumah dua orang murid yang sudah menunggu pastinya, sesuai janjiku kemarin. Alhamdulillah mata ku  juga mulai membaik, tidak seperti malam sebelumnya. Sehari sebelumnya, salah satu sisi mata ku masih nampak bengkak pada bagian bawah kelopak dengan warna yang cukup memerah. Aku tidak ingin dikasihani bila orang lain melihatnya, pikirku. Jangankan orang lain, aku sendiri saja ketika bercermin merasa tidak tega pada diriku sendiri….Ahh, linda seharusnya kau memang lebih berhati-hati menjaga nikmat sehat ini. Hal yang sama juga terjadi pada teman-teman sekosan, mereka juga terus saja bertanya apa aku tidak apa-apa. Well, aku pastikan aku baik-baik saja walau sambil sedikit meringis menahan sakit menjawabnya. Alhamdulillah setelah dua hari melewati kondisi terparah, bengkak dan merahnya sudah mulai berkurang hari ini. Aku jadi lebih merasa percaya diri untuk mengajar. Setidaknya, ketika bertemu dengan si anak dan orang tuanya nanti mereka tidak sibuk bertanya apa yang terjadi dengan mataku. Mungkin ini salah satu hikmah mengapa Allah menurunkan hujan mendadak itu 10 menit sebelum aku tiba ditempat tujuan.

Sejak maghrib tadi langit yang sudah mulai sayup, pertanda hujan akan kembali turun. Petir dan kilat bersahutan silih berganti. Aku yang tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya bergegas keluar dari kosan setelah menyelesaikan shalat maghrib dan tilawah sebentar. Bersyukurnya aku, doa ku terkabul. Persis setelah aku mematikan motor dan mengunci stang kemudian masuk kedalam gerbang rumah, hujan mulai turun dan terus saja hingga semakin deras jatuhnya ke bumi. Jarak antara kosan dan murid les ku ini kebetulan memang terbilang dekat, kurang lebih 7 menit saja dengan menggunakan motor dengan kecepatan kira-kira 45 km/jam.

“Assalamu’alaykum…”

“Wa’alaykumsalam” Sahut seorang bapak yang sudah ku kenal, beliau adalah paman yang sering bertamu kerumah ini dari dua orang anak yang akan belajar dengan ku malam itu.

“Mari…mari masuk mbak” Sahut seorang bapak lainnya dengan perawakan tinggi besar dari dalam rumah. Kali ini sudah ku tebak beliau adalah Ayah dari dua orang murid ku. Jenis suara bass seperti ini hanya dimiliki oleh dua orang penghuni rumah. Selain sang Ayah, satu lagi adalah anak sulung dari pemilik rumah.

Sampai didalam rumah aku disambut lagi dengan seorang ibu yang tak lain adalah ibunda dari ketiga orang anaknya kira-kira, usianya aku prediksi 45 tahun. Sesaat setelah memberi salam pada sang Ibu, segera aku melemparkan senyum dan meminta maaf atas kejadian kemarin.

Kami pun berbincang ringan perihal anak-anaknya. Ibu ini memang sering meminta saran pada ku bila ada hal-hal yang memang dirasa penting…(Hehe…padahal siapalah aku ini). Dua pekan sebelumnya beliau bercerita bahwa anak laki-laki keduanya sudah satu bulan mogok bicara dengan beliau, kemudian uang jajan yang diberikan setiap pagi sebelum berangkat sekolah pun tidak pernah diambil. Tidak hanya itu, apa yang dimasak oleh Sang Ibunda pun tak pernah dimakannya. Masih teringat wajah beliau saat bercerita, hanya raut wajah kecewa namun lisannya terus saja mendoakannya. Beliau sadar betul, apapun yang dikatakan kepada anaknya akan menjadi doa. Selama satu bulan itu beliau benar-benar menjaga lisannya, agar tak mendoakan sesuatu yang buruk untuk sang anak. Sebagai seorang ibu yang memiliki kasih sayang tentu berbagai usaha telah dilakukan, mulai dari mengajak berbicara, meminta maaf dan mendoakan. Namun selama itu, perilaku anaknya masih belum berubah. Sepele sebenarnya, semua ini terjadi sejak permintaannya untuk membeli sebuah jaket tidak dikabulkan oleh sang Ibu. Dia berpikir bahwa Ibunya pilih kasih pada kakak dan adiknya. Dia merasa selama ini tidak pernah meminta apapun, ini adalah permintaan pertamanya dan itu tidak dikabulkan. Aku sedih mendengarnya… :( , Seharusnya dia menghitung lebih banyak lagi, apa yang telah diberikan oleh Ibunda hingga dia sebesar ini. Dan waktu satu bulan adalah waktu yang sangat lama untuk ngambek begitu. Apalagi ini pada orang tua dan itu Ibu.

Aku menyarankan untuk bekerjasama dengan sang ayah untuk memberitahu anaknya pelan-pelan. Namun, ekspresi wajah sang ibu tertunduk sambil mengatakan “Bapaknya itu gak deket sama anak-anak, mbak. Dia gak peduli dengan apa yang terjadi, cuek saja”

*Deg….Astaghfirullah… aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar kalimat ini. Sedihku kini bertambah-tambah  :( . Bagaimana perkembangan anak-anaknya dalam segala hal bisa sehat bila tidak ada kerjasama antara Ibu dan Ayah dalam mendidik anak-anaknya. Sejak itu, aku mulai mengerti kenapa dua orang anak yang belajar dengan ku memiliki kadar tanggung jawab, disiplin dan mental yang tidak cukup baik.

Kok horor banget ya dengernya…Waktu itu cuma bisa berdoa dalam hati “Ya Allah mampukan aku dan suami ku kelak menjadi orang tua terbaik yang dapat mendidik anak-anak kami untuk menjadi hamba-hamba terbaik dimuka bumi dan tidak hanya mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan dunia. Namun mengantarkan mereka sampai ke syurga” Baca lebih lanjut

Hanya Ingin Memberi yang Terbaik…

terbaik

Ya Allah… Seandainya semua permasalahan ini bisa aku selesaikan sendiri, tak perlu rasanya aku merepotkan orang lain.

Ya Allah…Seandainya semua hal ini bisa berjalan sesuai dengan inginku, tak perlu susah payah aku menumpuk pikiran bagaimana cara menyelesaikannya.

Itu semua memang tak mungkin terjadi, karena hambatan yang ada adalah bagian dari ujian yang hadir. Minimal untuk diri sendiri, agar aku lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan.Aku pun memahami bahwa semua itu adalah letak ujian dari setiap perjalanan yang akan mencapai satu titik capaian hasil yang akan aku syukuri.

Menumpuk-numpuk pikiran sendiri rasanya juga bukan hal yang bijak, semakin menumpuk rasanya semakin dzalim pada diri sendiri. Mengapa tak mencoba dikomunikasikan saja pikir ku, tapi tetap saja aku tak ingin membebani orang lain. Sulit bagiku untuk bahkan sekedar meminta tolong apalagi selama aku masih bisa mengusahakannya, perasaan segan yang muncul masih terlalu besar sehingga sering menghalang-halangi ku untuk bicara. Karena justru adalah hal lebih membebani adalah ketika aku malah memberatkan dan membuat repot orang lain. Aku lebih mampu berpura-pura kuat dan menutupi rasa yang sebenarnya daripada harus merasa memberatkan orang lain. Karena menjadi dan memberikan yang terbaik tanpa membebani orang lain adalah hal yang lebih penting bagiku, tak peduli betapa sulitnya perjalanan, karena aku mempunyai sumber kekuatan terbesar….yaitu Kau ya Allah.

Rabbuna…Mampukan aku agar bisa memberikan yang terbaik bagi siapapun orang-orang yang aku kasihi. Walau aku pun menyadari memberikan yang terbaik memang belum tentu menjadi yang terbaik…

Disini, Seorang Manusia yang masih harus banyak belajar memperbaiki diri…

Linda J Kusumawardani

_Pembelajar dari Kehidupan_

Tweets #Takdir

Pantang Mengeluh ^^

Semangat Kaka

Sesibuk apapun diri kita, ketika kesibukan itu banyak memberi manfaat bagi orang-orang disekitar dan tidak menyebabkan jarak kita dengan Allah semakin jauh seharusnya tidak membuat kita mengeluh. Dan saya sedang berusaha akan hal ini… Berusaha mencari penawar ditengah-tengah aktivitas adalah salah satu cara untuk mengatasi rasa lelah itu sendiri.

2 minggu ini bukan seperti minggu-minggu sebelumnya. MasyaAllah…rasanya kewajiban yang harus ditunaikan memang lebih banyak dari waktu yang ada. Mau mengeluh, malu rasanya sama Allah…nikmat yang diberikan sudah cukup banyak, apa pantas jika saya masih mengeluh.

Rasanya bukan suatu masalah jika 2 minggu terakhir, saya memiliki rata-rata jam tidur hanya < 5 jam/hari dan itu seringnya didepan laptop..hehe. Kalau Rasulullah saja tidurnya lebih sedikit, kenapa kita mengeluh? Apa pantas? bahkan yang beliau pikirkan jauh lebih berat dari saya…Astagfirullah…Faghfirlana ya Rabbana…

Yang perlu dipikirkan dan menjadi PR kemudian adalah bagaimana tidur saya ini bisa berkualitas, yap…bukan malah menuntut memiliki kuantitas jam tidurnya ditambahkan. Beberapa hal yang kemudian saya lakukan adalah minum susu sebelum tidur dan mandi air hangat dengan sedikit tambahan garam supaya saraf-saraf lebih rileks. Alhamdulillah tingkat keberhasilannya cukup baik. Selain itu, saya juga memanfaatkan perjalanan untuk tidur. Misalnya perjalanan Depok-Bogor dengan commuter line, kondisi CL yang sangat longgar dan dingin juga sangat membantu saya untuk memberikan kualitas tidur yang cukup. Minimalnya saya bisa seger saat ngajar mahasiswa-mahasiswa saya setelah semalaman saya mempersiapkan bahan perkuliahan. Maklum saja, saya ini bukan apoteker atau yang mahir dibidang farmasi. Kondisi ini juga yang memotivasi  untuk belajar lebih dalam tentang Kimia farmasi, ditambah lagi Kimia Farmasi sebenarnya adalah bukan spesialisasi saya. Jadi ya pada akhirnya saya merasa perlu mempersiapkan dengan sebaik-baiknya mata kuliah ini, baik teori ataupun praktikum *Tsaaah… hehe… Efek begadangnya lumayan agak sampai malam.. Padahal kata Bang Oma “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya…” eh…tapi ini ada artinya sih… :D ,

*Maap ya Bang…saya jadi punya alasan…

Nah…Allah juga maha baik, saya Alhamdulillah dikasih rejeki lagi…Sekarang ini jadwal ngajar les adek-adek SMA lagi full, Senin-Jumat. Dan itu biasanya malam…Ya konsekuensi, klo paginya ada jadwal ngisi kuliah di Bogor malemnya saya harus siap ngajar juga yang itu ada dikota berbeda…hoho..Padahal lokasinya cuma ada di Depok atau Kisaran Cibubur. Tapi…Alhamdulillah-nya saya bisa menyesuaikan dengan cepat kondisi saya dengan lokasi saya sebelumnya, karena sudah 3 bulan terakhir ini saya dibolehkan membawa sepeda motor…Iyeay! Jadi waktu tempuhnya bisa lebih cepat…

Selanjutnya adalah menentukan jadwal pekanan adek2. Semester ini sungguh sesuatu sekali, karena jadwal kuliah yang berbeda-beda menyebabkan ketidakstabilan kehadiran dan yang lain-lain jadinya. Alhamdulillah setelah diatur sedemikian rupa, sebaik mungkin supaya tidak bentrok…Diipilihlah Hari Rabu Pagi, Sore dan Jum’at siang…

MasyaAllah…kalau mau bersabar sedikit saja ya…semua pasti selesai sih… Alhamdulillah, Selesai kan semua… :D :D :D . Hari ini sudah mulai lebih normal dari hari-hari kemarin. Walaupun masih ada PR yang belum selesai sih memang. Cuma at least, model tidur begadang-begadang ini jadi bisa diminimalisir. Paling engga buat hati aku…eh maksudnya organ hati lho ya…biar kerjanya lebih maksimal.

Alhamdulillah juga 2 minggu kemaren kalau lagi kerasa capek jasadiyahnya, sebelum sampai pada titik jenuh sudah melakukan hal-hal yang bisa jadi penawar, salah satunya Tidur…hehe…why? Ya klo udah ngantuk dipaksa tetep melek, yakin deh melek juga hasilnya gak maksimal. Jadi mendingan tidur aja…Gak usah dipaksain juga klo mata udah gak sanggup. Terus, yang kedua Jalan-jalan. Eits, tapi ini bukan hanya sekedar jalan-jalan. Jalan-jalannya harus punya tujuan, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui gitu…Alhamdulillah gak hanya sekedar jalan-jalan. Tapi jalan-jalannya juga sekalian memenuhi tujuan yang lain, dan ini Alhamdulillah juga terpenuhi…

Jadi, kalo dipikir-pikir nih ya, tips yang bisa dikasih kalo kondisinya lagi begitu…Pertama, Pastikan segala sesuatu itu dipikirkan dulu dengan tenang…supaya engga terburu-buru jadi lebih terarah apa yang mau dikerjain. Kedua, jangan lupa tetap menjaga kestabilan emosi. Kalo emosi, uring-uringan gak jelas malah semakin semrawut yang ada. So..Belajar lebih bersabar…karena jangan sampai gegara emosi kita yang gak ke kontrol malah orang-orang terdekat kita yang jadi korban. Ketiga, kalo memang dirasa perlu semacam refreshing, why not? Just do it…Tapi tetep ya gak hanya refreshing..tapi gimana refreshing kita juga bermanfaat. Keempat, banyak-banyak beristighfar, supaya Allah tunjukan kemudahan ditengah-tengah kesulitan. Bisa jadi gak keliatan jalan keluarnya, karena ketutupan dosa kita. Terakhir, jangan lupa juga berdoa dan semangaat teruss…Pantang mengeluh..temukan penawar mu sebelum berada pada titik jenuh :D

Mungkin sekian curhatan malam ini…

Wasalam,

Depok, 3 Maret 2015

Linda J Kusumawardani

Blogger ^Pembelajar dari Kehidupan^

Telepati…

Entah mengapa rasanya seperti ada yang mengendap-endap, menyelinap masuk ke dalam ruang bilik hati. Seolah telah mencuri dengar pembicaraan dari dalamnya. Hingga ketika ada sebuah rasa yang berusaha mengaburkan ketenangan dengan melambaikan tangan seolah mengajak ku beranjak dari sini. Saat itu pula, terdengarlah sebuah suara berbisik lembut untuk menguatkanku. Seperti sebuah telepati yang menembus jarak dalam ratusan bahkan ribuan kilometer, bisikan itu datang secepat kilat memberikan sebuah isyarat tertentu..

Telepati…Tak nampak dalam pandanganku bagaimana cara mu sampai. Berjalan-kah? atau berlari untuk segera menghampiri ku? Semua terasa ghaib dalam logika milik ku. Namun kehadiran mu begitu terasa cepat hingga tak perlu membuatku menunggu lama.

Telepati…Kali ini, Aku tak sedang meragukan keberadaan mu. Karena sudah kesekian-kali nya kau memahami kapan aku membutuhkan mu untuk sekedar memberikan jawaban atas setiap tanya yang singgah menghampiri.

Ahh, agaknya aku mulai benar-benar meyakini keberadaan mu, duhai telepati…

Walau tak terlihat, namun kau dapat dirasakan…

Dan aku sedang membuktikannya, dalam pertemuan kita pada satu titik frekuensi yang sama walau dalam jarak yang cukup jauh. Lihatlah, Bagaimana pertemuan kita dihubungkan pada satu titik tujuan yang sama, layaknya pemancar dan penerima gelombang radio. Keduanya dapat saling bertemu ketika saling menginginkan pertemuan pada satu frekuensi tertentu…

Terima kasih, telepati….

===Linda J Kusumawardani===Pembelajar dari Kehidupan===28022015===

Bapak yang Sangat Baik Hati

help

Malam itu kesalahan saya memang tak berhati-hati dalam menyimpan dengan baik salah satu handphone hari Jumat kemarin, saya membiarkan handphone itu tersimpan disalah satu saku jaket yang saya pakai. Seharusnya memang saya titipkan saja pada teman saya yang ketika itu membawa tas kecil. Saya yang diboncengi motor dan duduk gaya perempuan, sibuk membalas chat WA beberapa orang teman. Hingga akhirnya tanpa saya sadari handphone yang tersimpan disaku jaket pun terjatuh.

HP

“Praaaang” sebuah suara nyaring pun terjatuh disaat saya menyusuri jalan Margonda-Depok

Saya yang saat itu mendengar suara nyaring itu tak terlalu menggubris, hingga akhirnya setelah motor berjalan sekitar 100 m, saya tanpa sengaja memegang saku jaket tak mendapati handphone bercasing biru tersebut. Dengan pikiran agak panik namun tetap (berusaha) tenang mencoba mengingat apa benar tadi handphone itu saya bawa. Segera saya bertanya pada teman yang membawa motor,
Eka, tadi apa aku titip handphone?”…
“Engga kak, emang dimana nyimpennya?” belum dijawab dia pun melanjutkan “Jangan bilang kalo yang tadi jatoh itu handphone kakak?”
Saat itu juga kami pun berpikir hal yang sama…dan langsung beristighfar bersama-sama “Astghfirullah….”

Dengan segera saya langsung turun dari motor “Tunggu disini aja ya” , karena saya pun tahu agak sulit untuk menyusuri jalan balik menggunakan motor yang hanya satu arah itu.

Dengan segera saya berjalan balik dengan sedikit agak berlari dan mengamati sepanjang jalan raya Margonda antara Margonda Residence sampai Gang Kober. Entah bagaimana, pikiran saya hanyalah puing-puing handphone bercasing biru yang akan saya temukan. Antara berdoa dan berpasrah dengan bentuk handphone itu, pikiran saya cukup sederhana paling tidak saya bisa mendapatkan sim cardnya. Dengan agak tergesa-gesa sepanjang jalan sayangnya saya tak kunjung menemukan handphone itu, bahkan serpihannya pun tidak. Ahh…saya mulai bingung sampai sini. Saya kembali berjalan putar balik berharap masih menemukan puing-puingnya kalaupun benar sudah hancur. Baca lebih lanjut