Telepati…

Entah mengapa rasanya seperti ada yang mengendap-endap, menyelinap masuk ke dalam ruang bilik hati. Seolah telah mencuri dengar pembicaraan dari dalamnya. Hingga ketika ada sebuah rasa yang berusaha mengaburkan ketenangan dengan melambaikan tangan seolah mengajak ku beranjak dari sini. Saat itu pula, terdengarlah sebuah suara berbisik lembut untuk menguatkanku. Seperti sebuah telepati yang menembus jarak dalam ratusan bahkan ribuan kilometer, bisikan itu datang secepat kilat memberikan sebuah isyarat tertentu..

Telepati…Tak nampak dalam pandanganku bagaimana cara mu sampai. Berjalan-kah? atau berlari untuk segera menghampiri ku? Semua terasa ghaib dalam logika milik ku. Namun kehadiran mu begitu terasa cepat hingga tak perlu membuatku menunggu lama.

Telepati…Kali ini, Aku tak sedang meragukan keberadaan mu. Karena sudah kesekian-kali nya kau memahami kapan aku membutuhkan mu untuk sekedar memberikan jawaban atas setiap tanya yang singgah menghampiri.

Ahh, agaknya aku mulai benar-benar meyakini keberadaan mu, duhai telepati…

Walau tak terlihat, namun kau dapat dirasakan…

Dan aku sedang membuktikannya, dalam pertemuan kita pada satu titik frekuensi yang sama walau dalam jarak yang cukup jauh. Lihatlah, Bagaimana pertemuan kita dihubungkan pada satu titik tujuan yang sama, layaknya pemancar dan penerima gelombang radio. Keduanya dapat saling bertemu ketika saling menginginkan pertemuan pada satu frekuensi tertentu…

Terima kasih, telepati….

===Linda J Kusumawardani===Pembelajar dari Kehidupan===28022015===

Bapak yang Sangat Baik Hati

help

Malam itu kesalahan saya memang tak berhati-hati dalam menyimpan dengan baik salah satu handphone hari Jumat kemarin, saya membiarkan handphone itu tersimpan disalah satu saku jaket yang saya pakai. Seharusnya memang saya titipkan saja pada teman saya yang ketika itu membawa tas kecil. Saya yang diboncengi motor dan duduk gaya perempuan, sibuk membalas chat WA beberapa orang teman. Hingga akhirnya tanpa saya sadari handphone yang tersimpan disaku jaket pun terjatuh.

HP

“Praaaang” sebuah suara nyaring pun terjatuh disaat saya menyusuri jalan Margonda-Depok

Saya yang saat itu mendengar suara nyaring itu tak terlalu menggubris, hingga akhirnya setelah motor berjalan sekitar 100 m, saya tanpa sengaja memegang saku jaket tak mendapati handphone bercasing biru tersebut. Dengan pikiran agak panik namun tetap (berusaha) tenang mencoba mengingat apa benar tadi handphone itu saya bawa. Segera saya bertanya pada teman yang membawa motor,
Eka, tadi apa aku titip handphone?”…
“Engga kak, emang dimana nyimpennya?” belum dijawab dia pun melanjutkan “Jangan bilang kalo yang tadi jatoh itu handphone kakak?”
Saat itu juga kami pun berpikir hal yang sama…dan langsung beristighfar bersama-sama “Astghfirullah….”

Dengan segera saya langsung turun dari motor “Tunggu disini aja ya” , karena saya pun tahu agak sulit untuk menyusuri jalan balik menggunakan motor yang hanya satu arah itu.

Dengan segera saya berjalan balik dengan sedikit agak berlari dan mengamati sepanjang jalan raya Margonda antara Margonda Residence sampai Gang Kober. Entah bagaimana, pikiran saya hanyalah puing-puing handphone bercasing biru yang akan saya temukan. Antara berdoa dan berpasrah dengan bentuk handphone itu, pikiran saya cukup sederhana paling tidak saya bisa mendapatkan sim cardnya. Dengan agak tergesa-gesa sepanjang jalan sayangnya saya tak kunjung menemukan handphone itu, bahkan serpihannya pun tidak. Ahh…saya mulai bingung sampai sini. Saya kembali berjalan putar balik berharap masih menemukan puing-puingnya kalaupun benar sudah hancur. Baca lebih lanjut

Terapi Apel Mengeluarkan Batu Empedu

Assalamu’alaykum Temans…

Kali ini saya mau coba sharing-sharing tentang pengobatan batu empedu tanpa operasi. Sebenarnya artikel semacam ini sudah banyak yang share dan bisa ditemukan dengan mudah didunia maya. Namun, tulisan ini akan ditulis berdasarkan pengalaman pribadi saya, eh mama saya maksudnya. Kebetulan saat beliau melakukan terapi ini, saya yang kontrol dan benar-benar mendampingi beliau.
Pertama, saya sharing dulu tentang batu empedunya ya…Ini saya coba ambil informasinya dari Web : http://gleneagles.com.sg/
Batu empedu adalah substansi seperti batu berukuran kecil yang berada di dalam kantung empedu. Substansi ini terbuat dari empedu yang mengeras, yang dihasilkan dalam hati. Empedu adalah cairan pencernaan yang runtuh dan mencerna lemak dalam tubuh. Terbuat dari kolesterol, air, lemak, garam empedu dan bilirubin (produk limbah sel-sel darah merah yang hancur), empedu dihasilkan di dalam hati dan disimpan dalam kantung empedu untuk mengencerkan kolesterol berlemak yang dialirkan melalui saluran. Batu empedu terjadi ketika terdapat terlalu banyak kolesterol, bilirubin atau garam empedu, menyebabkan empedu cair kurang berair. Hal ini menyebabkan pengerasan dan pembentukan batu empedu. Terdapat dua jenis batu empedu yang dikenal dengan batu kolesterol atau batu pigmen.
Mengingat kolesterol adalah lemak, maka harus dihancurkan dan diencerkan sebelum dapat dialirkan secara efektif. Dalam kondisi di mana terdapat terlalu banyak kolesterol dalam sistem, partikel kolesterol saling menempel dan ukurannya membesar hingga membentuk batu empedu. Hal ini dapat pula diakibatkan oleh pertumbuhan tidak normal kolesterol dalam sistem serta penurunan kerja kontraksi kantung empedu yang memungkinkan empedu tetap berada dalam kantung empedu dalam waktu yang lebih lama. Batu-batu empedu ini dikenal sebagai batu kolesterol.
Batu-batu pigmen adalah batu yang terbentuk akibat tingginya tingkat bilirubin dalam sistem. Terdapat dua jenis batu pigmen: batu pigmen hitam dan cokelat.
Batu pigmen hitam terjadi ketika terdapat bilirubin berlebihan dalam empedu yang menyebabkannya menempel pada mineral lain seperti kalsium sehingga membentuk pigmen. Seiring berjalannya waktu, partikel ini mulai tumbuh dan menjadi batu pigmen hitam yang keras dan seperti batu. Batu pigmen cokelat terjadi ketika bakteri dari usus dua belas jari (bagian pertama dari usus kecil) memasuki kantung empedu sehingga menyebabkan perubahan struktur bilirubin. Hal ini mengubah bilirubin lalu memadukannya dengan kalsium dan lemak dalam empedu, dan pada akhirnya menyebabkan pembentukan batu pigmen cokelat ini.
Keberadaan batu empedu dapat berupa satu batu empedu besar (sebesar bola golf) atau banyak batu-batu kecil, atau bahkan kombinasi keduanya.

Tanda dan Gejala Batu Empedu
Bergantung pada ukuran dan jumlah batu empedu yang terbentuk serta lokasinya, keparahan gejala dapat beragam. Gejala-gejala ini dapat mencakup:
• Nyeri berat di daerah perut atas bagian kanan
• Sakit kuning (terjadi ketika terjadi penyumbatan dalam waktu lama)
• Demam (jika timbul komplikasi)
• Muntah-muntah

Dan secara umum, gejalanya mirip dengan penyakit maag. Baca lebih lanjut

Menyerah (kan) Pada Allah…

Tawakal

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah Allah berikan kesempatan kembali jari-jari ini untuk berkreasi diatas keypad dan kepala saya beserta isinya untuk berimajinasi, kedua hal ini kemudian akan saling berkoordinasi satu sama lain untuk membuat suatu tulisan. Aktivitas menulis sebenarnya sudah lama sekali dirindukan, namun ternyata memang syetan itu lebih kuat menggoda saya untuk bermalas-malasan menulis walaupun ide-ide sudah melintas disana-sini…

Semoga kali ini Allah mudahkan jari-jari saya untuk menyelesaikan tugasnya dalam rangka memenuhi keinginan untuk kembali aktif menulis…aamiin :)

Allah yang Maha Baik telah memberikan segala nikmat dan karunia bagi kita, bahkan sebenarnya lebih banyak yang kita minta. Seperti nikmat merasakan sehat, nikmat ini adalah nikmat yang mungkin jarang berada pada doa-doa yang kita panjatkan, namun Allah memberikannya tanpa kita sering meminta. Dan ketika pada kita merasakan sakit, rasanya disitulah kita baru saja menyadari bahwa kesehatan adalah suatu nikmat yang jarang terucap dan keberadaannya pun sering lupa disyukuri.

Kita sering sekali terfokus pada apa-apa yang belum kita peroleh, sehingga membuat kita membuat “perhitungan” dengan Allah. Sehingga hal ini tentu semakin menjauhkan kita dari rasa syukur. Sungguh seandainya saja kondisi ini dibalik, tentu kita akan kalah dari Allah. Jika Allah meminta kita menghitung apa saja nikmat yang Allah berikan tentu akan lebih banyak yang tak mampu kita hitung.

Sahabat, hidup ini adalah ujian…Saya berbicara seperti ini bukan berarti ini mudah untuk dilakukan. Ujian dalam hidup adalah keniscayaan, sederhananya “Jika sudah tidak ingin mendapat ujian dunia, maka yaa mati saja”. Jika sudah seperti ini tak ada lagi ujian dunia, namun  apakah selesai hidup hanya sampai disitu? Tentu tidak…Fase kehidupan yang lain segera menanti, dimana Allah akan meminta pertanggungjawaban atas amal perbuatan kita didunia. Kemudian, apakah kita siap dengan ini? Jika belum, maka sepertinya kita harus kembali lagi pada hakikat hidup yang sesungguhnya, yaitu beramal, beribadah hanya untuk mendapatkan Ridho dari Allah.

“Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji ? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta.” [Q.S. Al Ankabut: 2-3] Baca lebih lanjut

Senandung Jiwa

Senandung Jiwa

Allah…
Biarkan ketenangan merajai hati, meyakini akan setiap janji Mu atas segala apa-apa yang ada dibumi, itu lebih dari cukup bagi ku.

Kau tak pernah pergi dari setiap jiwa yang masih mengingat Mu walau dalam keadaan sempit.

Aku mungkin bukanlah hamba terbaik, namun izinkan kecintaan ku pada Mu menjadi sebuah pusara akan hakikat cinta sesungguhnya.

Tak peduli seberapa sakit ujian yang ada

Tak mengapa jika pahit ini terasa

Tak mengapa ya Rabb…asalkan Kau Ridho

Allah…Apalah aku…

Jika masih saja tak mampu merasakan kasih sayang-Mu

Apalah aku…

Jika tapak kaki ini masih saja terseok-seok untuk menjalankan perintah-Mu

Tak pantas memang aku menuntut terlalu banyak, karena sungguh nikmat-Mu lebih dari itu

Allah…

Cukupkan aku dengan cinta-Mu

Cukupkan aku dengan Ridho-Mu

Semoga Kau mau menerima amal ku

Semoga masih ada usapan lembut mu atas setiap peluh itu

Semoga cinta-Mu menjaga ketenangan jiwa

Semoga Kau jaga hati ini dalam keikhlasannya

Semoga untaian ridho Mu tak putus mengalir pada setiap amal

Bagai cahaya yang menerangi jalan ini…

Pada ku…seorang hamba yang masih apa adanya…

 

***

 

Depok, 30 April 2014
Linda J Kusumawardani
Pembelajar dari Kehidupan

Guru Kehidupan (Part 1)

Lama tak menulis, rindu akan aktivitasnya yang mampu menembus ruang dan waktu. Akhirnya bisa sedikit terpenuhi lewat tulisan ini…

Sebuah cerita yang sudah mulai dibuat sejak 3 minggu yang lalu, tapi belum terselesaikan…Semoga Bermanfaat :) :) , Note : Tulisan ini sebuah kisah nyata :D

Sumber : madinahkecil.com

Beliau adalah guru ku, salah satu guru terbaik ku ketika itu bahkan sampai saat ini. Darinya lah aku memulai untuk belajar memahami arti sebuah hidup. Ternyata hidup ini tak seceria tawa ku yang saat itu mengenakan seragam putih abu-abu, kehidupan yang tak selalu dipenuhi warna merah jambu seperti saat manusia merindu. Terkadang hidup ini penuh dengan pilihan yang menyisakan sesal didalamnya.

Semoga Allah merahmatinya, melindungi dan membahagiakannya jika saat ini beliau masih ada dimuka bumi ini. Dan kelak mengizinkannya untuk membaca tulisan ini, memberikan komentar hingga aku kembali bisa bertemu dengan nya. Aku ingin kembali menjalin silaturahim denganya yang telah terputus sejak 9 tahun yang lalu, karena aku masih ingin belajar darinya. Jikapun tidak, semoga Allah terus menyayanginya di alam yang berbeda, karena ada sebuah jariyah yang dimilikinya dari ku, jariyah dari atas ilmu yang telah diberikannya.

Beliau adalah seorang guru bahasa inggris yang ku kenal saat itu, dengan bermodal ijazah D1 di jurusan yang sama beliau mengajar ditempat kursus bahasa inggris yang saat itu aku ikuti. Waktu yang sangat singkat untuk menimba ilmu darinya, hanya 3 bulan saja. Aku sendiri saat itu tak memandang lulusan dari mana beliau ini atau sampai mana level pendidikannya. Tidak, karena faktanya beliau telah berhasil membuat kami, para muridnya menyukai pelajaran yang diajarkannya dan dapat memahami dengan baik apa yang disampaikannya. Begitupula dengan ku, Beliau selalu membuat ku tak memiliki alasan untuk tak hadir setiap 2 kali dalam sepekan, sekalipun hujan begitu deras. Tak pernah ada yang beliau banggakan dihadapan murid-muridnya, namun aku merasa bangga pernah memiliki guru seperti beliau.

2 bulan sudah kami diajarkan dengan penuh semangat dan ketulusan. Mengapa demikian? Ya…rasanya memang sebuah ketulusan hati seseorang itu mampu terpancar dari dalam jiwanya. Sebuah kesimpulan yang dapat aku ambil ketika itu adalah beliau ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat dimanapun beliau berada. Selalu saja sebelum kami pulang, beliau selalu memberikan nasihat nya bagi kami. Hingga akhirnya memasuki bulan ketiga, kami yang berjumlah empat orang hari itu datang seperti biasa, masih dengan keceriaan dan semangat yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Namun, entah mengapa kami merasa aneh karena saat itu guru lain-lah yang mengajar kelas kami. Tak ada penjelasan. Aku sendiri setelah kelas berakhir mencoba bertanya kepada guru penggantinya. Namun sayang sekali beliau tak memberikan sebuah alasan yang jelas. Hanya “izin tidak mengajar”, begitu katanya. Ahh…itu terdengar aneh sekali pikir ku. Satu minggu berlalu…terus begitu hingga memasuki minggu ke-3. “Aneh” ya…hanya itu yang aku pikirkan…”Mengapa sampai tak  ada kabar jika tak mengajar hingga tiga minggu?”…Sudahlahhh…

Diminggu ke-4, betapa terkejutnya kami…sore itu, akhirnya beliau kembali mengajar. Kelas pun berjalan seperti biasa hingga waktu nya habis. Kami kembali antusias mendengarkan apa yang disampaikan hari itu. Semua masih nampak biasa. Hanya satu yang berbeda dari penampilan beliau. Ya…aku melihat ada yang berbeda. Badannya terlihat sangat kurus sekali, dengan postur yang tinggi seperti itu semakin terlihat jika selama 3 minggu menghilang beliau seperti orang yang tak terurus. “apa yang terjadi?” pikirku dalam hati…ya tak pernah terbayangkan oleh ku seberat apa masalah orang dewasa itu. Jika tak salah saat itu usia beliau adalah 27 tahun dan aku masih berusia 16 tahun. Ya…rasanya selisih yang cukup jauh itu membuat aku sulit untuk memahami masalah-masalah orang dewasa. Baca lebih lanjut